Refl: Kalau nyanyian Nazzarudin menggoyang negeri,  berarti  diregent SBY pun 
turut tergoyang-goyang. Sebaigai hiburan tambahan, silahkan menikmati : 

Goyang Inul  ( http://www.youtube.com/watch?v=YkWWi1GgMX4 )

http://www.gatra.com/index.php?option=com_content&view=article&id=903:gema-nyanyian-nazaruddin-mnggoyang-negeri&catid=1:nasional&Itemid=70

Gema Nyanyian Nazaruddin Menggoyang Negeri 

Rabu, 20 Juli 2011 09:00 

Mantan bendahara umum DPP Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin kembali 
"bernyanyi". Tidak tanggung-tanggung, kali ini ia bikin heboh karena suaranya 
tiba-tiba menggetarkan pemirsa di dua televisi nasional, Selasa (19/7) petang. 
Nazaruddin, yang masih misterius keberadaannya, lagi-lagi dengan gamblang 
mengurai konspirasi besar para elit demokrat dalam menggarong duit rakyat dari 
kas APBN. 



Isi "nyanyian" Nazaruddin sebenarnya bukan hal baru. Misalnya, Ia mengungkap 
aliran uang puluhan miliar untuk pemenangan Anas Urbaningrum menjadi ketua umum 
DPP Partai Demokrat. "Dari proyek Hambalang senilai Rp 50 miliar untuk 
pemenangan Anas. Dibawa dengan mobil boks yang dibawa Ibu Yuliani. Dan, Ibu 
Yuliani sekarang dilindungi Anas," papar anggota Komisi VII DPR itu. 

Selain itu, kata Nazaruddin, ada pula uang sebesar Rp 35 miliar yang juga 
digunakan untuk pemenangan Anas. "Saya tahu, uangnya dari proyek mana, dari 
siapa dan mengalir kemana saja. Semua ada buktinya," ujar Nazaruddin. Berbeda 
dengan keterangan sebelumnya, Ia mengaku hanya menjadi operator. "Saya ini 
bawahan Anas," kata Nazaruddin. 

Tiap daerah perwakilan cabang yang mendukung Anas menerima uang mulai dari 10 
dolar AS ribu, 15 ribu dolar AS sampai 40 ribu dolar AS. "Saya ini di bawah 
kontrol Anas. Anas yang mengatur semua skenario ini," kata Nazaruddin.

Berkali-kali Nazaruddin mengungkap, Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum 
banyak menikmati uang dari proyek-proyek yang dibiayai APBN. Tender proyek itu 
dimenangi oleh perusahaan yang dimiliki Anas dan Nazaruddin. "Anas yang 
merekayasa semuanya, kok saya dijadikan tersangka," katanya. 

Nazaruddin mengaku, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Ketua Dewan 
Pembina Partai Demokrat mengetahui soal aliran dana ke pihak-pihak yang 
mendukung pemilihan Anas sebagai Ketua Umum Partai Demokrat.  

Ia juga mengungkap pertemuan Anas dengan Chandra Hamzah untuk mengatur 
pemilihan pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Skenarionya, Chandra 
Hamzah dan Ade Raharja kembali terpilih sebagai pimpinan KPK. Dengan begitu, 
KPK tidak akan memanggil Anas, Angelina Sondakh (Angie) dan Wayan Koster. Angie 
dan Koster merupakan anggota DPR dari Demokrat dan PDI Perjuangan yang terlibat 
dugaan suap kasus Wisma Atlet.

Nazaruddin bahkan menuding dua petinggi KPK, Chandra M. Hamzah dan M. Yasin, 
turut andil dalam konspirasi "perampokan" duit rakyat senilai milyaran rupiah 
itu. Anas juga bertemu dengan Direktur Penyidikan KPK Ade Rahardja untuk 
menghentikan penyelidikan kasus tersebut hanya sampai Nazaruddin. "KPK itu 
perampok," tuding Nazaruddin. 

Ia pun menantang KPK untuk membuktikan ada aliran dana dari proyek pembangunan 
Wisma Atlet SEA Games di Jakabaring, Palembang, Sumatera Selatan. "Jika KPK 
bisa membuktikan ada aliran ke rekening saya, saya akan pulang ke Indonesia," 
ujarnya. 

Nazar mengaku kepergiannya ke Singapura adalah atas perintah Anas. Dalam sebuah 
pertemuan di kantor DPP Partai Demokrat, Anas mengatakan, "Kalau kasusnya 
meledak, ente berangkat ke Singapura. Paling lama 3 tahun, setelah perubahan 
pemerintahan," ujarnya. Kinio ia menolak mengungkap keberdaannya. Namun  Ia 
memastikan masih berada di luar negeri. "Saya berada di tempat yang aman dari 
rekayasa politik," ungkapnya. 

Sejak meninggalkan Tanah Air pada 23 Mei 2011, Nazaruddin kerap memberikan 
kejutan melalui pernyataan-pernyataannya yang diungkapkan melalui pesan singkat 
via telepon seluler (SMS) dan BlackBerry Messenger kepada sejumlah media. Kini, 
ia telah ditetapkan KPK sebagai tersangka dalam kasus dugaan suap proyek wisma 
atlet SEA Games. Statusnya sebagai kader Demokrat juga telah resmi lepas 
setelah ia mendapatkan peringatan ketiga dan dipecat dari partainya.

Anehnya, sikap Nazaruddin melunak terhadap Sekretaris Dewan Pembina Partai 
Demokrat Andi Mallarangeng dan Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Edhie 
Baskoro Yudhoyono (Ibas). Jika sebelumnya Nazaruddin menuding Andi dan Ibas 
menerima uang dari proyek wisma atlet, pada wawancara dengan Metro TV dan 
tvOne, mantan anggota Komisi III DPR ini melunak.

"Kalau Andi Mallarangeng, saya belum terlalu itu. Yang pasti, anggota DPR 
sebesar Rp 9 miliar dan Anas sebesar Rp 7 miliar," kata Nazaruddin ketika 
ditanya keterlibatan Andi dalam kasus dugaan suap wisma atlet tersebut. 
Pembangunan wisma atlet merupakan proyek Kementerian Pemuda dan Olahraga yang 
dipimpin Andi.

Begitu pula dengan Ibas, putra Yudhoyono. Nazaruddin mengelak keterlibatan Ibas 
dalam aliran uang pada Kongres II Partai Demokrat. "Waktu itu saya berlawanan 
dengan Ibas. Saya tak pernah kasih uang ke dia. Saat itu Ibas dalam posisi 
mendukung calon yang lain. Tak ada kepentingan atau relevansi kasih uang ke 
dia," kata Nazaruddin.

Sebelumnya, terkait tudingan terima suap, baik Andi maupun Ibas telah 
membantahnya. Kedua politisi tersebut mengatakan, mereka tak menerima uang 
terkait proyek pembangunan wisma atlet. Tidak hanya dua elit politik itu yang 
kebakaran jenggot. Kini, semua nama yang disebut Nazar, baik elit Partai 
Demokrat maupun petinggi KPK, sibuk membantah keterlibatannya dalam 
kongkalikong menggarong duit APBN, seperti yang dituduhkan Nazaruddin. 

Sungguh, ranah hukum dan politik negeri ini semakin kusut. Kini Indonesia 
digoyang oleh kicauan seorang Nazaruddin yang berada di negeri antah berantah. 
Masyarakat tampaknya sudah mulai muak dengan perilaku para koruptor dan 
politikus busuk yang tak pernah berhenti menggarong negeri ini.

Mengutip omongan pengamat politik Fadjroel Rahman, "Politik dan kekuasaan bukan 
untuk mencuri. Dan hukum bukan untuk melindungi para pencuri". Buktikan! [HP]


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke