Ref: Bukankah selama ini mereka, para pemimpin negara rajin berdoa, rajin mengujungi rumah ibadah pada hari-hari ibadah, berpuasa, membuka puasa dengan konco-konco, merayakan hari raya agama sesuai ritualnya. Dan paling tidak sekali, mereka pernah pergi melakukan ibadah suci. Tetapi apakah ini semua memberikan ilham perubahan pada diri mereka dan juga pada cecunguk-cecunguk mereka untuk berbuat sebagai manusia beradab? Kenyatan selama ini ialah tidak lebih kurang, mereka pantai dan lincah menyepuh lidah dengan kata-kata agama. Lain dari pada itu nol besar. Tidak ada perubahan kelakuan dan tindakan mereka, mereka tetap saja ibarat tukang copet di siang hari terik. Sudikah Anda terus membiarkan mereka melakukan penipuan terhadap masyarakat atas nama agama dan demokrasi?
http://www.sinarharapan.co.id/content/read/doa-dan-puasa-membersihkan-hati-para-pemimpin-negara/ 16.09.2011 11:17 Doa dan Puasa, “Membersihkan” Hati Para Pemimpin Negara Doa dan Puasa Bersama Umat Lintas Agama yang digelar di dekat Istana Merdeka memasuki hari kedua pada Kamis (15/9). Dengan doa dan puasa, mereka memohon kepada Allah Yang Maha Kuasa agar segera mengganti pemimpin yang zalim, pembohong, dan mengabaikan rakyat. Sementara itu, pihak Istana mengirimkan Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi Politik Daniel Sparingga untuk datang ke lokasi aksi guna mengadakan persuasi. Daniel mengatakan, kehadirannya untuk menyampaikan simpati. Menurutnya, doa dan puasa ini menyiratkan kehendak rakyat yang mulia. Pesan-pesan tersebut akan disampaikan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai amanah yang dijadikan dorongan dan lecutan untuk bekerja lebih baik lagi. Pemimpin Pondok Pesantren al Karimiyah KH Ahmad Damanhuri menegaskan, kini telah terjadi kebohongan di mana-mana. Untuk itu, rakyat harus bahu-membahu mengubah keadaan. Semua komponen masyarakat, baik itu rakyat, pedagang, pegawai, maupun mahasiswa harus turun, jangan hanya mengandalkan para rohaniwan. “Saya punya pesan khusus buat SBY dan jajarannya, yaitu kasihanilah rakyat, kasihanilah rakyat, kasihanilah rakyat! Ya Allah Yang Maha Berkuasa, bersihkan negara kami dari pemimpin yang jahat, yang zalim dan yang pembohong,” ungkap Damanhuri. Tokoh Hindu dari Bali Gus Indra Udayana mengatakan, dulu bangsa Indonesia berjuang melawan negara lain yang menjajah. Akan tetapi, kini lawannya adalah penjajah dari dalam, yaitu pemimpin yang tidak bermoral. Bagi para pemimpin itu, politik hanyalah kekuasaan. Doa-doa yang mereka lakukan hanya sebagai simbol retorika dan pencitraan. “Sekarang biaya pendidikan mahal, tapi pemimpinnya tidak peduli. Secara ekonomi, masyarakat setiap hari terpaksa puasa, tapi para pemimpin malah pesta tiap hari. Di sisi lain, rakyat sulit berobat karena mahal. Parahnya, para pemimpinnya malah sakit jiwa. Kita harus mencari pemimpin yang bisa membawa rakyat dan bangsa Indonesia ke arah yang lebih baik,” ujar Gus Indra. Anugerah dan Syukur Sementara itu, Ketua Wihara Kwan Im Papua Barat, Biksu Dwi Wirya, menyatakan, Tuhan telah menganugerahkan kepada bangsa Indonesia kekayaan alam yang berlimpah ruah. Namun ternyata hingga kini hal itu belum dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. “Ibarat pepatah, rakyat seperti ayam mati kelaparan di lumbung padi. Negara kaya raya dan makmur, tapi rakyatnya sengsara. Ini tidak lepas dari masalah moralitas para pemimpin. Sebagai kaum agamawan, kami merasa ikut bertanggung jawab untuk memperbaiki keadaan ini. Kami mengajak pemerintah melaksanakan tanggung jawabnya dengan sebaik-baiknya,” kata Dwi Wirya. Tokoh Wanita Hindu Lampung Ni Made Setiasih menambahkan, saat ini para ibu rumah tangga banyak yang stres karena beratnya beban hidup. Ironisnya, kesejahteraan hanya dinikmati segelintir elite yang berkuasa. Doa dan puasa yang dilakukan seluruh umat beragama dimaksudkan agar hati para pemimpin terbuka dan mau mengubah keadaan. Pesan yang sama juga disampaikan Ketua Sangha Mahayana Indonesia Biksu Guna Badra. Dia bahkan menitipkan pesan kepada SBY, bahwa sebagai pemegang mandat dari rakyat, dia bertanggung jawab atas keselamatan negara. “Bumi pertiwi harus bersih dari orang-orang yang tidak bermoral. Mereka adalah orang-orang yang tidak bertanggung jawab, yang merusak dan mencuri harta rakyat. Kami mengimbau semua tokoh agama untuk bersatu membersihkan negara,” katanya. Senada dengan itu, tokoh agama Katolik Pastor Kristo menyatakan, doa dan puasa adalah proses penyucian jiwa agar pemerintah beres dalam mengurus negara. Ini karena korupsi dan kebohongan yang terus-menerus dilakukan pemerintah, semuanya dikategorikan sebagai kejahatan. Sebagai orang beriman, saatnya kita membangun kekuatan bersama untuk penyucian diri agar terjadi perubahan yang mendasar. Selain para tokoh agama yang kemarin, pada hari kedua ini hadir juga mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal (Purn) Tyasno Sudarto. Bersama tokoh agama lain, Tyasno mengemukakan bahwa Allah Yang Maha Kuasa telah mengaugerahkan kemerdekaan bagi bangsa Indonesia sebagai nikmat yang amat besar. Karena itu, sudah sepantasnya bila seluruh bangsa ini, termasuk para pemimpinnya, bersyukur. “Para rohaniwan dan purnawirawan prihatin, karena negara telah porak-poranda. Melalui doa dan puasa ini kami harap Indonesia bisa bersih dari segala kekotoran, terutama bersih dari para pemimpinnya yang berperilaku tercela. Kami mohon kepada Allah agar segera terjadi perubahan agar cita-cita proklamasi tercapai. Saya tegaskan di sini, seluruh purnawirawan mendukung penuh aksi ini dan perubahan yang dicita-citakan,” ujar Tyasno. (CR-19) ++++ http://www.sinarharapan.co.id/content/read/keretakan-dalam-toleransi-beragama/ 15.09.2011 09:31 Keretakan dalam Toleransi Beragama Penulis : Benny Susetyo Pr* Setara Institute melaporkan bahwa selama Januari–Juni2011, terdapat 99 peristiwa pelanggaran terhadap kebebasan beragama dan berkeyakinan di Indonesia. Jumlah itu meningkat dibanding 2010 yang mencapai 94 peristiwa. Dalam 99 peristiwa itu, ditemukan 140 tindakan yang dilakukan aktor non-negara dan negara, seperti intimidasi, intoleransi, pelarangan aktivis keagamaan, pelarangan mendirikan tempat ibadah, pembiaran, dan penyesatan aliran keagamaan. Dari jumlah tersebut, 80 tindakan pelanggaran dilakukan aktor negara. Melihat perkembangan tersebut, ada kesan penguasa begitu takut menegakkan nilai-nilai konsistusi dalam kehidupan berbangsa. Dengan membiarkan berbagai pelanggaran terus berlangsung tanpa ada tindakan pencegahan serta kemauan menegakkan aturan hukum yang adil akan mengakibatkan keretakan dalam masyarakat. Bila aparat negara terkesan menyepelekan masalah-masalah bernuansa intoleransi, tudingan bahwa pemerintah mendiskriminasi rakyatnya sendiri dalam kehidupan beragama makin jelas dan menemukan alasannya. Apa pun tujuannya dan siapa pun pelakunya, kekerasan telah mencederai rasa perikemanusiaan kita. Peristiwa demi peristiwa yang bersifat melecehkan sering dianggap sepele. Satu kelompok dibiarkan merasa lebih berkuasa dan mendominasi kelompok lain. Prinsip saling menghormati hanya berhenti di mulut. Kalau dibiarkan, hal itu dapat bermuara pada kehancuran bangsa, dan akan menyulitkan kita untuk bangkit dari keterpurukan. Kata “damai” lebih mudah diucapkan tetapi begitu sulit diterapkan di kawasan rawan konflik. Kekerasan akan melahirkan kecurigaan antara golongan masyarakat yang satu terhadap yang lain. Tentu saja para pelaku dan mereka yang berada di balik aksi-aksi kekerasan sudah memperkirakan dan mengharapkan dampak itu. Dengan menumbuhkan rasa saling curiga, konflik-konflik terpendam lainnya lebih mudah dipicu. Upaya damai seolah hanya terjadi di pentas formal. Para pelaku kekerasan hanya bisa bahagia bila ada saudaranya yang meraung-raung kesakitan. Para pemimpin negara, dengan demikian, harusnya menyadari bahwa di antara kita hidup sekelompok orang yang berperikehidupan tidak normal, dan secara sosial mereka bahagia jika sudah bertindak anomi. Abnormalitas ini tidak bisa dibiarkan, dan aparat harus bertindak cepat untuk menghukum mereka yang antiperdamaian itu. Membiarkan Kekerasan? Penyebab kekerasan biasanya hal-hal yang sederhana dan sepele: tidak adanya toleransi, kebersamaan, pluralisme, dan penghormatan nilai-nilai. Di antara isu-isu itu menyusup berbagai kepentingan, yang memanfaatkan kepekaan hubungan antar-umat beragama di Indonesia. Sungguh aneh, perilaku orang beragama justru buas terhadap sesamanya, tiada lagi norma kesopanan dan kemanusiaan. Keimanan yang harusnya untuk menyayangi makhluk lainnya, malah justru membunuh, dengan segala macam cara. Dengan demikian, masih ada yang tidak tepat dalam cara kita beragama, berbangsa, berperikehidupan bersama-sama. Kita terus-menerus dihadapkan pertanyaan mengapa bangsa kita hidup dalam ketidakberadaban seperti itu? Sebagai bangsa beragama, mengapa kita hanya mampu mencetak manusia kerdil yang orientasinya hanya kekuasaan, harta, dan kemuliaan? Janganlah kesucian hanya berlaku di sekitar tempat ibadah, di luar itu orang boleh berbuat berlawanan dengan keimanan. Keberagamaan kita masih menampilkan wajah kontras antara kesucian individual dan kesalehan sosial. Kesucian individual itu tak bermuara pada kesalehan sosial. Realitas agama hanya terjebak pada dimensi kesalehan pribadi yang berorientasi pada kesucian perorangan.Ukurannya sekadar persembahan, tanpa mampu memperbarui perilaku sosial. Hal ini terjadi karena agama tidak mampu keluar dari persoalan identitas (logo). Pemeluk agama masih terjebak pada persoalan kuantitas, bukan kualitas keimanan. Agama hanya dihayati sekadar ritual, tetapi dirinya terasing terhadap realitas kehidupan kemasyarakatan. Tuhan tidak butuh persembahan, tetapi umat manusia yang bertindak adil dan toleran bagi sesama. Apa guna persembahan bila tangan kita penuh dengan darah, dan mulut kita penuh dengan dusta. Realitas itu menjadikan seolah-olah agama telah gagal membebaskan manusia dari situasi keterasingan (alienasi), dalam realitas dirinya sendiri. Para pelaku kekerasan itu adalah provokator yang jitu menjalankan aksinya dengan meletupkan sumbu kekerasan yang paling kecil tetapi paling menyayat. Bisa dirasakan adanya kepentingan yang jauh lebih besar dengan cara mengadu domba umat beragama. Fundamentalisme agama dijadikan sarana saja untuk semakin memuluskan jalan kekerasan. Semangat Penyejukan Bila kita tengok perilaku keagamaan kita beberapa waktu terakhir dalam konteks kehidupan bangsa Indonesia, semangat penyejukan dan perdamaian yang dibawa agama tampak kering. Hampir pasti semangat tersebut meleleh karena perilaku sosial politik semenjak merdeka telah meracuni agama itu sendiri. Agama dikerangkeng di dalam aturan-aturan yang berdampak tidak sehat. Kekerasan bernuansa agama bisa ditepis jika agamawan bisa rileks membicarakan duduk perkaranya dengan hati yang terang. Kita harus membuka diri, menebalkan rasa toleransi, mencari kebenaran bersama, dan mencari titik temu serta solusi untuk mengatasi masalah. Beragama dalam keragaman inilah yang akan membuat bangsa ini bisa menyelesaikan masalahnya tanpa kekerasan. Potensi kekerasan dalam beragama tidak bisa diatasi sendiri-sendiri, melainkan secara bersama. Saat pemerintah berani mengoreksi kebijakan dalam kehidupan beragama, sikap intoleran dapat diredam, dan aparat penegak hukum akan lebih mantap dalam menghadapi kelompok yang mengatasnamakan agama untuk bertindak anarkistis. Hal ini menjadi penting bagi kehidupan berbangsa yang cenderung mengalami keretakan. Marilah kita belajar dari masyarakat di Ambon yang berani mengupayakan budaya damai dalam upaya menyembuhkan luka-luka pascakonflik 1999. Mereka mencoba menciptakan komunikasi dan dialog lintas iman dalam upaya mengatasi setiap persoalan antarkomunitas. Kini masyarakat di Ambon kembali menghadapi ujian. Semoga kedewasaan kehidupan beragama di sana mampu meredam konflik agar tidak meluas, karena pemuka agama dan masyarakat memiliki kesadaran bersama bahwa mereka tidak mau dijadikan sekadar sebagai kayu bakar. Upaya mereka membutuhkan dukungan, khususnya dari media, demi menciptakan kondisi damai. *Penulis adalah Sekretaris Eksekutif Komisi Hak KWI dan Dewan Nasional Setara. [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
