http://www.analisadaily.com/index.php?option=com_content&view=article&id=101364:tahun-ajaran-baru-kutipan-baru&catid=78:umum&Itemid=131

      Tahun Ajaran Baru, Kutipan Baru!        
      Oleh : Harmada Sibuea



      Tahun ajaran baru, pada umumnya adalah saat yang menggembirakan bagi para 
siswa. Terutama siswa yang akan melanjutkan sekolah ke tingkat yang lebih 
tinggi. 

      Kadang kala, para calon siswa tak sabar menanti hari masuk sekolah segera 
tiba. Rasa penasaran bagaimana rasanya menggunakan seragam baru dan bertemu 
dengan teman-teman baru di tingkatan yang lebih tinggi, membuat para siswa 
bersemangat dalam mengikuti semua proses untuk memasuki sekolah baru. Walau 
harus diakui pula bahwa tidak semua siswa baru memiliki semangat yang seperti 
itu. Kadang kala selalu ada siswa yang merasa tidak puas karena tidak bisa 
sekolah di sekolah favorit pilihannya. Rasa kecewa dengan sedikit beban, 
terpaksa harus dia jalani karena belajar di sekolah yang bukan pilihan 
utamanya. 

      Menjadi Momok

      Namun, di tengah sukacita dan semangat menggebu-gebu para siswa menyambut 
tahun ajaran baru itu, orang tua dan wali adalah pihak yang mengalami situasi 
yang sebaliknya. Bagi mayoritas orang tua, tahun ajaran baru malah selalu 
dianggap menjadi momok dan beban berat. Karena tahun ajaran baru selalu identik 
dengan biaya, biaya dan biaya, Bahkan pengeluaran yang harus ditanggung orang 
tua pun terkadang tidak tanggung-tanggung. 

      Selain perlengkapan sekolah yang harus kembali dilengkapi, pengeluaran 
yang kerap menjadi momok bagi para orang tua adalah banyaknya biaya yang harus 
mereka keluarkan untuk melunasi berbagai kutipan yang diwajibkan sekolah. Bukan 
cerita baru lagi, para orang tua harus menyiapkan bundel-bundel agar bisa 
menyanggupi berbagai pengeluaran yang diwajibkan oleh sekolah. Jika tidak, maka 
si orang tua harus merelakan kursi yang sudah menjadi hak anaknya diberikan 
kepada orang lain. Tak heran, sebagian besar orang tua/wali kerap mengaku bahwa 
tahun ajaran baru adalah momen yang paling berat dalam siklus tahun ajaran 
sekolah. 

      Selain item yang harus dilunasi cukup banyak, total biaya yang harus 
dibayarkan juga tidak kepalang tanggung. Hari Kamis kemarin, harian ini 
menuliskan berbagai pengeluaran yang harus dibayarkan orang tua untuk 
mendaftarkan (ulang) anaknya di sekolah. Untuk jenjang SD, para orang tua harus 
mengeluarkan biaya sekira Rp350 ribu hingga Rp500 ribu.

      Sedangkan untuki jenjang SMP, sekira Rp750 ribu hingga Rp1 juta. Yang 
lebih dahsyat lagi adalah untuk tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA). Pada 
umumnya orang tua diperkirakan harus merogoh kocek sebesar Rp2,5 juta hingga 
Rp5 juta. Parahnya, biaya sebesar itu harus ditanggung orang tua untuk 
menyekolahkan anaknya di sekolah negeri, sekolah yang katanya masih dibiayai 
oleh APBN. Belum lagi sekolah swasta, bisa jadi biaya tersebut membengkak 
hingga dua kali lipat. 

      Belum lagi kalau kita membicarakan klasifikasi atau status sekolah yang 
dimasuki. Di Indonesia, dikenal empat jenis sekolah negeri. Mulai dari sekolah 
yang paling standar atau yang sering dinamakan sebagai sekolah standar 
pelayanan minimal (sekolah regular). Kemudian ada sekolah standar nasional 
(SSN). Ada Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI). Hingga yang paling 
mentereng, Sekolah Bertaraf Internasional (SBI). Beda status, tentu saja beda 
besaran biaya yang harus dikeluarkan oleh orang tua. Semakin tinggi statusnya, 
semakin tinggi pulalah biaya yang harus dialokasikan orang tua. 

      Tak heran semakin banyak tudingan yang mengatakan bahwa hanya orang 
berduit yang bisa mengecap pendidikan di negeri ini. Pasalnya, terlalu banyak 
pungutan ini dan itu yang harus dibayarkan orang tua untuk bisa menyekolahkan 
anaknya. Sementara mereka yang berasal dengan ekonomi pas-pasan harus rela 
sekolah di sekolah yang biasa-biasa saja. Meski secara prestasi mereka mampu, 
namun tak cukup pula kemampuan itu untuk bisa bersekolah di sekolah berstatus 
RSBI dan SBI. Harus disiapkan dulu dana dalam jumlah tertentu, barulah si anak 
diterima di sekolah yang katanya hanya untuk orang berada itu. Alhasil, semakin 
terpuruklah keberadaan orang miskin di Republik ini. Pasalnya, hanya mereka 
yang berpunya yang bisa mengecap pendidikan yang berkualitas di negeri ini.

      Pemerintah Lepas Tangan

      Anehnya, pihak pemerintah (Kemendiknas) sudah menyatakan bahwa tidak 
diperbolehkan melakukan pemungutan kepada siswa baru, terutama untuk SD dan 
SMP. Karena kedua tingkatan tersebut sudah dibiayai oleh Negara lewat program 
BOS. Bahkan pihak Kemendiknas mengancam akan memberikan sanksi kepada sekolah 
yang membandel melakukan pungutan terhadap orang tua siswa. 

      Namun, instruksi bahkan ancaman sanksi dari lembaga tertinggi di bidang 
pendidikan itu, tak berlaku di lapangan. Sanksi tegas yang sudah disiapkan 
Kemendiknas, tak mempan bagi sekolah. Berbagai pungutan dengan dalih ini itu 
tetap saja dilakukan oleh Sekolah. Pihak sekolah beralasan bahwa hal tersebut 
terpaksa dilakukan karena dana untuk menutupi berbagai item yang mereka 
sebutkan itu tidak dibiayai oleh pemerintah. 

      Meski sudah menjadi persoalan setiap tahunnya, namun pemerintah terkesan 
lepas tangan. Hampir tidak pernah ada perbaikan untuk mengantisipasi berbagai 
pungutan yang katanya illegal itu. Pemerintah pusat sepertinya tidak memiliki 
tindakan apapun untuk mengantisipasi terjadinya berbagai pungutan di sekolah. 
Setiap tahun hanya berisi himbauan dan ancaman, namun langkah konkrit terkesan 
tidak ada. 

      Sementara pemerintah daerah di sisi lain terkesan menutup mata dengan 
semua persoalan ini. Padahal di era otonomi daerah sekarang ini, sekolah 
bertanggung jawab langsung kepada pemerintah daerah. Apabila Pemda serius 
membenahi proses penerimaan siswa baru ini, tentu saja sekolah tak berani 
macam-macam. Sayangnya, meski sudah dikritik terus menerus, Pemda terkesan diam 
dan membisu menanggapi berbagai protes masyarakat itu. ***

      Penulis adalah pemerhati masalah pendidikan. Aktif di Perkamen.
     


++++

Bagi yang tertarik pada : "Pengetahuan adalah kekuatan" ( Knowledge is power) 
silahkan membaca beberapa opini seperti tercantum di bahawah ini : 


1) "Anak-anak Bodoh" Haruskah Tersingkir?  
http://www.analisadaily.com/index.php?option=com_content&view=article&id=101363:qanak-anak-bodohq-haruskah-tersingkir&catid=78:umum&Itemid=131

2) Dimanakah Pendidikan yang Pro Rakyat.? 
http://www.analisadaily.com/index.php?option=com_content&view=article&id=101361:dimanakah-pendidikan-yang-pro-rakyat&catid=78:umum&Itemid=131

3) Biaya Sekolah, Kok Mahal..! 
http://www.analisadaily.com/index.php?option=com_content&view=article&id=101362:biaya-sekolah-kok-mahal&catid=78:umum&Itemid=131

4) Sekolah Berkualitas dengan Biaya Murah  
http://www.analisadaily.com/index.php?option=com_content&view=article&id=101360:sekolah-berkualitas-dengan-biaya-murah&catid=78:umum&Itemid=131

5) 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke