http://www.siwalimanews.com/post/wibawa_fatwa_haram_1

Saturday, 02 July 2011
Wibawa Fatwa Haram

MAJELIS ULAMA INDONESIA (MUI) berencana menerbitkan fatwa haram orang kaya 
membeli Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi. MUI mewacanakan fatwa haram itu 
setelah Ketua MUI Ma'ruf Amin bertemu dengan Menteri Energi dan Sumber Daya 
Mineral, Darwin Zahedy Saleh.

Itulah episode mutakhir dari gonjang-ganjing kebijakan BBM bersubsidi. Episode 
itu memperlihatkan pemerintah ingin membawa kebijakan harga BBM ke domain 
agama. Hal itu juga menunjukkan pemerintah sepertinya sudah putus asa karena 
gagal mendapatkan kepatuhan dari warga negara.

Pemerintahan yang gagal memperoleh kepatuhan warga negara adalah pemerintahan 
yang kehilangan kewibawaan. Kesimpulan itu layak diambil ketika Menteri ESDM 
meminta fatwa, yang tiada lain berarti meminta suntikan kewibawaan ulama untuk 
menambah wibawa pemerintah.

Kita tahu pemerintah secara masif mengimbau masyarakat, terutama yang berpunya, 
untuk tidak mengonsumsi BBM bersubsidi. Kenyataannya, masyarakat memandang 
sebelah mata imbauan itu.

Tindakan masyarakat membeli BBM bersubsidi sesungguhnya logis dan rasional. 
Orang kaya sekalipun pasti akan membeli barang yang harganya lebih murah. Itu 
bukanlah dosa.

Yang irasional dan tak becus justru pemerintah. Di tengah harga minyak dunia 
selangit, lebih dari US$100 per barel, pemerintah masih mematok asumsi harga 
minyak dunia US$80 per barel pada APBN 2011 dan mempertahankan harga premium Rp 
4.500 per liter.

Lebih tidak rasional lagi, pemerintah mempertahankan subsidi BBM itu 
jangan-jangan bukan karena sungguh-sungguh ingin membantu orang tak berpunya, 
melainkan demi menjaga citra. Bukankah citra merupakan barang yang bersifat 
emosional? Bukankah yang emosional itu irasional?

Harga pertamax sekarang ini Rp8.350 per liter atau hampir dua kali harga 
premium. Disparitas harga terpaut hampir 100%, sehingga maklum jika masyarakat 
tergiur mengonsumsi premium.

Akibatnya, subsidi BBM membengkak dan nyaris menjebol APBN. Namun pemerintah 
berkukuh mengucurkan subsidi untuk premium dan membiarkan pertamax mengikuti 
harga pasar. Itu disertai harapan orang kaya mematuhi himbauan tidak membeli 
premium.

Ketika gagal mendapat kepatuhan warga negara, pemerintah membawa-bawa ulama 
untuk mengeluarkan fatwa. Padahal, belum tentu umat kelak mematuhi fatwa itu.

Jika kelak MUI menerbitkan fatwa orang kaya haram membeli BBM bersubsidi dan 
umat mengabaikannya, runtuhlah pula wibawa ulama. Karena itu, MUI jangan mau 
ditarik ke urusan subsidi BBM. Cukuplah pemerintah yang kehilangan wibawa 
akibat ketidakbecusan mengurus harga BBM. (


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke