Refleksi : Pejabat yang tidak hafal trik menghindari hukum adalah  bukan 
pejabat NKRI, karena  pada umumnya para pejabat  NKRI bermartabat rendah penuh 
akal bulus tipu muslihat, maka oleh karena itu korupsi di segala bidang dan 
tingkat administrasi pemerintah tak pernah berakhir. Tiap hari  bila dibuka 
surat khabar daerah maupun  yang terbit di pusat kekuasaan rezim,  ada saja 
berita korupsi. Tak pula keliru bila dibilang korupsi sudah mendarah daging di 
kalangan pejabat.  

Akibat dari korupsi dan salah urus negara  ini, maka sekalipun sudah 60 tahun 
lebih diteriak merdeka-merdeka, NKRI tetap maju daan mundur  di tempat.  
Perbaikan ekonomi, dan sosial  bagi  rakyat masih jauh tertinggal dari tujuan 
dan makna membebaskan diri dari kolonialisme dan oleh sebab itu jutaan rakyat 
tetap miskin melarat, sementara hasil kekayaan alam dikuras  habis-habisan, 
makin hari makin berkurang harta pusaka rakyat tsb.

http://www.pikiran-rakyat.com/node/146597

Pejabat Sangat Hafal Trik Menghindari Hukum
Jumat, 27/05/2011 - 14:56 
YOGYAKARTA,(PRLM).-Pembersihan aparat korupsi sangat lamban dan terkesan sulit 
pelaksanannya karena para pejabat di instansi yang disasar sudah mengenali 
trik-trik supaya bisa menghindar dari jerat hukum.

Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Dr Busyro Muqoddas menyatakan langkah 
radikal keluar dari kesulitan tersebut dengan memutus jaring pejabat dan 
politisi. Yang paling sederhana adalah melarang atau tidak menjadikan politisi 
atau aktivis partai politik menjadi pejabat publik seperti menteri dan pejabat 
tinggi lainnya. 

"Jika tidak diatasi secara tegas, negara hanya melahirkan eksekutif, yudikatif, 
legislatif yang terjerat masalah, dan bangsa ini tidak bisa keluar dari masalah 
(korupsi)," kata dia dalam forum pertemuan civitas akademika dan pejabat dari 
alumni Universitas Islam Indonesia (UII). 

Menurut dia jabatan apapun yang diorientasikan sebagai sumber dana parpol 
merusak kredibilitas dan sulit dijamin tidak terjadi korupsi.

Ketua Mahkamah Konstitusi Prof. Dr. Mahfud MD menegaskan pandangan Busyro 
Muqoddas."Kalau tidak ada langkah-langkah yang jelas, Indonesia terus berada 
dalam bahaya. Pejabat sulit mengambil keputusan untuk menegakkan hukum secara 
tegas karena sudah tersandera oleh perbuatan atau kasus yang pernah dilakukan," 
kata dia, Jumat (26/5). 

Namun para pejabat sangat mengetahui bagaimana trik-trik tidak terjerat hukum. 
Trik paling favorit adalah menghindari ada bekas atau barang bukti dan saksi 
atas tindak kejahatan. Karena itu, ruang-ruang pejabat publik cenderung 
ditiadakan alat yang bisa merekam bukti kejahatan seperti CCTV (Technologi 
Close Circuit Television). Kejahatan itu hanya diketahui dua pihak yang 
terlibat saja.

Rektor UII Prof *Edy Suandi Hamid menyatakan tekadnya untuk menyusun grand 
design untuk bisa melepaskan diri dari sandera tersebut dengan melibatkan para 
alumni UII.
"Agar pelaksanaan keluar dari masalah bisa sukses, kita perlu kesepakatan untuk 
mulai dari titik nol atau melakukan pemutihan dengan berbagai pengaturannya," 
ujar dia. (A-84/kur)**


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke