Gus Choi: Di Arab, TKW seperti Budak!
Ary Wibowo | Robert Adhi Kusumaputra | Kamis, 23 Juni 2011 | 15:45 WIB
Dibaca: 7404

KOMPAS/LASTI KURNIA ILUSTRASI

TERKAIT:

    * Kisah Rosita yang Lolos dari Hukuman Pancung
    * Menlu: KJRI Telah Upayakan Pengampunan
    * Iwan Fals: Dipancung di Negeri Orang
    * Pelajar SD Doa Bersama dan Galang Koin
    * Saudi Lecehkan Indonesia

JAKARTA, KOMPAS.com — Anggota Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat, Effendy 
Choirie, mengatakan, untuk mengurangi kasus yang sama dengan Ruyati binti 
Sapub, tenaga kerja wanita (TKW) yang dihukum mati di Arab Saudi, pemerintah 
terlebih dahulu harus memerhatikan skill para tenaga kerjanya yang ingin 
bekerja di negara Timur Tengah, termasuk di Arab Saudi.

Pasalnya, dia menilai, skill tersebut merupakan salah satu cara untuk 
beradaptasi dengan kultur beberapa negara di wilayah tersebut yang memang 
mempunyai kultur keras, terlebih dengan para buruh migran yang bekerja sebagai 
pembantu rumah tangga (PRT).

"Kultur di sana (Arab Saudi) itu memang keras. Kultur mereka pembantu itu 
dianggap budak sehingga sering kali tenaga kerja kita disiksa di sana. Jadi, 
kalau pengiriman tenaga kerja yang tidak pakai skill itu lebih baik 
diberhentikan secara total. Itu artinya pemerintah harus mencarikan atau 
membangun kesempatan kerja bagi mereka di dalam negeri ini, Karena tidak ada 
jaminan keselamatan kalau mereka ke sana," ujar politisi yang akrab dengan 
panggilan Gus Choi ini seusai mengikuti sebuah diskusi di Jakarta, Kamis 
(23/6/2011).

Gus Choi menambahkan, pemerintah juga tidak dapat lepas tanggung jawab, jika 
warga negaranya yang bekerja di Timur Tengah melakukan tindakan-tindakan 
pidana. Menurut dia, sebagian besar para pekerja di negara tersebut melakukan 
tindakan pidana karena memang telah diperlakukan secara kasar dan tidak 
mempunyai pengetahuan yang cukup mengenai kultur dari negara yang akan dituju.

"Selain itu, juga ada faktor-faktor yang tidak pernah diungkap. Contohnya, kita 
lihat saja, mereka ke sana karena di sini tidak ada pekerjaan. Lalu ketika di 
sana keterampilannya tidak ada. Kenapa tidak ada? Karena tidak dididik. Kenapa 
tidak dididik? Karena yang mengirim tidak mendidik. Lalu, kenapa kok jika 
dididik, boleh dikirim ke sana? Ya, karena pemerintah memperbolehkan. Di 
sinilah peran pemerintah," ungkapnya.

"Dan, ketika di sana mereka diperlakukan dengan kultur yang keras sehingga 
mereka melakukan berbagai tindakan pidana itu. Nah, ini faktor-faktornya. 
Inilah akibatnya jika hilirnya saja dilihat, tetapi hulunya tidak," imbuhnya.

Karena itu, lanjut Gus Choi, pemerintah harus tegas dalam mengatasi kasus ini. 
Dia mengharapkan agar kementerian dan instansi-instansi yang terkait dengan 
permasalahan tenaga kerja mampu bekerja secara maksimal agar kasus-kasus 
kekerasan terhadap TKI di Timur Tengah dapat diatasi.

"Apalagi kan kemarin itu masih ada 23 orang yang lagi yang sedang menunggu 
vonis. Jadi, pemerintah harus serius. Kalau memang tidak bisa menjamin 
keselamatan warga negaranya, lebih baik stop saja pengiriman TKI kita ke sana 
secara permanen, tidak usah pakai istilah moratorium, masyarakat tidak akan 
ngerti. Dan, saya yakin itu bisa jika pemerintah ini kreatif," tukasnya. 



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke