Dalam sebuah keriaan di alun-alun proletar tiba-tiba ada 
suara melengking nyaring. "Ahoi.. orang-orang dungu yang 
otaknya sudah rusak dan jadi busuk... Turutkanlah apa 
yang dicontohkan wawan: menginjak-injak buku taik anjing 
al-Mushaf yang dikibulkan orang Arab primitif berisi 
wahyu Allah yang nota bene tidak berbukti ada itu!" 

Orang-orang kaget. Burung-burung beterbangan kabur dari 
pepohonan. Alun-alun senyap seketika. 

Ramai-ramai orang menoleh ke sumber lengkingan di pucuk 
pohon kelapa untuk memastikan bahwa pendengaran mereka 
tidak salah. Yaelah, betul juga si uplik gila lepas lagi 
dari kurungan psikiater... Kekagetan pun mereda. Berganti 
kesiapsiagaan untuk ngakak sekuatnya. 

Dari atas pohon pandangan uplik terhalang daun kelapa. 
Hanya karena alun-alun terdengar senyap, dia menyangka 
publik menggemari lengkingannya. Si uplik langsung 
melanjutkan dengan lebih bersemangat seolah dia sedang 
beradzan di puncak menara masjid. 

"Ahooi... Lebih baik lagi bila kalian mengajak keluarga 
kalian untuk rame-rame meludahi buku taik anjing al-Mushaf 
itu lalu mengencinginya bersama-sama lantas 
bareng-bareng memberakinya kemudian membuangnya ke Laut 
Jawa atau ke Lautan India atau ke kawah salah satu gunung 
berapi di Indonesia!" 

Mau tidak mau, suka tidak suka, orang sealun-alun pada 
terkekeh. Apabolehbuat, meski sudah dipertontonkan 
berulangkali namun monolog itu masih tetap lucu. Terutama 
di bagian uplik ngos-ngosan setiap selesai ngembat itu 
kalimat dalam satu embusan nafas. Lumayan, terkekeh 
sebagai pemanasan. 

Merasa dapat sambutan, uplik menjerit lagi. "Orang-orang, 
saya ulang sekali lagi, ayuh tiru...." Belum selesai si 
uplik berbunyi, kalimatnya sudah dipotong Abbas Amien 
yang sedang memesan sate di stand si Ajo, "Kamu sendiri 
sudah meniru belum?" 

Tanpa berusaha mencari di mana keberadaan Basmien, uplik 
merepet merajalela. "Anjing! Anda tau apa itu anjing?! 
Anjing adalah bla, bla, dan bla! Bla kabeh!" 

Panjang-lebar uplik berblabla soal anjing tanpa peduli 
apa hubungannya dengan pertanyaan Basmien. Begitulah cara 
uplik menjawab pertanyaan, menyembur galak sambil 
berjingkat kabur dari persoalan. 

Bukan uplik namanya kalau tidak pamer ketololan. Persis 
di akhir blablanya, uplik menjerit "Game Over!" dan 
tau-tau dia sudah merosot dari pucuk pohon kelapa. 
Sesampainya di tanah, uplik langsung lompat-lompat kodok 
lalu jongkok di depan Basmien. Orang-orang terbahak dan 
keplok tangan untuk kepandaian baru uplik itu. 

"Tidak ada yang bisa bantah apa itu anjing," kata uplik 
dalam jongkoknya. "Pemimpin-pemimpin Indonesia juga 
adalah anjing. Mereka ngomong ngaco soal Pancasila di 
saat saya kelaparan, berketombe, dan cuma makan tikus.." 
pandangannya memelas menatap sepiring Sate Padang di 
tangan Basmien. 

"Lalu, apa yang sudah kamu perbuat untuk Indonesia?" 
tanya Basmien mengunyah Sate Padang dengan nikmat. 
Si uplik celingukan. Dia tidak pernah tahu apa yang 
sudah dia perbuat. Yang dia tahu dari lidahnya kini 
mengucur liur begitu deras. 

Tak tega melihat uplik berlumuran liur, Basmien melempar 
setusuk sate dan "hap!" langsung ditangkap uplik dengan 
moncongnya. Mengganyang setusuk sate lebih penting 
ketimbang mendengarkan pertanyaan yang menusuk, begitu 
tekad uplik dalam batinnya. 

Tapi, bukan uplik namanya kalau tak pandai pamer ketololan. 
Sambil menunjuk-nunjuk Basmien dia bertanya ke orang-orang. 
"Apa lagi yang akan dikatakan Basmien?!" Katanya tanpa 
nada terimakasih untuk setusuk Sate Padang. 

Dengan meniru gaya Soekarno berpidato, uplik mengacungkan 
telunjuknya tinggi-tinggi, "Hare gene, di jaman sikat gigi 
listrik begene, dia bicara Indonesia?! Bah! Ayuh, mari 
kita tinggalkan nasionalisme! Tinggalkan samasekali, kata 
saya!" 

Tiba-tiba dari atas menggelegar suara terbahak-bahak. 
"HAHAHAHA... uplik..uplik... Ayuh tinggalkan nasionalisme. 
Mulailah dulu dengan membuang paspor Prancismu." 

"A..a.. Allahu..ak..ak..bar!" jawab uplik terbata-bata 
sambil sujud gemeter dengkul. "Sa..saya.. ma..masih 
me..menunggu ha..hasil pep..penelit..ian pa..para sa..saa..
saa..intis a..a..pakah pasp..pp..pep..pep..por saya 
bersedia didi..di..buang....?" 

Jebret! Sebuah sambaran menyulap uplik nungging jadi batu. 

Orang-orang bersorak-sorai dalam keriaan yang semakin meriah 
dengan kehadiran patung batu di alun-alun. 

Begitulah kisah & duduk perkara dari batu nungging yang 
menghiasi alun-alun proletar, selamanya. 









--- "ajeg" <ajegilelu@...> wrote: 

> Nggak perlu kebanyakan cincong yang tolol-tolol. 
> 
> Mulai aja dari dirimu sendiri. Kencingi, beraki,
> buang paspor Prancismu ke kakus. 
> Luntang-lantunglah sebagai stateless, welfareless, 
> homeless, wifeless, untuk melengkapi brainlessmu. 
> 
> Ayuh, uplik bisa! 
> 
> --- "Jusfiq" <kesayangan.allah@...> wrote:
> 
> > Saya lengkapi..
> > 
> > Ayuh, mari kita tinggalkan nasionalisme.
> > 
>
>




------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke