tulisan oleh: Leonardo Rimba

 

-----Siapa bilang Indonesia mercusuar dunia? Yg jelas Belanda pernah menjadi 
mercusuar dunia, walaupun tidak lama. Di abad ke 16, Belanda merupakan negara 
paling liberal. Bisa mendirikan pos perdagangan di Jawa yg dinamakannya 
Batavia, dan di Amerika Utara yg dinamakannya New Amsterdam. New Amsterdam 
kemudian direbut Inggris dan diganti namanya menjadi New York City. So, Jakarta 
dan New York City sama-sama dibangun oleh Belanda. Umurnya juga sama. Tapi, 
mana yg lebih maju? Kenapa?

 

New York City di AS bagian Utara menjadi begitu maju karena banyak imigran 
datang dari Eropa, berbagai macam kebangsaan bercampur menjadi satu. Dan 
semuanya setara. Tidak ada diskriminasi. Yg ada pemikiran bebas, liberalisme. 
Liberalisme artinya pengakuan akan hak-hak individu untuk bebas dan menjadi 
dirinya sendiri. Rakyat AS bahkan rela perang saudara untuk membebaskan sesama 
manusia yg masih terikat perbudakan. Itulah Liberalisme.

 

Waktu saya ditatar Pancasila, saya ditakut-takuti oleh para penatar. Waktu itu 
ada 2 (dua) setan. Setan pertama adalah Komunisme, dan setan kedua adalah 
Liberalisme. Otak saya dicuci, dan dibilang Pancasila adalah ideologi nomor 
satu sedunia. Pedahal, Pancasila itu otoriter, tidak beda dengan Komunisme. 
Liberalisme tidak begitu. Liberalisme adalah pengakuan terhadap hak asasi 
manusia (HAM), dan kemampuan manusia untuk memutuskan hidupnya sendiri. Bukan 
dengan pemaksaan, tetapi dengan pengakuan akan kehendak bebasnya sendiri. Jelas 
Liberalisme jauh lebih superior dibandingkan dengan Komunisme dan Pancasila.

 

Di New York City juga banyak orang Yahudi. Saya rasa banyak orang Yahudi sudah 
jauh meninggalkan syariat. Hanya sebagian saja yg masih kampungan, yaitu yg 
berasal dari Russia. Yahudi sekuler tidak perduli sama babi. Semua dimakan. 
Alkohol juga diminum. Kondom juga dipake, terutama ketika berhubungan sex 
dengan bukan muhrimnya. Yahudi bisa bertolak belakang antara orang tua dan 
anak. Orang tua bisa fanatik, tetapi anaknya bisa atheis. Itu di Yahudi. Tetapi 
mereka tetap pakai adat Bar Mitzvah (inisiasi). Ada inisiasi ketika memasuki 
usia dewasa, tetapi setelah itu sekuler. Tidak perduli dengan agama. Agama cuma 
dipakai lagi ketika orangnya mati. Kurang lebih seperti orang Kristen juga. 
Jadi, agama fungsinya nominal sekali. Dan, menurut saya, itulah yg paling sehat.

 

Saya juga baru tahu ternyata banyak lagu tradisional Indonesia aslinya 
berbahasa Belanda, atau berasal dari komunitas Indo Belanda di Indonesia masa 
lalu: 1) Sarinah; 2) Burung Kakatua; 3) Nina Bobo; 4) Ayun-ayun. Di video ini 
dinyanyikan oleh perempuan-perempuan indo, keturunan Indonesia di Belanda 
<http://www.youtube.com/watch?v=1FzdpblY8PA&feature=related>. Yg menarik adalah 
semangatnya, spiritnya, jiwanya. Anda bisa melihat bahwa spiritnya beda. Mereka 
memang keturunan Indonesia, dan bukan budak. Yg di Indonesia jarang bisa punya 
spirit seperti itu. Perempuan-perempuan Indonesia masih menampakkan wajah 
budak. Diperbudak oleh budaya dan agama.

 

Orang Indon suka salah kaprah, dikiranya Belanda itu feodal. Pedahal tidak. 
Sejak pertama kali datang ke Indonesia, orang Belanda itu pedagang. Paling 
liberal se-eropa. Liberal artinya berpikiran bebas, tidak terikat kepada agama. 
Dan tidak tertarik untuk menyiarkan agama. Orang-orang Yahudi, pelarian dari 
Spanyol dan Portugal berkumpul di Belanda. Dan mereka duduk di dewan direktur 
VOC. So, Yahudi berperan juga dalam menyatukan Indonesia.

 

Yg paling menarik buat saya disini adalah lagu pertama, berjudul "Sarina een 
kind uit de dessa" yg diterjemahkan ke bahasa Indonesia menjadi "Sarinah 
seorang gadis desa". Menurut saya, lagu itulah yg menjadi inspirasi bagi 
Presiden Sukarno untuk dipakai sebagai judul kumpulan kuliah politiknya kepada 
kaum perempuan. Orang kan sekarang tidak tahu bahwa Sukarno pernah memberikan 
kuliah penyadaran politik kepada kaum perempuan. Katanya, judul buku kumpulan 
kuliah itu diambil dari nama pengasuhnya semasa kecil. Tapi saya percaya, 
Sukarno ingat lagu berbahasa Belanda yg berjudul "Sarina een kind uit de 
dessa". Memang indah sekali lagunya. Dan pantas dijadikan judul kumpulan kuliah 
yg diberikan oleh Sukarno kepada kaum perempuan. Kemungkinan the perempuans 
menjadi GERWANI, suatu onderbouw PKI yg dibabat habis oleh Suharto, the Buto 
Ijo.

 

Mungkin orang harus punya campuran macam-macam keturunan supaya mulai bisa 
terbuka otaknya. Di Philipina, kepemimpinan nasional dipegang oleh keturunan 
Cina dan Spanyol. Di Malaysia, oleh keturunan Indonesia dan Arab. Brunei juga 
begitu. Orang "Melayu Asli" mungkin terlalu lemah gen-nya, selalu mencari tuan 
untuk menghambakan diri. Orang-orang AS itu begitu luar biasa karena mereka 
campuran berbagai macam bangsa. Australia juga. Dan saya juga.

 

Tidak semua Melayu begitu feodal gen-nya. Timor tidak. Maluku Selatan tidak. 
Sulawesi Utara juga tidak. Apakah itu karena pengaruh Kristen? Apakah Kristen 
membawa pembebasan, dan Islam membawa perbudakan manusia? Perbudakan mental? 
Batak Toba dan Batak Karo juga tidak bermental budak. Sumatra Barat juga tidak, 
aslinya. Tetapi akhir-akhir ini mulai menjadi "budak". Budak agama. In this 
case agama Islam. Apakah budaya Jawa dan Islam memang memiliki energi untuk 
memperbudak manusia, that's the question.

 

Possibly the trick is, menjaga jarak. Saya harus menjaga jarak dari orang-orang 
Banten yg masih penuh takhayul sehingga, walaupun saya pakai Al Hikmah juga, 
saya tidak keterusan sampai bablas seperti mereka. Walaupun saya suka 
mengunjungi tempat-tempat Kejawen yg musyrik dan syirik, saya tidak mau 
mengotori otak saya dengan berbagai khayalan tentang eyang ini atau eyang itu. 
Sama kapirnya, tapi beda isinya. I am a stranger in this world. This world is 
not my home. Tidak ada satu pun aliran pemikiran yg bisa merantai saya, apalagi 
agama. It's not worth it. Hidup hanya sekali, ngapain dibuang-buang untuk 
ngotot membela satu aliran, kalau kita tahu bahwa any aliran is ok. Not aliran 
at all is also ok. Sarinah has no aliran.



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke