Badra Naya
https://www.facebook.com/home.​php?sk=group_149642038418662&a​p=1#!/notes/badra-naya/masalah​-dalam-sumber-sumber-islam-qur​an-bag-1/127742743984665
MASALAH DALAM SUMBER-SUMBER ISLAM & QURAN bag. 1
PRAKATA DARI PENERJEMAH     Ada beberapa kendala besar mengapa karya-karya 
kritis historis kepada Islam  tidak benar-benar dikenal di Indonesia, 
diantaranya adalah :   Pertama, adanya ketidak-terbukaan masyarakat kita akan 
karya-karya ilmiah dan ketakutan untuk mengetahui apabila keyakinan imannya 
ternyata tidak sekuat dan seideal yang mereka pikirkan sebelumnya. Dalam hal 
ini memang budaya masyarakat kita yang belum dewasa dan masih melihat agama dan 
kisah-kisahnya sebagai sesuatu yang ditanggung benar, faktual, sempurna dan 
terang benderang dalam aras sejarah, sehingga mengkritisinya dianggap sebagai 
melecehkannya. Padahal idealnya, sesuatu yang bisa didebat dan dibuktikan 
kesalahannya memperlihatkan bahwa asumsi kita akan kehandalan dan kesempurnaan 
agama itu ternyata keliru. Dan kita patut bersyukur kepada mereka yang mencoba 
membuka belenggu keyakinan buta lewat cara pandang dan fakta-fakta sejarah 
baru. Kedua, adanya terjemahan-terjemahan karya ilmiah itu ditenggarai disisipi 
oleh pihak agama lain yang, sementara membukakan borok-borok dalam Islam, 
mereka juga memuliakan keyakinannya sendiri, bahkan pada beberapa bagian minor, 
disisipi frasa-frasa yang tidak didapati di karya aslinya. Apalagi selama ini 
kritikan kepada Islam selalu disisipi oleh gambar yang menohok dan melecehkan. 
Padahal metoda kritik historis adalah metoda yang handal untuk membedah dan 
menganalisa agama manapun lewat pemikiran yang kritis dan rujukan bukti-bukti 
sejarah otonom di luar keyakinan komunitas itu, dan bukan untuk menelanjangi 
suatu agama sambil memuliakan agama lain.    Untuk mengatasi problem kedua 
inilah saya terketuk menerjemahkan 2 bab dari buku yang mengguncang dunia WHY I 
AM NOT A MUSLIM karya Ibn Warraq, yaitu : Problems of Sources (bab 3) dan 
sebagian dari The Koran (bab 5). Dan tentu saja, sebagian dari terjemahan ini 
yang sejatinya adalah suatu upaya pengeditan dari terjemahan yang sudah beredar 
sebelumnya. Sebagai seorang ex-muslim, dan kemudian menjadi agnotis humanis, 
Ibn Warraq mendedikasikan hidupnya untuk menganalisa Islam baik dari dalam 
tradisi islam itu sendiri maupun dari luar tradisi. Saya percaya ada banyak 
poin menarik yang dapat ditarik dari karya Ibn Warraq ini, yang anda dapati 
lebih netral dalam terjemahan saya dari pada terjemahan yang sudah ada 
sebelumnya.       MASALAH PENERJEMAHAN KATA-KATA YANG MENYANGKUT DENGAN 
KETUHANAN   Penerjemah perlu meluruskan hal ini dari awalnya, agar para pembaca 
secara persis mengetahuinya: yaitu ada masalah penerjemahan yang keliru selama 
ini dari bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia, ataupun dari bahasa Arab, 
Yunani, Latin dan Ibrani kedalam bahasa Indonesia. Kita sering mencampur-adukan 
kata `god' dan `lord' dalam bahasa Inggris, keduanya sebagai `tuhan', atau 
keduanya sebagai `allah'. Ditambah lagi kata `allah' memiliki nuansa berbeda 
bagi pemeluk Islam dan Kristen. Sementara Islam menganggap `allah' yang 
dilafalkan `aloh' atau `awloh'  adalah nama diri dari sang tuhan, Kristen 
menganggap itu adalah nama umum, dan bukan nama diri, seperti halnya manusia, 
binatang, tumbuhan (sebagai common noun, nama umum) , bukannya si Amir, si 
Fulan, Kuping Gajah, Pakis Haji (sebagai proper name, atau nama diri).   Untuk 
itu perlu saya jelaskan bahwa :   1. Dalam teks-teks kitab keagamaan awal, 
dimana ditulis dalam bahasa Ibrani, Arami, Yunani, Latin, Arab, Sansekerta, 
Mandarin dsb, tidak dikenal adanya huruf kapital (huruf besar) untuk menunjukan 
suatu kehormatan kepada suatu konsep ketuhanan suatu agama. Fenomena ini hanya 
terjadi pada bahasa modern. Untuk itu saya akan mengadopsi kembali gaya ini, 
yaitu dengan menuliskan dewa sebagai dewa, tuhan sebagai tuhan, allah sebagai 
allah, tanpa huruf kapital.  2. Kata `theos' (Yunani) yang sinonim dengan kata 
`god' (bhs. Inggris) yang diterjemahkan sebagai `allah' atau `ilah' dalam kosa 
kata Kristen dan islam, yang sebenarnya sepadan dengan kata `dewa' akan saya 
terjemahkan menjadi kata `sesembahan'.  Kata `tuhan' atau dalam bahasa Inggris 
`lord'dalam beberapa kasus akan saya ganti menjadi `gusti, atau junjunan'.   3. 
Dalam beberapa kasus, demi membedakan pemaknaan allah sebagai nama diri (karena 
bagaimanapun ratusan juta muslim masih berpikir bahwa allah adalah nama diri 
dari sang tuhan, maka saya akan membedakan antara allah (untuk pelafalan 
Kristen) dan awloh (untuk pelafalan islam).   Poin kedua dan ketiga akan sangat 
membantu kita untuk memahami arti yang tepat dari syahadat dan penggunaan 
praktisnya. Misalnya dalam syahadat agama yahudi :   Dalam kitab Perjanjian 
Lama kita melihat syahadat dari agama Yudaisme:   "Dengarlah Israel TUHAN 
Allahmu adalah satu. Jangan ada padamu illah lain untuk kau sembah" Seharusnya 
diterjemahkan menjadi :   " Dengarlah Israel: Yahwe sesembahanmu adalah esa. 
Jangan ada padamu sesembahan / dewa lain untuk kau sembah."     Dalam kalimat 
ini jelas bahwa selain Yahwe (ada juga ilah/ dewa/ sesembahan lain, namun sang 
Yahwe ini meminta kepatuhan mutlak dari pemercayanya agar menyingkirkan 
sesembahan -sesembahan lain atas dasar kecemburuannya.  (yahwe di sini dianggap 
sebagai nama diri dari sang sesembahan- yang oleh orang Israel tidak berani 
dibaca Yahwe namun dibaca sebagai adonai, yang artinya junjunan atau sesembahan 
juga.)   Sebaris syahadat islam berbunyi : "la ilah ha illallah "  yang sering 
secara keliru diterjemahkan menjadi, "tiada Tuhan selain Allah",  seharusnya 
diterjemahkan menjadi : "tiada sesembahan lain selain awloh" ( di sini awloh 
secara keliru dianggap sebagai nama diri, padahal dalam asal-usulnya baik itu 
allah ataupun awloh bukanlah nama diri, ia adalah kata umum yang berarti 
`sesembahan atau yang disembah')     Begitu pula secara praktis dalam kosa kata 
kekristenan  selalu dikatakan tuhan Yesus putra allah, yang mana oleh orang 
Islam, karena kepatuhan imannya akan keesaan sesembahannya, diterjemahkan 
menjadi Yesus putra tuhan, yang mana  seharusnya diterjemahkan menjadi gusti / 
dewa Yesus putra sang sesembahan (tentu saja putra di sini tidak merujuk pada 
makna biologis seperti yang dituduhkan islam) . Dan memang kata Kyrios dalam 
bahasa Yunani lebih tepat diterjemahkan sebagai : tuan besar, dewa,  gusti atau 
junjunan ketimbang nama diri 'tuhan'. Untuk itu kita akan dapati keselarasan 
penerjemahan misalnya : Lord Buddha, menjadi gusti Buddha, Lord Ganesha menjadi 
gusti Ganesha, atau dewa Ganesha, Lord Jesus, menjadi gusti Yesus atau dewa 
Yesus. (Kenyataannya memang Yesus adalah manusia biasa yang didewakan oleh para 
pemercayanya).   Saya berharap bahwa usaha penerjemahan ini, serta pemberian 
istilah  yang lebih tepat akan kata-kata ketuhanan / kedewaan akan sangat 
membantu kita dalam menganalisa buku ini dan buku-buku terjemahan lainnya di 
kemudian hari. Terima kasih.
By: Badra Naya



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke