http://www.cenderawasihpos.com/index.php?mib=berita.detail&id=1639

   
Senin, 20 Juni 2011 , 19:36:00

Ketika Klub Istri Taat Suami 100 Persen Di-Launching

Di Ranjang seperti PSK, Harus Rela jika Suami Berpoligami



 
Agung P/JAWAPOS Para istri yang tergabung dalam Klub Istri Taat Suami 100 
Persen saat foto bersama di sela-sela launching di salah satu restoran di 
Jakarta Selatan, Sabtu malam (11/6)
Komunitas ini lebih dulu ada di Malaysia: Obedient Wives Club atau Klub Istri 
Taat Suami (KTS). Sabtu (11/6) malam klub tersebut di-launching secara resmi di 
salah satu restoran di Jakarta Selatan. Benarkah jumlah anggotanya sudah 
mencapai ratusan orang? Apa saja yang diajarkan kepada para anggotanya?  

AGUNG P.-DHIMAS G., Jakarta

 Sabtu malam puluhan anggota KTS memadati Restoran Sindang Reret, kawasan 
Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Para istri itu hadir dengan pakaian dan 
make-up maksimal. Kebanyakan mengenakan pakaian muslimah yang berwarna pink. 
Ada pula yang tampil dengan bedak kuning langsat dan maskara yang membuat 
lentik alis dan bulu mata.

 Tempat duduk perempuan dan lelaki dipisahkan. Mereka tak boleh duduk 
berdampingan, kecuali suami istri. Itulah suasana di acara launching KTS. 
Setiap meja rata-rata dikelilingi sepuluh kursi. Ada panggung kecil. Hiburan 
yang ditampilkan adalah lagu-lagu islami seperti musik nasyid.

 Salah seorang anggota KTS, Fatimah, menuturkan bergabung dengan KTS pada 1995. 
Sejatinya, dia sudah ikut komunitas Global Ikhwan (yang memelopori KTS) pada 
1994. Namun, karena baru bersuami pada 1995, dia masuk klub pada tahun 
tersebut. Dulu, terang dia, KTS tidak seperti sekarang, yang sangat terbuka 
dengan anggota baru. "KTS adalah aktivitas di dalam Global Ikhwan. Sekarang 
ramai begini karena kami ingin terbuka dan menerima anggota baru," tutur dia.
 Perempuan hitam manis dari Palembang itu menambahkan, sebelum menikah, anggota 
KTS harus melalui berbagai pelatihan. Mulai pelatihan pranikah, pelatihan 
perkawinan, dan pelatihan pasca perkawinan. Dalam pelatihan pranikah, kegiatan 
lebih diutamakan pada pembentukan mental istri. Yakni, ditanamkan nilai bahwa 
ketaatan terhadap suami dilakukan karena kecintaan kepada Allah.

 Nah, pelatihan semakin seru saat Fatimah hendak menikah. Pelatihannya semakin 
konkret dan detail pada hubungan suami istri. Dia diajari cara memuaskan suami 
di ranjang secara total atau 100 persen. "Harus berani gila-gilaan kepada 
suami," terang dia.
 Bagaimana hubungan gila-gilaan itu? Perempuan 37 tahun tersebut mengibaratkan 
PSK (pekerja seks komersial) kelas atas ketika melayani tamu. Para PSK itu 
berani berbuat apa saja karena dibayar. Para anggota KTS juga harus mau 
diperlakukan apa saja oleh suami ketika berhubungan seks. "Juga kapan pun suami 
"mau", kita harus melayani. Tidak boleh menolak," ucap ibu tujuh anak tersebut.

 Selama ini, terang Fatimah, istri cenderung sungkan. Mereka kerap malu jika 
suami menuntut hubungan seks yang aneh-aneh. Padahal, papar dia, apa pun gaya 
seks yang diinginkan suami, istri harus meladeni. Seperti apa gaya yang 
aneh-aneh itu? "Hanya yang sudah berkeluarga yang boleh tahu," ucap dia sambil 
tersenyum.
 Melayani suami 100 persen itu juga termasuk urusan batin. Kalau suami 
menginginkan poligami, mau tidak mau istri harus meluluskan permintaan 
tersebut. Tapi, tetap pada koridor yang sudah ditentukan oleh Islam, yakni 
mampu bersikap adil. "Kalau tidak mampu, ya hanya satu istri saja," ucap Nur 
Kemala, anggota lain.

 Perempuan molek itu menyatakan bahwa saat ini suaminya memang belum 
berpoligami. Namun, Nur yang bergabung dengan Global Ikhwan sejak 2003 itu 
mengatakan sudah siap kalau dimadu oleh sang suami. "Memang belum ada 
tanda-tanda (suami berpoligami). Tetapi, saya sudah menyiapkan mental untuk 
itu," tegas dia.
 Nur juga menyatakan sudah "mengamalkan" pelayanan kepada suami sepenuhnya itu. 
Dia mengakui lebih takut kepada Allah dan tidak bisa menjadi istri yang taat 
kepada suami. Apakah itu bisa menjamin keluarga sehat? Dia mengangguk pasti. 
Sebab, sampai saat ini belum ada permasalahan di keluarganya.

 Nur lebih suka total dalam melayani suami daripada suaminya meleng saat tidak 
bersamanya. Dia menuturkan bahwa semua itu memang berat. Tapi, itulah yang 
diminta Allah sebagai Tuhan. Dia juga tidak peduli kalau cara melayani suami 
tersebut bagi orang lain dianggap melecehkan. "Khawatirkan maraknya prostitusi 
ketimbang cara kami," terangnya.
 Terdengar nakal memang ketika para istri diminta memberikan pelayanan seksual 
layaknya PSK kelas atas. Namun, totalitas pelayanan seksual kepada suami tidak 
berarti merendahkan posisi istri. Itu hanya pengandaian. "Seperti dalam 
keberanian, kita seperti singa, cerdik seperti kancil," ujar Ketua KTS 
Indonesia Gina Puspita.
 Seperti apa pelayanan penuh totalitas itu? Saat meresmikan KTS tadi malam, 
Gina menjelaskan bahwa hal tersebut harus dilakukan berdasar selera suami. 
Bukan istri. Selama suami puas, tugas istri telah tertunaikan. 
  "Seperti saat menikah, wanita tak pernah mewakili dirinya dalam berucap, tapi 
walinya. Artinya, wanita diciptakan Allah perlu akan kepemimpinan lelaki, baik 
sabagai ayah maupun suami. Termasuk soal kamar tidur," katanya.
  Itulah pesan yang disampaikan KTS. Tentu saja anjuran tersebut membuat para 
suami yang tergabung dalam Global Ikhwan berbunga. Saat Gina mengatakan 
pentingnya pelayanan seks, sang suami kerap terlihat mengangguk. Sementara para 
istri, entah risi karena membahas seks, mereka hanya diam.
  Di acara yang didominasi warna pink itu, Gina mengatakan bahwa tubuh indah 
yang dimiliki istri akan menjadi percuma apabila tidak bisa taat kepada suami. 
Tidak bisa membuat suaminya puas dan memilih untuk mencari kepuasan seksual di 
luar. "Itulah yang dimaui Allah. Kalau nggak gitu, nggak usah menikah," katanya.
  Beberapa suami terlihat menarik senyumnya saat Gina menuturkan bahwa para 
suami sudah berseri-seri kalau istri melayani 80 persen saja. Nah, bagaimana 
kalau dilayani seratus persen alias total? Para suami menarik senyumnya kembali 
seolah sepakat dengan ucapan ketua KTS itu.
  KTS percaya bahwa seorang istri tidak boleh sekadar pandai memasak dan 
menjadi ibu yang baik bagi anak-anaknya. Bahkan, mereka percaya bahwa 
ketidakpatuhan istri atas suamilah yang mengakibatkan dunia menjadi 
gonjang-ganjing. Sebab, para suami tidak bahagia di rumah karena pikiran dan 
jiwanya terganggu.
  Menurut Gina, berdirinya KTS semata-mata untuk mengajak umat Islam 
mengamalkan ajaran Islam secara lengkap. Istri atau calon istri yang bergabung 
di KTS akan diberi panduan konseling bagaimana membangun sebuah rumah tangga 
dengan cara islami. "Termasuk pelatihan seksual," tuturnya.
  Namun, kali pertama mereka akan dilatih tentang ketakutan kepada Allah dan 
kecintaan kepada Rasul. Kalau sudah lulus, baru akan diajari bagaimana 
memuaskan suami di ranjang. "Maraknya pelacuran terjadi bukan hanya karena 
masalah ekonomi. Penyebab utama adalah suami mencari kepuasan seks di luar 
rumah," jelasnya.
  Oleh sebab itu, dia mengklaim KTS menjadi solusi persoalan sosial seperti 
prostitusi dan perceraian. Kebahagiaan di atas ranjang bisa menjadi paling 
utama. Buktinya, dia yakin, kalau saat menikah sang istri memberikan batasan 
tidak boleh menyentuh, tentu pernikahan akan batal.
  Tidak hanya itu, dia tidak percaya jika menikah bukanlah urusan menghalalkan 
seks. Sebab, kalau menikah hanya untuk melayani dan memasak, itu bisa dilakukan 
ibu atau pembantu. Begitu juga urusan melancarkan bisnis, itu bisa dilakukan 
dengan mencari partner kerja yang tepat.
  Lantaran keyakinan menikah hanya untuk urusan ranjang itulah yang membuat 
pengikut KTS harus tunduk kepada suami. Selama tidak melayani syariat Islam, 
pelayanan seks yang diinginkan suami, apa pun permintaannya, harus dikabulkan. 
"Di akhirat banyak wanita yang masuk neraka karena gagal menjadi istri taat 
suami," ungkapnya.

  Menjadi taat kepada suami bukan tidak ada untungnya. Dia mengatakan bakal ada 
imbalan bagi para istri tersebut. Di antaranya, bakal dimudahkan rezekinya oleh 
Allah. Dia lantas mencontohkan, suami beristri lebih dari satu dan istri-istri 
yang taat terhadap keinginan suaminya dikaruniai rezeki yang melimpah. Mereka 
digandrungi kawan dan lawan karena kaya. Tuhan ikut membangun bisnis mereka," 
katanya.

  Bagaimana respons para suami? Indratmoko, salah seorang pengurus Global 
Ikhwan dari Ciledug, Banten, mengungkapkan bahwa kesetiaan istri kepada suami 
sangat berperan dalam kehidupan berumah tangga. Dia yakin, jika istri sangat 
taat kepada suami, keluarga akan utuh. "Bagaimana pemimpin jika yang dipimpin 
patuh semua? Pasti pemimpin itu akan lebih baik dalam memimpin," katanya.

  Laki-laki beristri dua dengan empat anak itu menambahkan, ketaatan terhadap 
suami membuat suami tenang dan nyaman. Meski demikian, bukan berarti tidak ada 
perceraian. Di Global Ikhwan, kata Indra, perceraian tidak bisa benar-benar 
hilang. "Perceraian tetap ada, tapi ya tidak banyak lah," kata lelaki berewok 
itu.

  Global Ikhwan merupakan gerakan keislaman yang berasal dari Malaysia. Awalnya 
mereka bernama Darul Arqam. Namun, karena mendapat penolakan dan tekanan dari 
pemerintah Malaysia, mereka berganti nama. Kelompok tersebut masuk Indonesia 
pada 1994 dengan membentuk komunitas Islam di berbagai daerah. 

  Di Indonesia, anggotanya sekarang sekitar 500 orang yang tersebar dari Pulau 
Sumatera hingga Papua. Dalam komunitas tersebut, mereka membangun fasilitas 
kesehatan, pendidikan, pengajian, dan aktivitas-aktivitas lainnya. Saat ini, 
kantor pusat mereka berada di Haramain Makkah. "Kalau istri taat suami, rumah 
tangga akan tenang," kata Indra.(c11/c4/kum) 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke