Hehehe.... kebanyakan yg lulus itu ga becus apa2, kalo nurut gua sih yg lulus 
itu hrsnya cuma dibawah 20%. Soal UN itu jumlahnya cuma dikit, lalu ada soal2 
yg 
sama dgn thn sebelumnya dan ada jg soal2 yg sangat mudah, jadi kalo orang mau 
usaha dikit, minimal dia bisa jawab 50% segoblok2nya orang itu krn 50% soal itu 
adalah buat dikasih doang.

Ternyata tetap lulusan SMA atau sarjana itu sebagian besar goblok2 dan ga 
ngerti 
apa yg sehrsnya mereka tahu. Contohnya, lulusan STM itu bisa bilang ada arus 
sekian volt padahal ngakunya STM terbaik, hehehe...

Tp emang pengajarnya jg goblok2 dan ga bisa apa2, misalnya kayak guru si 
suryana 
yg sadistik ngerangkap goblok dgn nyuruh muridnya megang lampu yg dikasih 
listrik PLN yg jelas bisa bikin mati orang. Ga heran kalo si suryana jadi 
goblok 
jg, hehehe...





________________________________
From: sunny <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Sat, May 28, 2011 6:00:50 PM
Subject: [proletar] Lulus UN 100 Persen, Lalu Apa??

   
http://www.analisadaily.com/index.php?option=com_content&view=article&id=96867:lulus-un-100-persen-lalu-apa&catid=78:umum&Itemid=131


Lulus UN 100 Persen, Lalu Apa?? 
Oleh : Surya S.S

Tingkat kelulusan UN tahun ini meningkat dari tahun-tahun sebelumnya. 
Kemungkinan, akan ada masanya ditahun-tahun akan datang kelulusan UN 100 persen 
diseluruh tanah air, jika kenaikan seperti ini terus ditingkatkan. 


Sebuah prestasi yang membanggakan. Sekolah-sekolah yang berada di tingkat 
kecamatan, kota, kabupaten sampai propinsi boleh berbangga diri karena 
mengalami 
kenaikan prestasi yang menggembirakan, terlihat dari hasil UN yang meningkat 
dari tahun ke tahun. Jika indikator keberhasilan pendidikan nasional adalah UN, 
maka sepantasnyalah kita memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada 
Bapak Menteri Pendidikan Nasional dan jajarannya, pejabat di dinas pendidikan 
propinsi sampai daerah, kepala sekolah, guru dan pengurus yayasan pendidikan 
yang telah sangat perduli dengan pelaksanaan UN, serta apresiasi besar untuk 
yang paling membanggakan dalam keberhasilan UN ini yaitu para murid sekolah 
peserta UN.

Mudah-mudahan sudah pernah ada yang memberikan apresiasi kepada pihak-pihak 
yang 
terlibat dalam keberhasilan UN ini. Jika belum, terlepas apakah UN itu 
dilakukan 
dengan jujur atau tidak, izinkan saya mengucapkan "selamat atas keberhasilan " 
ini. 


Tapi tunggu dulu, ucapan selamat itu akan terasa syahdu jika memang indikator 
keberhasilan pendidikan nasional adalah ujian nasional. Sayangnya tidak, 
indikator keberhasilan pendidikan nasional bukanlah ujian nasional. Kalaupun 
ada 
yang berkata bahwa indikator keberhasilan pendidikan nasional adalah UN saya 
sendiri tidak sepakat untuk itu. 


Menurut hematku, pendidikan nasional dikatakan berhasil apabila;

1. Tidak ada lagi siswa tamatan sekolah dasar yang tidak dapat membaca.

Pembaca yang terhormat, jangan menutup mata dengan kondisi ini. Siswa tamatan 
sekolah dasar yang kumaksud bukanlah siswa (berkebutuhan khusus) tamatan 
sekolah 
dasar, tapi benar-benar siswa yang sudah tamat sekolah. Mengapa bisa? Karena 
selama sekolah, mereka tidak pernah mendapat pendidikan yang memadai. Kebetulan 
sekolah yang kujumpai ini berada di sebuah kabupaten kepulauan yang baru 
terkena 
tsunami 2010 yang lalu. Sekolah dasar yang dikelola oleh dinas pendidikan ini 
dibimbing oleh beberapa orang guru honorer. Namun para guru honorer ini tidak 
pernah diperhatikan, bahkan honornya juga tidak tersalur dengan baik. Sehingga 
para guru honorer juga jadi acuh-tak acuh dalam mengajar. Ironisnya rata-rata 
daerah pedalaman yang saya ketahui kondisi sekolahnya sama dan kasusnya gurunya 
juga sama.

2. Tidak ada lagi guru honorer yang tidak mendapat honor.

Namanya juga guru honor, kalau gak dikasih honor ya bukan guru honor namanya. 
Mungkin lebih tepat dijuluki "guru bakti". Tapi layakkah jika guru hanya untuk 
berbakti? Di negara yang APBN nya hampir 1000 triliun dan 20 persennya untuk 
pendidikan. Layakkah untuk negara yang para pejabatnya buncit-buncit guru-guru 
di sekolah pedalaman di jadikan "guru bakti"? Faktanya dikota-kota juga banyak 
guru honorer yang nasibnya belum jelas.

3. Tidak ada lagi siswa yang putus sekolah.

Kedengaran seperti janji manis pejabat negara. Namun sampai sekarang 
janji-janji 
itu belum terwujud. Siswa putus sekolah masih mudah dijumpai di penjuru tanah 
air ini. Apa sebabnya? Sangat beragam, mulai dari karena tidak ada biaya sampai 
anggapan bahwa sekolah tidak penting. Alamak, tidak penting!! Sungguh ini 
merupakan kegagalan. Salah siapa?

4. Guru-guru mengetahui kalau profesinya bukan sekedar profesi tapi juga 
panggilan.

Inilah cita-cita luhur seorang guru. Namun apalah daya, terkadang sejengkal 
perut yang selalu lapar mendorong guru untuk melupakan panggilan. Jadilah guru 
mengajar setengah hati di kelas. Tidak punya persiapan khusus untuk mengajar 
karena waktu persiapan mengajar sudah habis untuk mengerjakan pekerjaan 
tambahan. Setelah ini semua, maka jadilah sekolah yang asal ada. Asal-lah punya 
siswa, asal-lah ada jam masuk dan jam pulang sekolah, asal-lah punya gedung 
sekolah dan perangkat sekolah lainnya. Melupakan bahwa pendidikan bertujuan 
memanu siakan manusia. Artinya ada peningkatan dari waktu-kewaktu. Bukan 
pengulangan rutinitas yang membosankan. 


Lalu salah siapa? Mengapa banyak sekolah dijumpai seperti ini? Masuk sekolah 
pukul 09.00 wib, pulang pukul 11.00 wib. Sehari-hari sekolah kelihatan kosong, 
namun pada pelaksanaan ujian / UN bermunculan siswa-siswanya.

Hm. inikah keberhasilan UN? Atau, inikah keberhasilan pendidikan nasional??

Belum!

Sepertinya pemerintah melupakan ke-empat fakta diatas. Terlalu cepat 
standarisasi UN di terapkan di bumi pertiwi ini. Karena itu buat pemerintah;, 
plis-plis.. hentikan UN. Sudah banyak tulisan tentang buruknya UN ini 
dilaksanakan. Sudah ada juga korban jiwa karenanya. Buka mata, masih banyak 
permasalahan pendidikan di negeri ini.

Ini adalah PR buat kita pemerhati dan penggiat pendidikan. Tugas wajib untuk 
sang menteri pendidikan sampai dinas pendidikan; mendukung kegiatan pendidikan 
yang holistik, yang bisa membangun cita-cita pendidikan nasional. Menciptakan 
suasana pendidikan yang kontekstual adalah peran guru dan sekolah, biarkan 
mereka berkarya.

Hidup guru!!! ***

Penulis alumnus Universitas Negeri Medan, Anggota Lembaga Komunitas Air Mata 
Guru


[Non-text portions of this message have been removed]


 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke