http://kupang.tribunnews.com/read/artikel/64515/soeharto

Soeharto
 
Dion DB Putra
"Yang tidak kangen sama Orde Baru itu tidak punya hati. Tapi yang mau Orde Baru 
berkuasa lagi tak punya otak." 

Senin, 13 Juni 2011 | 09:34 WITA
Oleh Dion DB Putra

Duar! Ada Ledakan Saat Makam Soeharto Digali
Bulu Kuduk Merinding...

MINGGU Wage, 27 Januari 2008. Jarum jam menunjuk angka 15.30. Azan Asar 
terdengar sayup-sayup dari kejauhan. Suasana Astana Giribangun redup kala itu, 
Matahari entah ke mana. Tak ada awan, juga tiada tanda gerimis bakal jatuh.

Sejumlah orang berkumpul, mengelilingi sebidang petak tanah makam yang siap 
digali. Mereka melakukan upacara Bedah Bumi yang bertujuan agar penggalian 
berjalan lancar. Yang memimpin Begug Purnomosidi, Bupati Wonogiri.

Lalu linggis dihujamkan ke  tanah. Tak ada apapun yang terjadi. Begitu pula 
tikaman yang kedua. Namun, bulu kuduk sontak merinding saat linggis mengoyak 
tanah  untuk kali ketiganya. "Tiba-tiba, duar! Terdengar suara  ledakan yang 
sangat keras bergema di atas kepala kami," kata Sukirno, juru kunci makam 
keluarga Soeharto di Astana  Giribangun.  Sukirno menceritakan kembali 
pengalamannya menggali makam  Soeharto dalam buku Pak Harto The Untold Stories 
yang diluncurkan di Jakarta, Rabu, 8 Juni 2011. 

Menurut Sukirno, para penggali makam dan orang-orang di sekitarnya kaget. 
Mereka berpandangan. Bingung. Coba mereka-reka dari mana asal suara menggelegar 
itu. "Bukan bunyi petir, lebih  mirip suara bom besar meledak di atas cungkup 
Astana Giribangun," katanya. Aneh. Tak ada yang porak-poranda, tak satupun 
benda yang  bergeser karena ledakan itu. Mereka menduga itu suara gaib. Semua 
diam, terpaku. Lalu suara Begug memecah keheningan. "Bumi  mengisyaratkan 
penerimaan terhadap jenazah beliau," tutur  Sukirno  menirukan kalimat Bupati 
Wonogiri tersebut.  

Sukirno adalah satu dari 113 orang yang menceritakan kisahnya dalam  Pak Harto 
The Untold Stories -- buku yang diluncurkan tepat pada peringatan kelahiran 
Soeharto ke-90 tanggal 8 Juni 2011 lalu. Peluncuran buku tersebut berlangsung 
hanya tiga pekan setelah masyarakat Indonesia dikejutkan dengan hasil survei 
lembaga Indo Barometer yang menunjukkan 36,5 persen responden (dari total 
1.200) memilih Jenderal Besar Soeharto sebagai presiden yang paling disukai. 
Selanjutnya  20,9 persen memilih Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, 9,8 persen 
memilih Presiden Soekarno, 9,2 persen memilih Megawati Soekarnoputri, 4,4 
persen memilih BJ Habibie, 4,3 persen memilih almarhum mantan Presiden 
Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.

Mayoritas responden juga menilai Orde Baru lebih baik daripada Orde Reformasi. 
Hanya pada bidang hukum, Orde Reformasi dianggap lebih baik. Sementara pada 
banyak sisi kehidupan lain, terutama ekonomi dan sosial politik, dominan 
responden menyatakan ketidakpuasan terhadap pemerintahan saat ini. Masa 
kepemimpinan Soeharto lebih memuaskan. Wow! Karuan saja banyak yang sewot.

Reaksi keras datang dari Istana Kepresidenan Republik Indonesia. Pemerintahan 
SBY-Boediono menegaskan, masa pemerintahan Orde Baru tidak bisa dibandingkan 
dengan kondisi saat ini karena suasananya jauh berbeda. Juga dipertanyakan 
validitas data serta metodologi survai Indo Barometer. Juru bicara Presiden, 
Julian Aldrin Pasha menilai data responden membingungkan karena tidak 
dicantumkan secara detail subyek pertanyaan dan parameter yang lengkap. 
SBY sendiri pernah membandingkan zaman dia dengan Soeharto. "(Di zaman 
Soeharto) pemerintahan top down. Presiden bisa berbuat banyak," kata SBY.  Dia 
juga membandingkan bisnis zaman Soeharto dengan saat ini. "Bisnis dulu bisa 
diatur dan ditata, belum berlaku otonomi daerah seperti sekarang ini," kata SBY.

Orang bisa berbeda pandangan merespons hasil survei tersebut. Dan, itu wajar 
saja. Yang pasti dalam keseharian tuan dan puan mungkin pernah menangkap 
suara-suara masyarakat yang merindukan kondisi stabil dan aman seperti di masa 
Orde Baru (Orba). Rakyat di level akar rumput tidak peduli apakah Era Reformasi 
lebih demokratis dibanding Orba. Ukuran mereka simpel saja yaitu bagaimana 
kemudahan mendapatkan sembilan bahan kebutuhan pokok (sembako) dengan harga  
terjangkau. Untuk urusan 'kampung tengah' alias perut ini agaknya masa Soeharto 
lebih mudah. Zaman Soeharto, Indonesia swa sembada beras. Impor pangan hampir 
nihil. Sekarang bahkan garam dapur pun impor. Begitu kira-kira persepsi umum di 
tengah masyarakat. Jadi bisa dimengerti bila ada yang kangen dengan Orde Baru. 
Dan, Orde Baru identik dengan Soeharto! 

Survei Indo Barometer pun menyeruak di tengah beragam keganjilan di ini negeri. 
Sebut misalnya kasus Bank Century, berbiaknya gerakan Negara Islam Indonesia 
(NII), pembakaran rumah ibadah, penyerangan tiada henti terhadap kelompok agama 
minoritas serta ingkar janji pemerintah terhadap sejumlah program pro rakyat 
yang oleh tokoh agama dilukiskan sebagai kebohongan. 

Survei itu juga bergulir di tengah drama politik yang menyakiti hati rakyat 
seperti studi banding, gedung mewah DPR, kasus anggota Dewan kepergok nonton 
video porno dalam rapat paripurna hingga kasus Partai Demokrat lewat M 
Nazaruddin yang masih berada di Singapura dan membangkang terhadap panggilan 
KPK dalam kasus proyek SEA Games 2011. Drama itu menambah rasa tidak puas 
masyarakat.

Begitulah tuan dan puan. Memori kolektif rakyat Indonesia seolah "lupa sejenak" 
bahwa Soeharto dan kepemimpinannya selama 32 tahun penuh kontradiksi. Mulai 
dari pengambialihan kekuasan tahun 1965, kasus G 30S PKI hingga jargon KKN 
(Kolusi, Korupsi dan Nepotisme). Meski banyak tuduhan, Soeharto tak pernah 
diadili sampai wafat 2008 atau sepuluh tahun setelah lengser keprabon. 

Buku Pak Harto The Untold Stories  cuma mengisahkan sisi positif Soeharto. Lalu 
siapa yang akan menceritakan hal-hal kelam dari zaman itu? Bukankah sisi 
negatif mantan presiden bisa menjadi pembelajaran agar bangsa Indonesia jangan 
terperosok pada lubang yang sama? Bangsa besar ini agaknya belum dewasa. 

Benar peringatan Ikrar Nusa Bakti. Semua kenikmatan Orde Baru adalah hasil 
hutang luar negeri yang mesti ditanggung rakyat, penyerahan kekayaan sumber 
daya alam kepada asing serta mengebiri kebebasan hak asasi individu. "Kita 
jangan lupa bahwa stabilitas saat itu diperoleh dengan tangan besi. Di bawah 
pijakan sepatu lars, di ujung moncong senapan!" kata Ikrar. Seorang kawan 
menimpali. "Yang tidak kangen sama Orde Baru itu tidak punya hati. Tapi yang 
mau Orde Baru berkuasa lagi tak punya otak." 
He-he-he...([email protected])


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke