http://www.analisadaily.com/news/read/2011/09/21/13756/sebungkus_plastik_berarti_ancaman_bagi_wisata_alam/#.TnpjX9Tgl5g
Hari ini Pkl. 00:28 WIB Sebungkus Plastik Berarti Ancaman Bagi Wisata Alam Oleh : Lori Mora. panasnya kasus korupsi selama kurun waktu beberapa tahun ini di tanah air seakan-akan mengabaikan berbagai kasus yang lebih penting lainnya. Indonesia dengan berbagai kondisi yang terjadi tidak akan mungkin disebut sebagai bangsa yang hanya diam aman atau hanya diterpa kasus korupsi semata yang alih-alih sebagai intervensi politik si Amir (nama serapan) yang ingin mendadak kaya. Namun jauh dari itu, tanah air yang sedang terpuruk ini mengalami berbagai degradasi disegala aspeknya. Coba kita jawab, apa yang bisa kita lakukan bila pada akhirnya alam pun murka dan meluluhlantakkan seisi jagat raya ini? Tak ada yang mampu menghalangi amukan alam bila demikian harus terjadi. Contoh nyata yang telah dialami Indonesia pada akhir tahun 2006 adalah terjadinya Tsunami yang meluluhlantakkan kota Aceh yang disebut sebagai serambi mekkah itu, belum lagi diNias, banjir bandang di Wasihor, lumpur Lapindo, dan banjir disetiap daerah ketika musim penghujan dan lain sebagainya. Tak ada seorang pun yang memiliki kuasa untuk menghindari bencana tragis tersebut. Tidak juga manusia yang memiliki segudang harta benda dan emas permata. Tak ada pembedaan bila alam sudah bertindak. Bila kita telaah lebih lagi dan belajar lewat alam, fenomena yang sedang kita rasakan bersama merupakan tanda-tanda bumi pun sudah semakin menampakkan keausannya. Mari kita fokuskan juga kesadaran dengan lingkungan alam sekitar. Bukan berarti hal yang satu sangat penting dan yang lainnya terabaikan. Ancaman eksistensi bumi yang sudah semakin berusia ini, harusnya menjadi memo penting yang harus segera ditangani secara serius. Teori "KESADARAN" semata tidak akan mampu menggugah hati setiap individu. Oleh karena itu, menyimak bahwa bumi sedang dilanda global warming yang semakin menjadi-jadi dari waktu ke waktu ini, harusnya ditanggulangi sejak dini. Indonesia yang dijuluki sebagai paru-paru dunia ini, sesungguhnya memiliki peran besar dalam menjaga kelestarian alam. Keseimbangan antara kebutuhan manusia dan juga daya alam semesta sudah semakin berat sebelah. Entah Indonesia sangat merasa bangga dengan julukan itu, sehingga menganggap remeh dan lupa diri akan tugas dan tanggung jawab bersama dalam melestarikan alam. Bukti nyata yang dapat kita saksikan bahwasanya tingkat konsumsi bahan-bahan kebutuhan sehari-hari manusia hampir keseluruhan dikemas dalam bungkus-bungkus yang terbuat dari bahan plastik. Plastik merupakan salah satu bahan atau sampah yang bersifat anorganik - sampah yang tidak mudah membusuk, seperti plastik wadah pembungkus makanan, kertas, plastik mainan, botol dan gelas minuman, kaleng, kayu, dan sebagainya. Hal inilah yang menjadi salah satu faktor peningkatan global warming (pemanasan global). Dampak global warming ini lambat laun akan mengancam seluruh ekosistem yang ada di alam termasuk manusia. Sebagai contoh, Sumatera sejak kurun waktu 5 tahun terakhir ini, telah mengalami degradasi iklim, perubahan cuaca dan iklim yang tidak biasa dan tidak teratur, suhu global yang meningkat secara signifikan, dan fase musim yang berubah secara dramatis. Fenomena ini terasa sangat mengancam tatanan kehidupan sekitarnya, baik bagi para petani, pedagang, pengusaha dan masyarakat. Tampaknya memang sepele, tapi bila dibiarkan maka lambat laun manusia tidak lagi mampu bertahan hidup. Peranan Alam Sebagai Wisata Alam sebagai ekosistem mahluk hidup memberikan ruang yang lapang untuk berkembang biak dan hidup. Ditengah-tengah peranan yang besar itu pun, alam memberikan kebebasan penuh kepada manusia untuk mengambil hasil, membangun, dan menikmati keindahannya yang alamiah. Manusia tidak akan pernah hidup bila terlepas dari alam. Namun nyatanya tidak semua individu berfikir demikian. Mereka cenderung menganggap bahwa alam ada hanya untuk dinikmati dan dikuras kekayaannya. Beberapa waktu yang lalu ketika melakukan pendakian ke Gunung Sinabung yang terletak di kota Brastagi itu, tampak hal yang sangat ganjil disana. Objek wisata yang sangat banyak diminati masyarakat itu karena viewnya yang indah dan udara yang sejuk, kini tampak sangat menyedihkan. Pesona alamnya kini direnggut oleh tumpukan-tumpukan sampah yang menyebar dimana-mana. Alangkah lucunya bila salah satu wisata alam yang digemari itu akhirnya tercemari oleh ulah manusia yang memiliki nafsu konsumsi besar dan menumpuk sampah-sampah hasil konsumsinya itu disembarang tempat. Hal yang paling menggeramkan hati, ketika disepanjang jalan setapak yang selalu ditempuh oleh pendaki menuju puncak pun tercemari oleh tumpukan-tumpukan sampah yang kebanyakan adalah sampah anorganik seperti botol air mineral, plastik makanan, kertas rokok, serta sisa rokok yang dilempar di sepanjang jalan setapak itu. Selain mengurangi pesona keindahan hutan Sinabung, juga sangat merugikan hutan itu sendiri. Bayangkan apa akibat dari sebungkus plastik yang tertumpuk di sepanjang sisi jalan hutan itu? Hal itu menjadi ancaman bagi kelestarian hutan dan ekosistemnya. Alangkah bahayanya bila hal ini terus menerus terjadi. Sisa rokok yang hanya dilemparkan di sisi jalan setapak itu bisa jadi akan mengakibatkan kebakaran hutan, botol air mineral yang berseliweran dimana-mana akan mengurai dan kandungan emisi gas dan zat kimianya akan berdampak bagi tumbuhan dan kesuburan tanah. Teori alam pada dasarnya menyatakan bahwa manusia penyuka kebebasan alam akan sangat mencintai alam itu sendiri karena merupakan rumah yang paling teduh. Mungkin bagi orang-orang yang benar-benar mencintai alam teori itu benar adanya. Namun, betapa sulitnya menerima kondisi bahwa ternyata orang yang mencintai alam itu sendiri pun tidak memahami hakikat alam sebagai objek yang tersedia sembari dinikmati juga dipelihara. Alam Menjerit, Manusia Bersuka Ketika kegeraman yang saya rasakan kala itu semakin memuncak, teman-teman yang membuang sampah sembarangan pun menjadi sasaran empuk kemarahan itu. Jika tidak dimulai dari kita lalu siapa lagi yang harus kita tunggu untuk memulainya? Kesadaran terhadap kondisi yang saat ini dialami oleh hampir seluruh dunia sangat penting guna memberikan kontribusi yang nyata bagi alam. Kawar yang telah lama menjadi salah satu wisata favorite masyarakat Sumatera Utara, kini menjadi tempat penimbunan sampah-sampah anorganik yang tak terkoordinir. Sangat disayangkan bilamana orang-orang yang menikmatinya seperti mahasiswa-mahasiswi pecinta alam, pendaki, dan juga masyarakat penikmat alam pun tidak memeliharanya dengan baik. Bila kita renungkan lagu "Berita Kepada Kawan" oleh Ebiet G. Ade, "atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita coba kita bertanya kepada rumput yang bergoyang". Penggalan lirik lagu ini mengingatkan bahwa apa yang telah terjadi dan menimpa bumi pertiwi ini diakibatkan oleh ulah manusia. Ketika lambat laun wisata alam itu dibiarkan menjadi tempat penumpukan sampah maka kita tidak lagi dapat menikmati nikmat dan sejuknya semilir angin berhembus, segarnya udara yang kita hirup tanpa terinfeksi oleh polusi, dan rimbun hutan yang menghasilkan air bersih seperti produk Aqua. Sampah adalah salah satu kontributor besar bagi terbentuknya gas metan (CH4), karena aktivitas manusia sehari-hari. Pencemaran alam dengan sampah anorganik itu akan sangat mempengaruhi kehidupan yang akan datang. Sehingga sebungkus plastik akan sangat merugikan bagi wisata alam maupun hutan. Fungsi hutan adalah sebagai penyerap emisi gas rumah kaca. Karena hutan dapat mengubah CO2 menjadi O2. Sehingga perusakan hutan akan memberi kontribusi terhadap naiknya emisi gas rumah kaca. Ditengah kesenangan manusia menikmati alam dan menyumbangkan sebungkus plastik sembarangan di alam, sesungguhnya alam menjerit. Sehingga ketika kita ingin melihat seperti contoh, Kawar – Gunung Sinabung sebagai wisata alam harusnya dijaga dan dipelihara agar tidak sampai tercemari oleh emisi karbon yang mengancam ekosistem. Hal yang paling konkrit untuk dapat kita lakukan bersama demi menyelamatkan alam permai ini dari kerusakan diantaranya dilakukan dengan; menghentikan penebangan hutan dan mengadakan reboisasi, pengurangan pembelian barang yang terbuat dari plastik yang akan menghasilkan gas yang sangat berbahaya dan dapat mencemarkan lingkungan, serta berikan sosialisasi disetiap tempat wisata agar para pengunjung tidak membawa bahan-bahan yang terbuat dari plastik. Apabila beberapa langkah ini dapat dilakukan dengan baik, maka kita telah turut menjaga kelestarian dan menyelamatkan wisata alam dibumi pertiwi ini dari global warming. *** Penulis adalah Alumni Sastra Inggris Universitas Negeri Medan, Pecinta dan Pemerhati Alam serta Penggemar Jurnalistik. [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
