Tulisan ini juga disajikan dalam website  http://umarsaid.free.fr/

  yang sampai sekarang sudah dikunjungi     754  900   kali



=====                    ==========                     ===========





Generasi muda Wajib Meneruskan Revolusi

yang Belum Selesai





Mohon perhatian para pembaca kepada sebuah artikel dalam harian Sinar
Harapan tanggal 24 Agustus 2011 yang berjudul « Dari Pemuda Proklamator ke
Koruptor », yang ditulis oleh Web Warouw, sebagai bahan renungan pada akhir
bulan Ramadan kali ini.



Artikel tersebut adalah sebagai berikut :



« Pemuda macam apakah yang diharapkan bangsa kita? Apakah Anas Urbaningrum,
Edi Baskoro Yudhoyono (Ibas), ataukah Sri Mulyani Indrawati? Sebagai anak
bangsa, pemuda ditantang untuk bisa menjawab tuntutan zamannya.



Oleh karena itu, penting untuk mengupas peran pemuda dari zaman ke zaman
agar bisa jadi pelajaran dan ukuran kepantasan.



Soe Hok Gie dalam bukunya Di bawah Lentera Merah menjelaskan, di masa
kolonial Belanda kaum muda punya dua pilihan, mengabdi dalam struktur
kekuasaan penjajah atau mengorganisasi diri melawan penjajah. Untuk itu,
lahirlah generasi awal pergerakan Indonesia dalam Sarikat Islam pada 1912
yang sebelumnya bernama Serikat Dagang Islam.



Di dalamnya kaum muda menjawab penderitaan rakyat Indonesia dengan berbagai
pemogokan dan perlawanan yang dipimpin HOS Tjokroaminoto (30 tahun), Alimin
(23), Agus Salim (28), Tan Malaka (16), dan Semaun (13)



Meski demikian, politik saat itu tidak serta merta hitam putih. Luas dan
tingginya perlawanan berupa pemogokan dan demonstrasi membuat Belanda
memenuhi tuntutan Indonesia untuk berparlemen.



Pada 1918 sebagian pemuda di antaranya Tjokroaminoto (38), MH Thamrin (24),
Agus Salim (34), dan Abdul Muis (35) bergabung dengan Volksraad yang
sejatinya bukanlah parlemen, namun sebagai penasihat Gubernur Jenderal
Belanda.



Badan ini dibentuk Belanda dengan tujuan agar dapat mengendalikan
radikalisasi di kalangan pemuda. Saat itu, beberapa pemuda juga sudah mulai
dibina menjadi intel dan kaki tangan Belanda.



Parlemen ciptaan itu gagal membendung perlawanan. Rakyat terus melawan
sampai saat pemberontakan nasional pertama oleh rakyat Indonesia pada
November 1926 yang dipimpin Semaun, Dharsono, dan Alimin.



Perjuangan pemuda Indonesia bergelora kembali di masa fasisme Jepang.
Kehidupan rakyat semakin berat, mendorong pemuda memilih antara ikut Jepang
atau Belanda. Dalam metode perjuangan saat itu, ada yang melakukan agitasi
propaganda mengobarkan semangat perlawanan seperti Soekarno (41).



Ada yang menyusup di Heiho dan PETA, seperti Supriadi (19) dan kawan-kawan.
Ada juga yang melancarkan perang gerilya melawan Jepang seperti Amir
Sjarifuddin (35), Sutan Sjahrir (33), dan Tan Malaka (47).



Puncak dari perjuangan pemuda dan rakyat melawan Jepang dan kolonialisme
Belanda adalah proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945. Proklamasi dilakukan
Soekarno (44) dan Moh Hatta (43).



Menjatuhkan Soekarno



Situasi politik setelah proklamasi kemerdekaan berubah-ubah sampai 1965.
Namun, gelora antipenjajahan di dalam Preambule UUD’45 terus membakar sikap
anti neokolonialisme dan imperialisme (nekolim).



Kebijakan luar negeri Presiden Soekarno berhasil menggalang Konferensi Asia
Afrika (KAA) pada 1955 dan mendorong terbentuknya Gerakan Nonblok yang
antineokolonialisme dan imperialisme. Di dalam negeri Soekarno menggalang
front nasional Nasakom (Nasional Agama dan Komunis).



Tentu saja musuh-musuh Soekarno di luar negeri merasa terganggu sehingga
berkali-kali mencoba menjatuhkan Soekarno. Beberapa persiapan dilakukan,
termasuk di kalangan pemuda dan mahasiwa. Pater Beek yang pada saat itu
sudah menjalin hubungan dengan TNI mendapat tugas mengumpulkan para pemuda
untuk menggalang gerakan anti-Soekarno.



Lewat kudeta militer 1965 Soekarno berhasil dicongkel dan Soeharto merebut
kekuasaan yang didukung pemuda dan mahasiswa. Para pemuda tersebut di
antaranya adalah Akbar Tanjung (20), Cosmas Batubara (27), Hari Tjan
Silalahi (31), Arief Budiman (24), dan Soe Hok Gie (23).



Namun Soeharto yang didukung angkatan 66 itu harus berhadapan dengan
gelombang perlawanan pemuda yang bersatu dengan rakyat. Selama 30 tahun
Soeharto berkuasa dengan militerisme telah melahirkan perlawanan rakyat yang
yang dipelopori pemuda mahasiswa sejak zaman Hariman Siregar (36) pada
peristiwa Malari 1974.



Diikuti perlawanan Mahasiswa yang dipimpin Indro Tjahjono (28) pada 1978.
Kemudian Orde Baru Soeharto berhasil diakhiri di masa Budiman Sujadmiko (26)
pada 1996-1998.



Politik Uang


Lain lagi di masa Reformasi yang dipenuhi kepentingan partai politik
(parpol), setiap pemuda dituntut bisa mendapat simpati pemilihnya. Tujuannya
agar bisa menjadi anggota parlemen atau berebutan posisi elite partai. Untuk
mencapai tujuan itu tidak mudah, karena membutuhkan modal dana yang tidak
sedikit.



Perjuangan pemuda yang tadinya demi kepentingan rakyat telah didominasi
politik elite dengan modus mengeruk sebanyak-banyaknya dana untuk memperkaya
diri dan partai.



Saat ini, alat perjuangan pemuda adalah mengumpulkan dukungan dengan politik
uang dan dari politik pencitraan. Sasarannya adalah kursi di DPR, kepala
daerah, menteri, dan mungkin presiden.



Memang masih ada segelintir pemuda yang percaya bahwa perjuangan harus
dilakukan dengan menumbangkan penguasa. Segelintir lagi berjuang secara
sukarela melayani rakyat yang hidupnya semakin susah.



Tentu saja buat pemuda seperti Anas Urbaningrum, Ibas, atau Sri Mulyani
sudah tidak membutuhkan perjuangan keras seperti para pemuda pendahulunya.
Dengan bermodal uang saat ini semua posisi bisa dibeli, termasuk kursi
kepresidenan 2014. Yang penting tidak ketahuan seperti Nazaruddin kalau uang
tersebut dari hasil korupsi anggaran negara. (Kutipan tulisan Web Warouw
selesai)



Komentar:



Walaupun dalam tulisan bagus di atas terdapat hal-hal yang kurang akurat
(umpamanya, antara lain  : tahun-tahun), namun isi atau semangat yang
menjiwainya adalah menarik sekali untuk diperhatikan oleh kita semua, karena
pentingnya.



Dalam tulisan ini telah diangkat betapa besar arti peran perjuangan
orang-orang muda seperti yang telah ditunjukkan oleh HOS Tjokroaminoto,
Alimin, Agus Salim, Tan Malaka , dan Semaun untuk menggerakkan semangat
perlawanan terhadap penjajahan Belanda., semasa didirikan Serikat Islam.



Juga diangkat peran tokoh-tokoh komunis seperti Semaun, Dharsono, Alimin
dalam pembrontakan rakyat terhadap pemerintah kolonial Belanda dalam tahun
1926. Semangat  perlawanan para pemuda itu diteruskan selama pendudukan
fasisme Jepang, oleh (antara lain) Amir Syarifudin, Sutan Syahrir, Tan
Malaka, Supriyadi.



Peran pemuda ini menjadi memuncak ketika menjelang dan sesudah proklamasi 17
Agustus oleh Soekarno-Hatta. Dan, kemudian,  di bawah pimpinan Bung Karno
semangat pemuda pada umumnya masih tetap berkobar-kobar berkat politiknya
yang anti-imperialis (terutama AS) , yang tercermin dalam konferensi
Bandung, gerakan solidaritas Asia-Afrika, menyokong perjuangan rakyat
Palestina dan Vietnam, poros Jakarta-Pnompenh-Hanoi-Peking-Pyongyang,
pembebasan Irian Barat.



Sayangnya, peran dan semangat perjuangan para pemuda ini  kemudian merosot
atau jauh mundur sekali sejak Bung Karno digulingkan secara khianat oleh
Suharto dengan menggerakkan sebagian kalangan muda (antara lain : KAMI,
KAPPI, HMI) dalam macam-macam aksi-aksi dan demonstrasi.



Sejak waktu itulah, di Indonesia  muncul kalangan muda yang anti
ajaran-ajaran bung Karno, yang anti-revolusi rakyat, yang reaksioner, yang
pro-Barat (terutama AS), anti-sosialisme atau anti-komunisme.  Sejak itu
pulalah hilang peran kalangan muda Indonesia di berbagai bidang kehidupan
bangsa Indonesia. Sejak itulah pembusukan atau degenerasi dan degradasi
kalangan muda mulai tampil secara besar-besaran dan kontinyu. (Sampai
sekarang !!!).



Dalam jangka lama sekali (lebih dari 32 tahun) justru kalangan muda yang
semacam itulah yang kemudian direkrut oleh Orde Baru untuk menduduki
birokrasi dan kehidupan politik, sosial, ekonomi di seluruh Indonesia (di
samping tokoh-tokoh militer), dan menduduki tempat-tempat penting juga di
Golkar atau di partai-partai politik lainnya.



Oleh karena itu, kiranya  kita bisa melihat terjadinya kerusakan atau
kebobrokan di banyak bidang kehidupan bernegara dan berbangsa dewasa ini
juga dari sudut ini. Bahwa kebejatan moral pimpinan (atau tokoh-tokoh)  di
berbagai lembaga dan aparat negara (dan partai-partai politik) dewasa ini
adalah produk atau akibat dari dihancurkannya jiwa dan ajaran-ajaran
revolusioner Bung Karno oleh pimpinan Angkatan Darat (waktu itu)  beserta
golongan-golongan reaksioner lainnya,  dengan kerjasama dan bantuan
imperialisme negara-negara Barat.



Ini semua dapat kita sakskan selama puluhan tahun sejak merajalelanya
korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan (dan pelangggaran berat HAM)  selama
Orde Baru, yang diteruskan oleh kasus BLBI, Bank Century, kasus Gayus
Tambunan, dan kasus Nazaruddin-Anas Urbaningrum-Partai Demokrat dewasa ini.



Sekarang kita bisa menyaksikan sama-sama bahwa kejahatan dan dosa-dosa besar
yang dilakukan oleh Orde Baru (beserta para pendukungnya)  bukan hanya
penggulingan (sekali lagi : secara khianat !!!) terhadap Bung Karno dan
pembunuhan secara massal dan biadab jutaan warganegara --  yang tidak
bersalah atau tidak berdosa apa-apa --  , melainkan juga terutama sekali
pengrusakan dan pembusukan generasi muda.



Sejak Orde Barunya Suharto generasi muda bangsa kita dididik mulai dari
Sekolah Dasar sampai perguruan tinggi dengan cekokan segala macam doktrin
yang jauh dari patriotisme kerakyatan,  terlepas dari nasionalisme
revolusioner, berlawanan dengan semangat mengabdi kepada bangsa, dan
bertentangan dengan jiwa asli Pancasila dan Bhinneka



Sejak itu, generasi muda  – yang sekarang ini banyak yang memperoleh
kedudukan penting dalam pemerintahan maupun dalam masyarakat,  pada umumnya
tidak mendapat pendidikan politik dan moral sebagai bagian penting dari
nation and character building. Kebanyakan di antara mereka hanya menjadi
pengejar kedudukan yang serba enak, mendapat gaji yang baik, dan
mengumpulkan kekayaan (walaupun dengan cara-cara haram dan melalui korupsi).
Mereka tidak peduli lagi kepada penderitaan puluhan juta rakyat miskin yang
sekarang masih tetap terdapat di seluruh daerah negara kita.



Gejala semacam ini tercermin dalam hidup dan tingkah laku kalangan  elite
bangsa, yang menjadi pembesar-pembesar dan anggota DPR atau DPRD, yang
tersangkut dalam banyak korupsi, dan diselidiki oleh KPK dewasa ini.



Mengingat betapa besarnya kerusakan mental dan seriusnya kebobrokan moral di
kalangan  elite (yang sebagian terbesar terdiri kalangan muda seusia
Nazaruddin, Anas Urbaningrum, dan Ibas) yang sudah membusukkan kehidupan
bangsa selama puluhan tahun, maka wajarlah kalau ada orang-orang yang
menjadi pesimis apakah mungkin ada perubahan atau perbaikan dalam waktu
dekat yang akan datang.



Banyaknya mafia hukum dan peradilan  (di Jakarta dan di seluruh Indonesia),
kebejatan di kalangan pimpinan Polri dan Kejaksaan, keruwetan yang terjadi
di KPK, tingkah-laku wakil-wakil partai politik di DPR dan DPRD semuanya
mengindikasikan bahwa negara dan bangsa kita akan tetap terus mengalami
pembusukan yang berjangka panjang.



Apalagi, dengan  pemerintahan sejenis yang dipimpin  SBY sekarang ini, yang
menurut surat-surat rahasia Kedutaan Besar AS yang dibocorkan Wikileaks
adalah terdiri dari orang-orang yang dekat dengan Amerika, maka sedikit
sekali kemungkinan adanya politik negara dan bangsa kita, yang
sungguh-sungguh anti neo-liberalisme dan menjunjung tinggi kepentingan
rakyat banyak.



 Tetapi, banyaknya ketidakadilan dan luasnya penderitaan orang banyak di
Indonesia, dan merajalelanya kejahatan yang berbentuk korupsi, semuanya itu
menimbulkan perlawanan, dan menciptakan kemauan bersama untuk terjadinya
perubahan menuju perbaikan.



Tanda-tanda ke arah itu sudah dan sedang ditunjukkan oleh berbagai kalangan
generasi muda yang anti Orde Baru, dan yang melihat tak ada jalan lain,
kecuali meneruskan revolusi yang belum selesai,  menurut ajaran-ajaran
revolusioner Bung Karno.





Paris,  27 Agustus 2011

A. Umar Said



* * *












































[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke