Tuhan Menegor: “Bagaimana Caramu Berpuasa?”

http://bacabacaquran.com


 
TUHAN MENEGOR: “BAGAIMANA CARAMU BERPUASA?”
By Ram Kampas
Hati hatilah mereka yang berpuasa 
religius, karena “Boleh jadi orang yang berpuasa itu tidak mendapatkan 
apapun, kecuali hanya kelaparan”.
(Ibn Maajah, 1/539; Saheeh al-Targheeb, 1/453).
Dalam pengertian sehari-hari  – atau 
dalam definisi Kamus Umum Bahasa Indonesia –  puasa diartikan sebagai 
“tidak makan dan tidak minum dengan sengaja (terutama bertalian dengan 
keagamaan)”. Puasa dibulan Ramadhan kini bukan hanya menjadi bagian dari ibadah 
Islam, melainkan juga mulai menjadi fashion kultural. Berpuasa 
diwajibkan kepada Muslim seperti yang tertulis dalam Sura Al-Baqarah: 
183, “Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan ke atas kamu berpuasa 
sebagaimana telah diwajibkan ke atas umat-umat yang sebelum kamu, semoga kamu 
menjadi orang-orang yang bertaqwa.“
Banyak Muslim hanya membaca “wahyu” ini sebagai ayat-kewajiban, otomatis 
menerimanya sebagai hal yang diwajibkan, namun tidak mempersoalkan ayatnya dari 
segi kebenaran, atau siapa yang sesungguhnya telah mewajibkannya. Muslim telah 
amat 
alpa mempertanyakan diri apakah benar ayat ini mengklaim Firman-Nya 
seolah-olah Tuhan sendiri  juga sudah mewajibkan puasa yang sama kepada 
umat-umat Yahudi dan Nasrani?! Secara kasat mata, klaim ini jauh dari benar! 
“Wahyu” ini disesalkan 
karena menyeret-nyeret  orang pihak ketiga masuk kedalam perpuasaan yang tidak 
dikenalnya, sebab semua orang tahu bahwa puasa Islamik dan 
Kristiani justru berbeda seperti bumi terhadap langit! Muhammad telah 
memproklamirkan suatu “wahyu” yang jauh dari akurat!
Pertama, umat Kristiani tidak pernah diwajibkan berpuasa seperti yang Muhammad 
kenakan kepada Muslim pengikutnya. Tidak ada puasa-wajib yang jikalau 
dilaksanakan dengan ritual baku itu dan ini akan mendapat pahala 
berlimpah, dan jikalau melalaikannya akan kena laknat dosa. Puasa 
melainkan adalah praktek yang baik – yang Tuhan berkenan atasnya — untuk 
mencari wajah dan welas asih Tuhan dan agar berelasi lebih khusus 
dengan Penciptanya.
Kedua, apa yang disebut puasa dalam Islam sesungguhnya (pada hakekatnya) bukan 
puasa sama sekali, melainkan PEMINDAHAN JAM MAKAN! Muslim yang berpuasa bukan 
kelaparan 
karena tidak makan, melainkan menggeser  jam makan-mimumnya dari 
pagi-petang menjadi petang-subuh! Kwalitas dan kwantitas makannya Muslim yang 
berpuasa juga tidak terpengaruh samasekali. Porsi sexnya 
juga tidak ditiadakan, melainkan hanya diatur “carry-over” kepada 
jam-jam yang berbeda dari biasanya! Malahan kalau mau jujur, kwalitas 
dan kwantitas makan-minum diwaktu puasa malahan jauh dipertinggi dan 
diperpuaskan melebihi waktu-waktu selainnya. Seorang Muslim yang berkata “Saya 
berpuasa 30 hari penuh” akan ditangkap oleh 
orang-orang  awam non-Muslim, khususnya Kristen, sebagai berpuasa 30 
hari 30 malam tanpa makan minum sedikitpun (total abstinence)! 
Padahal ia hanya berpuasa 30 pagi-petang dan berbuka puasa 30 malam 
berturut-turut! Makannya tidak melarut hilang ditelan waktu, melainkan 
dibelanjakan ke jeda yang lain.
Ketiga, puasa Islamik pada prinsipnya lebih menonjolkan aktifitas lahiriah, 
disebut sebagai ibadah jasadiyyah, yaitu aktifitas berkorban dengan cara 
meninggalkan, membatasi, dan 
menjauhi nafsu kedagingan (khususnya perut dan kemaluan) dengan harapan 
khusus mendapat ridhoi dan pahala dari Allah SWT. Berpuasa dianggap 
beban perjuangan dan pengorbanan yang berat, sementara berbuka puasa 
dianggap sebuah kemenangan atas perjuangan tersebut. Semuanya bersifat 
fisikal. Yaitu menang “melawan shaytan dan nafsu 
insani”, padahal makanan dan minuman tentu bukan shaytan, sementara 
nafsu (yang sehat dan legal) juga tidak harus dilawan sebagai musuh!  
Dan orang yang menang itu adalah orang yang bertaqwa dan kepadanya 
tersedia pahala-pahala.
Ini tentu sangat berbeda dengan 
puasa-Kristiani yang pada dasarnya berakar dari “suasana perkabungan” , 
jeritan atau keprihatinan yang sangat serius, sehingga harus mencari 
tangan dan wajah Tuhan dalam kerendahan hati yang extra dalam. Ini akan 
kita jabarkan lebih jauh dibawah.
SALAH SASAR MUSUH
Musuh yang mengancam Muslim sesungguhnya bukan berasal dari apa yang 
dipuasakannya, melainkan dari pelbagai ekses dari persepsi diri 
sipelaku-puasa sendiri ketika ia sedang berpuasa. Seseorang yang merasa 
telah berkurban dalam berpuasa misalnya, akan merasa dirinya 
saleh-bertaqwa yang secara diam-diam akan menuntut penghormatan atas 
dirinya oleh orang lain dan lingkungannya. Bukankah kita menyaksikan 
banyak sekali kasus pemukulan dan penganiayaan terjadi dibulan Ramadhan 
dari sipelaku-puasa kepada “siorang-kafir” yang kebetulan makan minum 
disekitarnya, hanya karena dianggap melecehi dirinya yang sedang 
berpuasa?
Ada tuntutan yang tak disuarakan, tapi 
dikumandangkan dalam dirinya, ”Saya ini taat berpuasa, lho? Hormatilah 
saya sedikit”. Maka kedai-kedai makan dan resto “dihimbau” (malah ada 
yang diwajibkan) untuk ditutup atau setidaknya setengah tertutup. Dalil 
yang dipakai adalah orang-orang lain harus sensitive dan “tahu-diri” 
bahwa dia (Muslim) itu sedang berpuasa dan berkorban-suci, sehingga 
harus mendapat pengakuan dan penghormatan yang layak.
Akan tetapi sebaliknya, Muslim ini 
tidak tahu sensitive dan tidak tahu diri terhadap kedai dan resto yang 
terbuka sebagaimana biasa yang mereka jajakan setiap hari. Resto dan 
kedai samasekali tidak  sedang merancang atau berbuat salah apapun 
terhadap siapapun, mereka hanya meneruskan usaha/ nafkah mereka 
sehari-hari yang toh harus dianggap amanah bagi 
kehidupan keluarga mereka, sambil melayani orang lain yang butuh makan 
minum. Orang-orang sakit membutuhkan- nya, anak-anak, wanita yang datang bulan, 
orang dalam perjalanan, kaum non-Muslim, orang-orang yang karena satu dan lain 
hal tidak sanggup memasak hari-hari itu dll, semua 
membutuhkan pelayanan perkedaian! Anda tak layak merasa diri berkurban 
dalam puasa, juga tak akan berpahala,  bilamana semua makanan dan 
minuman disyaratkan harus dijauhkan dari mata Anda sambil menzalimi 
orang yang mencari nafkah atau orang yang tak berpuasa.
Apakah Anda akan berkata bahwa Anda 
bermental bersih, berkurban, berpahala, dan berkemenangan atas korupsi 
jikalau Anda tak punya peluang apapun untuk berkorupsi? Demikian juga 
Anda tak bisa berteriak sukses puasa jikalau makanan dipaksa untuk 
disembunyikan dari jangkauan mata Anda yang sesungguhnya jalang! Tetapi 
inilah yang kita sering saksikan, bahwa dibanyak tempat dikolong langit 
ini, Muslim mendamprat atau memukuli orang-orang yang makan 
dihadapan-nya yang bukan karena sengaja mau “menghina” puasanya, 
melainkan karena ego diri orang yang sok suci puasa! Anda yang merasa 
dilecehkan egonya jelas bukan menyangkal diri melainkan menonjolkan diri atas 
nama berpuasa!
Kasus dua orang wanita Aceh dicambuk dimuka umum dibawah hukum syariah NAD, 
karena membuka kedai nasi mereka dibulan Ramadhan yang lalu. Di Aljazair juga 
tersiar bahwa ada dua buruh Kristiani dituduh menghina Islam 
karena makan siang dibulan Ramadhan. Jaksa Penuntut mendakwa dengan 
hukuman penjara 3 tahun! Dubai police officials warned last month that 
non-Muslims risk arrest if they are caught eating during Ramadan, 
http://www.jihadwatch.org/2011/07/dubai-fines-british-expatriate-800-for-insulting-ramadan.html
Hukuman yang menyasarkan orang-orang yang dianggap “tidak menghormati” puasa 
Islam sungguh telah menjadi chauvinisme Islam secara sepihak yang jauh dari 
keabsahan dan keadilan.
Namun salah sasar yang lain justru tampak pada absennya wajib jenis 
puasa Islamik yang lebih mendasar ketimbang jenis puasa makan-minum. 
Apakah itu? Ialah “Puasa-Uang” (terhadap nafsu uang)! 
Bukankah nafsu-uang adalah akar kejahatan yang justru lebih menggurita 
ketimbang semua nafsu-nafsu lainnya dijadikan satu? Sedemikian 
menggurita sehingga telah menghancurkan individu, komunitas dan 
bangsa-bangsa? Apakah hal ini tidak terdeteksi oleh Allah SWT, sehingga 
tidak sekalian MEWAJIBKAN sebentuk “puasa-uang” dimana “puasa makan 
minum dan sex” dipaketkan dalam hukum wajib yang sama?
Nah, disinilah terjadi kesenjangan dan 
“loop hole” hukum Allah SWT, dimana orang-orang  pemilik kedai nasi yang 
mencari uang halal dihukum karena menjual nasi dibulan Ramadhan, tetapi para 
pencari-uang haram (koruptor, penipu dan penjarah dll) tidak 
dikhususkan untuk diberantas. Malahan memakai uang haram tersebut untuk 
beramal sedekah, zakat, naik haji, demi menebus dosanya!
BERALIH PAHAM DALAM BERPUASA
Muhammad selalu mengatakan bahwa Allah, para Malaikat, Nabi-nabi, 
Kitab-kitab Allah adalah sama diantara Yahudi, Nasrani dan Muslim; 
“Allahku dan Allahmu adalah satu”. Islam dianggap sebagai extensi dari 
agama-agama dan iman sebelumnya . Maka pastilah tak akan terjadi beda 
paham dan praktek keagamaan diantara keduanya, paling tidak bentuk 
ibadah dan ritual yang bersifat wajib pastilah harus memperlihatkan 
kesamaan-kesamaannya. Namun kemestian ini samasekali tidak terjadi. 
Klaim bahwa semua agama berawal dari “Islam yang satu”  hanyalah 
sebentuk retorika Islam yang amat menyesatkan dan membodohi. Manakah 
Yudaisme dan Kristianitas yang pernah memperkenalkan, mengajarkan dan 
mempraktekkan pernik-pernik  ritual ibadah Haji, sampai-sampai 
mengharus-kan mencium batu hitam? Bertawaf 7 kali bolak-balik, melempar 
batu ketiang setan, bershalat 5 waktu dengan segala pernik syarat dan 
pantangan dll, apalagi diwajibkan shalat memakai bahasa Arab? (Tuhan 
secara historis malahan tidak pernah berbicara dalam bahasa Arab mulai 
dari Adam, Nuh, Abraham, Ishaq, Yaqub, Musa, Daud, Solomo … sampai 
dengan Yohanes dan Yesus?). Jadi atas otoritas siapa maka Muhammad 
tiba-tiba merasa perlu untuk merombak-pasang ritual ibadah tanpa 
disertai pendasaran Allah? Kenapa Allah SWT diam saja ketika mau 
merombak sesuatu perkara yang sangat prinsip ini? Ini sebuah misteri 
sekaligus tantangan.  Maka mari kita menelusuri asal mula terbentuknya 
puasa wajib dibulan Ramadhan. Apakah Allah SWT sendiri yang 
menetapkannya begitu?
Sura Al-Baqarah 183 berbunyi, “Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan 
ke atas kamu berpuasa…”. Siapa yang telah mewajibkannya?
Tidak disebutkan secara spesifik.
Ternyata hal ini bisa ditelusuri 
 secara shahih dalam sumber-sumber Islam sendiri. Konsep berpuasa 
samasekali tidak ditemukan oleh Muhammad seorang dari surga lewat wahyu 
Allah SWT, melainkan ditemukan lewat praktek-praktek dan imbasan dari 
orang Yahudi dan Quraisy dizaman pra-islamik, lalu di-inkorporasikan 
oleh Muhammad sebagai bagian pokok dari properti Islam dalam 
rukun-rukunnya. (Hal yang sama terjadi pula pada banyak kisah dan 
praktek Islam, khususnya ritual ibadah haji yang disebutkan diatas).Hadis hadis 
dibawah itu berbicara tentang asal-usul puasa Islam yang 
ditetapkan wajib oleh Muhammad tanpa otoritas dari surga, melainkan 
dimulai secara MENDADAK, serentak  pada siang hari itu juga, walau para 
pengikutnya  sudah terlanjur makan! (Yusuf Qardhawi, Tirulah Puasa Nabi! Hlm 
213).  Yaitu dengan ikut-ikutan puasa Ashura Yahudi—hanya karena 
Muhammad tak mau dianggap kalah-hak atas warisan Musa! Bacalah berikut 
ini:
**Diriwayatkan Ibn ‘Abbas: Nabi datang 
ke Medina lalu melihat orang-orang Yahudi sedang berpuasa pada hari 
Ashura. Beliau bertanya tentang hal tersebut. Dan merekapun menjawab, 
“Ini adalah hari baik, hari dimana Allah melepaskan Bani Israel dari 
musuh mereka. Maka Musa berpuasa pada hari tersebut. Nabi berkata, “Kami lebih 
berhak dengan Musa ketimbang kalian.” Oleh karena itu Nabipun melakukan puasa 
pada hari itu seraya memerintahkan (kepada Muslim) untuk berpuasa (pada hari 
itu). (Bukhari, Volume 3, Book 31, No. 222)
**Diriwayatkan Abu Musa: Hari ‘Ashura’ dianggap sebagai ‘Hari Id’ oleh kaum 
Yahudi. Maka Nabi memerintahkan, “Aku memujikan kepada kalian (Muslim) untuk 
berpuasa pada hari ini.” (no.223).
**Diriwayatkan oleh Ibn ‘Abbas: Saya tak pernah melihat Nabi begitu memilih 
hari (yang diinginkannya) untuk berpuasa selain hari ini, yaitu hari ‘Ashura’, 
atau bulan ini, yaitu bulan  Ramadhan (no.224).
**Diriwayatkan Aisha: (Suku) Quraisy biasa berpuasa pada hari Ashura dalam 
zaman pra-Islam, maka Rasul Allah memerintahkan (Muslim) untuk berpuasa pada 
saat itu 
hingga diwajibkan berpuasa pada bulan Ramadhan; tatkala mana Nabi lalu 
berkata:  “Mereka yang mau berpuasa (pada Ashura) silahkan berpuasa, dan mereka 
yang tidak mau berpuasa juga boleh.” (no.117).
Kita menyaksikan bahwa akhirnya puasa 
Ashura ini tidak diwajibkan lagi oleh Muhammad, melainkan hukumnya 
menjadi sunnah, dan puasa Ramadhan-lah yang diwajibkannya. Betapa 
pelan-pelan secara systemik Muhammad menggeser bobot dan peran pahala 
puasa Ashura (yang tadinya ditetapkan mutlak tanpa penundaan sedetikpun) 
diperlihatkan oleh Qardhawi demi pembenaran penggeserannya. Kita 
petikkan dibawah ini:
Abu Qatadah meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Puasa sehari pada hari 
Arafah (hari ke-9 Zul-Hijjah) dapat menghapus (dosa) pada tahun yang lalu dan 
yang akan datang, sedangkan puasa sehari pada hari ‘Asyura (hari ke-10 
Muharram) menghapus (dosa) setahun” (HR Al-Jamaah, selain Al-Bukhari dan 
Al-Tirmidzi, Nail Al—Authar (4/323).
Oleh karena Nabi Saw memiliki perhatian pada karakteristik pribadi Islam dalam 
segala hal, dan agar kaum Muslim memiliki kemandirian daripada yang lain, 
beliau menganjurkan untuk berpuasa pada hari ke-9 – yakni bersama hari 
kesepuluh – untuk membedakan puasa mereka dengan puasa Ahli Kitab. (hlm 213)
Jadi bagaimana keabsahan Nabi yang 
berkata bahwa dia dan kaumnya lebih berhak ketimbang orang Yahudi dalam 
mewarisi puasa Ashura, sementara kelak dia menggesernya kehari ke-9 dan 
menggembosi hukum wajib puasa Ashura yang diwariskan Musa menjadi 
sunnah? Lalu menggantikannya dengan wajib puasa Ramadhan, “dikalamana 
pintu-pintu Firdaus akan terbuka dan pintu-pintu neraka akan tertutup, 
dan para setan akan dirantai” (al-Bukhari, al-Fath, no. 3277). Dan menetapkan 
bahwa Puasa Ramadhan adalah setara dengan puasa 10 bulan (Lihat Musnad Ahmad, 
5/280; Saheeh al-Targheeb, 1/421)…
Ya, banyak man-made-rules dideklarasikan dengan mengatas-namakan Tuhan. Maka 
Alkitab mencatat 
bahwa Tuhan dari waktu selalu bertanya dan menegor bagaimana kelayakan 
kita dalam berpuasa. Perhatikanlah baik-baik!
TUHAN MENEGOR PUASA YANG RANCU
Muhammad mungkin tidak tahu, tetapi telah diingatkan lewat nabi Zakharia
 bahwa Tuhan menegor macam puasa yang telah dilakukan umat-Nya secara 
sangat tidak layak selama 70 tahunan berlalu. Tanpa kecuali tegoran itu 
tertuju pula kepada para imam: Apakah puasa itu “untuk AKU atau dirimu”?
“Katakanlah kepada seluruh rakyat negeri dan kepada para imam, demikian: Ketika 
kamu berpuasa dan meratap dalam bulan yang kelima dan yang ketujuh selama tujuh 
puluh tahun ini, adakah kamu sungguh-sungguh berpuasa untuk Aku? Dan ketika 
kamu makan dan ketika kamu minum, bukankah kamu makan dan minum untuk dirimu 
sendiri? (Zakharia 7:5-6)
Telah disebutkan betapa hakekat  
puasa-Kristiani yang pada dasarnya berakar dari “suasana perkabungan” , 
ratapan atau keprihatinan yang serius, sehingga harus mencari tangan dan wajah 
Tuhan dalam kerendahan hati yang extra dalam  mengatasinya. 
Berfokus pada ketergantungan dan kebutuhan akan belas kasih Tuhan atas 
dirinya yang kotor dan tidak berdaya, sipelaku puasa akan mencari 
kedekatan diri dengan Tuhan-Nya secara sadar dan sukarela. Lewat doa 
sembahyang yang sungguh-sungguh sambil memantangkan makan/ minum yang 
telah disangkalkannya untuk sementara waktu. Disini penyangkalan diri 
sendiri dikontraskan dengan kedaulatan Tuhan, berhadapan dengan 
penegakan kehendak-Nya yang telah dipasrahkan oleh orang yang berpuasa. 
 Wajah Tuhan adalah sentral dari semuanya. Jadi samasekali tidak – 
sekali lagi TIDAK– berkaitan dengan rasa  “berjuang”, “berkurban”, dan 
“cari pahala”, yang semuanya cenderung kepada ORIENTASI DIRI. Apalagi 
merasa “menang” atau sukses melawan “musuh” (perut dan kemaluan) yang 
sesungguh-nya bukan musuh!  
Karena asal-usul puasa Islamik – 
sebagaimana yang kita perlihatkan dimuka– adalah hasil peniruan Muhammad 
berdasarkan segi-segi kultural saja sebagaimana yang disaksikannya dari 
kelompok Yahudi dan Quraisy, maka sesungguhnya Muhammad tidak mempunyai 
penghayatan yang tepat tentang macam puasa apa yang sesungguhnya 
dituntut oleh Tuhan.  Beliau mungkin pernah dengar-dengaran dari para 
Ahli Kitab bahwa Musa dan Yesus justru berpuasa Al-Wisal 40 
hari-40 malam penuh! Artinya disini tanpa makan dan minum sedikitpun 
selama 40 hari 40 malam (Matius 4:2, Lukas 4:2)! Seharusnya, bilamana 
Islam dianggap merupakan kepanjangan pewahyuan Taurat dan Injil, maka 
Muhammad – yang dianggap nabi terbesar dan terakhir — juga perlu 
berpuasa penuh tak kurang dari 40×24 jam seperti Musa dan Yesus. Kenapa? Karena 
alasan yang disesumbarkannya sendiri tentang kedekatan beliau 
dengan Musa dan Isa itu sebagai sesama “kelompok nabi elite” yang 
kepadanya diturunkan Kitab-kitab Allah!
1.Klaim kedekatan dan lebih berhaknya Muhammad dengan Musa ketimbang pihak 
ketiga, untuk mana ia memerintahkan para pengikutnya 
langsung berpuasa Ashura mengikuti Musa: “…Kami lebih berhak dengan Musa 
ketimbang kalian.” (Bukhari, Volume 3, Book 31, No. 222). Akan tetapi Yesus 
telah memperingatkan para Ahli Taurat cs. dan kini sama kepada Muhammad:
“Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa”
(Matius 23:2).
2. Klaim kedekatan Muhammad dengan Isa anak Maryam: “Saya yang lebih dekat 
dengan Isa anak Maryam didunia dan diakhirat.” 
(Shahih Bukhari 1501). Akan tetapi Yesus telah memperingatkan kepada 
para Ahli Taurat, dan kini sama kepada Muhammad: “ Aku adalah Anak 
Elohim” (Yohanes 10:36), bukan Isa anak Maryam!
Namun sungguh tidak elok apabila 
Muhammad merasa lebih berhak menjajarkan dirinya dengan Musa sehingga 
memerintahkan “menirukan puasa Ashura” bagi  umat pengikutnya, NAMUN ia 
pribadi tidak menirukan puasa-Musa dan Isa!! Tidak ada alasan Allah 
untuk mendiskriminasikan dia tersendiri dari hal yang mulia ini kecuali 
kalau kenabian Muhammad ditahbiskan oleh sumber lain, sehingga dia tidak akan 
mampu berpuasa penuh 40 hari. Termasuk pantang hubungan  sex 
dengan para wanitanya selama itu.Dan memang, ketidak mampuan Muhammad 
berpuasa berat telah diakui-nya sendiri, dan itu tercatat dalam Hadis 
Muslim no. 2603 yang akan kita bicarakan sekarang.
PUASA DAUD SEBAGAI FAVORIT ALLAH SWT?
Dalam Hadis Muslim no. 2603 dikisahkan bahwa Muhammad sempat marah 
ketika pada awal-awal pengenalan berpuasa, beliau ditanyai tentang 
bagaimana cara puasa dirinya sendiri. Kepada beliau ditanyakan bagaimana
 kalau berpuasa dua hari dan satu hari berbuka. Dan ia tampaknya kurang 
sanggup, lalu menjawab, “Siapa yang mempunyai kekuatan untuk melakukan itu?”  
Lalu ia ditanyai lagi tentang kebalikannya, yaitu bagaimana kalau 
berpuasa sehari dan buka puasa dua hari. Dan untuk itu dia menjawabnya:” 
Kiranya Allah memberikan kekuatan bagi kita untuk melakukannya”. 
 Tetapi yang menarik adalah pernyataan ‘Abdullah b. Amr kepada Muhammad 
bahwa ia justru sanggup berpuasa lebih dari 4 hari non-stop! Untuk itu 
buru-buru Muhammad memastikan kepadanya bahwa “berpuasa yang terbaik dimata 
Allah adalah puasa Daud; ia biasa berpuasa satu hari diselingi berbuka 
besoknya”!?
Pertanyaan besar, siapa yang pernah menyaksikan ada puasa jenis demikian 
dilakukan oleh Daud 
atau bahkan oleh nabi manapun didunia? Taurat,  Zabur, Injil dan Quran 
mana yang dipakai Muhammad untuk membuktikan ucapannya? Suatu puasa yang 
terbaik dimata Allah seperti Puasa-Daud ini (kalau ada) pasti akan 
dijagai dan diturunkan sebagai warisan termulia kepada anak-cucu turun 
temurun, dan tidak ada orang Yahudi manapun yang mau dan perlu 
mengkorupsi-kannya! Bahkan Allahpun akan mengamankannya dengan sangat 
mudah dan tidak bisa dihilangkan oleh siapapun dalam kultur Yahudi 
seperti yang terkosong sekarang ini tanpa jejaknya. DIMANAKAH dan oleh 
SIAPA puasa ala Daud semacam itu pernah diperkatakan, ditulis atau 
dipraktekkan sebelum Muhammad sepanjang 1600 tahun sebelumnya?
Dan apakah esensi dan latar belakang 
puasa Daud menurut Muhammad? Tak ada latar belakang yang membuat Daud 
harus memilih cara puasa yang tanpa tema: hari ini ya, puasa, besok 
tidak.  Alkitab memberi tahukan kita bahwa yang membuat Daud berpuasa 
habis-habisan adalah karena penyesalannya yang tak terhingga atas 
dosanya yang luar biasa. Lewat nabi Natan yang menegurnya dengan keras, 
ia disadarkan Tuhan akan dosanya yang sangat keji, karena telah berzinah dan 
menghamili istri orang (dalam Alkitab: ialah 
Batsyeba binti Eliam, istri dari Uria prajurit perangnya yang sekalian 
terbunuh atas rencana jahat Daud, baca 2Samuel ps.11). Rasa dosa dan 
penyesalan yang telah menjadi momok baginya itulah yang membuat Daud 
harus berkabung diri dalam “puasa-Daud”. Tak lain tak bukan itu adalah 
PUASA PERKABUNGAN! Itu samasekali bukan puasa tanpa tema seperti yang 
dipujikan oleh Muhammad. Itu suatu puasa sangat tematis, dengan 
pengakuan dosa, penyesalan dan pertobatan yang habis-habisan 
semalam-malaman, memohon belas kasih dan pengampunanTuhan dengan  jiwa 
yang hancur dan hati yang patah dan remuk (Mazmur/ Zabur Daud ps.51). 
Daud  berkapar baring ditanah selama seminggu, hingga menerima petunjuk bahwa 
anak yang dihamilinya dari istri Uria itu sudah mati! (2Samuel 12: 15-20).
Betapa semuanya ini berbeda dengan yang dongeng-dongeng  Islamik.
RENUNGAN PENUTUP
Jadi kembali kita dapat menyaksikan dan menyimpulkan betapa sesukanya 
Muhammad berbicara dengan mengatas namakan nabi-nabi dan Allahnya:
1.Merasa tak mau ketinggalan kereta 
untuk mewujudkan upacara puasa dalam Islam, maka Muhammad yang merasa 
lebih berhak atas  “kursi Musa” menetapkan Puasa Ashura untuk diwajibkan kepada 
para pengikutnya. Pemberlakuannya langsung seketika itu juga.
2. Kemudiannya, setelah menyadari bahwa “ kursi Musa” ini bermasalah (dengan 
kemandirian islam), maka ia di 
sunnahkan tanpa pendalilan, sementara puasa 40 hari Musa tidak mampu 
diikuti olehnya sendiri.
3. “Puasa Daud” adalah mitos yang 
mengatas-namakan Daud tanpa diketahui oleh yang punya nama. Daud dan 
keturunannya (sampai ke Yesus) tidak ada yang tahu-menahu tentang puasa 
selang-seling model puasa Daud. Apa tema dan kedahsyatan dari puasa 
selang seling itu sehingga Muhammad memujinya sebagai puasa terbaik 
dimata Allah? Hanya Muhammad yang tahu, bukan Allah.
4. Sebab bilamana ini puasa yang 
terbaik, tentu Allah akan memberi tempat terbaik pula dalam deretan 
pengamalan dan pahalanya yang tertinggi. Nyatanya itu  justru 
dikosongkan dari rukun puasa Islamik.
5. Nama Allah tidak jelas dimana ketika Muhammad berseru: “Wahai orang-orang 
yang beriman, telah diwajibkan ke atas kamu berpuasa sebagaimana telah 
diwajibkan ke atas umat-umat yang sebelum kamu…” (Al-Baqarah 183). Yang jelas 
adalah tak ada nabi-nabi Israel yang 
diwajibkan berpuasa ala Islamik yang sesungguhnya bukan puasa melainkan 
menggeser waktu makan belaka.
6. Setelah menyidik asal-usul puasa 
Islamik, bahkan Muslim kini perlu bertanya kritis: “Siapa yang 
sesungguhnya telah mewajibkan puasa ini semua?” Muhammad ataukah Allah 
SWT?
7. Yesus Al-Masih tidak menetapkan 
waktu untuk berpuasa. Malahan sewaktu Ia ada didunia, murid-muridNya 
tidak berpuasa, namun Yesus berkata: “Selama mempelai itu (Yesus) 
bersama mereka, mereka tidak dapat berpuasa. Tetapi waktunya akan datang 
mempelai itu diambil dari mereka, dan pada waktu itulah mereka akan 
berpuasa” (Markus 2:19, 20).
Yesus mengajarkan puasa keluhuran dan 
rendah hati. Bersifat pribadi dengan fokus  berelasi dengan Bapa, tanpa 
pamer, menuntut  penghormatan atau pengakuan. Ibadah dalam substansi 
rohani yang riil, dan bukan ritual hura-huraan yang semu, seperti 
kesia-siaan menggeser jam makan, rasa berkorban atau euphoria 
kemenangan. Bukan bentuknya yang jasadiyyah, tetapi isinya yang batiniah itulah 
yang diperkenan oleh Bapa, yang akan memberikan kemurahan-Nya:

“Dan apabila kamu berpuasa (bukan geser jam makan), janganlah muram mukamu 
seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa 
mereka sedang 
berpuasa (minta pengakuan dan penghormatan orang lain). Aku berkata 
kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi apabila engkau 
berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh 
orang bahwa engkau sedang berpuasa, 
melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi (pribadi, rendah 
hati, pasrah tidak menuntut). Maka Bapamu yang melihat yang 
tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” (Matius 6:16-18).

        * Tuhan Menegor: “Bagaimana Caramu Berpuasa?”
        * Ajaran Shalat Dari Dua Nabi Terbesar
        * Jesus in the Quran
        * Bukti Quran adalah Buatan Manusia
        * Lima Anugrah Allah Yang Dikhususkan Hanya Bagi Muhammad
        * Siapakah Yesus, Menurut Yesus Sendiri? Bagian 2 dari 2
        * Siapakah Yesus, Menurut Yesus Sendiri? Bagian 1 dari 2
        * Saatnya Muslimah Menggugat “Hukum Allah”
        * Saatnya Umat Muslim Bertanya Ulang: Dimanakah Nabi Muhammad Berada 
Saat Ini?
        * Muslim Manakah yang Tahu Akan Isi Kitab Zabur?
        * Eks-Muslim Menolak Kepalsuan Islam: Perjalananku Keluar Dari Islam
        * Saatnya Umat Muslim Bertanya Ulang: Dimanakah Muhammad Berada Saat 
Ini?
        * Video pemenggalan kepala. Jgn dilihat!
        * 1000+ Kesalahan Quran
        * Muslim Manakah yang Tahu Akan Isi Kitab Zabur?
        * Daftar Muslim yang Meninggalkan Islam
        * Muslim Purwakarta Tuntut Patung Bima Dicopot
        * TANYA JAWAB ISLAM-KRISTEN
        * VIDEO
        * YESUS & MUHAMMAD
        * Saatnya Muslimah Menggugat “Hukum Allah”
        * Nusron Wahid: Negara Kehilangan Wibawa


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke