http://www.analisadaily.com/index.php?option=com_content&view=article&id=96866:kelulusan-un-dan-kualitas-pendidikan&catid=78:umum&Itemid=131

      Kelulusan UN dan Kualitas Pendidikan

      Oleh : Honriani Nst, S.T



      Secara Nasional Kelulusan peserta Ujian Nasional (UN) SMA/MA Tahun Ajaran 
2010/2011 mencapai 99,22 persen atau dari sebanyak 1.461.941 peserta UN SMA/MA 
jumlah peserta yang lulus sebanyak 1.450.498, sedangkan peserta yang tidak 
lulus 11.443 peserta atau 0,78 persen. 

      "Dibandingkan angka kelulusan tahun 2009/2010 ada kenaikan jumlah 
kelulusan. Angka kelulusan UN tahun lalu gabungan ujian utama dan ujian ulang 
sebanyak 99,04 persen," kata Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Mohammad 
Nuh saat menyampaikan data hasil kelulusan UN dan distribusinya di Jakarta, 
Jumat.

      Mendiknas juga menyebutkan data awal yang mendaftar 1.476.575 peserta, 
tetapi dalam perjalanan, sekolah yang memasukkan nilai sekolah sebanyak 1.467. 
058 atau 99,36 persen. "Ada sebanyak 9.517 siswa atau 0,64 persen yang tidak 
dimasukkan nilai sekolahnya. Hal ini karena bisa jadi di tengah jalan ada yang 
drop out atau bekerja," katanya saat memberikan keterangan pers di Kemdiknas.

      Mendiknas lebih lanjut menyatakan dari sebanyak 1.467.058 siswa yang 
tidak mengikuti UN sebanyak 5.117 siswa. Provinsi yang paling banyak tidak 
lulus dari sisi prosentase adalah Nusa Tenggara Timur (NTT), sedangkan paling 
banyak lulus adalah Bali. Mohammad Nuh menyatakan terdapat sebanyak 14. 131 
sekolah yang siswanya 100 persen lulus dan lima sekolah yang semua siswanya 
tidak lulus dengan jumlah 147 siswa. Sekolah yang kelulusannya nol persen yaitu 
di DKI Jakarta ada tujuh siswa; Simeulue, Nanggroe Aceh Darussalam 26 siswa; 
Jambi dua siswa; Kian Darat Maluku 48 siswa; dan Urei Fasei Papua 64 siswa. 
Sementara jumlah kelulusan peserta UN SMK mencapai 99,51 persen. Dari total 
8.074 sekolah negeri dan swasta dan 942.698 peserta, dinyatakan lulus 938.043 
peserta. Sekolah yang angka kelulusannya 100 persen sebanyak 768.854 siswa 
(81,48 persen). "Di SMK tidak ada sekolah yang kelulusannya nol persen," kata 
Menteri Nuh. (Antaranews.com, 13 Mei 2011). 

      Tingkat kelulusan UN SMA, SMK, MAN, SMA-LB untuk propinsi Nanggroe Aceh 
Darussalam mencapai angka 97,11 persen dari total 63.021 peserta Ujian Nasional 
(UN) tahun 2011, sedangkan siswa yang gagal lulus UN tahun ini sebanyak 1.821 
orang atau sekitar 2,89 persen. Tingkat kelulusan UN 2011 di Provinsi Aceh jauh 
melampaui angka kelulusan UN pada tahun lalu. Dalam UN tahun 2010, tingkat 
kelulusan untuk tingkat SMA sederajat hanya 82,96 persen. "Alhamdulillah, ada 
peningkatan kelulusan dalam UN tahun ini. Dari 63.021 siswa yang ikut UN, yang 
lulus sebanyak 61.200 siswa dan tidak lulus 1.821 siswa," ujar Kepala Dinas 
Pendidikan Provinsi Aceh, Drs Bakhtiar Ishak, kepada wartawan di Banda Aceh, 
Minggu (15/5). (Analisadaily.com, 16 Mei 2011). 

      Sementara itu di Sumatera Utara tingkat kelulusan SMA,MAN, dan SMK, Dinas 
Pendidikan Kota Medan mengumumkan hasil ujian nasional (UN) tahun 2011. Dari 
39.326 peserta UN SMA/MA dan SMK yang tidak lulus mencapai 109 orang. Dengan 
perincian SMA dan MA peserta 24.440, tidak lulus 66 orang sama dengan 0,27 
persen. Khusus SMA peserta 22.579 orang, tidak lulus 56 sama dengan 0,25 
persen. 

      Sedangkan SMK peserta 14.886 tidak lulus 43 orang sama dengan 0,29 
persen. Demikian disampaikan Kadis Pendidikan Kota Medan, Drs Hasan Basri, MM 
kepada wartawan di Medan, Minggu (15/5). (Analisadaily.com, 16 Mei 2011)

      Merayakan Kelulusan

      Lulus UN merupakan sebuah keberhasilan bagi anak sekolah, sehingga 
sesuatu yang wajar jika mereka yang lulus merayakannya. Namun, sebagai seorang 
yang telah menyelesaikan sekolah menengah tingkat atas yang sudah memasuki usia 
dewasa - suatu usia yang telah mampu membedakan mana yang benar dan mana yang 
salah, dan suatu usia yang telah memahami makna tanggungjawab - , hendaknya 
merayakan kelulusan tersebut dengan sesuatu yang tidak bertentangan dengan 
ajaran agama dan norma-norma kehidupan di tengah-tengah masyarakat.

      Sesuatu yang lumrah jika mereka yang lulus UN mengekspresikan perasaannya 
dengan berbagai cara, namun hendaknya tidaklah dengan cara-cara yang 
bertentangan dengan ajaran agama dan yang merugikan orang lain. Ambil contoh 
seperti aksi siswa di Pamekasan Madura yang membuka baju seragamnya di tempat 
umum sehingga aurat siswi tersebut terlihat dengan jelas. Ironisnya aksi 
tersebut didokumentasikan oleh salah seorang anggota DPRD Pamekasan yang 
kebetulan berpapasan dengan rombongan siswa tersebut. Ada juga yang meluapkan 
kegembiraannya dengan cara merobek rok, membuat grafiti di pakaian sekolahnya, 
dan konvoi kendaraan di jalan umum. Mereka pun konvoi biasanya dengan memasang 
suara kendaraan yang memekakkan telinga. Padahal alangkah lebih baiknya jika 
kelulusan mereka rayakan dengan menyumbangkan seragam mereka kepada adik-adik 
kelas, ingat bahwa masih banyak anak negeri ini yang kesulitan untuk membeli 
seragam sekolah yang layak. Atau bisa saja mereka meluapkan kegembiraannya 
dengan cara menyumbangkan sebagian hartanya kepada kalangan yang tidak mampu, 
mendonorkan darah, dan yang paling terpenting sebelum melakukan semua aktivitas 
tadi mereka melakukan sujud syukur, karena apapun yang kita peroleh dalam 
kehidupan kita semata-mata karena kehendak Allah Yang Maha Kuasa.

      Kemana Setelah Lulus 

      Saat melihat pengumuman kelulusan, para siswa yang lulus tentu merasa 
gembira. Namun kegembiraan itu hanya sementara karena mereka segera dihadapkan 
kepada dua permasalahan, yaitu apakah melanjutkan pendidikan ke jenjang 
perguruan tinggi atau masuk ke dunia kerja. Mereka yang memilih melanjutkan 
sekolah ke jenjang perguruan tinggi maka di hadapan mereka telah menanti ujian 
seleksi masuk perguruan tinggi nasional yang akan diadakan pada tanggal 31 Mei 
dan 1 Juni 2011. Ujian yang tingkat kelulusannya hanya sekitar 10 persen, 
artinya untuk memasuki perguruan tingi negeri harus melalui persaingan yang 
lebih ketat dibandingkan dengan ujian akhir SMU. 

      Sementara bagi mereka yang memilih untuk masuk dunia kerja mereka 
bersaing dengan pengangguran yang masih banyak, pengangguran yang lulus SMU, 
SMP, SD, dan yang lulusan perguruan tinggi. Ironisnya lagi, andaikan pun mereka 
memperoleh pekerjaan, maka gaji yang mereka dapatkan masih jauh dari jumlah 
dana yang mereka butuhkan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Karena saat 
mereka masuk dunia kerja mereka dinilai tidak memiliki kemampuan dan kecakapan, 
sehingga mereka masih harus melalui beberapa training. Ini bermakna bahwa 
materi pelajaran yang diperoleh di sekolah tidak mumpuni untuk menyelesaikan 
pekerjaan/ permasalahan yang akan mereka hadapi di dunia kerja. Jika kondisinya 
begini, maka patut dipertanyakan tingkat kualitas lulusan sekolah. Lulus 
sekolah ternyata tidak mempunyai kemampuan dan kecakapan! Ada apa dengan 
kurikulum sekolah yang selama ini diterapkan? 

      Membangun Pendidikan yang Berkualitas

      Perlu dipahami bahwa pendidikan berkualitas apabila output pendidikan 
menghasilkan manusia yang berkepribadian Islam serta menguasai sains dan 
teknologi. Output pendidikan yang sepert itu hanya dihasilkan dalam pendidikan 
Islam. Untuk mewujudkan Pendidikan yang berkualitas ada tiga hal yang harus 
dimiliki, pertama: adanya aktor-aktor visioner dan berdedikasi tinggi untuk 
bekerja keras mewujudkan pendidikan Islam. Merekalah yang siap "kotor 
tangannya" dengan aktivitas rinci dalam jangka panjang agar dapat memperbanyak 
SDM, menyiapkan "software" dan melobi tokoh-tokoh untuk diyakinkan pentingnya 
pendidikan Islam yang sebenarnya.

      Kedua: Adanya budaya pendidikan atau cinta ilmu yang sesungguhnya. Untuk 
itu harus ditumbuhkan opini di tengah-tengah masyarakat bahwa sekolah bukan 
sekadar agar dapat gelar dan pekerjaan, tetapi untuk menjadi manusia yang lebih 
bermanfaat bagi manusia lain. Rasulullah SAW banyak sekali bersabda tentang 
keutamaan ilmu. Budaya cinta ilmu sampai melanda kaum aghniya' sehingga mereka 
belum merasa kaya jika belum menyumbangkan sesuatu pada dunia ilmu, entah wakaf 
fasilitas ilmiah (perpustakaan, observatorium), membiayai riset atau ekspedisi 
ilmiah, mensponsori seorang alim untuk mengajar atau memberi beasiswa kepada 
para pelajar. 

      Ketiga: adanya sistem yang efisien dari negara berikut segala 
perangkatnya dalam mengelola pendidikan, mulai dari menentukan prioritas, 
membuat kurikulum, merekrut guru, membiayai operasionalnya hingga mengawasi 
mutunya. Negara wajib turut campur jika ada keluarga yang kondisinya sedemikian 
rupa sehingga anaknya terhalang menuntut ilmu. (Majalah Al-wa'ie no 81 Tahun 
VII Mei 2007 hal 21)

      Yang terpenting lagi perlu dipahami bahwa pendidikan yang berkualitas 
akan membutuhkan biaya yang mahal, namun biaya yang mahal itu tidak dibebankan 
kepada masyarakat, karena jika dibebankan kepada masyarakat maka akan ada 
masyarakat yang tidak mampu untuk membiayainya yang akhirnya menyebabkan adanya 
anggota masyakat yang tidak mengecap pendidikan. Islam telah menetapkan bahwa 
biaya pendidikan semuanya menjadi tanggungjawab/ dibebankan kepada negara. ***

      Penulis adalah Asisten Juru Bicara Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia dan 
Praktisi Pendidikan 
     


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke