Apabila Pancasila bukan suatu tulisan mati yang harus dikultuskan, maka oleh itu perlu dipersoalkan ayat pertama Ketuhanan Yang Maha Esa. Sekalipun dari satu sumber tetapi apakah kaum muslimin di Indonesia menganggap Tuhan orang Kristen sama dengan Allah? Bukankah Allah itu mewahyukan kepada pengikutnya dalam Al Quran ayat 3,28 dan 5,51 untuk tidak boleh bersahabat dengan orang kafir, Yahudi dan Nasrani dan mengangkat mereka menjadi pemimpin?
Bukan itu saja malah mereka yang percaya pada Allah pun dihantam, lihat apa yang terjadi dengan kaum Ahmadiayah, mesjid mereka dihancur, umatnya ada yang di bunuh perkampungannya dilenyapkan. Apakah ada ramai-ramai protes bahwa karena satu Allah, maka perbuatan itu melanggar falsafah negara Pancasila dan hukum negara? Jadi yang saya bilang ialah kalau pada ayat pertama Pancasila itu disebutkan "Kebebasan beragama", maka maslahnya mudah, semua pihak untung tidak ada yang dibuntungkan, selain kalau ada yang mau membuntungkan yang lain atau saling mau membuntungkan satu dengan yang lain.. Itulah maknanya seperti apa yang disebutkan dalam ayat selanjutnya dalam Pancasila, ialah "Keadilan Sosial", untuk adanya keadilan harus ada kejujuran, tanpa kejujuran tidak ada keadilan. Dalam menjalankan keadilan harus juga bisa melihat kekurangan atau kelemahan yang ada pada Pancasila itu bahwa dalam masyarakat majemuk, yang terdiri dari berbagai umat berkepercayaan. Kalau hal ini tidak dilihat atau tidak mau dilihat, maka omongan tentang faedah Pancasila adalah semata sepuhan bibir saja. ----- Original Message ----- From: suryana To: [email protected] Sent: Tuesday, June 07, 2011 6:37 AM Subject: Re: [proletar] Pancasila Rumah Kita Anda jelas tidak bisa memahami hakekat dari Pancasila. Bila anda memahami dan mengikuti proses perjalanan sejarah Indonesia sejak minimal 1928, sampai dengan 1945, maka anda akan maklum mengapa menjadi ada Pancasila, Pancasila bukanlah suatu tulisan mati yang harus di kultus kan sebagai yang paling di puja, karena pada saat itu Indonesia belum lah menjadi sebuah kesatuan, dan terdiri dari beragam kerajaan, etnis, budaya, bahasa, agama ( theis dan non theis ), bagaimana bisa sekelompok manusia membuat Pancasila bila memang mereka bukan orang pintar dimasa nya ?, bagaimana proses Musyawarah Mufakat mengenai kalimat Pancasila dan urutannya ( biarpun didalam kenyataannya urutan bukan menjadi patokan utama, semisal rapat antar RT dan warga nya, apakah sila Persatuan Indonesia dibahas ? ). Maka kasihanlah orang yang tidak memahami Pancasila. Maka kasihanlah Holanda yang tidak bisa memberikan kemerdekaannya kepada Indonesia, dimana Indonesia malah berperang, dalam hal ini menyatakan bahwa Indonesia berdiri bukan karena pemberian seperti halnya Malaysia sehingga mereka tidak memiliki pemikir dan apalagi yang namanya pahlawan. Dijajah Jepang ketika Jepang takluk, maka naskah Kemerdekaan pun dibuat semalam dengan tujuan tidak mau Indonesia merdeka karena diberikan oleh sekutu, lebih baik langsung ke jendral Jepang untuk memaksa pada tanggal 17 Agustus menjadi hari kemerdekaan Indonesia. Kang Ambon, memang bisa aku maklum i membenci Indonesia, karena Maluku termasuk daerah tertinggal, dan dilain sisi mohon intropeksi, bagaimana pola kehidupan sehari hari masyarakat anak muda nya yang tinggal di sana ? sama hal nya dengan Irian dan NTB/Timor, dimana kekuasaan gereja sedemikian kuatnya, dan masyarakat malah di loloh oleh minuman keras melulu, sehingga tanpa sadar sdm lebih banyak hengkang keluar daerahnya. Untuk ini janganlah menyalahkan Pancasila, UUD 45, Bhineka Tunggal Ika dan Garuda nya, karena semua di bentuk dalam waktu singkat, dengan penuh liku liku baik internal maupun eksternal. Mengapa pula kang Ambon fokus ke sila Ketuhanan Yang Maha Esa, apakah bila kang Ambon di KTP ditulis Islam sedang sehari hari pergi ke Gereja dibunuh ?, apakah ada pembunuhan gara gara di KTP beragama anu, sedang sehari hari tidak pernah pergi ketempat ibadah ?, bagaimana Komunisme bisa eksis padahal paham Komunisme jauh dari agama ?...............semua berawal dari Musyawarah Mufakat, tanpa ada Musyawarah Mufakat apa mungkin bisa ada Indonesia yang menjadi sebuah Republik ?. Memang saat ini sudah keblinger dikit dikit voting dikit dikit voting, padahal dengan memahami musyarawarah muafakat pada akhirnya melahirkan para lobbyies kelas dunia, semisal Mochtar Kusuma Atmaja ( termasuk generasi terakhir yang mampu membuat batas laut bertambah sekian mil dan di Undangkan oleh PBB ), belum lagi banyak para diplomat yang bisa kemana mana sampai sampai bisa dikenal banyak tokoh dunia, semisal Bung Karno apakah mungkin seorang BK bisa menjadi masuk buku sejarah dunia sebagai seorang oratur terkemuka dizaman nya ?, bila tidak dibantu oleh para rekannya yang berkeliling dunia memperkenalkan Indonesia ?. Mohon renungkan, aku menulis ini tidak lebih dari 10 menit........dan aku percaya Pancasila bukanlah falsafah asal jadi......percayalah, pada saat nya nanti Pancasila akan jauh dikenal dibandingkan dengan falsafah negara yang umum dipakai di dunia saat ini. sur. ----- Original Message ----- From: "sunny" <[email protected]> > Anda mengerti ataukah memaksa orang menerima pengertian yang tidak benar? > Mana bisa Tuhan itu Esa bagi orang beragama Hindu. Kepercayaan tidak > membutuhkan kebenaran. > > ----- Original Message ----- > From: suryana > > Kang Ambon mana ngerti Pancasila ?, lha Ambon saja di tinggal kan, dan > malah > mendukung untuk merdeka pula. > Sayang memang banyak WNI tidak pernah ngeh mengapa bisa ada NKRI, mengapa > tidak RIS maupun terpecah. > > Di kampung sebelah ada sebuah oretan yang menarik, mengenai kata " Budak > " > Bila kita melihat kata budak di luar kontek NKRI, maka budak adalah > slave, > sedang untuk Indonesia istilah Budak bukanlah slave, melainkan anak ( > sunda ), demikian juga sahaya yang sekarang umum menjadi saya, yang > menyatakan kerendahan hati, dan apakah di jaman kerajaan kerajaan > Indonesia > ada budak seperti halnya di kerajaan kerajaan timur tengah, europa ?, > siapakah yang memperkenalkan 'budak' ke Indonesia ? > > sur. > ps. > Mohon dengan sangat didalam menghayati Pancasila janganlah dengan memakai > nomor urut, karena hakekat Pancasila bukanlah berdasarkan urutan 1 sd 5, > melainkan tergantung situasi dimana saat itu sedang berada. > ----- Original Message ----- > From: "ajeg" <[email protected]> > > > > > Kalau Sila-1 diinterpretasi macam-macam ya itu > > salahnya yang menginterpretasi, kenapa tuhan > > diinterpretasi macam-macam, bahkan harus bergantung > > corak agamanya. > > > > Mayoritas penduduk di nusantara yang menganut > > animisme / dinamisme sekalipun, mengenal dan percaya > > adanya kekuasaan di luar dirinya yang berpengaruh > > atas kehidupannya. Sekurangnya, percaya bahwa dia > > tidak punya kuasa apapun atas kelahiran & kematiannya. > > Dalam Pancasila, kuasa itulah yang difalsafahkan > > sebagai 'tuhan'. > > > > Kamu sendiri gimana mbon, percaya bahwa kamulah yang > > menentukan kelahiran & kematianmu? Kalau percaya > > seperti itu, maka bolehlah berbangga sebagai atheis. > > > > Sayangnya mayoritas manusia pasti nggak percaya kamu > > bisa menentukan sendiri kelahiran serta kematianmu. > > Dan, bagi yang percaya demokrasi, sudah pasti suara > > mayoritaslah yang harus didahulukan. > > > > Tapi jangan khawatir, penerapan Sila-1 itu secara hukum > > sudah ditetapkan dalam Pasal 29 ayat 2 UUD'45 yang > > menjamin penduduk untuk memeluk agama dan 'KEPERCAYAAN- > > nya'. > > > > Artinya, tidak memeluk agama apa pun ya nggak masalah > > selama dia PERCAYA adanya kekuasaan di luar dirinya yang > > berpengaruh atas kehidupannya. > > > > > > --- "sunny" <ambon@...> wrote: > > > >> Kalau sila pertama Pancasila berbunyi "Kebebasan beragama" maka > >> semua pihak akan untung, tidak ada macam-macam interpertasi tentang > >> ketuhanan yang maha Esa. Ambil saja di Indonesia ada agama Kong Fu > >> Chu, Hindu, Buddha mereka mempunyai agama yang tidak mengenal > >> Ketuhanan Yang Maha Esa, apalagi kaum atheis atau anisme. Serahkan > >> saja kepada masing-masing orang, mau percaya atau tidak, sebab > >> kalau Allah itu penguasa alam semesta, maka Allah yang menentukan > >> bukan si penghobat tentang tidak benarnya agamaa orang lain. > >> > >> Seperti di USA kebebasan beragama dijunjung tinggi, dan oleh sebab > >> itu semua agama termasuk percaya setan pun tentu saja ada. > >> > >> Jadi kalau kebebasan beragama ada tidak ada kejadian seperti kaum > >> Ahmadiah disikat dan AlQuan yang sama dengan kaum penyerang pun > >> dibakar. > >> > >> ----- Original Message ----- > >> From: suryana@... > >> > >> > Pancasila rumah kita, rumah untuk kita semua > >> > nilai dasar Indonesia, rumah kita selamanya > >> > untuk semua puji namanya > >> > untuk semua cinta sesama > >> > untuk semua wadah menyatu > >> > untuk semua bersambung rasa > >> > untuk semua saling membagi > >> > pada setiap insan > >> > sama dapat sama rasa > >> > > >> > oooh Indonesiaku > >> > oooh Indonesia [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
