Refl : Taktik manuver militer untuk mengelabui musuh di medan peperangan tidak akan mempan untuk mengibul rakyat, karena mereka sudah sadar akal bulus yang memakai nama demokrat adalah tidak lain dari pada kleptokrat.
http://www.tribunnews.com/2011/06/11/sby-coba-alihkan-kasus-nazaruddin-dari-sorotan-publik Skandal Nazaruddin SBY Coba Alihkan Kasus Nazaruddin dari Sorotan Publik Tribunnews.com - Sabtu, 11 Juni 2011 19:25 WIB TRIBUNNEWS.COM/DANY PERMANA Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, saat membuka Pekan Raya Jakarta (PRJ) 2011, di Kemayoran, Jakarta, Kamis (9/6/2011). Laporan Wartawan Tribunnews.com, Rachmat Hidayat TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pidato SBY yang mengatakan tidak akan mencalonkan istri dan anaknya dalam pencalonan presiden tahun 2014 adalah upaya pembelokan atau pengalihan berbagai isu korupsi yang dilakukan oleh kader Partai Demokrat. Ini menunjukkan kegagalan SBY-Boediono menjalankan roda pemerintahan yang dipimpinnya. "Target dari pernyataan tersebut adalah, pertama, untuk meraih simpati publik yang kian hari semakin kritis terhadap berbagai kebijakan SBY bahkan tidak mempercayai lagi segala ucapan dan tindakan pemerintahan SBY-Boediono," ujar mantan aktivis 98 yang kini Ketua DPN Repdem, Masinton Pasaribu, Sabtu (11/06/2011). Hal tersebut, katanya, ditandai dengan menurunnya dukungan terhadap kepemimpinan SBY berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh berbagai lembaga survei. Kemudian, SBY mencoba membelokkan diskursus publik yang kini ramai menyoroti berbagai dugaan kasus korupsi yang menyeret nama kader partai demokrat, seperti Nazaruddin, Angelina Sondakh, Jhony Allen Marbun, Sardan Marbun, RE Siahaan, Amrun Daulay, Djufri, dan lain-lain. Berbagai kasus korupsi besar yang belum terselesaikan seperti kasus bailot bank Century 6,7 triliun, kasus mafia pajak, kasus pengadaan kereta api, dan suap Sesmenpora yang sekarang sedang berjalan juga coba dialihkan dari sorotan publik. "Kegagalan pemerintahan SBY-Boediono menciptakan kesejahteraan rakyat, menciptakan lapangan kerja, dan kegagalan melakukan pemberantasan korupsi," tambahnya. Pidato SBY dalam forum HIPMI akhir pekan lalu mengingatkan kita tentang keindahan pidato dan janji-janji kosong yang pernah diucapkan oleh SBY pada saat kampanye pilpres tahun 2009. Dan janji-janji indah tersebut berwujud sebagai kebohongan seperti yang ditegaskan oleh pimpinan ormas keagamaan. Pernyataan SBY, lanjut Masinton, adalah bentuk ke-geer-an dan kepongahan, karena jikapun SBY mencalonkan istri atau anaknya dalam pilpres 2014 belum tentu mendapatkan dukungan signifikan dari rakyat, apalagi memenangkannya. Rakyat memiliki sudah memiliki catatan tersendiri tentang kegagalan pemerintahan SBY-Boediono. "Justru yang harus diperhatikan para kandidat yang hendak maju dalam pilpres 2014 nanti adalah bahwa dukungan SBY bukan lagi menjadi faktor positif yang memenangkan, tetapi faktor negatif di mata rakyat," demikian Masinton Pasaribu. Penulis: Rachmat Hidayat | Editor: Yudie Thirzano Akses Tribunnews.com lewat perangkat mobile anda melalui alamat m.tribunnews.com [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
