Tulisan ini juga disajikan dalam website http://umarsaid.free.fr/
yang sampai sekarang sudah dikunjungi  732  890 kali.

 = = =               = = = =               == = = =




Mustahil ( !!!), Mengatakan Menjunjung Pancasila

Tetapi Anti-Bung Karno





Menjelang peringatan Hari Pancasila tanggal 1 Juni ada perkembangan yang
amat penting dan menarik sekali.  Beberapa hari yang lalu, Presiden dan
Wakil Presiden telah mengadakan pertemuan di gedung Mahkamah Konstitusi
dengan 9 pimpinan berbagai lembaga tertinggi negara, untuk membicarakan
soal-soal yang berkaitan dengan Pancasila.



Selain Presiden SBY dan Wapres Boediono, serta Ketua MK Mahfud MD, pertemuan
dihadiri Ketua MPR Taufik Kiemas, Ketua DPR Marzuki Alie, Ketua DPD Irman
Gusman, Ketua MA Harifin Tumpa, Ketua BPK Hadi Poernomo, dan Ketua KY Eman
Suparman. Hadir pula sejumlah menteri KIB II, seperti Menko Polhukam Djoko
Suyanto, Menko Perekonomian Hatta Rajasa, Mensesneg Sudi Silalahi, dan
Seskab Dipo Alam



Pertemuan ini diadakan karena adanya gejala-gejala yang menunjukkan bahwa
akhir-akhir ini perhatian atau penghayatan banyak orang terhadap Pancasila
sebagai ideologi negara sudah mulai terpinggirkan, memudar atau bahkan
menghilang.  Akibatnya adalah banyak sekali  permasalahan parah yang muncul
dalam kehidupan bangsa, seperti yang sama-sama sering kita saksikan dewasa
ini. Di antaranya adalah konflik dan kekerasan sosial yang dipicu oleh
perbedaan latar belakang etnisitas, primordialisme, pertentangan  agama.,
merajalelanya korupsi, pelecehan hukum, dan pelanggaran HAM.



Dalam pertemuan itu telah disepakati empat poin kesepakatan, antara lain
bahwa semua lembaga negara berkomitmen untuk secara aktif mengambil tanggung
jawab dalam upaya menguatkan Pancasila sebagai dasar ideologi negara, sesuai
dengan peran, posisi, dan kewenangan masing-masing. Juga disepakati bahwa
Pancasila harus menjadi ideologi dan inspirasi untuk membangun kehidupan
ber-bangsa dan bernegara yang rukun, harmonis dan jauh dari perilaku
mendahulukan kepentingan kelompok atau golongan.



Untuk itu merekapun menggagas rencana aksi nasional. “Diperlukan rencana
aksi nasional yang dilakukan oleh suatu lembaga untuk melakukan sosialisasi
dan penguatan nilai-nilai Pancasila secara formal melalui pendidikan
Pancasila dan konstitusi,” ujar Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD
saat membacakan Joint Press Statement hasil pertemuan pimpinan lembaga
Negara di Gedung MK, Jl Medan Merdeka Barat, Selasa (24/5).



Pancasila dirusak rejim militer Suharto puluhan tahun



Adanya pertemuan sebegitu banyak tokoh utama berbagai lembaga tertinggi
negara (9 lembaga seluruhnya) untuk membicarakan soal-soal Pancasila itu
adalah suatu perkembangan yang amat penting. Karena, pertemuan ini
menunjukkan bahwa (sekarang ini !) banyak kalangan di negara kita menganggap
penting sekali peran Pancasila sebagai ideologi negara dan kedudukannya
sebagai pedoman kehidupan berbangsa.



Perkembangan baru semacam ini patut mendapat sambutan yang hangat dari kita
semua, mengingat bahwa selama ini Pancasila hanya menjadi « pajangan » atau
slogan kosong, dan tidak dipraktekkan atau tidak ada implementasinya sama
sekali. Karena itulah maka moral bangsa kita sudah makin rusak atau
membusuk. Ini kelihatan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.



Seperti yang  kita ingat kembali, selama Orde Baru di bawah rejim militer
Suharto Pancasila telah disalahgunakan, dipalsu, diselewengkan, dijajakan
dengan paksa, selama puluhan tahun ! Dengan nama yang gagah « Pedoman
Penghayatan dan Pengamalan Pancasila » (P 4) bangsa kita telah secara paksa
dicekoki indoktrinasi yang memuakkan. Selama puluhan tahun dan besar-besaran
pula !



Selama 32 tahun rejim militer Suharto berkoar-koar lantang dan bicara
muluk-muluk tentang Pancasila, Pancasila , dan Pancasila, namun dalam
prakteknya telah melanggar, melecehkan, mengkebiri, dan memalsu Pancasila.
Pada hakekatnya, rejim militer adalah perusak Pancasila. Akibatnya, selama
Orde Baru itu, Pancasila telah dibenci oleh sebagian besar rakyat kita.



Karena, boleh dikatakan bahwa seluruh visi, politik, dan berbagai tindakan
rejim Orde Baru adalah bertentangan sama sekali dengan isi atau jiwa
Pancasila yang sebenarnya, yang asli, yang otentik, yang seperti dimaksud
atau dicita-citakan oleh Bung Karno. Banyak pendukung Suharto telah
menampilkan diri sebagai penjunjung tinggi atau pendukung Pancasila, namun
sebenarnya adalah justru orang-orang yang sebenarnya ( !!!) anti-Pancasila.



Rejim militer Orde Baru menyalahgunakan Pancasila



Pancasila adalah ciptaan yang besar dan gemilang Bung Karno, suatu gagasan
agung yang telah menjadi pemersatu bangsa dan ideologi negara sejak
proklamasi 17 Agustus 45. Tidak ada pemimpin Indonesia lainnya yang
mempunyai fikiran yang sebegitu cemerlangnya seperti yang terkandung dalam
Pancasila itu. Tidak ada di masa yang lalu, tidak ada sekarang dan juga
tidak akan ada di masa yang akan datang.



Suharto dan para jenderalnya serta pendukungnya terpaksa menggunakan (lebih
tepat menyalahgunakan) Pancasila sebagai alat untuk berusaha memupuri wajah
rejimnya yang khianat dan penuh dosa itu. Oleh karena itu, selama rejim
militer Suharto berkuasa, tidak henti-hentinya selalu dikoar-koarkan
Pancasila, Pancasila, dan Pancasila dalam setiap kesempatan.



Namun, Pancasila yang didjajakan oleh Orde Baru beserta seluruh pendukungnya
selama puluhan tahun itu bukanlah Pancasila yang asli, yang berisi semangat
atau jiwa atau gagasan Bung Karno. Dan ini wajar, dan tidak bisa lain.



Sebab, hakekat atau jati-diri rejim militer Suharto adalah anti Bung Karno.
Suharto bersama para jenderalnya telah mengkhianati Bung Karno, dengan
menggulingkannya dan kemudian menyiksanya dalam tahanan sampai wafatnya.
Padahal, Suharto dan para pendukungnya mengetahui dengan jelas bahwa Bung
Karno-lah yang melahirkan Pancasila



Jadi, hanya karena terpaksa sajalah makanya rejim militer Orde Baru
menggunakan Pancasila. Keterpaksaan ini disebabkan untuk berusaha menutupi
dosa-dosa mereka dan menampilkan diri sebagai penerus atau penjunjung
Pancasila.



Omong kosong : mengaku Pancasilais namun anti-Bung Karno !!!


Sikap munafik yang dipakai oleh sebegitu banyak orang (dan sebegitu lama)
semasa pemerintahan Orde Baru itu masih diteruskan oleh banyak orang dewasa
ini, juga oleh pejabat-pejabat dan tokoh-tokoh, termasuk yang di kalangan
eksekutif, legislatif, judikatif dan tokoh-tokoh masyarakat (partai-partai
politik, agama, dan organisasi-organisasi).



Di antara mereka banyak yang mengaku Pancasilais atau menghargai Pancasila
tetapi sebenarnya anti Bung Karno atau menolak ajaran-ajaran
revolusionernya. Sikap yang begini adalah sikap palsu yang patut dikutuk.
Sebab tidaklah mungkin seseorang bisa dikatakan menghargai sungguh-sungguh
Pancasila tetapi tidak menghargai Bung Karno.



Untuk betul-betul menghargai atau menjunjung tinggi Pancasila, seseorang
perlu  -- atau seharusnya -- menghargai penciptanya, yaitu Bung Karno. Orang
yang anti-Bung Karno adalah,

pada hakekatnya, anti-Pacasila. Sebab Pancasila adalah pengejawantahan Bung
Karno. Pancasila dan Bung Karno adalah satu dan senyawa. Bung Karno dan
Pancasila tidak bisa dipisahkan satu dari lainnya.



Karena itu, bolehlah dikatakan bahwa semua pendukung setia Suharto dengan
Orde Barunya adalah sebenarnya, atau pada hakekatnya, anti-Bung Karno, dan
karenanya juga anti-Pancasila ! Dan orang-orang yang semacam itu pada dewasa
ini masih terdapat dimana-mana.



Penguatan Pancasila dengan ajaran-ajaran Bung Karno



Mengingat itu semuanya, maka kelihatan sekali betapa pentingnya pertemuan
lembaga-lembaga tertinggi negara untuk « memperkuat Pancasila » sebagai
ideologi negara dan  membangun kehidupan ber-bangsa dan bernegara yang
rukun, harmonis dan jauh dari perilaku mendahulukan kepentingan kelompok
atau golongan. Untuk itu telah dicapai 4 poin kesepakatan yang berisi
komitmen untuk melaksanakannya. Bahwa ada tekad yang begitu itu dari
berbagai lembaga tinggi negara adalah suatu hal yang sangat menggembirakan.



Sudah diputuskan oleh berbagai lembaga tertinggi negara itu untuk
melancarkan kampanye nasional penguatan Pancasila ini, antara lain melalui
pendidikan. Ini merupakan langkah penting, karena banyak golongan-golongan
dalam masyarakat sudah tidak mengenal sama sekali isi Pancasila, apalagi
mengerti arti jiwanya. Selain itu, sebagian terbesar pembesar-pembesar atau
tokoh-tokoh (di pemerintahan, di DPR dan DPRD maupun di berbagai organisasi)
hanya mengenal saja kata          Pancasila tetapi tidak bisa  (dan tidak
mau !) mengimplementasikannya, baik dalam pekerjaan mereka maupun dalam
kehidupan sehari-hari.



Namun, usaha penguatan Pancasila ini akan kandas di tengah jalan, atau tidak
bisa mencapai tujuannya, kalau ditangani oleh orang-orang jang masih menjadi
simpatisan Suharto atau pendukung Orde Baru dan anti Bung Karno. Penguatan
Pancasila tidak mungkin dilakukan oleh atau dengan oknum-oknum yang
menentang atau tidak menyukai ajaran-ajaran revolusioner Bung Karno.



Pancasila, yang sekarang ini kelihatan memudar atau redup apinya, akibat
pengrusakan oleh Orde Baru beserta pendukung-pendukungnya,  hanyalah  bisa
dikuatkan dan dikembalikan keluhurannya sebagai ideologi negara dan bangsa,
dengan sungguh-sungguh melaksanakan jiwa ajaran-ajaran Bung Karno. Pancasila
tidak bisa dikuatkan tanpa menyatukannya dengan ajaran-ajaran Bung Karno.


Mempelajari  fikiran-fikiran Bung Karno untuk mengerti Pancasila


Keputusan 9 lembaga tertinggi negara tentang penguatan Pancasila beberapa
hari yang lalu adalah amat penting dan juga bersejarah. Sebab, banyaknya
masalah-masalah besar dan parah di bidang  politik, ekonomi, sosial,
kebudayaan, keagamaan, dan moral yang sedang kita hadapi bersama dewasa ini
adalah bukti yang jelas bahwa itu semua adalah akibat tidak dipatuhinya dan
tidak dipraktekannya Pancasila.



Jelaslah bahwa penguatan Pancasila adalah salah satu jalan utama untuk
menanggulangsi berbagai masalah (penyakit) bangsa dan negara dewasa ini. Dan
penguatan Pancasila ini tidak bisa dilakukan tanpa menggunakan ajaran-ajaran
Bung Karno.  Untuk bisa menggunakan ajaran-ajaran Bung Karno secara baik,
perlulah berbagai ajaran-ajarannya dipelajari atau didalami. Tanpa
mempelajari ajaran-ajaran Bung Karno atau mendalami jiwanya, tidak
mungkinlah seseorang bisa mengatakan bahwa ia mengerti kebesaran dan
keagungan Pancasila.



Dengan akan dilancarkannya  kampanye nasional untuk penguatan Pancasila,
maka usaha bersama untuk mensosialisasikan karya-karya atau fikiran-fikiran
revolusioner Bung Karno adalah mutlak perlu dijalankan. Dengan menyimak isi
buku-buku Dibawah Bendera Revolusi (dua jilid) atau Revolusi Belum Selesai
(juga dua jilid), atau bahan-bahan lainnya, maka kita akan mengerti mengapa
Bung Karno sering mengatakan bahwa Pancasila adalah kiri dan
anti-imperialis (kalau dengan bahasa yang umum sekarang
anti-neo-liberalisme)



Menurut fikiran dan jiwa Bung Karno, Pancasila mencita-citakan terciptanya
masyarakat adil dan makmur, atau masyarakat sosialis à la Indonesia, yang
melaksanakan gotong-royong, dan berdasarkan moral publik yang luhur.



Kalau kita lihat situasi negara dan bangsa yang serba rusak dan membusuk
dewasa ini, maka jelaslah bahwa Pancasila yang seperti digagas Bung Karno
itulah yang merupakan alat atau senjata di tangan rakyat untuk meneruskan
revolusi yang belum selesai guna mengadakan perubahan-perubahan fundamental
di negeri kita.



Paris, 26 Mei   2011



A. Umar Said



* * *




















































[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke