Bukan politisi koq, tp rampok.
>________________________________ >From: widura <[email protected]> >To: [email protected] >Sent: Saturday, June 25, 2011 11:32 AM >Subject: Re: [proletar] Tempo: Pemerintah Kecam Proses Hukum di Saudi yang >Tidak Transparan > > > >Indonesia belum punya negarawan, masih sebatas politisi yg cari untung dgn aji >mumpung.. >-----Original Message----- >From: item abu <[email protected]> >Sender: [email protected] >Date: Sat, 25 Jun 2011 09:52:51 >To: [email protected]<[email protected]> >Reply-To: [email protected] >Subject: Re: [proletar] Tempo: Pemerintah Kecam Proses Hukum di Saudi yang >Tidak Transparan > >Kenapa pemerintah ga ngebela tkw2 yg ga dibunuh, tp "cuma" diperkosa, >dirampok, disiksa dll, cuma ngeributin yg mati dipancung doang? > > >Ngomong2, gimana dgn kasus Nazaruddin, Nurul dan segala macam kebejadan yg ada >di pemerintah, DPR, parpol dan semua lembaga terkait? Hehehe.. udah dilupakan. > > > > >>________________________________ >>From: Bukan Pedanda <[email protected]> >>To: [email protected] >>Sent: Friday, June 24, 2011 7:22 PM >>Subject: [proletar] Tempo: Pemerintah Kecam Proses Hukum di Saudi yang Tidak >>Transparan >> >> >> >> >> >>Pemerintah Kecam Proses Hukum di Saudi yang Tidak Transparan >> >>Kamis, 23 Juni 2011 | 12:17 WIB >> >>TEMPO Interaktif, Jakarta - Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa mengecam >>proses hukum di Arab Saudi yang tidak transparan. Menurut Marty, dalam >>berbagai laporan internasional tercatat akses pengacara di negeri tersebut >>juga sangat terbatas. >> >>"Dalam kasus Ruyati, dari awal almarhumah telah ditahan di Arab. KBRI >>(Kedutaan Besar RI) juga telah melakukan pendampingan dan jaminan hak kepada >>tersangka bisa dipenuhi," kata Marty dalam jumpa pers mendampingi Presiden >>Susilo Bambang Yudhoyono di Kantor Presiden, Kamis 23 Juni 2011. >> >>Konferensi pers pernyataan Presiden SBY dan para menterinya ini digelar untuk >>menyikapi hukuman pancung yang menimpa Ruyati binti Satubi, tenaga kerja >>wanita asal Bekasi, Jawa Barat, yang bekerja di Arab Saudi. Ruyati dijatuhi >>hukuman mati karena terbukti bersalah membunuh majikan perempuannya. >> >>Selain Menteri Luar Negeri, Presiden juga didampingi oleh Menteri Tenaga >>Kerja dan Transmigrasi Muhaimin Iskandar, Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia >>Patrialis Akbar, Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono, >>Menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi, serta Sekretaris Kabinet Dipo Alam. >> >>Marty mengklaim pihak Konsulat Jenderal RI di Mekah telah melakukan upaya >>pengampunan Ruyati. Namun, pihak keluarga korban tetap tidak mengampuni. >>"KJRI telah meminta pengampunan kepada Gubernur Mekah. Namun, kata Marty, >>saat proses permohonan pengampunan sedang dilakukan meski ditolak oleh >>keluarga, Ruyati dikabarkan telah menjalani eksekusi hukuman pancung. "Tanpa >>ada pemberitahuan terlebih dahulu," ujarnya. >> >>Protes atas pemancungan itu pun telah disampaikan dua kali, melalui Duta >>Besar Arab Saudi dan kepada Menteri Luar Negeri Arab Saudi. "Saat kedatangan >>Dubes (Saudi) di Kementerian Luar Negeri, beliau sampaikan minta maaf karena >>tidak sampaikan (informasi eksekusi). Kita juga telah memanggil pulang Dubes >>kita atas ketidaksenangan kita atas kelalaian tersebut," kata Marty. >> >>Lebih jauh Marty mengatakan kasus hukuman mati yang menimpa Ruyati binti >>Satubi berbeda dengan kasus yang menimpa Siti Zaenab yang terjadi pada 1999. >>Pada kasus Siti binti Zaenab, saat ini sedang berjalan penundaan eksekusi >>karena ahli waris korban masih berumur 1 bulan. Sehingga, kata Marty, ahli >>waris belum bisa memberikan pertimbangan dan harus menunggu masa akil balig. >>"Itu bukan karena upaya pendekatan politik, tanpa mengecilkan upaya kurun >>waktu 2 pemerintahan," tuturnya. >> >>Menurut Marty, kemungkinan Siti Zaenab menjalani hukuman mati masih terbuka. >>Ia mengatakan jika ahli waris saat dewasa tidak memaafkan Siti, yang >>bersangkutan bisa dijatuhi hukuman mati. "Apakah akan memaafkan, atau jika >>setelah dewasa menolak, yang bersangkutan bisa dapat ancaman hukuman mati," >>katanya. >> >>Presiden, kata Marty, juga telah memberikan instruksi agar kementerian yang >>bersangkutan terus mendekati keluarga ahli waris untuk mengantisipasi >>keputusan hukum Siti Zaenab tersebut. >> >>EKO ARI WIBOWO >> >> >> >> >> > >[Non-text portions of this message have been removed] > > > >[Non-text portions of this message have been removed] > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
