Tulisan ini juga disajikan dalam website  http://umarsaid.free.fr/

  yang sampai sekarang sudah dikunjungi     750 400  kali



=====                    ==========                     ===========


Pernyataan kemarahan 45 tokoh nasional
Negara Dalam Bahaya dan Menuju
Jurang Kehancuran

Menjelang seluruh bangsa kita merayakan Hari Kemerdekaan 17 Agustus, ada
peristiwa penting yang patut  mendapat perhatian kita semua. Peristiwa ini
adalah pertemuan 45 tokoh nasional, yang menghasilkan sikap bersama mengenai
keadaan negara dan bangsa dewasa ini.  Pertemuan ini diadakan dengan pokok
pembicaraan  Revitalisasi Semangat Proklamasi Kemerdekaan Dan Akhlak
Kepemimpinan.
Seperti yang diberitakan oleh pers, yang dikutip di bawah ini, sikap 45
tokoh nasional  itu (yang tidak mewakili partai-partai politik)  mengambil
sikap yang sangat tegas dan keras terhadap SBY beserta pemerintahannya yang
telah dianggap gagal.
Dengan bahasa yang terdengar sangat  keras atau terus terang  mereka
menyerukan agar « DPR mengambil langkah politik untuk segera mengakhiri
kekuasaan yang hanya menyandera rakyat. SBY sudah  terbukti tidak mampu dan
secara moral sudah tidak patut untuk menyelenggarakan negara dan kekuasaan
pemerintahan »
Dengan tertangkapnya Nazarrudin di Cartagera (Colombia) dan adanya
kemungkinan untuk dipulangkanya ke Indonesia, maka pemerintah di bawah
pimpinan SBY mendapat ujian baru lagi tentang kredibilitas dalam mengurusi
masalah hukum dan korupsi. Kelanjutan kasus Nazaruddin dan segala kasus
lainnya yang menyangkut tokoh-tokoh Partai Demokrat akan menunjukkan lebih
banyak lagi tentang kebobrokan pemerintahan SBY.
Untuk membantu para pembaca dapat mengetahui betapa penting pernyataan sikap
45 tokoh dalam konteks situasi dewasa ini maka di bawah berikut ini
disajikan berita yang disiarkan Rimanews (8 Agustus 2011), yang  adalah
sebagai berikut  (dengan huruf tebal di sana-sini, sebagai tanda
penggaris-bawahan) :
SBY-Boediono Gagal, Harus Tahu Diri dan Mundur
« Sedikitnya 45 tokoh nasional berkumpul di Hotel Four Season, Jakarta Senin
malam (8/9). Dengan tegas mereka menyatakan sikap jika pemerintahan
SBY-Boediono telah melenceng dari tujuan dan cita-cita kemerdekaan, SBY-Boed
gagal dan harus tahu diri serta secepatnya mundur !.

Hariman Siregar menyatakan pernyataan sikap dalam forum ini menunjukkan
sudah ada kesamaan penilaian, pandangan dan visi bahwa pemerintahan
SBY-Boediono sudah tak layak dipertahankan karena gagal, tak amanah, dan
negara dalam keadaan bahaya. ''Indonesia dalam keadaan kritis, dalam bahaya,
kita harus terpanggil untuk mewakafkan diri kita demi keselamatan bangsa
dan negara,'' tegas Tokoh Malari dan mantgan Ketua Umum Dewan Mahasiswa UI
ini.

Diantaranya ke 45 tokoh yang hadir dan berbicara antara lain,  Prof KH Ali
Yafie, Hariman Siregar, Sukardi Rinakit, Soeryadi Sudirja, Adnan Buyung
Nasution, Soegeng Sarjadi, Letjen Marinir (Purn) Suharto,  Sri Palupi,
Monsinyer Situmorang, Fanny Habibie, Bursah Zarnubi, Gurmilang Kartasasmita,
Tyuk Sukadi, B Wiwoho,Mayjen TNI (Purn) Purwanto, Mulyana W Kusuma dan
Tyasno Sudarso.

Ke 45 tokoh tersebut sepakat saat ini sudah terjadi penyimpangan terhadap
cita-cita dan semangat proklamasi kemerdekaan. Kehidupan bernegara dan
berbangsa, kata mereka telah mengarah ke jurang kehancuran.

Cita-cita proklamasi 1945 dengan tegas menyatakan bahwa tujuan bernegara
adalah untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah
Indonesia, meningkatkan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa
dan ikut serta dalam pergaulan dunia yang berdasarkan kemerdekaan,
perdamaian abadi dan keadilan sosial. Namun pada kenyataannya, saat ini
semakin benar-benar sudah jauh dari yang dicita-citakan para founding
fathers.

Secara objektif kondisi bangsa saat ini semakin memburuk bahkan mengarah
pada kehancuran. Kerusakan telah terjadi di semua aspek dan lini kehidupan.

Setidaknya ada 7 krisis nasional yang melanda. Yakni krisis kewibawaan
kepala pemerintahan, krisis kewibawaan kepala negara, krisis kepercayaan
terhadap parpol, krisis kepercayaan kepada parlemen, krisis efektifitas
hukum, krisis kedaulatan sumber daya alam, krisis kedaulatan pangan, krisis
pendidikan, krisis integrasi nasional.

Dalam hemat ke 45 tokoh, semua itu terjadi karena pemerintahan presiden
Susilo Bambang Yudhoyono(SBY) tidak efektif, lemah, dan hanya mengejar
pencitraan diri ketimbang kerja nyata. Terjadi disorientasi dari SBY selaku
presiden. Rakyat sekarang ini bertahan hidup karena usaha mereka sendiri dan
bukan karena peran negara. Negara tidak hadir ketika rakyat membutuhkan.

Terlalu beresiko bagi bangsa jika situasi seperti ini terus berlangsung.
Rakyat akan semakin pesimis dan terpuruk. Apabila presiden SBY tidak bisa
menghentikan demoralisasi dan anomali kehidupan berbangsa dan bernegara maka
keharusan konstitusional bahwa SBY harus diganti pada 2014 otomatis gugur.
Bangsa dan negara harus diselamatkan saat ini juga.

Saat ini perubahan merupakan conditio qua non, semakin cepat semakin baik
agar ongkos politik, biaya ekonomi, dan resiko sosial-budaya bisa berkurang.

"Kami menegaskan agar DPR mengambil langkah politik untuk segera mengakhiri
kekuasaan yang hanya menyandera rakyat. Kepemimpinan SBY sudah terbukti
tidak mampu dan secara moral sudah tidak patut untuk menyelenggarakan negara
dan kekuasaan pemerintahan," demikian salah satu poin desakan yang
disampaikan ke 45 tokoh nasional. Advokat tiga zaman, Adnan Buyung Nasution,
adalah salah seorang tokoh nasional yang hadir dalam pertemuan 45 tokoh di
Hotel Four Seasons, Jakarta, malam ini (Senin 8/8).

Bang Buyung mengungkapkan bagaimana perjuangan menuju kemerdekaan telah
dilakukan dengan susah payah. Tapi, kemerdekaan itu dikhianati oleh
pemerintahan saat ini.

"Saya dukung sepenuhnya wacana ini (mengakhiri pemerintahan), pemerintah
sudah tidak melihat dan mendengar," ujarnya diikuti tepuk tangan dan gema
takbir.

Bahkan lebih dari itu, menurut Buyung pemerintah SBY-Boediono tidak lagi
mempunyai hati nurani.

"Saya sudah capek memperingati SBY ini dari dalam dan luar. Kita tidak bisa
membiarkan rakyat seperti ini. Kita setuju harus segera melakukan aksi
nyata," tegasnya.

"Kita juga lakukan seruan kepada DPR untuk mengambil sikap tegas. Kalau
tidak rakyat akan bubarkan mereka. Saya harap SBY tahu diri harus mundur,"
pinta Buyung.

Keprihatinan terhadap rendahnya kinerja pemerintahan Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono ditunjukkan oleh 45 tokoh bangsa dalam rapat revitalisasi
cita-cita dan semangat proklamasi kemerdekaan di Jakarta, Senin (8/8). Para
tokoh menilai berbagai penyimpangan di Indonesia saat ini sudah sangat
memprihatinkan.

Salah satu tokoh Soegeng Sarjadi merasakan bahwa fungsi kenegaraan tidak
berjalan efektif. Partai politik dan pemerintah pun tidak bekerja baik. Para
tokoh pun akhirnya merasa terpanggil untuk membahas persoalan negara.

Ketua Soegeng Sarjadi Syndicate itu mengatakan pesan dari pertemuan 45 tokoh
ini seharusnya menjadi pegangan pemerintah dan DPR. "Jika pesan para tokoh
ini tidak didengarkan dan rakyat yang berbicara itu justru lebih berbahaya,"
ujarnya.

Pertemuan ini untuk membuka mata hati pemimpin negara agar dapat lebih bijak
lagi. Karena masih banyak korupsi dan kebijakan-kebijakan yang masih belum
sesuai »(kutipan dari RIMA selesai)



 Sedikit komentar :

Dari apa yang sudah diungkap  oleh 45 tokoh nasional dalam pernyataan di
atas nyatalah bahwa banyak hal mencerminkan perasaan dan fikiran banyak
kalangan dalam masyarakat dewasa ini. Kecuali ( tentu saja !!!) kalangan
partai-partai politik pendukung koalisi SBY dan para pendukung pemerintahan,
yang pada umumnya tidak peduli dengan nasib rakyat dan situasi negara yang
sudah rusak.

Kemarahan 45 tokoh nasional, seperti yang dengan jelas dituangkan dalam
pernyataan  « keras » tersebut di atas  pada hakekatnya adalah  juga
kemarahan « kalangan bawah », yang terdiri dari berbagai organisasi, buruh,
tani, nelayan, perempuan, pemuda, mahasiswa, intelektual, seniman, pengusaha
kecil dan kalangan lainnya.
Puncak kemarahan mereka adalah ketika mereka menyatakan bahwa SBY telah
melenceng dari tujuan dan cita-cita kemerdekaan, serta gagal dalam banyak
hal dan harus tahu diri serta secepatnya mundur !. Bahkan mereka menyatakan
bahwa keharusan konstitusional bahwa SBY harus diganti pada 2014 otomatis
gugur. Bangsa dan negara harus diselamatkan saat ini juga.

Mereka juga menyatakan dengan tegas bahwa « Kepemimpinan SBY sudah terbukti
tidak mampu dan secara moral sudah tidak patut untuk menyelenggarakan negara
dan kekuasaan pemerintahan,"

Pertemuan 45 tokoh nasional yang mengeluarkan pernyataan keras seperti
tersebut diatas, ditambah dengan makin maraknya berbagai gejolak sosial dan
politik, merupakan perkembangan yang mengindikasikan bahwa kebutuhan akan
adanya perubahan besar-besaran yang mendasar, yang fundamental, yang
drastis, makin terasa mendesak sekali.

Namun, pengalaman sudah menunjukkan dengan jelas sekali, bahwa perubahan
besar-besaran secara mendasar ini tidak mungkin dilaksanakan dengan tetap
memakai cara-cara yang telah ditempuh  selama ini (sejak Orde Baru sampai
sekarang).

Kerusakan atau kebobrokan di banyak bidang sudah begitu parah dan begitu
luas, sehingga tidak mungkin lagi diperbaiki oleh siapa pun dan oleh
pemerintahan yang bagaimanapun (sampai kapan pun !!!) yang masih belum
membersihkan diri dari sisa-sisa buruk Orde Baru beserta penerus-penerusnya.

Oleh karena itu jiwa atau isi pernyataan pertemuan 45 tokoh yang tegas,
berani, dan mencerminkan perasaan dan fikiran banyak kalangan masyarakat itu
perlu diperkuat dengan dukungan atau partisipasi kongkrit dari banyak
kalangan kekuatan demokratis pro-rakyat di Indonesia. Semua itu merupakan
sumbangan atau bagian dari usaha membangun kekuatan politik alternatif,
untuk menghadapi partai-partai politik tradisional yang sudah kehilangan
kepercayaan rakyat.

Karena, kiranya sudah dapat diperkirakan bahwa DPR  (yang didominasi oleh
Partai Demokrat beserta koalisi pendukungnya) tidak akan bisa   -- dan tidak
mau !!! --  mengakhiri kekuasaan presiden SBY.

Hanya kekuatan politik alternatif rakyat, yang pro-rakyat, yang anti-neo
liberalisme, yang dibangun bersama-sama secara luas, akan bisa mengadakan
perubahan-perubahan besar dan fundamental.

Perubahan besar-besaran dan fundamental akan memungkinkan negara kita
diselamatkan dari segala macam penyakit besar dan parah yang merusak moral
banyak orang, sejenis dalam kasus Nazaruddin, Anas Urbaningrum, Nunun, Andi
Nurpati, atau kasus-kasus besar yang selama ini membikin kotor bidang
eksekutif, legislatif dan judikatif.

Pemerintahan SBY, yang sudah berjalan  7 tahun, tidak akan bisa menunaikan
tugas-tugas revolusi 17 Agustus 45, menjalankan UUD 45 (terutama pasal 33),
mengusahakan terciptanya masyarakat adil dan makmur, seperti yang
dicita-citakan oleh bangsa dengan pimpinan revolusioner Bung Karno.

Bangsa dan negara Indonesia memerlukan   -- dan dengan mendesak sekali ! –
adanya pimpinan  yang baru. Kiranya, inilah arah perkembangan untuk
selanjutnya.

Paris,  10 Agustus  2011

A. Umar Said

* * *



[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke