http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/article/setelah-ahmadiyah-giliran-syiah-didiskriminasi

  a.. 
 
 
Map 
Setelah Ahmadiyah, Giliran Syiah Didiskriminasi
Diterbitkan : 22 September 2011 - 2:12pm | Oleh yunita rovroy (Foto: 
james.gordon6108/Flickr) 
Diarsip dalam: 

Seratus tiga puluh warga Syiah di Nangkernang, Sampang, Madura, mengeluh 
didiskriminasi. Keluhan sudah diajukan sejak tahun 2006. Bagi aktivis HAM 
Andreas Harsono dan peneliti Australia, Tirana Hassan, ini merupakan cukup 
alasan untuk menyelidiki perkara tersebut.

Andreas dan Tirana tiba di Nangkernang hari Senin (18/09) pukul 12 siang. 
Mereka berbicara dengan warga setempat. Namun sorenya, datanglah lima orang 
petugas polisi, meminta kedua rekan ikut ke Polres Sampang. Mereka diinterogasi 
terkait alasan keamanan.

Kamis (22/09) koran the Jakarta Globe memberitakan peneliti Australia telah 
meninggalkan Indonesia, dari Surabaya. Ia diinterogasi di Polres Sampang karena 
tidak memiliki visa yang dibutuhkan. Dia tidak deportasi tapi bebas kembali ke 
Indonesia.

Pesantren dirusak
Andreas Harsono, yang kini kembali berada di Jakarta, menceritakan lebih jauh 
penelitiannya dan Tirana Hassan di Nangkernang. Seratus tiga puluh warga Syiah 
Nangkernang antara lain mengeluh tentang adanya pengajian-pengajian yang 
dianggap menyudutkan mereka. Selain itu mereka dihambat untuk membangun 
madrasah dan didemonstrasi.

Keadaan seperti ini mengakibatkan ustad warga Syiah ini terpaksa melarikan diri.

Namun keluhan terbesar adalah mereka merasa tidak aman. Setiap mau membangun 
pesantren, dirusak. Kejadian ini sudah mereka laporkan, namun respon dari pihak 
pemerintah dianggap kurang memadai.

"Sejak Agustus kemarin, ustad mereka, namanya Tajul Muluk, terpaksa pindah 
sementara dari Sampang, karena alasan keamanan," demikian Andreas Harsono.

Menurut aktivis HAM, kasus ini tidak hanya terkait masalah agama, namun juga 
ada masalah keluarga.

Masalah keluarga
Ustad Tajul, berasal dari warga Syiah. Ayahnya orang Syiah. Adiknya juga ustad. 
Karena adanya masalah pribadi antara kakak beradik ini, si adik keluar dari 
Syiah. Ini yang ikut meramaikan persoalan-persoalan yang ada di kampung 
tersebut.

Menurut Andreas ini bukan sekedar persoalan Syiah-Suni. Di tempat lain di 
Madura tidak ada masalah apa-apa. Di banyak tempat di Indonesia masalah 
Syiah-Suni tidak serius. "Itu membuat kami datang ke situ, mau menyelidiki 
bagaimana duduk perkara sebenarnya, termasuk rencana mau bertemu dengan aparat 
pemerintah, maupun polisi."

Tapi sebelum bisa melakukan semua itu, Andreas dan Tirana didatangi lima 
petugas polisi dan diminta datang ke pihak kepolisian.

Menurut Andreas Harsono, masalah ini harus diperhatikan dengan lebih serius 
oleh pemerintah Indonesia, karena ada 130 warga yang mengeluh. "Keluhan mereka 
itu substansial."

Wawancara dengan Andreas Harsono
Favorit/Cari dengan:

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke