http://aceh.tribunnews.com/2011/09/15/masyarakat-sakit

Masyarakat Sakit
Kamis, 15 September 2011 17:09 WIBShare | 
Kamaruzzaman Bustamam-AhmadOleh Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad

MASYARAKAT Aceh saat ini sedang mengalami proses sakit sosial yang amat parah. 
Sakit sosial ini tentu saja bukan diobati dengan obat yang bisa sembuh dalam 
satu atau dua minggu. Sakit sosial ini disebabkan karena dua hal yaitu adanya 
proses demoralisasi dan destabilisasi. Demoralisasi ini adalah proses mencabut 
aspek dan nilai-nilai dalam masyarakat, yang dilakukan secara tanpa sadar 
selama beberapa tahun terakhir. Tentu saja proses ini telah berhasil mengikis 
fondasi kehidupan rakyat Aceh.

Pertama yang dikikis adalah nilai-nilai adat istiadat, dari yang bersifat 
hakikat ke simbolik semata. Makna dan substansi nilai-nilai digantikan secara 
sistematis melalui proses internalisasi nilai-nilai budaya yang sesungguhnya 
dibenci rakyat Aceh itu sendiri. Sekarang kita membela sesuatu yang kita tidak 
sukai, tetapi kita jadikan sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Proses 
internalisasi budaya dari luar melalui non-adat istiadat adalah bentuk 
ketidakramahan dalam berpikir sebagai orang Aceh.

Mengamalkan apa yang tidak sukai merupakan suatu kewajiban dalam membina 
peradaban Aceh saat ini. Apa yang disukai baik oleh pikiran dan perasaan 
menjadi sesuatu yang amat mahal sekali diamalkan. Hal tersebut boleh jadi tidak 
ada lagi standar moral ketika proses demoralisasi terjadi dalam masyarakat. 
Tingkat pengetahuan masyarakat, bukan lagi diturunkan dari keluarga dan para 
urafa, melainkan dipaksakan untuk menilai sendiri apa yang baik dan buruk.

Akibat tidak standar moral, orang baik dan jahat tidak jauh berbeda air muka 
dan perangai kehidupannya. Terkadang orang senyum untuk menutup kejahatan, 
sementara tidak sedikit yang berbuat jahat dengan senyuman. Pola ini pada 
ujungnya mengakibatkan masyarakat hilang kontrol. Inilah kekosongan yang diisi 
oleh standar moral atau perilaku yang tidak baik. Masyarakat mengukur sesuatu 
bukan karena pengetahuan, tetapi apa yang menjadi penerimaan dari standar moral 
dari luar nilai-nilai kehidupannya.

Ketika proses demoralisasi dan tidak ada standar ideologi, maka ideologi lain 
akan masuk ke dalam pikiran masyarakat. Karena mereka tidak cukup pengetahuan 
untuk memahami fenomena sosial, propaganda atau gagasan untuk menukar ideologi 
terjadi secara sistematik. Ketika perubahan ini terjadi, maka masyarakat 
menjadi gamang. Ini sama dengan perilaku habis azan magrib di TV swasta 
nasional, lalu muncul iklan dan acara yang tidak mengajak orang untuk shalat. 
Artinya, orang membaca doa, tetapi mata harus menikmati apa yang dibenci oleh 
doa itu sendiri.

Adapun kedua yang terjadi adalah proses destabilisasi yaitu mencari sekuat 
tenaga untuk menciptakan proses ketidakamanan di Aceh. Proses ini sesungguhnya 
sedang dilakukan melalui adu domba. Dulu musuh bersama rakyat Aceh, ketika 
dipropagandakan oleh GAM adalah Jawa. Saat itu, ketika sudah tidak ada musuh 
bersama, maka proses destabilitasi dilakukan dengan saling adu kekuatan di 
antara sesama orang Aceh sendiri.

Saat tidak ada musuh bersama, maka siapa pun yang paling dekat ketika berjuang 
boleh jadi saat ini menjadi musuh yang paling berbahaya. Proses ini sebenarnya 
sangat wajar, di mana beberapa negara pernah mengalaminya. Ini dikarenakan, 
pemerintah tidak mementingkan teori dan pandangan ilmuwan dalam merekayasa 
mesin sosial atau fenomena sosial. Sehingga ayunan pemerintah selalu bergoyang 
dan seolah harus bermusuhan antara satu sama lain. Kalau tidak berdebat dan 
saling menjegal adalah sesuatu tidak begitu indah dipandang mata. Dengan kata 
lain, pemerintah gagal dalam menciptakan sebuah rekayasa sosial masyarakat Aceh 
yang bertamaddun.

Sekarang, kedua proses ini sebenarnya sudah muncul dalam ilmu propaganda, 
ketika ingin mengubah satu struktur masyarakat untuk menuju kehancuran secara 
sistemik. Dulu, rakyat Aceh menelan mentah-mentah propaganda anti-Jawa, 
anti-Indonesia, dan anti-Jakarta, sehingga rakyat kecil dan besar rela korban 
perasaan dan angkat senjata untuk mengusir Jawa dari Aceh. Setelah damai, 
propaganda tersebut hilang, muncul propaganda lain yang ternyata lebih parah 
dari anti-Jawa. Yaitu meluluhlantakkan struktur dan fondasi kehidupan rakyat 
secara sistematis. Agama diformalkan, tetapi budaya beragama dihilangkan. 
Lembaga adat ditumbuhkan, tetapi pengetahuan tentang manfaat beradat diabaikan.

Alhasil, ujung dari proses ini adalah menciptakan ketidakstablisan atau 
ketidakamanan di Aceh. Proses normalisasi melalui MoU dipandang tidak begitu 
indah, karenanya perlu usaha untuk menciptakan krisis. Uniknya, krisis yang 
muncul berasal dari orang Aceh sendiri. Sehingga fenomena bahasa kekerasan 
menjadi potret kehidupan baru rakyat Aceh. Marah tidak dikasih proyek, marah 
ketika disentil dalam ceramah agama, legislatif dan eksekutif saling jegal, dan 
marah ketika tidak bisa memarahi orang lain merupakan budaya baru dalam bahasa 
kekerasan di Aceh. Kalau tidak marah seolah-olah hilang jatidiri ke-Aceh-annya.

Akibatnya, pola tasamuh (toleransi) dan meusyedara sudah tidak begitu penting 
dalam masyarakat. Karena tidak ada konsep untuk merekayasa sebuah masyarakat 
yang bertamaddun dan bermartabat, rakyat kemudian menciptakan sendiri 
budaya-budaya untuk hanya menguntungkan diri sendiri. Paradigma negatif 
tersebut sebenarnya sudah terjadi dalam sepuluh tahun terakhir, karena 
pemerintah Aceh tidak memiliki konsep secara subtantif. Konsep yang dimaksud 
adalah mengembangkan daya pikir untuk kemajuan, tidak hanya pada pembangunan 
saja, tetapi juga tingkat kecerdasan dan kemampuan rakyat dalam mempertahankan 
proses demoralisasi di atas.

Sekadar perbandingan, proses pembangunan kecerdasan rakyat dilakukan melalui 
budaya-budaya yang diproduksi oleh para endatu. Karena budaya tersebut tidak 
diarahkan untuk menghancurkan sendi kehidupan rakyat, maka ketika unsur-unsur 
budaya ini dibawa sebagai alat perjuangan, yang terjadi adalah keinginan untuk 
mengamankan diri sendiri, bukan demi kaum atau masyarakat Aceh secara 
keseluruhan. Di Aceh, ilmuwan dan ulama sangat banyak sekali, namun mereka 
belum dianggap penting untuk memroduksi pemikiran demi ke-Aceh-an.

Dalam sejarah gerakan sosial, tokoh-tokoh ilmuwan yang menggerakkan mesin atau 
rekayasa sosial adalah mereka yang merasakan kaum atau etniknya tertindas. 
Pertanyaannya, apakah saat ini Aceh sedang tertindas? Kalau iya, siapa yang 
paling betanggungjawab dalam wujud ketertindasan tersebut? Jawabannya adalah 
rakyat Aceh sudah lama tertindas, namun abai dalam menciptakan mimpi untuk masa 
depan. Sehingga mimpi yang ada hanya untuk mengamankan diri dan keluarga, tanpa 
memikirkan etnik Aceh secara keseluruhan.

Artikel ini hanya berupaya mencari penyebab kecil dari sakit sosial yang 
dialami rakyat Aceh. Tentu saja sakit sosial obatnya bukanlah minum pil, 
melainkan memikirkan penyebab dan jalan keluar dari kemelut ini. Jalan keluar 
bukanlah selalu menadah tangan pada asing atau Jakarta--jika sudah tidak 
sanggup berdamai secara internal-- tetapi mencari energi dan spirit positif 
untuk mengatakan, bahwa kita sebagai sebuah etnik dan bangsa, harus mampu 
menyelesaikan masalah sendiri, dengan mengedepankan kepentingan warisan endatu, 
ketimbang ambisi pribadi untuk jangka pendek.

* Penulis adalah kontributor buku Kearifan Lokal di Laut Aceh.

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke