http://blog.tempointeraktif.com/ekonomi-bisnis/akuisisi-detik/

Kabar kesepakatan pembelian 100 persen saham PT Agrakom, pemilik situs portal 
berita detik.com, oleh Grup Para banyak diliput media pekan lalu. Setelah 
pembelian koprol oleh yahoo beberapa waktu lalu, baru kali ini pemberitaan 
mengenai bisnis dotcom ramai lagi. Salah satunya karena nilainya yang kabarnya 
sekitar 600 miliar rupiah (tempointeraktif.com, 9 Juli 2011). Ini rekor yang 
bakal tak mudah ditumbangkan di Indonesia.

Bisnis yang sehat dengan laba bersih sebesar 20 miliar tahun lalu menjadi daya 
tarik bagi Para untuk membeli detik.com. Apa lagi, diproyeksikan keuntungan itu 
bakal berlipat menjadi Rp 40 miliar tahun ini dan bahkan Rp 120 miliar pada 
tahun depan. Tentu saja, prospek ini amat menggiurkan.

Bagi Chairul Tanjung (CT), pemilik Grup Para, mengakuisisi memang pilihan yang 
lebih masuk akal ketimbang membangun bisnis dotcom dari awal. Kendati uang 
mungkin bukan masalah yang menghalangi untuk membangun sendiri, tapi pilihan 
ini tak diambil. Membangun tim yang baru bukanlah persoalan gampang. Lagi pula, 
detik.com adalah brand yang telah memiliki pasar besar.

Bila membangun dari nol, dotcom baru ini (jika juga mengambil posisi sebagai 
portal berita) mesti bersaing melawan detik.com. Kendati menghimpun orang-orang 
yang berpengalaman, bukan jaminan bahwa tim yang terbentuk akan segera solid 
dan siap tempur untuk bersaing. Dibutuhkan waktu untuk memadukan kimiawi para 
anggota tim.

Dipertahankannya Budiono Darsono dan Abdul Rahman menunjukkan keyakinan Para 
bahwa perusahaan ini akan lebih mulus jalannya dibandingkan bila direksi 
Agrakom diganti. Selaku pendiri, merekalah yang meletakkan fondasi dan 
membangun nilai-nilai perusahaan. Karyawan yang membesarkan detik.com bersama 
mereka sangat mungkin sudah akrab dengan nilai-nilai ini.

Perubahan manajemen puncak tak berarti buruk. Namun, di samping membawa 
kemungkinan baik, kehadiran direksi baru juga membuka risiko yang sebaliknya. 
Karyawan mungkin akan bertanya-tanya perubahan kebijakan seperti apa yang akan 
diterapkan direksi baru? Bila direksi baru ini manajer yang hebat, ia mungkin 
mampu membalikkan kondisi perusahaan yang merugi. Tapi direksi baru bisa pula 
mengubah perusahaan yang untung menjadi buntung.

Dalam akuisisi, sumberdaya manusia merupakan isu krusial. Mengakuisi sebuah 
perusahaan itu bukan sekedar mengakuisisi produknya saat ini, melainkan 
mengakuisisi produk mendatang melalui orang-orangnya. Menjaga kimiawi tim 
menjadi penting, dan suntikan sumberdaya baru semestinya jangan sampai 
mengguncang tim yang sudah bagus. Targetnya adalah mendongkrak lebih tinggi 
kinerja tim dengan menyuntikkan sumberdaya baru, memperkuat brand, dan tentu 
saja menaikkan keuntungan.

CT sudah menunjukkan tangan dinginnya yang bersama Ishadi membangun Trans TV 
dan membesarkan Trans 7, hasil akuisisi TV 7 yang semula dimiliki Grup Kompas. 
Tangan dinginnya ditunggu apakah mampu mewujudkan proyeksi keuntungan bersih 
Agrakom menjadi Rp 120 miliar tahun depan. Bila ya, akuisisi senilai Rp 600 
miliar tidaklah sia-sia. ***



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke