http://www.tempointeraktif.com/hg/kesra/2011/06/23/brk,20110623-342731,id.html


SBY Klaim Telah Berikan Perlindungan dan Pembelaan untuk TKI   

Kamis, 23 Juni 2011 | 11:22 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengklaim 
pemerintahannya telah memberikan perlindungan dan pembelaan untuk tenaga kerja 
Indonesia (TKI) yang bekerja di luar negeri. Misalnya, sejak 1 Januari 2011 
pemerintah telah memberlakukan soft moratorium pengiriman tenaga kerja, 
termasuk pengetatan pengiriman TKI dan Perusahaan Pelaksana Penempatan TKI 
Swasta (PPTKIS) agar tidak terjadi masalah di negara tujuan.



Dalam konferensi pers di Kantor Presiden hari ini, Kamis 23 Juni 2011,  SBY 
mengungkapkan bahwa 3 bulan yang lalu telah dilakukan evaluasi pengiriman TKI 
dengan membentuk tim terpadu yang diketuai Menteri Tenaga Kerja dan 
Transmigrasi dan menteri terkait. Evaluasi dilakukan terhadap seluruh TKI di 
semua negara. Hal itu merupakan upaya memperbaiki langkah penanganan TKI di 
masa mendatang.



SBY juga menyinggung tudingan miring kepada pemerintah yang dianggap tidak 
berbuat apa-apa, baik melalui pesan pendek dan media massa. Menurut dia, kritik 
ataupun serangan kepada pemerintah baik itu dari politikus, pengamat, maupun 
anggota DPR diperbolehkan dalam negara demokrasi. Namun, negara demokrasi juga 
memberikan hak kepada pemerintah mengenai apa yang disoroti itu, baik tentang 
data, logika, dan apa saja yang telah dilakukan pemerintah.



"Tadi malam saya telah memimpin ratas (rapat kabinet terbatas) kabinet yang 
melahirkan sejumlah instruksi untuk menyikapinya," kata Presiden Yudhoyono.



Konferensi pers pernyataan Presiden ini digelar untuk menyikapi hukuman pancung 
yang menimpa Ruyati binti Satubi, tenaga kerja wanita asal Bekasi, Jawa Barat, 
yang bekerja di Arab Saudi. Ruyati dijatuhi hukuman mati karena terbukti 
bersalah membunuh majikan perempuannya. Dari kejadian ini, pemerintah menuai 
kritik dan dinilai tidak tegas dalam memperjuangkan nasib warga negaranya di 
luar negeri. Pemerintah juga dinilai tidak memantau perkembangan warga negara 
yang sedang terjerat kasus hukum.



Presiden memberikan pernyataan didampingi antara lain oleh Menteri Luar Negeri 
Marty Natalegawa, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Muhaimin Iskandar, 
Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Patrialis Akbar, Menteri Koordinator 
Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono, Menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi, 
serta Sekretaris Kabinet Dipo Alam.



EKO ARI WIBOWO
++++
http://www.tempointeraktif.com/hg/kesra/2011/06/22/brk,20110622-342412,id.html

Kesaksian Mantan TKW tentang Keluh-kesah Ruyati 
Rabu, 22 Juni 2011 | 06:34 WIB

TEMPO Interaktif, Lampung Selatan - Seorang mantan tenaga kerja Indonesia asal 
Lampung, Suwarni, yang merupakan teman dekat Ruyati, tenaga kerja yang dihukum 
pancung di Arab Saudi, mengaku almarhumah sering meminta perlindungan ke 
Kedutaan Besar Republik Indonesia di Arab Saudi. 



Sebelum terjerat kasus hukum, Ruyati sering berkeluh-kesah tidak betah bekerja 
pada majikannya karena sering memperlakukannya secara kasar. "Berulang kali dia 
mendatangi KBRI meminta dipulangkan atau ganti majikan, tetapi tidak mendapat 
respons yang baik dari staf di sana," kata Suwarni saat ditemui di rumahnya, 
Selasa 21 Juni 2011.



Suwarni, warga Pardasuka, Kecamatan Ketibung, Kabupaten Lampung Selatan, 
mengatakan majikan tempatnya dan Ruyati bekerja masih satu keluarga. Suwarni 
bekerja menjadi pembantu rumah tangga untuk anak majikan Ruyati yang tewas 
dibunuh. 



"Meski bekerja di tempat terpisah, kami sering bertemu saat majikan saya 
berkunjung ke orang tuanya atau majikan almarhumah Ruyati. Di pertemuan itu, 
dia sering berkeluh-kesah," kata perempuan yang baru saja melangsungkan akad 
nikah itu.



Ruyati bahkan bercita-cita ingin pulang bersama Suwarni, 30 tahun, saat masa 
kontrak kerjanya habis. Saat di Indonesia nanti, kata dia, mereka akan saling 
berkunjung ke rumah masing-masing. "Dia berjanji akan berkunjung ke rumah saya 
di Lampung dan saya ke Bekasi. Kami benar-benar dekat," katanya.



Sebelum kasus hukum membelit, Ruyati sering mengeluhkan perlakuan kasar 
majikannya. Ruyati, kisah Suwarni, misalnya sering disiram dengan air panas, 
air kopi, dan kuah sop. 



"Tidak jarang dia dibentak karena dinilai lamban oleh majikannya yang usianya 
tidak terpaut jauh dengan almarhumah. Mereka memang tidak cocok," ujarnya.



Kerap mendapat perlakuan kasar majikannya yang masih berdarah Palembang, 
Sumatra Selatan, diduga memicu Ruyati berbuat nekat membunuh majikan sendiri. 
Mereka, kata Suwarni, hanya tinggal berdua di sebuah rumah. "Anaknya pisah. 
Awalnya Ruyati bekerja di tempat saya bekerja, tapi majikan saya menilai Ruyati 
dianggap cocok karena usia mereka tidak terpaut jauh," katanya.



Semasa ditahan polisi, Suwarni berusaha bertemu dengan Ruyati, tapi ia dilarang 
majikannya. "Untuk apa kamu bertemu dia. Pemerintah kamu saja tidak ada yang 
menjenguk. Tidak usah repot-repot," kata Suwarni menirukan larangan majikannya. 
Pelarangan dengan nada keras itu membuat Suwarni urung menjenguk dan tidak 
pernah bertemu lagi dengan kawan curhatnya itu.



Setelah mengenyam kerja di Saudi Arabia, Suwarni enggan kembali bekerja di 
negeri itu. Warga Arab diakui sangat buruk memperlakukan pembantu rumah tangga. 
"Setiap saya bertemu TKW di pusat perbelanjaan atau di tempat lain, banyak yang 
bermata lebam. Lebam-lebam itu bekas siksaan majikan," tuturnya.



Dia mengaku heran dengan Pemerintah Indonesia yang masih saja berupaya mengirim 
tenaga kerja ke Arab Saudi. Padahal, banyak TKW yang melapor telah menjadi 
korban kekerasan majikan ke perwakilan Pemerintah Indonesia di sana. 



"KBRI sepertinya kurang dan jarang melindungi warga negara Indonesia yang 
menjadi korban kekerasan majikan. Saya mengimbau ke warga negara Indonesia 
jangan punya cita-cita bekerja ke negeri Arab," ucapnya.



NUROCHMAN ARRAZIE

Berita terkait
  a.. Forum Perempuan Desak Pemerintah Hentikan Pengiriman TKI   
  b.. Empat Hari, Presiden SBY Belum Bicara Soal Ruyati   
  c.. Jusuf Kalla Minta Pemerintah Hentikan Pengiriman TKI 
  d.. Meski Ditebus, Darsem Belum Tentu Segera Bebas 
  e.. Pemerintah Pertimbangkan Moratorium TKI Arab Saudi   


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke