Refl: Memhon ampun, tetapi bagaimana dengan memberi ampunan? Selain itu apakah 
korupsi dan tipu muslihat penguasa terhadap rakyat (umat) akan sangat berkurang 
menuju hilang lenyap?
http://www.hidayatullah.com/read/18613/25/08/2011/budayakan-infaq-dan-memohon-ampunan.html
Kamis, 01 September 2011
Budayakan Infaq dan Memohon Ampunan 


      
     
     
Kamis, 25 Agustus 2011 


BULAN Ramadhan tinggal beberapa hari lagi. Sudahkah kita berhasil mencapai 
target utama (menjadi insan taqwa) di bulan suci ini?

Sebaik-baik Muslim ialah yang bertaqwa kepada Allah. Oleh karena itu sudah 
semestinya kita berlomba-lomba untuk bisa menjadi orang yang bertaqwa. Bukan 
saja kita upayakan di bulan suci Ramadhan tetapi di setiap bulan sepanjang 
tahun. Setiap saat hingga ajal menjemput.

Dalam pengertian umum taqwa bisa dipahami sebagai upaya seorang Muslim untuk 
senantiasa mentaati seluruh perintah Allah dan pada saat yang sama juga 
berusaha menjauhi segala larangan-Nya.

Taqwa merupakan satu karakter utama yang harus dimiliki oleh setiap Muslim baik 
laki-laki mapun perempuan. Sebab bagi mereka yang bertaqwa Allah telah sediakan 
banyak sekali keuntungan dan kebaikan.

Di antaranya ialah pengajaran langsung dari-Nya. “Dan bertaqwalah kepada Allah; 
Allah akan mengajarmu…” (QS. 2: 282). Kemudian dalam ayat yang lain Allah juga 
janjikan kemudahan dalam menemukan solusi dari setiap permasalahan yang 
dihadapi.
“Dan barang siapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya 
kemudahan dalam urusannya.” (QS. 65: 4)

Untuk itulah Allah SWT menyediakan beragam bentuk ibadah yang bisa dilakukan 
oleh hamba-Nya agar berhasil menjadi insan yang taqwa.

Bahkan dalam kondisi tertentu taqwa menjadi syarat diterimanya sebuah 
pengorbanan. Jika pengorbanan yang dilakukan tidak lagi didasarkan pada spirit 
taqwa maka Allah pun enggan menerimanya. Sebab hanya pengorbanan orang yang 
bertaqwa saja yang akan diterima oleh-Nya.

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آدَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَاناً 
فَتُقُبِّلَ مِن أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الآخَرِ قَالَ 
لَأَقْتُلَنَّكَ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللّهُ مِنَ الْمُتَّقِي

“Sesungguhnya amal ibadah yang diterima Allah ialah dari orang yang bertaqwa.” 
(QS. al Madidah: 27).

Oleh karena itu tidak ada perbekalan, perhiasan, pakaian dan perangai yang akan 
menyelamatkan seorang Muslim selain ketaqwaan kepada-Nya. Dengan demikian sudah 
sewajarnya setiap Muslim berupaya menjadi insan taqwa.

“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa.” [QS. al 
Baqarah: 197]

Sedemikian pentingnya taqwa itu melekat dalam pribadi setiap Muslim. Dan, 
betapa beruntungnya mereka yang berhasil menggapainya. Dengan demikian, tidak 
ada jalan lain yang lebih baik dalam hidup ini selain harus melalui jalan taqwa.

Tidak ada prioritas lain selain membangun mental taqwa. Bahkan tidak ada yang 
lebih menguntungkan selain menjadi insan taqwa.Tanpa ketaqwaan kita akan 
mengalami banyak kendala, kegagalan dan pada akhirnya kerugian.

Kita ketahui bersama bahwa, penyebab hilangnya kekuatan umat Islam karena 
lemahnya karakter taqwa pada hampir seluruh lapisan umat Islam. Bahkan sumber 
kekalahan umat Islam di segala sektor juga karena rendahnya kualitas iman dan 
ketaqwaan sebagian besar keluarga-keluarga Muslim.

Dengan demikian, menjadi kewajiban kita semua untuk bersama-sama, bahu-membahu 
mengisi hari-hari kita, siang dan malam untuk sebisa mungkin membangun karakter 
taqwa dalam kehidupan sehari-hari.

Lalu, bagaimana metode atau cara kita membangun mental taqwa agar umat Islam 
bisa menang dan bersama meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat?

Mengacu pada firman Allah dalam surah Ali Imran ayat 132 dan 133 yang artinya,;
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang 
luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa. 
(Yaitu) Orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun 
sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) 
orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS: Ali Imron: 
133-134).

Maka setiap Muslim dalam setiap harinya harus berupaya untuk melakukan beberapa 
langkah:

Pertama, bersegera menuju ampunan Allah.

وَسَارِعُواْ إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ 
وَالأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِي

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang 
luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang 
bertaqwa.” (133).

Sayyid Qutb dalam tafsirnya, ‘Fi-Zhilali al-Qur’an’ menyebutkan bahwa ayat di 
atas menggambarkan bagaimana penunaian ketaatan kepada Allah, menjadi satu 
prioritas utama setiap Muslim untuk selanjutnya dilakukan dengan penuh semangat 
dan kesungguhan.

Sehingga setiap Muslim berupaya untuk menjadi yang terdepan dalam mendapatkan 
hadiah istimewa dari Allah. Dengan demikian maka terciptalah suasana kompetisi 
penunaian ketaatan yang semarak. Jika ini terjadi, insya Allah kekuatan umat 
Islam akan menguat dan tipu daya syetan dan orang-orang kafir pun dengan mudah 
dapat dipatahkan.

Memang ada beberapa hal yang harus disegerakan dalam ajaran Islam. Seperti, 
membayar hutang, menikahkan anak perempuan, merawat jenazah, menghormati tamu 
dan bertaubat. Namun demikian yang dimaksud di sini tidak sebatas beberapa hal 
tadi.

Tetapi juga meliputi seluruh aktivitas harian seorang Muslim, seperti 
mendirikan shalat secara berjama’ah di masjid, membaca al-Qur’an, menyambung 
tali silaturrahim, membantu yang membutuhkan, mengakui kesalahan dan meminta 
maaf, dan amalan sholeh lainnya.

Hal-hal itulah yang harus kita upayakan dengan penuh gairah. Upaya yang 
konsisten dalam menciptakan suasana kompetisi menuju ketaqwaan seperti itu 
merupakan satu syarat untuk bisa meraih kemenangan dan kebahagiaan setiap 
Muslim dan seluruh umat Islam baik di dunia maupun di akhirat.

Kedua, membudayakan infak baik lapang atau sempit.

الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاء وَالضَّرَّاء وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ 
وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِي

“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun 
sempit…” (QS Ali Imron: 134).

Bagaimana orang yang bertaqwa itu, yaitu orang yang senantiasa konsisten dalam 
berkorban, dan terus berjalan di atas manhaj, tanpa terpengaruh oleh keadaan 
lapang ataupun keadaan sempit.

Keadaan lapang tak membuat mereka bangga hingga lengah, dan keadaan sempit juga 
tidak menjadikan mereka berkeluh kesah hingga lalai. Mereka tetap menyadari 
kewajiban harus ditunaikan, sehingga mereka berusaha semaksimal mungkin 
terbebas dari sifat kikir dan rakus.

Bayangkan saja, seandainya penduduk Muslim negeri ini, katakanlah 100 juta 
penduduk, setiap harinya infak secara serentak Rp. 1000 maka dalam satu hari 
akan terkumpul 100 milyar rupiah. Dalam sebulan akan terkumpul dana sebesar 3 
trilyun rupiah. Berarti setahun umat Islam Indonesia akan punya dana infak 
sebsear 36 trilyun rupiah.

Angka yang sangat fantastis. Ini belum termasuk zakat maal. Jika ini bisa 
diwujudkan, program apa yang tidak bisa dibiayai oleh umat Islam? Bahkan 
pemerintah pun akan dibantu oleh umat Islam.

Gerakan infak ini perlu dan harus segera diwujudkan. Sebab kita sedang berada 
dalam perang ekonomi global yang oleh musuh-musuh Islam dikemas dalam bahasa 
perdagangan bebas. Kita perlu wirausahawan Muslim yang banyak agar tidak 
bergantung pada produk Yahudi.

Dan, untuk mewujudkan itu kita butuh banyak modal. Siapa lagi yang akan 
memodali upaya itu jika bukan umat Islam sendiri?

Jadi tidaklah berlebihan ungkapan bahwa the more you give, the more you get. 
The more you give for the more people and continue, the unlimited you’ll get.

Ketiga, menahan marah dan mudah memaafkan.

Orang yang bertaqwa pasti mampu menahan amarah. Setiap Muslim harus mampu 
menjadi orang yang tidak pemarah. Sebab itulah ciri Muslim sejati yang dalam 
hadis nabi dikatakan sebagai Muslim yang kuat.

Sebagaimana sabdanya, “Orang kuat itu bukanlah yang menang dalam gulat tetapi 
orang kuat adalah yang mampu menahan nafsu amarahnya” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sikap marah sama sekali tidak memberi dampak positif apalagi jika didorong oleh 
kuatnya keinginan nafsu.

Marah ditinjau secara medis juga berdampak negatif terhadap kesehatan. Saat 
seseorang sedang marah, seketika tekanan darah meningkat dan irama napas 
menjadi cepat, secepat seperti tengah bersiap untuk berkelahi atau usai lari 
kencang karena ketakutan.

Pada beberapa kasus, marah dapat menimbulkan tekanan darah tinggi yang 
mengakibatkan rasa sakit pada kepala secara mendadak yang mengakibatkan 
terjadinya stroke.

Jadi sifat marah sama sekali tidak memberi manfaat, tidak menyelesaikan masalah 
justru mengundang masalah dan terus-menerus menambah masalah. Pantas nabi 
mengajarkan kita untuk selalu tersenyum. Seolah-olah ia ingin mengatakan, 
“kalau bisa senyum kenapa mesti marah!”

Keempat, gemar berbuat kebaikan karena Allah menyukai orang-orang yang berbuat 
kebaikan.

Sayyid Qutb menjelaskan, orang-orang yang mendermakan harta dalam keadaan 
lapang dan sempit adalah orang-orang yang berbuat kebajikan. Orang-orang yang 
berderma dengan pemaafan dan toleransi adalah orang-orang yang berbuat 
kebajikan. Dan, Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan.

Alangkah indahnya ketaqwaan itu, pantas jika Allah dalam ayat yang lain 
menjanjikan solusi, kemenangan dengan segera bagi orang-orang yang bertaqwa.
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan 
keluar.” (QS. At Thalaq: 2).

Jika demikian selagi masih ada waktu, mari kita bersegera berusaha sekuat 
tenaga untuk menjadi orang yang bertaqwa. Yakni orang yang mencintai dan gemar 
berbuat kebaikan demi menggapai ridha Allah untuk kemenangan umat Islam di 
dunia dan di akhirat.

Semoga Ramadhan kali ini benar-benar mengantarkan kita menjadi insan taqwa, 
amin. Wallahu a’lam.*/Imam Nawawi


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke