Refeleksi : Memberi saran  boleh saja,  tetapi apakah  yang bersangkutan 
bersedia berhadapan dengan sang raja yang maha mulia? Bagaimana kalau sang raja 
bilang tidak ada waktu untuk memerima tamu?


http://www.komhukum.com/kriminal-feed-6288

Presiden Disarankan Temui Raja Arab Saudi






Komhukum (Jakarta) - Sekretaris Jenderal International Conference of Islamic 
Scholar KH Hasyim Muzadi menyarankan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menemui 
Raja Arab Saudi membicarakan nasib warga negara Indonesia yang terjerat masalah 
hukum di negara itu, terutama yang terancam hukuman mati.

"Hanya ada dua cara menyelamatkan Darsem dan yang berderet terancam hukuman 
mati di belakangnya yakni Presiden Yudhoyono datang sendiri ke Saudi berunding 
langsung dengan Raja atau membayar seluruh tebusan kepada keluarga," kata 
Hasyim di Jakarta, Selasa (21/6).

Darsem yang dimaksud Hasyim adalah tenaga kerja wanita (TKW) asal Indonesia 
yang divonis hukuman mati karena membunuh majikannya.

Namun karena ada pihak keluarga korban yang memberi maaf maka Darsem dibebaskan 
dari hukuman mati dengan syarat membayar denda sebesar dua juta Riyal Arab 
Saudi atau setara dengan Rp 4,7 miliar dalam tempo enam bulan.

Menurutnya, tugas itu juga tidak bisa diwakilkan kepada Menteri Tenaga Kerja 
dan Transmigrasi Muhaimin Iskandar. "Tidak bisa diwakilkan kepada Muhaimin yang 
kurang punya kemampuan untuk itu," kata mantan Ketua Umum Pengurus Besar 
Nahdlatul Ulama (PBNU) itu.

Menurut Hasyim, apabila Yudhoyono tidak menyelesaikan deretan WNI yang terancam 
hukuman mati, akan berdampak kurang baik buat pemerintah karena hal ini lebih 
tajam dari kasus politik atau ekonomi. "Orang akan banyak nimbrung dengan 
kepentingannya masing-masing, dan rakyat tidak berpihak kepada pemerintah," 
katanya.

Pada bagian lain Hasyim menyatakan TKW yang terancam hukuman mati karena 
melakukan pembunuhan, termasuk Ruyati yang dihukum pancung, Sabtu (18/6) lalu, 
kebanyakan karena membela kehormatan diri mereka dari perilaku majikannya. 
"Saya percaya bahwa perlawanan TKW kita karena membela kehormatan," katanya.

Dikatakannya, sangat sulit mencegah kekerasan majikan di Saudi kepada TKW yang 
menjadi pembantu rumah tangga. "Karena faktor budaya yang menganggap pembantu 
sangat rendah dan sudah merasa "dibeli"," katanya. Selain itu, kata Hasyim, ada 
kebiasaan majikan laki-laki memperlakukan perempuan pembantu secara tidak 
senonoh yang mengakibatkan kecemburuan majikan perempuan yang berujung pada 
kekerasan bahkan penyiksaan. (K-4)

Berita Terkait
  a.. Terkait Kasus TKI, Pemkab Karawang Benahi Prosedur Keberangkatan TKI
  b.. SBMI : Raja Arab dan SBY, Pelanggar HAM
  c.. Mantan TKI: Pemerintah Arab Anggap TKI Budak
  d.. Ratusan TKI Asal NTT Disekap di Tanjunguma
  e.. KBRI Riyadh Proses Pembayaran Diyat Darsem


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke