Hati penduduk Papua dimenangkan agar harta kekayaan alam bisa terus dikeruk, 
lain dari pada itu hanya dongeng.

From: Wahyu Suluh 
Sent: Monday, August 22, 2011 10:04 AM
To: [email protected] ; [email protected] 
Subject: [proletar] Memenangkan Hati Papua

  
Memenangkan Hati Papua
Amiruddin al-Rahab DIREKTUR EKSEKUTIF THE RIDEP INSTITUTE, ANALIS POLITIK PAPUA 

Karena itu, pemerintah harus bertindak cepat dalam dua sisi, yaitu pelopori 
pembangunan yang bisa dijangkau dan menjangkau orang Papua di akar keladi. Sisi 
kedua, segerakan bentuk tim kecil untuk menjajaki dialog agar sumbatan politik 
bisa diretas.Presiden SBY, dalam pidatonya untuk menyambut hari kemerdekaan di 
hadapan DPR/DPD RI pada 16 Agustus 2010, dengan lantang menyatakan bahwa upaya 
menyelesaikan persoalan Papua akan ditempuh lewat jalan “komunikasi yang 
konstruktif“. Setahun berlalu, langkah itu tidak pernah tampak wujudnya. Papua 
tetap saja ditangani secara sporadis dengan banyak tangan secara ad 
hoc.Lambannya instruksi “komunikasi konstruktif“itu diwujudkan membuat masalah 
di Papua bertumpuk dan masalah baru terus bertambah. Jadi, tidak mengherankan 
jika sekarang ini semua pihak berteriak di Papua bahwa keadaan kian buruk. 
Gejalanya tampak nyata, dari kian kerapnya aksi bersenjata, kian banyaknya 
demonstrasi, tingginya angka
pengangguran, besarnya jumlah penduduk miskin, hingga masih tingginya angka 
kematian ibu dan bayi akibat gizi yang buruk dan pelayanan kesehatan yang 
kurang memadai.Puncaknya adalah aksi menuntut referendum pada 2 Agustus 2011 di 
Jayapura dan Manokwari. Aksi menuntut referendum itu hanyalah ujung tentakel 
dari aksi politik Benny Wenda di London, yang menyelenggarakan kampanye 
menggugat Pepera dalam sebuah diskusi di Cambridge University atas nama 
International Lawyer for West Papua (ILWP), yang didukung oleh International 
Parliaments for West Papua (IPWP). Aksi ini kemudian dibumbui oleh aksi 
bersenjata di Kampung Nafri, dekat Jayapura, yang menelan 4 korban jiwa.
Hilang wujud Semua ini bermula dari lambannya pemerintah daerah dan pusat dalam 
merespons perkembangan situasi sosial-politik dan sosial-ekonomi di Papua. 
Implikasinya adalah Papua tetap ditangani seperti tahun-tahun sebelumnya, tanpa 
arah dan tanpa program terfokus. Sandaran satu-satunya tetap pada upaya 
menggelontorkan dana triliunan rupiah dengan pengawasan yang lemah. Akibatnya, 
korupsi menggila.
Ditengarai ada sekitar Rp 4,3 triliun dana Otsus yang belum bisa diverifikasi 
penggunaannya. Bukan itu saja, lebih dari Rp 1 triliun dana Otsus dibiarkan 
diam di bank.
Padahal sekolah roboh, guru menghilang, puskesmas tanpa obat, dan dokter langka.
Kemiskinan menggila dan pengangguran menyiksa.Celakanya, respons pemerintah 
atas semrawutnya penggunaan anggaran yang besar itu hanya melontarkan stigma. 
Menteri Pertahanan RI hanya menyatakan dana Otsus itu ada dipakai untuk memasok 
gerakan separatis di Papua. Pernyataan ini seakan menjadi pamungkas bahwa 
orang-orang di Papua tidak bisa dipercaya. Jika sudah begini, di mana 
komunikasi konstruktif yang diumbar oleh SBY pada 2010 itu?
Yang membeku Masalah Papua tidak bisa ditelusuri hanya dari manuver elite Papua 
semata. Masalah harus diselami ke arus bawahnya, karena di arus bawah inilah 
tersedia energi mahabesar bagi para elite di Papua untuk melakukan manuver 
dengan menggemakan tuntutan “merdeka“. Pada 5-7 Juli 2011 diselenggarakan 
Konferensi Perdamaian di Papua. Konferensi ini dihadiri wakil-wakil arus bawah 
orang asli Papua dari 30 kabupaten seantero tanah Papua. Dari konferensi ini 
terjaring paling tidak ada empat masalah mendasar yang menakutkan tetapi belum 
ditemukan kanal penyalurannya.Pertama, trauma akan masa lalu yang keras dan 
destruktif. Artinya, dampak dari militerisasi Papua yang begitu panjang dengan 
menjadikan Papua sebagai daerah operasi militer (DOM) membuat orangorang Papua 
di akar keladi begitu hancur harga dirinya. Kekerasan itu terus ber ulang. 
Pemulihan atas kehancuran itu belum kunjung disembuhkan sampai kini.
Akibatnya, kepercayaan tidak bisa tumbuh.
Pengadilan HAM dan KKR sebagai sarana yang diwajibkan oleh undang-undang telah 
dilupakan pemerintah.Kedua, gempuran investasi dan ancaman kehilangan tanah 
ulayat. Penetrasi investasi telah merebut tanah ulayat dari tangan orang Papua. 
Pada saat yang sama, orangorang Papua di akar keladi sama sekali ti dak siap 
menjadi tenaga upahan (proletarianisasi). Akibatnya, mereka kehilangan sumber 
daya untuk bertahan hidup akibat lepas ikatan dari tanah buruan dan garapan. 
Sementara itu, tuntutan hidup terus menekan karena sistem ekonomi uang telah 
menjerat mereka lantaran segala kebutuhan pokok datang dari luar.Ketiga, arus 
imigrasi dari barat terus menekan populasi Papua. Dari perspektif Papua, arus 
imigrasi menghadirkan semacam monster yang tidak mudah mereka jinakkan, dan 
dipersepsikan siap menerkam mereka kapan pun. Monster migrasi ini begitu 
menakutkan di mata Papua, karena akan memojokkan orang Papua menjadi minoritas 
di atas tanahnya sendiri di satu sisi,
dan di sisi lain monster itu akan mudah menjalar ke seluruh tanah 
ulayat.Keempat, hancurnya tatanan tradisi dan rusaknya tata hierarki 
kepemimpinan adat oleh sistem politik baru, yaitu sistem pemilihan langsung 
kepala daerah. Sistem pilkada secara langsung merusak jagat kosmologi Papua, 
karena uang yang berperan utama di dalamnya. Masyarakat yang tadinya diikat 
oleh tatanan adat dalam memutuskan dan mengelola sumber daya, sejak adanya 
pilkada langsung menjadi dikendalikan oleh calo-calo politik dan pengurus 
partai politik. Ikatan-ikatan komunal, suku, klan, marga, dan lain-lain 
sekarang ini bisa ditransaksikan dalam pasar politik pilkada, yang pada 
gilirannya bisa menjadi penghancur yang dahsyat. Peristiwa di Ilaga, Kabupaten 
Puncak, adalah puncak gunung es dari gejala yang mengerikan ini.
Memenangkan hati Kelindan dan jalinan dari keempat faktor yang menghadirkan 
ketakutan di alam bawah sadar orang-orang Papua itu terekam rapi dalam 
indikator Papua Tanah Damai yang menjadi hasil Konferensi Perdamaian Papua. 
Jika pemerintah saat ini memiliki political will yang nyata untuk mengurai 
masalah Papua, maka agenda pemerintah adalah mewujudkan seluruh indikator Papua 
Tanah Damai dalam bidang politik, keamanan, hukum dan HAM, ekonomi, serta 
lingkungan dan sosial budaya.Kata kuncinya adalah berikan ruang kebebasan untuk 
berekspresi, hapus stigmatisasi separatis, akui hak ulayat dan hukum adat demi 
perlindungan hak-hak dasar, hentikan kekerasan, serta hadirkan aparatur 
pemerintah dan keamanan yang profesional dalam melayani masyarakat, dan adakan 
program pemberdayaan terhadap orang asli Papua.Untuk memenangkan hati orang 
Papua, langkah-langkah itu tidak bisa ditunda lagi.
Jika penundaan terus terjadi, elite-elite Papua akan lebih mudah membakar 
ketakutan-ketakutan di akar keladi itu menjadi kobaran api di Papua. Jika itu 
terjadi, pidato atau ungkapan indah Presiden seperti di awal tulisan ini sama 
sekali tidak berguna untuk menenangkan keadaan. Karena itu, pemerintah harus 
bertindak cepat dalam dua sisi, yaitu pelopori pembangunan yang bisa dijangkau 
dan menjangkau orang Papua di akar keladi. Sisi kedua, segerakan bentuk tim 
kecil untuk menjajaki dialog agar sumbatan politik bisa diretas. Semoga. 
http://epaper.korantempo.com/PUBLICATIONS/KT/KT/2011/08/22/ArticleHtmls/Memenangkan-Hati-Papua-22082011012014.shtml?Mode=1

Berbagi berita untuk semua
http://goo.gl/KKHtihttp://goo.gl/fIWzb

[Non-text portions of this message have been removed]





[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke