Tulisan ini juga disajikan dalam website http://umarsaid.free.fr/
yang sampai sekarang sudah dikunjungi  734  660 kali.

 = = =               = = = =               == = = =
Pancasila rumah kita,
rumah untuk kita semua
Luar biasa !!! Sosok agung Bung Karno sebagai bapak bangsa muncul kembali di
tanah air kita, dengan diperingatinya Hari Lahir Pancasila 1 Juni, baik di
Jakarta maupun di berbagai kota di seluruh Indonesia.  Peringatan kali ini
merupakan peristiwa yang amat penting dan menarik sekali  bagi negara dan
bangsa kita sejak Suharto bersama-sama konco-konconya (dalam negeri dan luar
negeri) menggulingkan Bung Karno.
Sebab, nama besar Bung Karno sebagai penggali (atau penggagas atau pencipta)
Pancasila disebut-sebut dengan kebanggaan dan rasa hormat oleh banyak
kalangan, lebih banyak dan lebih luas dari pada yang sudah-sudah. Ini
kelihatan dari banyaknya tulisan-tulisan dalam media cetak dan tayangan di
televisi mengenai hal-hal yang berkaitan dengan Hari Lahirnya Pancasila dan
Bung Karno.
Di antara peristiwa-peristiwa itu adalah acara besar yang diselenggarakan
oleh MPR di Gedung MPR, yang dihadiri oleh banyak sekali pejabat-pejabat
tinggi negara dan tokoh-tokoh terkemuka masyarakat, antara lain oleh
presiden SBY, mantan presiden BJ Habibi, presiden Megawati.
Dalam upacara peringatan ini telah berpidato Ketua MPR Taufik Kiemas, mantan
presiden BJ Habibi dan Megawati dan diakhiri oleh pidato presiden SBY. Baik
dari pidato mantan Presiden Megawati maupun pidato presiden SBY dapat
diperoleh kesan bahwa sekarang ini kebesaran Bung Karno sebagai tokoh
pemersatu dan pemimpin bangsa sudah makin diakui oleh sebagian besar rakyat
kita. Bukan hanya mantan presiden Megawati saja yang berkali-kali mengutip
pidato-pidato Bung Karno, melainkan juga presiden SBY, lebih dari pada yang
sudah-sudah.
Ini semua memberikan indikasi bahwa situasi bangsa dan negara kita dewasa
ini memang betul-betul membutuhkan Pancasila yang direvitalisasi
(dihidup-segarkan kembali) dan diamalkan dalam pratek kehidupan
sehari-hari.
Dan, seperti yang pernah ditulis berkali-kali, Pancasila hanya  bisa
dilaksanakan atau dipraktekkan secara  baik dengan menghayati
(sungguh-sungguh !)  dan menjiwai sepenuhnya ajaran-ajaran revolusioner Bung
Karno mengenai Pancasila. Bukan dengan teori  yang muluk-muluk lainnya, atau
interprestasi-interpretasi yang bertentangan, atau berbeda,  atau bahkan
anti ajaran-ajaran revolusioner Bung Karno
Paris, 1 Juni 2011
A. Umar Said
* * *
Untuk membantu para pembaca bisa mengetahui sekedarnya berbagai hal yang
berkaitan dengan peringatan Hari Lahir Pancasila di Jakarta ini maka di
bawah ini disajikan kumpulan berbagai berita.

Megawati Serukan Rakyat Indonesia Lestarikan Pancasila
Okezone, 1 Juni 2011
JAKARTA - Presiden Republik Indonesia ke-5 Megawati Soekarnoputri menegaskan
peringatan hari kelahiran Pancasila pada 1 Juni hari ini bisa dijadikan
sebagai landasan bagi bangsa Indonesia sekaligus mempertegas bahwa Pancasila
adalah kepunyaan dan murni ideologi Indonesia.

"Bagi saya peringatan kali ini mestinya merupakan jalan baru, jalan
ideologis, untuk mempertegas bahwa tidak ada bangsa besar jika tidak
bertumpu pada ideologi yang mengakar pada nurani rakyatnya," kata Megawati,
dalam pidato kebangsaan memperingati Harlah Pancasila, di gedung Nusantara
IV MPR/DPR, Senayan, Rabu (1/6/2011).

Mega menjelaskan, hal ini penting bagi Indonesia terutama di mata dunia
internasional bahwa Indonesia memang negara besar yang berideologi kuat.

"Kita bisa memberi contoh negara Jepang, Jerman, Amerika, Inggris dan
Republik Rakyat Tiongkok, menemukan kekokohannya pada fondasi dan ideologi
yang mengakar kuat dalam budaya masyarakatnya. Sebab ideologi itu menjadi
alasan, sekaligus penuntun arah sebuah bangsa dalam meraih kebesarannya,"
terang Mega.

Putri sulung Bung Karno itu menambahkan, ideologi Pancasila sudah seharusnya
dipelihara oleh setiap anak bangsa demi menjaga kebesaran dan martabat NKRI.

"Memudarnya Pancasila di mata dan hati sanubari rakyat sendiri telah
berakibat jelas, yakni negeri ini kehilangan orientasi, jati diri dan
harapan. Tanpa harapan negeri ini akan sulit menjadi bangsa yang besar
karena harapannya adalah salah satu kekuatan yang mampu memilihara daya
juang sebuah bangsa," pungkasnya. (put)

* * *
 Megawati: Pancasila Bukan Urut-urutan Sila
Vivanews, 1 Juni 2011
JAKARTA - Mantan Presiden RI ke-5 Megawati Soekarnoputri kembali berapi-api
dalam pidato peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni. Dalam pidatonya
Megawati mengkritik orang yang beranggapan Pancasila dari urutan sila-sila.

"Pancasila bukan terletak pada urut-urutan sila. Tapi, kita harus memaknai
jauh dari hal itu," kata Megawati yang disambut tepuk tangan hadirin di
Gedung DPR, Jakarta, Rabu (1/6/2011).

Menurut Mega, jauh dari hal itu, Pancasila harus dimaknai sesuai yang
terdapat dalam alinea ke empat pembukaan UUD 1945. Pengakuan terhadap
Pancasila justru terletak dalam asas dan pengertiannya yang tetap sebagai
dasar filsafat NKRI.

"Bukan pada bentuk formilnya akan tetapi sifat materik yang dimaksudkannya,"
terang Mega.

Dalam pidato tersebut Mega juga menyinggung soal peran besar sang ayah,
Soekarno, dalam merumuskan dan mengkaji falsafah negara yang kemudian
tertuang dalam Pancasila. "Bukan karena beliau ayah saya, tetapi peran Bung
Karno sangat besar dalam menciptakan dasar negara ini," ucap Mega bangga.

Sejumlah mantan presiden dan pejabat negara hadir dalam peringatan Hari
Lahir Pancasila 1 Juni di Gedung DPR, Jakarta. Dalam acara ini juga menjadi
pertemuan Megawati dan Presiden SBY dalam forum formil.

* *  *
Kutip Lagu Franky, Mega Teteskan Air Mata
Okezone, 1 Juni 2011

JAKARTA - Mantan Presiden ke-5 Megawati Soekarnoputri sempat menitikkan air
mata pada saat membawakan pidato kebangsaan memperingati Hari Kelahiran
Pancasila  di Gedung MPR/DPR Senayan hari ini. Di dalam pidatonya tersebut,
Mega menyelipkan syair lagu karya musisi mendiang Franky Sahilatua berjudul
'Pancasila Rumah Kita'

"Sebelum mengakhiri pidato ini saya ingin menyampaikan sedikit cuplikan lagu
yang begitu indah yang disampaikan sahabat saya Franky Sahilatua dalam syair
'Pancasila Rumah Kita'," kata Mega seraya membuka kacamata dan menghapus air
matanya saat berpidato di Gedung Nusantara IV MPR/DPR, Senayan, Jakarta,
Rabu (1/6/2011).

"Pancasila rumah kita, rumah untuk kita semua, nilai dasar Indonesia, rumah
kita selamanya, untuk semua keluarga menyatu, untuk semua saling membagi
pada semua insan, sama dapat sama rasa oh Indonesiaku," kata Mega dengan
suara lirih.

Penyampaian syair tersebut mendapat sambutan tepuk tangan dari para hadirin
yang memenuhi ruangan Gedung Nusantara IV MPR/DPR.

Acara dilangsungkan di Gedung Nusantara IV, DPR, Senayan, Jakarta.
Peringatan pidato Bung Karno terkait Pancasila ini yang di peruntukkan
membudidayakan empat pilar kehidupan berbangsa dan bernegara yaitu
Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika yang sedang gencar
dilakukan pimpinan MPR secara massif. Dalam acara ini turut hadir pula
mantan Presiden RI ketiga, BJ Habibie, Istri Almarhum Gus Dur, Shinta Nuriah
Abdurrahman Wahid, mantan Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla, dan Try Sutrisno
dan sejumlah menteri Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II. (put)

 * *


Pancasila Dinilai Tinggal Menjadi Kenangan

Rabu, 01 Juni 2011

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Pengamat dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia
Ichsanuddin Noorsy menilai Pancasila kini telah menjadi kenangan tanpa makna
karena negara sudah tak lagi menghiraukan apalagi mengimplementasikannya.
"Penjajahan di Indonesia sudah berjalan secara sistemik, sehingga sejak orde
baru hingga orde reformasi Pancasila tinggal sebagai kenangan tidak
bermakna," katanya di Jakarta, Rabu.

Ia menilai, setelah Orde Baru berkuasa dan terlebih sejak Orde Reformasi
bergulir, bangsa yang kaya dengan pemikiran harkat martabat kemanusiaan ini
kehilangan keyakinan karena sistem ekonomi, politik dan hukumnya yang
berlandaskan Pancasila telah berganti menjunjung tinggi nilai-nilai liberal.
Hal ini, menurut dia, telah menjadikan Indonesia kembali terjajah terutama
secara ekonomi. Pancasila yang harusnya menjadi pandangan hidup, telah
berganti menjadi Ekonomi liberal. Ia menambahkan, penghempasan nilai-nilai
Pancasila justru didukung oleh para pengambil kebijakan.

"Saya mengatakan DPR bersama Pemerintah justru yang melahirkan UU sehingga
ekonomi Indonesia secara struktural terjajah lebih mendalam. Kondisi ini
membuktikan bahwa Indonesia bukan saja telah menyia-nyiakan Pancasila, juga
telah menjungkirbalikkannya," katanya.

Pengamat kritis itu menambahkan, dahulu Pancasila telah menjadi inspirasi
bagi dunia. Pidato Bung Karno pada 1 Juni 1945 berlanjut dengan tawarannya
kepada PBB untuk menggunakan Pancasila sebagai piagam kehidupan pergaulan
antarbangsa yang damai dan sejahtera.
Pancasila, menurut dia, mampu membangun keyakinan pada mereka yang mau
membuka mata hati dan pikiran sebagai jalan yang benar dan lurus menuju masa
depan yang adil dan penuh dengan nilai-nilai kemanusiaan. Nilai-nilai ini
tidak dimiliki oleh paham bangsa manapun di dunia.

"Pikiran Bung Karno yang jernih dalam menggali nilai-nilai bangsa Indonesia
yang secara struktural terjajah dalam segala bentuk dan maknanya, telah
memberi inspirasi kepada bangsa-bangsa Asia Afrika. Inspirasi ini membangun
keyakinan bahwa sikap mendominasi atau menghegemoni suatu bangsa terhadap
bangsa-bangsa melalui strategi dan taktik apapun tidak dibenarkan," katanya.
Menurut dia, Pancasila waktu itu membuat Indonesia tidak hanya disegani tapi
juga diakui sebagai bangsa yang kaya pemikiran dan kaya sumberdaya alamnya.

* *

SBY: Tidak Ada Tempat Selain Ideologi Pancasila

Media Indonesia 01 Juni 2011
JAKARTA--MICOM: Presiden SBY menyampaikan pidatonya dalam rangka
memperingati hari lahirnya Pancasila di gedung DPR Senayan hari ini Rabu
(1/6).
Dalam pidatonya, SBY menyinggung keberadaan NII (Negara Islam Indonesia)
yang belakangan berkembang kembali di Indonesia.

"Dalam era ini ada yang tergoda untuk memeluk ideologi lain selain
Pancasila, ada juga yang cemas jangan-jangan ada yang ingin mendirikan
negara berdasarkan agama. Sebagai kepala negara, saya sampaikan gerakan
seperti itu tidak ada tempat di Indonesia," kata Presiden SBY.
Menurut orang nomor 1 di Indonesia tersebut, gerakan seperti NII
bertentangan dengan Pancasila yang menjadi landasan negara. Sehingga, di era
sekarang ini menurut SBY sangat penting dilakukan revitalisasi dan
aktualisasi secara efektif.

"Gerakan itu bertentangan dengan semangat kita mendirikan negara berdasarkan
Pancasila," ujarnya.
SBY juga mengatakan bila gerakan tersebut sudah melanggar hukum pastinya
tidak boleh dibiarkan. Masalah tersebut bisa diselesaikan dengan cara-cara
yang sesuai hukum.
"Caranya harus diselesaikan dengan cara-cara demokrasi »

  a.. * *


Survei: Pancasila Masih Dibutuhkan


Rabu, 1 Juni 2011,

VIVAnews - Badan Pusat Statistik menemukan dalam surveinya, publik masih
membutuhkan Pancasila. Dari 12.000 responden yang ditanya, 79,26 persen
menyatakan Pancasila penting dipertahankan.

"Sementara 89 persen masyarakat berpendapat permasalahan bangsa, disebabkan
kurangnya pemahaman nilai-nilai Pancasila," kata Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono melansir hasil survei itu dalam pidato kebangsaan di Gedung MPR,
Rabu 1 Juni 2011.

Berdasarkan survei itu, kata SBY, ada beberapa solusi yang muncul yakni
sosialisasi melalui pendidikan (30 persen), contoh dari pejabat negara (19
persen), dan ceramah agama (10 persen).

Siapa yang mendidik soal Pancasila? "Sebanyak 43 persen menjawab dosen dan
guru bisa dipercaya untuk memberikan pendidikan Pancasila, 20 persen oleh
badan khusus yang dibentuk pemerintah," kata SBY.

Sementara elite politik mendapat porsi paling kecil dipercaya oleh publik
yakni sebanyak 3 persen.

Dari survei ini, SBY juga mendapat informasi bagaimana pandangan publik
ketika ditanya soal negara dengan dasar agama. "Sekitar 75 persen mereka
mengatakan keinginan mendirikan dan gerakan politik negara berdasar agama
itu tidak dapat dibenarkan," ujarnya.

Di Lorong Sunyi

Hasil survei ini menjawab keresahan mantan Presiden BJ Habibie. Dia menilai
Pancasila sebagai dasar negara makin jarang dibahas dan dikutip dalam
berbagai forum kehidupan.

Pasca-reformasi, kata dia, Pancasila seperti tersandar di sebuah lorong
sunyi di tengah kehidupan bangsa yang semakin hiruk-pikuk oleh politik. Ada
beberapa penjelasan, mengapa Pancasila seolah lenyap.

Pertama, situasi dan kehidupan bangsa yang telah berubah baik domestik,
regional, maupun global. "Situasi kehidupan bangsa sejak 1945 mengalami
perubahan nyata saat ini dan akan terus berubah pada masa yang akan datang,"
kata dia dalam pidato kebangsaan memperingati Hari Pancasila itu.

Kedua, pemanfaatan teknologi informasi yang amat berpengaruh pada kehidupan
saat ini. "Tetapi juga rentan dengan manipulasi informasi dengan segala
dampak."

Ketiga, Pancasila juga luntur akibat pengaitan dengan masa lalu, terutama
masa Orde Baru di mana Pancasila diposisikan sebagai alat melanggengkan
kekuasaan. Ketika terjadi pergantian kekuasaan munculnya dekonsepsi
Pancasila yang dianggap sebagai aktor. "Pancasila ikut dipersalahkan.
Sehingga membekas sebagai trauma sejarah," ujarnya.

Menurut Habibie, pengkaitan Pancasila dengan rezim tertentu merupakan
kesalahan mendasar. Dia mengakui ada mistifikasi di masa Orde Baru yang
kemudian menjadi senjata sistematis melanggengkan kekuasaan. "Akibatnya,
ketika terjadi pergantian rezim di era reformasi, terjadi demistifikasi dan
dekonstruksi Pancasila," ujarnya.

Berbagai hal tersebut, kata Habibie, membuat Pancasila semakin jauh dari
kehidupan berbangsa. Secara formal Pancasila diakui sebagai dasar negara
tapi tidak dijadikan pilar dalam membangun bangsa. Sebab itu, dia menilai
perlu reaktualisasi, restorasi atau rekonstruksi nilai Pancasila. "Problema
kebangsaan semakin kompleks baik nasional regional dan global. Butuh panduan
menuju indonesia lebih baik," ujarnya.

Setengah hati

Mantan Presiden Megawati Soekarnoputri pun meminta pelajaran Pancasila
kembali ditanamkan di sekolah-sekolah. Dia mengingatkan, Pancasila adalah
produk yang terbentuk dengan pemikiran panjang, bukan produk sekali jadi.

“Sosialisasi dan institusionalisasi Pancasila sebagai salah satu pilar
kehidupan berbangsa dan bernegara menjadi tanggung jawab lembaga-lembaga
negara, baik di tingkat pusat maupun daerah,” ujar Megawati.

"Sebaiknya Pancasila diajarkan kepada generasi muda sejak SD, SMP dan SMA.
Bila dihilangkan, maka akan menghilangkan pondasi bernegara. Di negara
manapun ideologi bangsa selalu diajarkan," kata Pramono Anung, Wakil Ketua
DPR.

Ketua MPR, Taufiq Kiemas, menyatakan Pendidikan Pancasila akan dimasukkan
lagi ke kurikulum pelajaran sekolah. Dulu Pancasila diajarkan di
sekolah-sekolah dengan nama mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP)
namun kemudian dihapus dan diganti dengan Pendidikan Kewarganegaraan, tanpa
embel-embel Pancasila.

“Pemerintah 1.000 persen setuju untuk mengembalikan Pendidikan Pancasila ke
kurikulum sekolah. Untuk itu MPR akan dengar pendapat dengan ahli pendidikan
dan ahli tata negara selama tiga hari,” kata Taufiq beberapa hari lalu.

Namun institusionalisasi melalui pelajaran di sekolah ini dirasa sejarawan
Asvi Marwan Adam belum cukup. Menurut Asvi, pemerintah tak boleh setengah
hati menyosialisasikan Pancasila. "Kenyataannya setengah hati, lembaga
tinggi negara baru membentuk komisi."

Mestinya, tambah dia, Pancasila ditangani oleh lembaga setingkat
Kementerian. Tak perlu sampai membentuk yang baru yang membutuhkan dana
besar, tapi cukup "Melalui kementerian yang ada yakni Kementerian Agama dan
Pancasila. Kelihatannya agama dan Pancasila dua hal yang berbeda, tapi
saling melengkapi," ujar dia.

Langkah ke dua, Presiden harus menetapkan tanggal 1 Juni sebagai Hari Lahir
Pancasila. "Harusnya ada Keputusan Presiden yang memutuskan 1 Juni sebagai
Hari Lahir Pancasila."

Asvi menilai Pemerintah aneh hanya menetapkan hari lahir Undang-undang Dasar
1945, tapi Pancasila yang menjiwainya tidak ditetapkan hari lahirnya. "Masih
ada diskriminasi terhadap Pancasila, belum diakui, pemerintah masih setengah
hati."

• VIVAnews



* * *

Presiden Tegaskan Negara Ketuhanan Bukan Agama
Okezone 1 Juni 2011

JAKARTA - Dalam peringatan Hari Lahir Pancasila pada 1 Juni 2011 ini
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kembali menyinggung soal bentuk dasar
negara yang dianut RI. Bagi Presiden, sudah menjadi konsensus fundamental
bahwa RI berdasarkan negara ketuhanan dan nasional bukan agama.

"Sejak awal pendiri republik secara arif dan luas memandang ke depan sudah
menetapkan konsensus fundamentar bahwa negara berdasarkan ketuhanan dan
nasionalisme bukan negara agama," kata Presiden SBY dalam pidato Hari Lahir
Pancasila di Gedung DPR, Rabu (1/6/2011).

Meski demikian, Presiden mengatakan agama tetap dijunjung tinggi dalam
kehidupan individu dan masyarakat. "Jadi bukan sekuler yang tidak mengakui
adanya tuhan," tegas Presiden.

Presiden juga menegaskan bahwa ideologi pancasila menjadi dasar negara dan
bukan ideologi yang lain seperti fasisme, komunisme dan liberalisme. Menurut
Presiden, arus globalisasi bisa menarik orang untuk menganut ideologi selain
pancasila seperti mendirikan negara berdasarkan agama.

"Saya tegaskan bahwa niat gerakan politik untuk mendirikan negara
berdasarkan pancasila bertentangan dengan semangat bernegara," terang
Presiden.
(ahm)









































[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke