http://us.detiknews.com/read/2011/06/25/153906/1668559/1148/bom-bunuh-diri-di-rumah-sakit-afghanistan-30-orang-tewas?nd991103605

Sabtu, 25/06/2011 15:39 WIB

Bom Bunuh Diri di Rumah Sakit Afghanistan, 30 Orang Tewas  
Rita Uli Hutapea - detikNews


Kabul - Lagi-lagi serangan bom bunuh diri terjadi di Afghanistan. Sebanyak 30 
orang tewas dalam serangan bom mobil bunuh diri di sebuah rumah sakit hari ini.

Serangan tersebut terjadi di Provinsi Logar, sebelah selatan ibukota Kabul.
"Seorang penyerang bom mobil bunuh diri menargetkan rumah sakit di Distrik Azra 
Provinsi Logar," kata juru bicara Provinsi Logar, Din Mohammad Darwaish seperti 
dilansir kantor berita AFP, Sabtu (25/6/2011).

"Pengeboman bunuh diri itu menewaskan 30 orang dan melukai 45 orang lainnya. 
Para korban adalah pasien, kerabat mereka, pengunjung dan personel rumah 
sakit," imbuhnya.

"Target pengeboman tidak jelas namun yang jelas sebuah rumah sakit diserang dan 
warga sipil terbunuh," cetus juru bicara tersebut.

Dikatakannya, ledakan bom tersebut ditimbulkan oleh sebuah kendaraan SUV yang 
dipenuhi bahan peledak dan dikendarai oleh seorang penyerang bunuh diri.

Kelompok militan Taliban membantah mendalangi serangan tersebut. "Kami mengutuk 
serangan di rumah sakit ini.... siapapun yang melakukan ini ingin memfitnah 
Taliban," tegas juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid.

Serangan bom mobil ini terjadi hanya beberapa hari setelah Presiden Amerika 
Serikat Barack Obama mengumumkan akan menarik 10 ribu pasukan AS dari 
Afghanistan tahun ini.

++++

http://us.detiknews.com/read/2011/06/24/131345/1667731/10/kisah-algojo-pemancung-termasyhur-di-arab-saudi

Jumat, 24/06/2011 13:13 WIB

Kisah Algojo Pemancung Termasyhur di Arab Saudi  
Nograhany Widhi K - detikNews


 





Jakarta - Kisah pemancungan tenaga kerja Indonesia (TKI) di Arab Saudi, Ruyati 
binti Satubi, menjadi isu nasional. Lalu siapa petugas pemancung Ruyati? 
Misterius. Yang jelas, algojo berpedang tajam itu harus tega, tak boleh iba. 

Bicara soal algojo, tak banyak yang melakoni profesi algojo pemancung di Saudi. 
Jumlahnya hanya sekitar 6 orang yang ditunjuk langsung pemerintah untuk 
menerapkan hukuman berdasarkan syariat Islam. Salah satunya adalah Abdallah Al 
Bishi.

Pada sekitar 2007, salah satu TV Lebanon, LBO TV, mewawancara algojo yang 
disebut "paling termasyhur" ini, mengenai serba-serbi algojo pemancung. 
detikcom mencoba merangkumnya dari Youtube, Jumat (24/6/2011).

Al Bishi mengungkapkan dirinya mewarisi profesi pemancung dari ayahnya Sa'id Al 
Bishi. Dia ingat saat dia kecil menemani ayahnya memancung orang di Makkah. 
Pemandangan itu menjadi titik balik bagi hidupnya. 

"Saya saat itu sedang sekolah dan serangkaian eksekusi yang ditangani ayah 
sedang disiapkan. Tepatnya di depan gerbang King Abdul Aziz. Kami lantas 
datang," tutur Al Bishi yang diwawancara ditemani 3 anaknya yang masih 
kecil-kecil.

Hal pertama yang ada di pikirannya saat orang-orang berbicara tentang 
pemancungan adalah, organ sistem pencernaan. Saat itu, imbuhnya, dirinya yang 
duduk di bangku sekolah sedang mempelajari mengenai sistem pencernaan. 

"Jadi saya datang menemani ayah mengeksekusi orang. Jadi saya ingin melihat 
(organ) sistem pencernaannya. Namun yang saya lihat adalah kepala manusia yang 
melayang dan lehernya, kemudian ada pancaran seperti sumur. Dan kemudian jatuh. 
Cukup, dan saya tak tahan lagi," jelasnya.

Malamnya, Al Bishi mengalami mimpi buruk. "Saya memiliki mimpi buruk, hanya 
sekali. Lantas saya jadi terbiasa (melihat pemancungan-red). Segala puji bagi 
Allah," katanya.

Hingga suatu saat, 10 hari setelah ayahnya meninggal sekitar tahun 1991 atau 
1992, dirinya didatangi seseorang yang berkata,"Saya memiliki misi". Dan Al 
Bishi pun diberi tahu bahwa misi itu adalah eksekusi hukuman mati.

"Saya mengatakan no problem. Saat itu saya berusia sekitar 32 atau 35 tahun," 
tuturnya.

Al Bishi mengatakan saat itu dia tidak memiliki pedang atau senjata apa pun. 
Jadi dia memakai pedang milik ayahnya. Misi pertamanya adalah memancung 3 
orang. 

Bagaimana perasaan Anda saat itu? "Setiap orang khawatir akan pekerjaan 
pertamanya. Dan kalau takut, dia mungkin gagal," jawabnya. 

Dan sejak itu, pedang milik Al Bishi sudah memancung ratusan orang lebih. Dia 
pun lantas memamerkan pedang-pedangnya. Salah satunya yang dinamai 'The 
Sultan', pedang sepanjang 50 cm itu agak melengkung bilahnya, seprti bulan 
sabit tua. Al Bishi mengatakan semua pedang-pedang yang dimilikinya adalah 
pedang Jowhar (salah satu wilayah di Somalia). 

Al Bishi mengatakan ada jenis-jenis pedang yang cocok untuk memancung dengan 
gerakan horisontal maupun vertikal. Untuk gerakan memancung horisontal, Al 
Bishi memeragakan menebas pedang ke arah depang-samping. Sedangkan vertikal 
adalah memancung dari atas ke bawah.

Ketika ditanya apa yang paling sulit saat dia menjadi algojo, atau pernahkah 
dia memancung orang-orang yang dikenalnya bahkan temannya sendiri, Al Bishi 
menjawab, "Ya, saya memancung orang dan beberapa di antaranya teman saya 
sendiri. Tapi siapa yang melakukan pelanggaran, akan kembali pada dirinya 
sendiri."

Ketika ditanya lagi, apakah sulit memancung orang berjenis laki-laki atau 
perempuan, dan apakah ada rasa iba jika memancung terpidana mati perempuan, Al 
Bishi lagi-lagi dengan tegas menjawab, "Yang paling sulit saat memancung orang 
adalah saat dia tidak bisa mengendalikan kegugupannya. Apakah duduk, atau 
berdiri tegak. Kalau saya iba saat saya memancung, dia akan menderita. Kalau 
hati iba, tangan ini bisa gagal."

Tak jarang dalam sehari, Al Bishi memancung lebih dari 3 orang. Sampai-sampai 
pegangan pedangnya patah.

Saat Anda memancung 3-4 kali dalam sehari, apakah butuh break sejenak? Apakah 
Anda memerlukan jeda untuk mengeksekusi?

"Tiga, empat, lima, enam orang, tidak ada itu (jeda). Eksekusi adalah eksekusi, 
sepanjang orang itu berdiri tegak, itu akan mempermudah kerja kita," jelasnya.

Selain memancung terpidana mati, Al Bishi juga melaksanakan hukuman potong 
tangan bagi pencuri dan bagian tubuh lainnya sesuai dengan ketentuan hukum 
syariat Islam. Al Bishi mengungkapkan hukuman potong bagian-bagian tubuh ini 
berbeda dengan hukuman mati.

"Hukuman itu dilakukan dengan pembiusan lokal," katanya, lain halnya dengan 
hukuman mati. "Tidak, seseorang itu tidak dibius (jika dipancung)," ujarnya.

Al Bishi menolak pekerjaannya disebut kejam. Berita-berita kekejaman yang 
berseliweran menurut dia berasal dari rumor. Al Bishi malah merasa terhormat 
dengan profesinya itu, dan menganggapnya sebagai pengabdian untuk Allah.

Bahkan, dia melatih anak pertamanya, Badr, untuk menggantikannya kelak, 
sebagaimana dia menggantikan ayahnya. "Segala puji bagi Allah, Badr ditunjuk 
untuk melakukannya di Riyadh," jelasnya.


(nwk/nrl)


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke