http://www.sinarharapan.co.id/content/read/sejumlah-media-massa-dikirimi-peti-mati/

06.06.2011 11:53

Sejumlah Media Massa Dikirimi Peti Mati
Penulis : Norman Meoko/Wahyu Dramastuti/Sigit Wibowo   


JAKARTA - Sejumlah media massa pada Senin (6/6) pagi ini mendapat kiriman 
sebuah peti mati dan kembang. Perusahaan pers itu adalah Kompas.com, The 
Jakarta Post, ANTV, Metro TV, Okezone, Detik.com, Tempo, dan Gen FM.
Menurut kalangan media tersebut, kiriman peti mati itu merupakan upaya 
pengalihan isu, sehingga mereka tidak akan surut dalam pemberitaannya. 

Pemimpin Redaksi MetroTV, Elman Saragih, yang dihubungi SH melalui telepon 
genggamnya, Senin siang, mengatakan, kiriman seperti itu merupakan hal biasa 
bagi pers, sehingga tidak perlu ditanggapi. "Teror peti mati ini sama seperti 
SMS gelap yang tidak perlu ditanggapi. Yang pasti, ini teror bagi pers," 
tegasnya. 

Harian The Jakarta Post adalah yang pertama kali memperoleh kiriman peti mati 
dan bunga tersebut. Kiriman peti mati beruliskan RIP (Rest in Peace) itu 
ditujukan kepada Direktur Eksekutif The Jakarta Post, Daniel Rembeth, kurang 
dari pukul 08.00. 

"Paket" barang itu berupa sebuah peti mati ukuran kecil (untuk anak-anak), yang 
di dalamnya terdapat tulisan "rest in peace soon, you are number 69", setangkai 
mawar putih, dan kembang tujuh rupa. 

Dikirimkan oleh seseorang menggunakan ambulans putih tanpa nama. Tetapi satpam 
dan sekretaris Daniel Rembeth yang saat itu menanyakan siapa pengirimnya, tidak 
memperoleh jawaban.

"Kiriman itu ditujukan pada saya, tapi orang yang mengantarkan ke kantor saya 
tidak mau mengatakan siapa pengirimnya," kata Daniel sambil tertawa, ketika 
dihubungi SH, Senin siang. Kiriman itu sudah tiba di kantornya di Jalan 
Palmerah, Jakarta, ketika Daniel tiba di sana. 

Ia menjelaskan, selain media massa, ada juga beberapa perusahaan swasta yang 
mendapat kiriman serupa. Oleh karena itu, Daniel menduga ada dua kemungkinan 
modus kiriman peti mati tersebut. Yaitu sebagai bentuk teror terhadap pers, 
atau sebagai upaya marketing.

"Tapi kalau ini sebagai cara marketing, seharusnya tidak seperti ini, karena 
ini sama saja seperti bunuh diri. Kalaupun marketing ini untuk mencuri 
perhatian, dalam jangka panjang hanya akan jadi bahan obrolan, citra brand-nya 
jadi buruk," tegasnya.

Namun, kalau kiriman paket itu dimaksudkan sebagai teror, tidak akan 
menghentikan pemberitaan dari The Jakarta Post. Kalau ini teror, tidak 
berhasil, karena The Jakarta Post tidak akan berhenti.

"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Karena kalau Anda bersikap, bisa saja kan 
ada yang tidak suka," lanjut Daniel. Ketika ditanya berita apa yang akhir-akhir 
digencarkan oleh pihaknya, Daniel menjelaskan, itu adalah berita korupsi di 
Partai Demokrat, dan bulan lalu menurunkan laporan khusus Partai Keadilan 
Sejahtera (PKS). Rencananya, The Jakarta Post dan media lain yang memperoleh 
kiriman peti mati tersebut akan mengadukan persoalan tersebut ke Dewan Pers.

Sementara itu, Wakil Pemimpin Redaksi Kompas, Trias Kunchayono, yang dihubungi 
melalui pesan singkat telepon selular mengaku tengah berada di Moskwa. Adapun 
redaksi Detik.com, mendapat kiriman tiga peti mati berwarna coklat. Tiga peti 
sepanjang satu meter itu dikirimkan oleh seorang kurir yang mengaku peti-peti 
itu dikirim dari Senayan.

Peti-peti itu ditujukan untuk Pemimpin Redaksi Detik.com Budiono Darsono, Wakil 
Pemimpin Redaksi Arifin Asydhad, dan Redaktur Pelaksana detikhot Is Mujiarso. 
Dalam surat tanda terima, kiriman untuk Is Mujiarso tertulis "Mumu Aloha", yang 
merupakan nama bekennya di dunia maya. Peti-peti itu diterima sekitar pukul 
10.00.

Menurut sang kurir, peti-peti tersebut dikirimkan oleh Sumardi. Namun, si 
pengantar mengaku tidak tahu siapa Sumardi itu, dan yang ia tahu hanyalah 
Sumardi berkantor di sekitar Senayan. "Dari Pak Sumardi di Senayan," kata kurir 
saat ditanya oleh petugas resepsionis redaksi Detik.com. Salah satu peti itu 
bernomor 404.

Dari tanda terima, tertulis bahwa peti mati itu dikirim oleh perusahaan Rest in 
Peace Soon di Unit 166 Jalan Asia Afrika Pintu IX Senayan, Jakarta 10270. Di 
kolom tanda tangan pengirim tertulis RIP.

Sementara peti mati yang dikirim ke Kompas.com ditujukan kepada Edi Taslim, 
Direktur Bisnis Kompas. Peti yang dikirim itu berukuran panjang sekitar satu 
meter. Di dalam peti berwarna coklat itu berisi bunga tujuh rupa. 

Sementara peti mati ke ANTV dialamatkan kepada Pemimpin Redaksi ANTV Uni Lubis. 
"Ok, somebody sending me a box, 1 meter long, a casket inside. Sent by Rest In 
Peace Soon. I'ts in #ANTV's office now," tulis Uni dalam akun Twitter-nya.


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke