http://voa-islam.com/news/indonesiana/2011/06/08/15187/fpi-indonesia-selangkah-lagi-menuju-daulah-islamiyah/

Rabu, 08 Jun 2011


FPI: Indonesia Selangkah Lagi Menuju Daulah Islamiyah
Bekasi (voa-islam) - Menurut pandangan FPI, Indonesia diakui atau tidak, 
sebelum merdeka atau setelah merdeka, Indonesia sudah menjadi negara Islam, 
hanya belum kaffah. Buktinya, mayoritas penduduk Indonesia muslim, Presiden dan 
Wakil Presidennya pun muslim hingga saat ini. Demikian dikatakan Ustadz Awit 
dari DPP Front Pembela Islam (FPI) dalam sebuah Tabligh Akbar di Bekasi.

Menurut Ustadz Awit, sebuah negara bisa dihukumi sebagai negara Islam, apabila 
penduduknya mayoritas Islam, dipimpin oleh orang Islam, penduduk umat Islam 
tersebut diperbolehkan melaksanakan syarait Islam. maka ngeri bisa dikatakan 
seagai negara Islam.

Hukum Islam itu, lanjut Awit, terbagi menjadi empat bagian: Pertama hukum Allah 
yang berkaitan dengan individu, seperti puasa, zakat dan haji. Selama ini umat 
Islam Indonesia tidak dilarang untuk berpuasa, shalat, zakat, haji. Ini  
berarti hukum Allah sudah bisa dilaksanakan.

Kedua, hukum-hukum Allah yang berkaitan dengan masalah tatatan rumah tangga, 
seperti nikah secara Islam, bercerai secara Islam, bagi waris juga tidak 
dilarang di Indonesia, bahkan pemerintah menyediakan tempatnya, yaitu 
Pengadilan Agama.

Ketiga, hukum-hukum Allah yang berkaitan dengan masalah sosial dan 
kemasyarakatan. Dalam hal ini, umat Islam tidak dilarang menyekolahkan 
putra-putri ke sekolah Islam, bahkan mendirikan sekolah Islam pun tidak 
dilarang, termasuk menabung dan mendirikan bank syariah juga tidak dilarang.

Nah, yang belum dilaksanakan umat Islam dindonesia saat ini adalah hukum-hukum 
Allah yang berkaitan dengan kekuasaan atau Daulah Islamiyah. Jadi, umat Islam 
Indonesia sudah 75 persen melaksanakan syariat Islam, tinggal 25 persen hukum  
Allah yang belum diterapkan, yakni merebut kekuasaan untuk menjadikan Indonesia 
sebagai Daulah Islamiyah. "Inilah PR umat Islam yang harus terus diperjuangkan. 
Karena itu kita harus siap merebutnya," ujar Awit.

Ustadz Awit sangat menyayangkan, jika nasib bangsa Indonesia yang mayoritas 
umat Islam ini, seperti tikus yang mati di lumbung padi. Lihat saja, kekayaan 
alam di republic ini, habis dikeruk oleh asing. Itu akibat, kita ada 
Undang-undang yang mengatur untuk menghentikan hal ini. Kalau sudah ada UU yang 
mengaturnya, orang kafir tidak bisa seenaknya mengeruk kekayaan alam Indonesia.

Tak kalah parahnya adalah korupsi di negeri ini makin bertambah. Koruptor tidak 
kapok-kapoknya melakukan praktek korupsi, mengingat sanksi hukumnya lemah dan 
menggunakan hukum Belanda. Giliran rakyat kecil, dipenjara dengan hukuman yang 
seberat-beratnya. Kalau saja, sanksi hukum untuk koruptor diterapkan hukum 
potong tangan, pasti akan ada efek jeranya.

"FPI bahkan sudah meminta DPR untuk menerapkan hukum potong tangan bagi 
koruptor di Indonesia. Tapi pejabat kita menolak hukum itu. Namun demikian, FPI 
cukup lega dengan munculnya perda-perda syariah di berbagai daerah, sehingga 
orang-orang sekuler merasa tidak nyaman," tukas Awit kecewa.

NII Gadungan

Dukungan umat Islam terhadap penerapan syariat Islam sendiri sesungguhnya cukup 
besar. Sejarah mencatat, pada 7 Agustus 1949,  Kartosuwiryo membentuk DI/TII, 
dimana ketika itu sudah mendapat dukungan dari umat Islam di Indonesia, 
terbukti di Sulawesi ada Kahar Muzakar, di Sumatera ada Daud Beureuh. Tapi 
kemudian, NII Kartosuwiryo dicoreng citranya oleh intelijen yang  
mengatasnamakan NII. Kemudian muncullah NII gadungan, yang kerjaannya merampok, 
memeras, memperkosa, membunuh kiai dan membakar rumah warga. Akhirnya NII yang 
asli diopinikan sebagai perampok dan pengganggu masyarakat. Kartosurwiryo pun 
dipagar betis dan gugur.

Belakangan, diopinikan lagi oleh NII KW IX (bukan NII nya Kartosuwiryo), tapi 
NII buatan intelijen, yang tujuannya untuk merontokan NII Kartosuwiryo. Kenapa 
isu NII dikeluarkan saat ini? "Karena ormas dan aktivis Islam bersatu padu 
untuk menerapkan syariat Islam. Lalu dibuatlah opini yang menyesatkan, kalau 
bikin  negara silam, maka akan diajarkan merampok dan menipu, seperti itu 
intelijen merusak citra NII Kartosuwiryo yang didukung oleh umat Islam."

Yang jelas, Islam tidak pernah mengajarkan merampok, menipu, memutuskan 
silaturahim. Apa yang dilakukan intelijen itu adalah berupaya untuk menohok 
aktivis Islam agar berhenti menerapkan syariat Islam. Desastian


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke