http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/users/aboeprijadi-santoso
  a.. 


Map 
Setelah 27 Tahun Kasus Tanjung Priok Belum Juga Tuntas
Diterbitkan : 13 September 2011 - 5:03pm | Oleh Aboeprijadi Santoso (Foto 
KontraS) 
Duapuluhtujuh tahun berlalu, kasus pembantaian di Tanjung Priok, 12 hingga 13 
September dinihari, tahun 1984, belum juga tuntas. Hanya sebagian korban 
berdamai dengan pelaku dalam apa yang disebut 'Islah'.

LSM HAM KontraS menyoalkan Pengadilan ad-hoc HAM tahun 2003-04 dan Pengadilan 
Jakarta 2006, yang membebaskan dua terdakwa utama, Komandan Polisi Militer 
Jakarta, Pranowo, dan mantan Kepala Seksi Operasi Kodim Jakarta Utara, 
Sriyanto. 

Ratusan anggota masyarakat menjadi korban ketika mereka menuntut kembalinya 
empat anggota musholla yang diculik. Berikut keterangan saksi Ibu Yeti alias 
Wanmeiyeti, pada rekan Aboeprijadi Santoso, mengenai apa yang terjadi pada 
malam itu:

Provokator
Menurut Ibu Yeti, malam itu ada orang berbaju hitam, mengendarai sepeda motor, 
yang tidak dikenal oleh penduduk setempat. Ibu Yeti menganggap orang ini 
seorang provokator. Dia ini lah yang menyuruh penduduk agar bergerak menuju 
daerah Koja. Dan di Koja inilah, orang-orang membakar dan menjarah beberapa 
toko. 

Padahal, maksud penduduk semula adalah bergerak menuju Kodim, untuk meminta 
pembebasan empat orang anggota musholla di lingkungan tempat tinggal mereka, 
yang sedang ditahan. Rombongan dipimpin oleh Amir Biki.

Sebelumnya, usai mendengarkan ceramah, rombongan sebenarnya hanya akan 
mendatangi kantor Kodim. Ternyata tentara sudah menghadang, di muka kantor 
Polres, di persimpangan Jalan Jos Sudarso. 

Suasana Perang
Tentara yang datang jumlahnya beberapa truk, dengan persenjataan lengkap. 
Termasuk kendaraan lapis baja. Malam itu, seperti akan berlangsung perang saja. 
Dan memang, malam itu terjadi banjir darah.

Dua hari sebelum peristiwa ini terjadi, tentara sudah tampak mundar mandir di 
lokasi kejadian, di wilayah Sindang. Dan esoknya, pada hari kejadian, kendaraan 
lapis baja sudah diparkir di sana. 

Dengan demikian, kami menduga, semua ini sudah ada yang merencanakan. Anehnya 
lagi, ada berita mengenai perintah pihak militer, untuk menggali lubang kuburan 
pada pukul sembilan malam. Tempatnya di Kramat Ganceng, tepatnya di Pondok 
Ranggon. 

Ketika itu, lurah, penggali dan penduduk setempat, sempat bertanya pada pihak 
militer, lubang ini untuk apa. Jawaban pihak militer, ini buat latihan tentara. 
Sembari menambahkan, agar jangan terlalu banyak bertanya-tanya. Lurah, penggali 
lubang dan penduduk tersebut sekarang masih hidup. 

Sekitar pukul tiga malam, datang beberapa truk, melemparkan mayat ke dalam 
lubang tersebut. Mereka semua, baru menceritakan hal ini, pada masa reformasi, 
setelah Presiden Soeharto mundur.

Skenario Pembantaian
Menurut Ibu Wanmeiyeti, pembantaian berlangsung sistematis. Sampai ke gang gang 
pun orang dikejar dan ditangkap. Yang lain, yang tidak berhasil menyelamatkan 
diri, dibantai. 

Jazad para korban yang bergeletakkan, antara lain dikeruk menggunakan buldozer 
sampah. Dilempar ke truk-truk tentara. Truk ini bertolak menuju RSPAD. Di sana 
dipilah-pilah, korban yang pingsan dan yang sudah meninggal. 

Kemudian datang L.B. Murdani dan Try Sutrisno. Mereka berkata, inilah akibatnya 
kalau kalian berbuat seperti itu.

Aboeprijadi Santoso: Korban yang jatuh sekitar 400 orang, bagaimana itu bisa 
terjadi dalam waktu sedemikian singkat?

Ibu Wanmeiyeti: Karena, pada saat pembantaian lampu jalan pun dimatikan. Saat 
rombongan sedang bernegosiasi, tentara sudah menghadang di sepanjang Jalan Yos 
Sudarso. Jalan sepenuhnya ditutup. Tidak ada kendaraan yang lewat. Tentara 
memenuhi bagian kanan dan kiri jalan. Mobil tentara berjejer di tengah jalan. 

Pada saat lampu jalan mati, terdengar perintah ... tembak ... tembak ... mana 
Amir Biki ... Tentara menembak dengan posisi berdiri. Mereka mengarahkan 
tembakan ke bawah dan pada arah ketinggian dada.

Aboeprijadi Santoso: Berapa jumlah orang yang hilang?

Ibu Wanmeiyeti: Ratusan. Karena banyak juga mayat yang dibuang ke perairan 
Kepulauan Seribu. Ada juga yang dikubur secara massal. Dan di Kramat Ganceng 
itu sendiri, menurut pengakuan Try Sutrisno, ditemukan empatbelas jenazah. 

Ada yang bilang jenazah dibuang ke laut. Ada juga yang bilang dikuburkan secara 
massal. Kami sudah berusaha mencari seorang pilot yang ikut menerbangkan 
jenazah tersebut. Dan berhasil menemukan nama, dan alamat rumahnya. 

Pada saat pilot tersebut harus menghadap ke Kejaksaan Agung, ternyata ia 
menghilang begitu saja.


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke