Tulisan ini juga disajikan dalam website  http://umarsaid.free.fr/

  yang sampai sekarang sudah dikunjungi     752  110  kali



=====                    ==========                     ===========





Memperingati 17 Agustus



Hasil Proklamasi Dirampok oleh

Kalangan Atas Yang Korup


Setiap peringatan 17 Agustus merupakan kesempatan yang baik bagi banyak
orang untuk mengenang kembali perjalanan panjang perjuangan rakyat Indonesia
menuju kemerdekaan tahun 1945.Perjalanan panjang ini telah melalui, antara
lain : Boedi Oetomo, Serikat Islam, Serikat Rakyat, pembrontakan PKI melawan
Belanda tahun 1926,  terbuangnya ribuan orang di  kamp di Digoel, Sumpah
Pemuda tahun 1928,  gerakan di bawah tanah melawan fasisme Jepang, dan
revolusi 1945.



Memperingati dan merayakan 17 Agustus adalah kesempatan juga untuk mengingat
kembali jasa-jasa Bung Karno (dan Bung Hatta) dan pemimpin-pemimpin lainnya
dari berbagai golongan dan aliran politik dalam perjuangan untuk kemerdekaan
bangsa kita. Karena itu, sudah sepatutnya, bahkan seharusnya, rakyat kita
memperingati 17 Agustus ini dengan gembira dan bangga.



Namun, di samping itu,  adalah satu kenyataan, yang bisa sama-sama kita
saksikan juga,   bahwa sebagian dari bangsa kita ada  yang merayakan 17
Agustus kali ini dengan berbagai perasaan yang penuh kesedihan, kekecewaaan,
keresahan, bahkan kemarahan.



Perasaan yang demikian ini telah dimanifestasikan oleh banyak kalangan
(buruh, tani, nelayan, perempuan, pemuda dan mahasiswa, rakyat miskin,
penganggur, korban peristiwa 65, eks-tapol) dengan berbagai cara dan bentuk,
selama setahun ini,  di banyak tempat di seluruh Indonesia. Bermacam-macam
organisasi atau LSM telah banyak menyuarakan  perasaan berbagai kalangan
itu.



Berbagai krisis parah membahayakan negara dan bangsa


Salah satu contohnya, yang patut mendapat perhatian dari kita semua, adalah
pernyataan 45 tokoh nasional, yang baru-baru ini menyebutkan bahwa negara
kita sudah dalam bahaya dan menjurus menuju ke jurang kehancuran. Bahkan
mereka juga menuntut kepada DPR untuk  mengambil tindakan supaya presiden
SBY mundur dari jabatannya.



Sebab, menurut mereka presiden SBY terbukti tidak mampu dan secara moral
sudah tidak patut untuk menyelenggarakan negara dan kekuasaan pemerintahan.
Sungguh, suatu pernyataan keras yang tidak tanggung-tanggung !

Kekecewaan atau kemarahan mereka, yang pada hakekatnya adalah juga kekewaan
dan kemarahan sebagian terbesar rakyat kita disebabkan oleh berbagai krisis
nasional yang sedang melanda negara dan bangsa kita. Yaitu  krisis
kewibawaan kepala pemerintahan, krisis kewibawaan kepala negara, krisis
kepercayaan terhadap parpol, krisis kepercayaan kepada parlemen, krisis
efektifitas hukum, krisis kedaulatan sumber daya alam, krisis kedaulatan
pangan, krisis kesehatan, krisis pendidikan, krisis integrasi nasional.

Banyaknya krisis parah yang melanda di begitu banyak bidang kehidupan yang
penting-penting itu memang menunjukkan bahwa negara kita dalam bahaya. Kita
semua tidak bisa meramalkan peristiwa-peristiwa besar dan penting apa saja
(dan yang bagaimana) yang akan terjadi dalam masa depan yang dekat ini.
Tidak  saja kasus Nazaruddin-Anas Urbaningrum bisa memunculkan
surprise-surprise besar (dan sangat mengherankan) , tetapi juga banyak
kasus-kasus besar lainnya.

Perbedaan sekarang dengan masa pemerintahan Bung Karno

Karena itu, perayaan 17 Agustus tahun ini akan dilangsungkan ketika negara
sedang digoncang oleh berbagai persoalan-persoalan besar dan  kumuh (kotor),
yang menunjukkan bahwa kerusakan atau kebobrokan yang diakibatkan oleh
berbagai krisis nasional itu sudah memuncak sekali. Dan berbagai krisis
nasional itu, bersumber kepada krisis moral atau krisis akhlak, yang
terutama sekali sudah melanda secara luas di kalangan atas bangsa kita.
Kasus Nazaruddin hanyalah salah satu contoh dari bagian kecil dari krisis
moral itu.

Kehidupan bangsa  dan negara yang serba begitu rusak sekarang ini
mengingatkan kita semua bahwa banyak kebobrokan (terutama kebobrokan moral
kalangan atas) yang begitu parah itu tidak terlihat selama Bung Karno
memimpin negara selama 20 tahun antara 1945 dan 1965. Sejarah mencatat bahwa
sepanjang masa pemerintahan Bung Karno  itu moral patriotisme dan
nasionalisme bangsa kita tinggi sekali. Tidak pernah dalam sejarah Republik
Indonesia  (sampai sekarang !) semangat untuk mengabdi bangsa dan negara
sebegitu tinggi seperti di zamannya Bung Karno.

Semangat revolusioner yang berkobar karena perjuangan 45 tersebar
dimana-mana. Jiwa gotong-royong dan kesediaan untuk mengabdi kepada rakyat
menjadi basis moral bagi sebagian besar masyarakat. Kejujuran dalam
kehidupan politik, sosial dan ekonomi menjadi pedoman hidup banyak orang.
Slogan « berbakti untuk nusa dan bangsa » bukanlah omong-kosong bagi
sebagian besar rakyat kita serta pemimpin-pemimpinnya.

Itulah sebabnya, walaupun revolusi berlangsung lama sekali (antara 1945 dan
1949)  dan disusul dengan berbagai peristiwa besar (antara lain :
pemberontakan RMS, DI-TII , Konferensi Bandung, PRRI-Permesta, pembangunan
stadion Gelora Bung Karno , perjuangan Irian-Barat, Ganefo, berbagai
konferensi Asia-Afrika di Indonesia) tidak terdengar adanya korupsi atau
penyalahgunaan kekuasaan secara besar-besaran.

Situasi bangsa yang penuh dengan patriotisme yang begitu tinggi, dan
nasionalisme  revolusioner yang begitu meluas di seluruh tanahair waktu itu
adalah berkat kepemimpinan politik dan moral Bung Karno. Sejak dikhianatinya
Bung Karno oleh pimpinan Angkatan Darat (waktu itu), sampai sekarang tidak
pernah lagi bangsa kita melihat adanya kepemimpinan (politik dan moral)
yang begitu besar dan luhur.

Mengenang kebesaran Bung Karno dan pengkhianatan Suharto

Oleh karena itu, ketika kita semua memperingati Hari Besar 17 Agustus,
perlulah kiranya kita di samping mengenang jasa-jasa dan kebesaran Bung
Karno juga sekaligus mengingat kembali juga kepada pengkhianatan Suharto
beseta konco-konconya (di dalam dan luar negeri) terhadap bapak persatuan
bangsa beserta pendukung-pendukung revolusionernya.

Sebab, sejarah sudah membuktikan dengan jelas, bahwa pengkhianatan pimpinan
Angkatan Darat (waktu itu) terhadap Bung Karno telah menimbulkan
kerusakan-kerusakan besar dan banyak sekali kepada kehidupan bangsa, dan
terutama sekali telah melumpuhkan kekuatan demokratik dan revolusioner
Indonesia. Sekitar tiga juta orang tak bersalah apa-apa telah dibunuhi
secara biadab, dan ratusan ribu orang  kiri lainnya dipenjarakan dengan
sewenang-wenang di berbagai tempat di Indonesia.

Kerusakan-kerusakan yang dibikin oleh Orde Baru selama 32 tahun itu
akibatnya masih kelihatan sampai sekarang, meskipun  berbagai pemerintahan
lainnya sudah menggantikannya. Kerusakan dan kebobrokan itu bahlan kelihatan
lebih menghebat lagi di bawah kepemimpinan SBY. Jadi, segala kebobrokan atau
kebusukan yang kita saksikan dewasa ini ada hubungannya yang erat dengan
kerusakan-kerusakan yang telah ditimbulkan Orde Baru.

Kebobrokan atau kebusukan yang melanda negara dan bangsa sejak Orde Baru
sampai sekarang ini sulit bisa diperbaiki oleh pemerintahan yang mana pun
atau partai politik yang apa pun, sampai kapan pun,  dengan sistem politik,
sosial dan ekonomi yang bagaimana pun, kalau  bertentangan ajaran-ajaran
revolusioner Bung Karno, dan  mengkhianati Pancasila dan Bhineka Tunggal
Ika.

Pemerintahan di bawah kepemimpinan  SBY adalah  bukti yang jelas tentang
kegagalan sistem politik, sosial, dan ekonomi,  yang makin menjauhkan negara
dan bangsa dari tujuan revolusi 17 Agustus 45.

Karena itu, ketika memperingati ultah ke 66 Republik Indonesia tahun ini
kita perlu merenungkan bersama, jalan apakah yang harus kita bersama, dan
dengan cara apa, dan dengan apa (dan juga dengan siapa-siapa saja) bangsa
kita perlu berusaha terus untuk menciptakan cita-cita kemerdekaan, yaitu
masyarakat adil dan makmur.

Dunia terus berubah, tetapi Indonesia mandeg dan bobrok.

Peringatan ke-66 hari kemerdekaan tahun ini kita adakan ketika dunia berubah
terus dengan cepatnya. Amerika Serikat, yang dalam jangka lama sekali
menjadi « pemimpin » dunia kapitalisme sekarang mengalami krisis ekonomi
yang parah, dan menjadi negara yang hutangnya paling besar di dunia. Eropa
Barat juga  mengalami berbagai problem ekonomi dan sosial yang parah.

Tiongkok, yang dalam masa silam termasuk negara dan bangsa yang terbelakang,
sekarang sudah menjadi kekuatan ekonomi yang terbesar sesudah AS, dan bahkan
akan melampauinya tidak lama lagi. Uni Soviet yang sudah runtuh digantikan
oleh Rusia yang bangkit menjadi kekuatan ekonomi (juga politik dan militer)
yang memainkan peran yang tidak kecil di bidang internasional. India,
Vietnam, juga sudah meraih kemajuan-kemajuan besar sekali.

Amerika Latin, yang dalam masa lalu menjadi daerah setengah jajahan AS sudah
berubah menjadi kekuatan yang tidak tunduk begitu saja kepada kemauan
Washington. Peran Kuba, Venezuela, Bolivia, Peru, Ekuador, Brazilia,
Argentina, untuk mendorong perubahan-perubahan besar di Amerika Latin masih
tetap bisa dilanjutkan terus.

Pergolakan-pergolakan  di negara-negara Arab, yang dipelopori oleh
gerakan-gerakan di Tunisia, Mesir, Libia, Yaman, Siria dan lain-lainnya
lagi, sedang berlangsung terus dan bahkan meluas di negara-negara Arab
lainnya,  dengan bentuk dan isi yang berbeda-beda. Pergolakan-pergolakan ini
akhirnya akan bisa memberikan sumbangan dan dorongan penting kepada
pembaruan Islam di dunia.

Perubahan-perubahan dan kemajuan-kemajuan besar di banyak negara di dunia
itu semua membikin hati banyak orang di antara bangsa kita menjadi marah
ketika membandingkannya  dengan keadaan negara kita dewasa ini yang serba
mandeg, kacau, dan bobrok.

Hasil proklamasi dirampok oleh kalangan atas yang korup

Dengan jumlah 240 juta orang penduduk Indonesia adalah nomor empat terbesar
di dunia, sesudah Tiongkok, India, dan Amerika Serikat. Tetapi, yang bisa
dikatakan sudah betul-betul merasakan hasil kemerdekaan adalah hanya sekitar
20% saja atau sekitar 45 juta saja. Sedangkan yang 80%  (sekitar 200 juta)
termasuk mereka yang masih belum merasakan hasil kemerdekaan.

Sebagian terbesar hasil Proklamasi kemerdekaan 17 Agustus telah dirampok
secara besar-besaran oleh banyak kalangan atas (bidang eksekutif,
legislatif, judikatif, pemuka-pemuka masyarakat, pimpinan partai-partai
politik dan agama, pengusaha besar),  yang bersekongkol dengan kepentingan
asing.

Kalangan  atas yang mengkhianati rakyat inilah yang selalu dengan rhetorika
muluk-muluk « membela kepentingan rakyat », « menghormati UUD 45 »,
«menjunjung tinggi Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika » sebetulnya dalam
praktek melakukan berbagai macam kejahatan secara berjemaah, untuk melakukan
korupsi, penyalahgunaan dan pelecehan hukum, dan merekayasa kekuasaan, untuk
memperkaya diri sendiri dan golongan mereka masing-masing.

Kasus Nazaruddin mempertinggi kesedaran politik banyak orang

Gonjang-ganjing besar kasus Nazaruddin-Anas Urbaningrum-Partai Demokrat
yang sedang membikin porak-poranda pemerintahan SBY sekarang ini akan
berbuntut panjang selama berbulan-bulan, bahkan bisa bertahun-tahun. Karena,
terlalu banyak kalangan atasan yang busuk yang tersangkut, sehingga timbul
kecurigaan atau kewaswasan bahwa kasus besar ini akan diintervensi oleh
berbagai rekayasa dari berbagai fihak.

Semua itu memberikan petunjuk bahwa perayaan 17 Agustus tahun 2011
berlangsung dalam suasana politik dan opini publik yang didominasi oleh
kasus besar Nazaruddin. Situasi yang demikian ini adalah baik sekali sebagai
pendidikan politik rakyat, yang memungkin banyak orang melihat dengan jelas
bahwa negara dan bangsa kita memang betul-betul memerlukan perubahan
besar-besaran dan fundamental.

Dan juga bahwa untuk perubahan besar-besaran dan fundamental, yang hanya
mungkin melalui jalan revolusi itu,  diperlukan adanya pemimpin yang berjiwa
revolusioner yang didukung oleh kekuatan atau gerakan yang luas dan
revolusioner juga.

Munculnya tokoh atau pemimpin revolusioner di Indonesia mungkin memerlukan
proses yang berliku-liku dan panjang. Pimpinan yang sedemikian ini akan
tumbuh dari dan di tengah-tengah gerakan massa yang luas dalam meneruskan
revolusi berjangka panjang dan terus-menerus, seperti yang selalu dianjurkan
Bung Karno.



Paris, 15 Agustus 2011

A. Umar Said

* * *














[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke