Refl: Mr Air, plisss, jangan malu-malu kucing dengan hanya mengintai!Monggo, monggo silahkan masuk dan make yourself at home. Please do not hesitate to visit us any time you like. Not only visit but you aslo may stay in the country forever! You are always welcome! Hehhehehe
Kalau negeri yang banyak sungai berair, dan hujan sampai banjir seperti air bah zaman nabi Noah, lantas ada kesulitan air bersih dan kekeringan menimpa berarti penguasa negara terdiri dari orang-orang ahli tidak becus, karena tidak melaksanakan tugas memenuhi kebutuhan utama manusia yang harus dijamin untuk kehidupan memada. NKRI sudah merdeka 66 tahun? You are joking mr Air. Masalahnya akan cocok apabila berhasrat untuk berkehidupan seperti di gurun pasir. http://www.gatra.com/component/content/article/74-lingkungan/2573-krisis-air-mengintai-indonesia Krisis Air Mengintai Indonesia Sabtu, 10 September 2011 07:48 Kekeringan di Kab. Maros, Sulsel (FOTO ANTARA/Sahrul Manda Tikupadang) Sebuah laporan mengejutkan disodorkan oleh Kelapa Pusat Data Informasi dan Humas Badan Penanggulangan Bencana, Sutopo Purwo Nugroho. Laporan hasil kajian Bappenas itu menyebutkan, 77 persen kabupaten/kota di Jawa sudah mengalami krisis air. Menurut laporan tersebut, di wilayah luar Jabodetabek, satu hingga delapan bulan telah mengalami defisit air dalam setahun. Penyebab krisis air adalah ledakan penduduk yang kian tak terkendali, degradasi lingkungan, dan menurunnya ketersediaan air. "Diperkirakan pada 2025, jumlah kabupaten/kota yang defisit air akan meningkat hingga mencapai sekitar 78,4 persen dengan defisit mulai dari satu hingga dua belas bulan, atau defisit sepanjang tahun," ujar Sutopo. Dari seluruh wilayah di luar Jabodetabek, ada 38 kabupaten/kota, atau sekitar 35 persen, akan mengalami defisit air tertinggi. Sementara di wilayah Jabotabek, di mana 60 persen pasokan air berasal dari waduk Jatiluhur, diperkirakan pada 2025 nanti separuhnya mengalami defisit air. "Kekurangan air akan terus terjadi hingga merata, dan diperkirakan meningkat menjadi 100 persen," ungkap Sutopo. Kondisi tersebut, menurutnya, perlu mendapatkan perhatian serius dari semua kalangan. "Perlu dilakukan upaya penanganan segera dalam jangka pendek," tegas Sutopo. Pasalnya, krisis air ternyata tidak hanya mengancam pulau Jawa, tetapi sudah merata ke seluruh wilayah negeri. Meski Indonesia memiliki potensi air yang besar karena masuk dalam wilayah tropika basah, namun negeri ini dihadapkan dua tantangan, yaitu kacaunya pola cuaca akibat pemanasan global dan meningkatnya jumlah penduduk secara signifikan. Pola cuaca yang tidak menentu menyebabkan beberapa daerah di Indonesia mengalami kekeringan. Meningkatnya jumlah penduduk menyebabkan lonjakan kebutuhan air. Kedua hal itulah yang menjadi pemicu krisis air. Selain itu, diperparah pula dengan pencemaran limbah pada sumber-sumber air andalan masyarakat. Pada saat terjadi kelangkaan hujan, tinggi permukaan air beberapa waduk di Sumatera, Jawa dan Sulawesi menurun. Untuk mengatasi penurunan muka air tersebut, Unit Pelaksana Teknik Hujan Buatan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (UPT HB-BPPT) berusaha memodifikasi cuaca dengan melakukan operasi hujan buatan untuk mengisi beberapa waduk. Modifikasi cuaca ini dilakukan atas permintaan PLN, karena menurunnya tinggi muka air waduk dapat menimbulkan ancaman pemadaman listrik. Cara tersebut mestinya dapat dilakukan untuk mengatasi keterbatasan air baku yang menjadi masalah di beberapa PDAM di Indonesia. Di sisi lain, krisis air ternyata memberi dorongan positif kepada masyarakat untuk melakukan inovasi-inovasi dalam menghadapi kelangkaan air. Para ilmuwan di International Rice Research Institute (IRRI) yang berpusat di Filipina mengembangkan sistem padi aerobik. Sistem padi aerobik adalah cara baru menumbuhkan padi dengan lebih sedikit air diban dingkan rata-rata kebutuhan padi dataran rendah. Disebut sistem aerobik karena dalam hal ini padi bisa tumbuh layaknya tanaman dataran tinggi seperti gandum, di tanah yang tak digenangi air atau jenuh oleh air dan karenanya menjadi aerobik atau beroksigen sepanjang musim pertumbuhan. Langkah-langkah antisipatif maupun inovatif harus terus ditumbuh kembangkan untuk mengantisipasi dan menghadapi terjadinya krisis air di dunia pada umumnya dan di Indonesia pada khususnya. PDAM sebagai salah satu penyelenggara sistem penyediaan air bersih (air minum) seyogyanya dapat berpartisipasi aktif untuk menumbuhkan kesadaran dan kreatifitas masyarakat dalam hal pelestarian air. Semoga PDAM sebagai perusahaan pelayanan publik dapat menjawab tantangan krisis air. (HP) ++++ http://www.gatra.com/nusantara/jawa/2542-ancaman-krisis-air Ancaman Krisis Air Jum'at, 09 September 2011 10:11 0 Komentar .Suplai air bersih di Jakarta (ANTARA/M Agung Rajasa) Ancaman Krisis Air Sepekan terakhir, warga Jakarta dilanda krisis air. Pasokan air bersih sepertti listrik yang mengalami byar pet. Kadang mengucur, seringkali mampet. Rupanya, krisis air itu dipicu oleh jebolnya pintu air di Buaran, Duren Sawit, Jakarta Timur. Akibatnya pengelolaan air bersih untuk warga Jakarta terganggu. Saat ini Jasa Tirta dan Kementerian Pekerjaan Umum sedang melakukan perbaikan. Hingga kemarin sore, baru sekitar separuh dari total 60 tiang pancang baja yang ditanam sebagai ganti pintu air yang runtuh pada Rabu (7/92011) malam lalu itu. Pengerjaan turap itu molor karena kendala ketersediaan alat berat setelah putusnya kawat baja sebuah mobil crane. Turap ini menutup dinding sungai yang jebol sekaligus mengatur pelimpahan saat air Kalimalang meluap. Bila dinding jebol ini dapat ditutup, pemasokan air baku untuk Instalasi Pengolah Air Pejompongan yang dioperasikan PT Palyja akan kembali normal seperti sediakala. Selama perbaikan, sebagian warga Jakarta yang menggantungkan pasokan air bersih dari PT PAM Lyonnaise Jaya (Palyja) terpaksa harus membeli air dari para pengecer dengan harga mahal. Meski dalam kondisi normal pun, warga ibukota tak bisa menikmati air secara gratis. Jika dihitung secara normal, harga air di Jakarta sejatinya mencapai Rp 37 ribu hingga Rp 75 ribu per meter kubik. "Tak ada orang di dunia yang membayar air 7 Dolar AS per meter kubik,” ujar menurut Firdaus Ali dari Badan Regulator PAM DKI Jakarta. Warga yang jauh lebih mampu, yang tinggal di perumahan elite dengan pendapatan puluhan bahkan ratusan kali lipat dari orang-orang kecil, bahkan tak perlu membayar semahal itu. Paling mahal hanya membayar Rp 9.000 rupiah per meter kubik, ia sudah bisa memandikan mobil dan motor gedenya. Jakarta, memang tidak adil. Salah satu sumber ketidakadilan itu berasal dari keterbatasan sumber daya air yang mendukung kota Metropolitan itu. Kota yang begitu dahaga ini membutuhkan sekitar 548 juta meter kubik air tawar bersih per tahun. Itu hanya untuk kebutuhan rumah tangga, belum termasuk kebutuhan industri, perkantoran dan hotel yang bisa ditambahkan sekitar 30 persen dari angka di atas. Sayangnya, Jakarta adalah kota yang lebih besar pasak daripada tiang. Tahun 2007 saja, kapasitas produksi air bersih PAM JAYA berjumlah 425 juta meter kubik—masih ada 48.984 kolam renang yang kering tak terisi. Defisit air makin nyata di siang hari, tatkala jumlah penduduk bertambah menjadi 10 hingga 11 juta jiwa akibat pekerja yang berdatangan dari luar Jakarta. Pada dasarnya, air bersih yang dipasok oleh perusahaan daerah yang sejak 11 tahun silam bermitra dengan swasta PAM Lyonnaise Jaya (Palyja) dan Aetra Air Jakarta (Dulu Thames PAM Jaya) bersumber dari air permukaan, yaitu dari sungai dan kanal. Namun, masalah menghadang karena tidak semua sumber air permukaan dapat diolah, meski Jakarta punya 13 sungai. Mereka dulu punya dua sumber bahan baku air, yaitu Saluran Mookervart serta Saluran Tarum Barat atau Kali Malang. Namun, karena air dari Mookervart dinilai sudah tidak layak menjadi bahan baku sejak 2008, yang jadi andalan tinggal Kali Malang yang mengalirkan air dari Bendungan Jatiluhur Jawa Barat. Sesekali Palyja juga mengambil bahan baku dari Banjir Kanal Barat. Nah, ketika pasokan dari Kalimalang terhambat, aliran air ke warga pun menjadi 'byar pet'. Ini pertanda krisis air sedang mengancam warga Metropilotan. Tidak saja penduduk Jakarta yang terancam, tapi seluruh pulau Jawa kini siap-siap menghadapi krisis air. Dari data WALHI terungkap, 125 juta (65%) penduduk Indonesia tinggal di pulau jawa yang kapasitas kandungan airnya hanya 4,5 persen. Bersiaplah menghadapi krisis air! (HP) [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
