Tulisan ini juga disajikan dalam website http://umarsaid.free.fr/

yang sampai sekarang sudah dikunjungi   938  980  kali



----    -----     -----



Mengenang wafatnya Bung Karno



Jiwa Agung Bung Karno Masih Terus

Hidup Di hati Banyak Orang





Ketika negara dan bangsa kita sedang dalam keadaan yang sangat membusuk,
amat bobrok, atau  rusak sekali  dalam banyak bidang kehidupan, yang seperti
sama-sama kita saksikan dimana-mana

dewasa ini, maka banyak orang akan memperingati Hari Wafatnya Bung Karno
pada tanggal 21 Juni yang akan datang.



Kebejatan moral atau kerusakan akhlak di banyak kalangan,(terutama di
kalangan atas), yang sekarang tercermin dengan gamblang dalam merajalelanya
korupsi, pelanggaran dan pelecehan hukum, penyalahgunaan kekuasaan dalam
lembaga eksekutif, legislatif, dan judikatif, sudah sedemikian hebatnya,
sehingga banyak orang mulai bertanya-tanya apakah negara kita masih bisa
diselamatkan dari kehancuran.



Keadaan yang serba semrawut dan kerusakan moral publik yang meluas dewasa
ini , yang sudah berlangsung sejak lama, membuktikan bahwa sejak wafatnya
Bung Karno dalam tahun 1970, negara dan bangsa kita kehilangan panutan yang
berwibawa atau pimpinan  nasional yang mempunyai integritas yang tinggi.



Dengan wafatnya Bung Karno akibat serentetan tindakan yang tidak manusiawi
dan perlakuan yang biadab oleh rejim militer Suharto, maka negara dan bangsa
Indonesia sejak waktu itu sudah kehilangan arah, dan terjerembab dalam
jurang kehancuran dan kebusukan. Kalau direnungkan dalam-dalam maka
kelihatan nyatalah  bahwa wafatnya Bung Karno adalah, pada hakekatnya ,
akibat politik anti-Bung Karno yang dianut pimpinan Angkatan Darat (waktu
itu), yang mendapat dukungan dari berbagai golongan reaksioner dalam negeri
dan luar negeri



Apakah negara dan bangsa masih bisa diperbaiki ?



Wafatnya Bung Karno merupakan kehilangan besar atau kerugian yang luar biasa
hebatnya bagi bangsa, termasuk bagi anak-cucu kita di kemudian hari. Oleh
karena itu, dosa-dosa rejim militer Suharto beserta para pendukung setianya
adalah juga amat besar, yang sama sekali tidak boleh ( !!!)   dan juga tidak
bisa dilupakan oleh berbagai golongan bangsa dan generasi-generasi yang akan
datang.



Selalu mengingat kepada pengkhianatan  Suharto dan konco-konconya terhadap
Bung Karno, dan mengenang kembali penyiksaan biadab terhadapnya sehingga
wafat dalam tahanan adalah suatu kewajiban semua golongan bangsa Indonesia
yang mencintai Bung Karno dan menjunjung tinggi-tinggi perasaan keadilan dan
kemanusiaan.  Dan mengutuk pengkhianatan Suharto (beserta konco-konconya)
adalah perbuatan yang benar, sikap moral yang terpuji, dan tindakan yang sah
dan juga mulia.



Memperingati Hari Wafatnya Bung Karno merupakan kesempatan yang baik sekali
untuk mengingat-ingat kembali segala tindakan rejim militer Orde Baru selama
32 tahun yang penuh pelanggaran HAM, pembelengguan hak-hak demokrasi rakyat,
merajalelanya KKN di semua tingkat dan daerah, dan kerusakan moral
dimana-mana. Sebagian besar sekali dari politik yang anti kepentingan rakyat
itu masih terus berlangsung sampai dewasa ini.



Merajalelanya korupsi di segala bidang sekarang ini, dan kebejatan moral
yang dipertontonkan dengan jelas oleh banyaknya perusakan hukum dan keadilan
oleh mafia hukum (ingat, antara lain :  kasus Andi Nurpati, Nunun Nurbaeti,
Nazaruddin, istri Nazaruddin hakim Syarifuddin, , Gayus Tambunan, kasus Bank
Century, dan banyak kasus lainnya lagi) bertolak belakang sama sekali dengan
situasi ketika pemerintah dan negara ada di bawah pimpinan Bung Karno.



Kebejatan moral atau kerusakan akhlak (terutama di kalangan atas) yang sudah
membikin busuk kehidupan negara dan bangsa dewasa ini sudah sedemikian
parahnya sehingga sulit diramalkan apakah masih bisa diperbaiki, dalam tempo
singkat, dan di bawah pengelolaan  para elite yang sekarang memegang
kekuasaan..



Indonesia di bawah Bung Karno dikagumi banyak rakyat di dunia


Tidak mngkin !!! Sebab, seperti yang sama-sama kita saksikan selama ini,
justru para elit yang seharusnya dapat secara baik memimpin atau mengelola
atau mengatur urusan-urusan di bidang eksekutif, legislatif, dan judikatif
itulah yang malahan menjadi sumber kerusakan, kebusukan, dan berbagai
penyakit parah bangsa. Dan sejarah bangsa sudah menunjukkan dengan jelas
bahwa  kerusakan atau pembusukan yang demikian luas dan demikian besar  itu
tidak pernah terjadi di bawah pimpinan Presiden Sukarno.



Kalau kita renungkan dengan dalam-dalam maka nyatalah bahwa digulingkannya
Bung Karno oleh pimpinan Angkatan Darat (waktu itu) dan disusul dengan
wafatnya dalam keadaan tersiksa sekali adalah peristiwa yang merobah bangsa
Indonesia yang terkenal di dunia sebagai bangsa yang mempunyai patriotisme
yang tinggi, nasionalisme yang luhur, solidaritas internasional yang besar,
menjadi bangsa yang melempem, atau loyo, dalam menghadapi musuh-musuh rakyat
dan bangsa.



Kalau Indonesia di bawah pimpinan Bung Karno pernah dikagumi oleh banyak
rakyat di dunia berkat digelorakannya  Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika,
Konferensi Bandung, Tripanji revolusi, Lima Azimat Revolusi, Nasakom,
Berdikari, Manipol, To build the World Anew, Go to Hell With your Aid,
Ganefo dan berbagai kegiatan solidaritas Asia-Afrika, maka Indonesia di
bawah Suharto terkenal di dunia sebagai pembantai jutaan manusia yang tidak
bersalah apa-apa dan banyaknya KKN  dan pelanggaran HAM yang berlangsung
lama sekali.



Bung Karno wafat tanpa peninggalan harta-benda yang banyak



Bung Karno wafat dengan tidak  meninggalkan banyak harta-benda, atau
kekayaan yang berasal dari korupsi atau sumber-sumber haram lainnya. Ini
berlainan sekali dengan Suharto, yang selama hidupnya, dan melalui
jaring-jaringan KKN yang luas, telah mengumpulkan   -- secara
besar-besaran --  harta haram, juga untuk anak-anaknya.



Bung Karno wafat dengan mewariskan berbagai hal yang besar artinya bagi
bangsa atau rakyat Indonesia untuk selama-lamanya.. Di samping Pancasila,
dan Bhinneka Tunggal Ika, dan berbagai ajaran-ajarannya yang antara lain
terdapat dalam buku « Dibawah Bendera Revolusi » dan « Revolusi Belum
Selesai », maka ada sejumlah peninggalan-peninggalannya yang lain, yang juga
amat penting. Di antara peninggalan-peninggalan itu adalah Gelora Bung
Karno, Monumen Nasional (Monas), mesjid besar Istiqlal, Jembatan Semanggi.



Hal itu semua adalah bertolak belakang dengan wafatnya Suharto, yang tidak
meninggalkan hal-hal yang besar dan berharga bagi rakyat serta anak-cucu
bangsa, melainkan kerusakan jiwa dan dosa-dosa berat yang berupa harta haram
dan banyak pelangggaran HAM dan perusakan demokrasi.

.

Dengan wafatnya Bung Karno, seorang pemimpin bangsa Indonesia yang terbesar
selama ini – dan mungkin juga terbesar dalam sejarah bangsa di kemudian hari
! – maka hilang pulalah  tokoh besar rakyat  dalam perjuangan untuk
masyarakat adil dan makmur, untuk sosialisme. Rakyat Indonesia kehilangan
seorang pemimpin yang dalam hidupnya sudah memperlihatkan sikap gigih dan
berani dalam melawan kolonialisme dan neo-kolonialisme atau imperialisme.



Seandainya Bung Karno belum wafat dan melihat situasi negara dan bangsa
seperti yang kita saksikan dewasa ini (dan sejak pemerintahan Orde Baru)
maka ia akan marah sekali dan berteriak lantang « Bukan negara dan bangsa
semacam ini yang saya cita-citakan, dan telah saya perjuangkan dengan
seluruh jiwa dan tenaga saya !!! ».



Bung Karno, dalam memimpin negara dan bangsa sebagai presiden selama lebih
20 tahun (sejak 1945 sampai 1966) tidak bergelimang dalam kekayaan yang
diperolehnya dari korupsi dan perbuatan-perbuatan haram lainnya. Walaupun ia
mempunyai banyak istri, namun tidak terdengar adanya banyak korupsi, seperti
yang dilakukan oleh Suharto atau presiden-presiden lainnya.



Indonesia, negaranya para maling berdasi


Bagi mereka yang masih hidup dan pernah menyaksikan keadaan negara dan
bangsa sebelum 1965 nyatalah dengan jelas bahwa di bawah pimpinan Bung Karno
bangsa dan negara Indonesia tidak pernah mengalami kerusakan akhlak dan
kebejatan moral seperti yang terjadi di jaman Orde Baru dan seterusnya
sampai sekarang.



Pengalaman selama ini sudah membuktikan  bahwa walaupun sampai dewasa ini
sudah banyak sistem yang dicoba untuk dipraktekkan dalam berbagai bidang,
dan  banyak komisi-komisi atau pansus dan panja telah dibentuk dimana-mana,
namun keadaan masih tetap serba rusak atau serba busuk, disebabkan oleh
kebejatan atau kebusukan  moral orang-orang  yang ditugaskan.



Sistem yang bagaimanapun bagusnya sistem atau perundang-undangan yang
bagaimanapun « njlimetnya » dan muluk-muluknya, toh masih bisa dilanggar,
disalahgunakan, direkayasa oleh orang-orang yang memang bermoral busuk atau
bobrok. Hal yang demikian itu pulalah yang sekarang ini kita saksikan sedang
terjadi dalam kasus besar Bank Century, kasus mafia hukum, kasus mafia
peradilan, kasus rekening gendut Polri, kasus Nazaruddin dan Neneng
Sriwahyuni, kasus Nunun Nurbaeti dan Andi Nurpati dan banyak lagi lainnya.



Kita semua tahu bahwa setelah Bung Karno digulingkan secara khianat dan
kemudian sengaja dibiarkan (lebih tepatnya : dibikin ) wafat dalam keadaan
sangat tersiksa berat sekali, maka negara kita telah menjadi negaranya para
maling berbintang, negaranya para perampok berdasi, negaranya para penipu
yang suka menghambur-hamburkan sumpah palsu, negaranya para tokoh-tokoh «
gadungan » yang mulutnya sampai berbusa-busa berkoar-koar soal pentingnya
ayat-ayat suci dan agama, negaranya para koruptor yang justru bicara lantang
tentang penegakan hukum dan pemberantasan korupsi (ma’af, sudah cukup itu
saja, supaya jangan kebablasan lebih jauh).



Perubahan besar dan fundamental hanya dengan revolusi



Sekarang ini, kerusakan moral atau kebejatan akhlak sudah sedemikian
hebatnya dan sebegitu luasnya sehingga pemimpin yang mana pun atau sistem
pemerintahan yang bagaimana pun sudah tidak mampu lagi memperbaikinya atau
tidak bisa mengobatinya selama belum terjadi perubahan-perubahan yang besar
dan fundamentaL.



Namun, adalah jelas sekali bahwa perubahan fundamental di Indonesia tidaklah
mungkin dilaksanakan  --  kapan pun juga ! – oleh orang-orang korup dan
bermoral bejat sejenis yang sekarang ini memegang kekuasaan  (atau pengaruh
besar) di bidang eksekutif, legislatif , judikatif,  dan di bidang ekonomi,
termasuk tokoh-tokoh usaha swasta.



Mereka ini pada umumnya terdiri dari orang-orang yang dididik atau
dibesarkan dengan kebudayaan rejim militer Suharto yang serba reaksioner,
korup, anti rakyat, anti ajaran-ajaran revolusioner Bung Karno.



Karenanya, perubahan besar-besaran dan fundamental di Indonesia hanyalah
bisa diadakan dengan jalan dan cara-cara revolusioner, dan bukan dengan
jalan dan cara-cara tambal sulam.  Jalan dan cara-cara revolusioner ini bisa
dinamakan revolusi. Dan untuk mengadakan  revolusi itu Bung Karno sudah
menunjukkan jalan yang harus ditempuh. Ajaran-ajaran revolusioner Bung Karno
adalah pada pokoknya, atau sebagian terbesar di antaranya, merupakan senjata
atau alat di tangan rakyat untuk mengadakan revolusi.



Dan menurut Bung Karno,  revolusi haruslah  dijalankan terus-menerus, untuk
bisa selalu mengadakan penjebolan dan pembangunan, terhadap apa yang sudah
lapuk dan busuk untuk diganti dengan yang bersih, segar dan baru. Ketika
bangsa dan negara kita sedang dibusukkan atau dirusak oleh berbagai kekuatan
korup dan reaksioner dalam negeri dan dijajah oleh neo-liberalisme yang
mendominasi sektor-sektor vital ekonomi seperti sekarang ini, maka makin
kelihatan jelaslah kebenaran ajaran-ajaran revolusioner Bung Karno.



Untuk menghadapi situasi dalam negeri yang sudah remuk atau bubrah akibat
menghebatnya korupsi dan kebejatan moral kalangan elite maka tidak ada jalan
lain yang bisa ditempuh oleh bangsa kita kecuali jalan yang sudah
ditunjukkan dengan gamblang oleh ajaran-ajaran revolusioner Bung Karno.



Dengan mengenang kembali segala ajaran-ajaran revolusionernya dan juga
memberikan penghormatan setinggi-tingginya kepada seluruh perjuangannya
untuk kepentingan bangsa dan negara, maka kita peringati Hari Wafat Bung
Karno tanggal  21 Juni ini.



Bung Karno telah wafat, sesudah mengalami penyiksaan berat  dan biadab dalam
tahanan yang penuh penderitaan. Jasadnya telah ditelan bumi di Blitar, namun
jiwa agungnya masih bersemayam di hati nurani banyak orang, dan gema
ajaran-ajaran revolusionernya masih terus terdengar, sampai sekarang !!!



Paris, 17 Juni  2011



A. Umar Said




[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke