http://www.jambiekspres.co.id/opini/20658-bahaya-politik-biaya-tinggi.html
      Rabu, 14 September 2011 10:08 
      Bahaya Politik Biaya Tinggi  
      Oleh: SAFRUDIN DWI APRIYANTO


      SALAH satu poin revisi Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang 
Pemerintahan Daerah- yang telah disampaikan oleh pemerintah kepada DPR RI 
adalah- soal metode pemilihan kepala daerah. Dalam RUU tersebut, termuat bahwa 
pemilihan gubernur akan dikembalikan kepada DPRD. 
      Usulan tersebut langsung menuai kontroversi, ada pihak yang mendukung dan 
ada pula pihak yang menolak- tentu dengan argumentasinya masing-masing. Salah 
satu pertimbangan Pemerintah memasukkan opsi tersebut adalah- demi efektifitas 
dan efisiensi biaya. Sementara, pihak yang menolak- menganggap bahwa 
mengembalikan pemilihan gubernur kepada DPRD, berarti menciderai dan sekaligus 
melunturkan semangat demokrasi yang tengah dibangun selama ini.

      Tulisan ini tidak bermaksud membahas pro-kontra tentang metode pemilihan 
kepala daerah, melainkan lebih pada sebuah kontemplasi bagi kita semua- yang 
selama ini tentu mendambakan dan mengimpikan sebuah perbaikan dan perubahan 
dalam konteks kehidupan berdemokrasi. Jika kita melakukan evaluasi terhadap 
perjalanan otonomi daerah yang telah berusia kurang lebih 10 tahun, khususnya 
dalam hajatan pemilihan kepala daerah, tidak dapat dipungkiri bahwa proses 
pemilihan bupati/walikota maupun pemilihan gubernur- telah melahirkan fenomena 
baru- yang kemudian berkembang menjadi semacam tradisi, yakni: politik biaya 
tinggi (high cost politics).

      Komisi Pemilihan Umum (KPU) menghitung, biaya penyelenggaraan pemilihan 
umum kepala daerah 2010-2014 mencapai Rp 15 triliun. Fenomena mahalnya biaya 
politik dalam pemilukada ini memperlihatkan demokrasi di Indonesia masih 
materialistis, belum substansial. Salah satu anggota KPU, I Gusti Putu Artha, 
mengemukakan, ada lima komponen biaya pemilukada. Kelima komponen itu dilihat 
dari pengeluaran KPU, Panitia Pengawas Pemilu, kepolisian, calon kepala daerah, 
dan tim kampanye (Kompas, 24 Juli 2010). Besaran anggaran tersebut- tentu belum 
termasuk nominal yang dikeluarkan oleh para pasangan calon yang mengikuti 
pemilukada Berapa dana yang dikeluarkan oleh pasangan calon untuk mengikuti 
pemilukada? Tentu jawabnya relatif. 

      Dari kalkulasi sederhana terhadap beberapa item yang diperlukan dalam 
proses pemilukada, untuk pemilihan bupati/walikota- dana yang harus dikeluarkan 
oleh pasangan calon- tidak kurang dari 5 miliar, sementara untuk pemilihan 
gubernur- anggarannya tidak kurang dari 20 miliar. 

      Angka tersebut adalah standar minimal. Tradisi politik biaya tinggi 
inilah yang kemudian memunculkan paradoks dalam penyelenggaraan pemerintahan 
daerah- sebagaimana disampaikan Mendagri Gamawan Fauzi. Untuk menjadi seorang 
kepala daerah dibutuhkan uang miliaran rupiah, setelah menjadi kepala daerah 
dituntut untuk menciptakan pemerintahan yang bersih. Gamawan mengatakan, gaji 
gubernur sebesar Rp 8,7 juta per bulan, sedangkan gaji bupati sebesar Rp 6,2 
juta. ”Kalau menjadi seorang gubernur membutuhkan uang Rp 20 miliar, dengan 
gaji gubernur itu, butuh waktu berapa lama untuk mengembalikan uang Rp 20 
miliar itu?” (Kompas, 22 Juli 2011). 

      Pertanyaan tersebut terkesan sederhana, namun sebetulnya cukup rasional. 
Boleh jadi- hari ini masih ada calon yang memiliki niat ikhlas dan motivasi 
luhur untuk mengabdi pada negeri- yang tidak mengharapkan imbalan dari sisi 
materi.

      Tetapi realitas yang terjadi di lapangan- justru mengatakan kondisi yang 
sebaliknya. Cukup banyak kepala daerah yang justru terobsesi untuk 
mengembalikan investasi yang telah ia keluarkan pada saat pemilukada. 

      Disamping untuk dirinya, juga untuk para pihak yang selama ini turut 
berkontribusi pada pembiayaan pemilukada, atau yang sering dikenal sebagai 
donatur. Prosesi pengembalian investasi (return of investment) seakan menjadi 
sebuah kemestian- karena dalam politik, ada istilah yang cukup familiar: “tidak 
ada makan siang gratis”, artinya investasi dengan segenap dinamikanya harus 
diperhitungkan setelah kemenangan diraih.

      Pertanyaan yang kemudian perlu dimunculkan adalah: apa yang bisa kita 
harapkan dari pemilukada yang diiringi dengan model politik biaya tinggi 
seperti itu? akankah lahir dari proses ini- para pemimpin/kepala daerah yang 
peduli dan punya komitmen kuat untuk mensejahterakan masyarakatnya- sebagaimana 
yang telah ia sampaikan saat kampanye dan juga tertuang dalam visi misinya? 
Wallahu a’lam. Yang jelas, politik biaya tinggi yang menyertai di setiap 
momentum pemilukada, diyakini telah semakin menyuburkan praktek korupsi di 
negeri ini. 

      Sejak diberlakukannya pemilukada secara langsung tahun 2005, hanya 5 dari 
33 provinsi yang kepala daerahnya tidak terjerat perkara hukum. Ada 155 kepala 
daerah yang tersangkut masalah hukum, 138 orang Bupati/Walikota, dan 17 orang 
gubernur. Hampir setiap pekan, seorang kepala daerah ditetapkan sebagai 
tersangka (Kompas 18 Januari 2011) Politik biaya tinggi telah membuat kepala 
daerah terpilih mengalami dis-orientasi kekuasaan. 

      Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang seyogyanya disusun dan 
digunakan sebagai instrumen untuk membuat masyarakat sejahtera, justru tergadai 
untuk pengembalian investasi dari berbagai pihak- yang berkepentingan.

      Seorang kepala daerah yang terjebak pada pusaran politik biaya tinggi, 
akan kehilangan fokus dalam bekerja, lebih-lebih pada urusan yang menyangkut 
kepentingan masyarakat. Biasanya pada tahun I dan II periode pemerintahannya, 
ia sibuk pada soal return of investment, lalu tahun II dan III, ia sibuk 
mempersiapkan diri maju di pemilukada berikutnya dan pada tahun V, sudah sibuk 
sosialisasi ke masyarakat.

      Politik biaya tinggi telah mengaburkan niat mulia bernama pengabdian. 
Visi dan misi yang selama ini disosialisasikan seolah kehilangan makna, menjadi 
hampa, dan akhirnya hanya sebatas retorika. 

      Dalam konteks ini, yang menjadi korban tidak lain dan tidak bukan adalah 
masyarakat. Mahalnya biaya pendidikan dan biaya berobat; lambat dan 
berbelit-belitnya urusan perizinan; kerusakan infra-struktur yang tak kunjung 
diperbaiki; adanya proyek-proyek fisik yang fiktif; sulitnya mendapat akses 
permodalan bagi pelaku usaha kecil, adalah potret persoalan yang kerap muncul 
akibat dis-orientasi yang terjadi pada kepala daerah.

      Guna perbaikan kualitas kehidupan demokrasi ke depan, praktek politik 
biaya tinggi ini harus segera diakhiri- sebab ia telah merusak karakter 
masyarakat. Seluruh elemen, apakah itu Partai Politik, Akademisi, LSM, dan 
teman-teman mahasiswa harus ikut berperan dalam melakukan proses edukasi 
politik kepada masyarakat. 

      Ini menjadi agenda penting dan mendesak- agar masyarakat kemudian menjadi 
cerdas dan tidak selalu menjadi korban pembodohan politik, yang dilakukan oleh 
mereka yang haus kekuasaan. 

      Kita ingin ke depan masyarakat akan semakin rasional dalam menggunakan 
hak-haknya, termasuk pada saat pemilihan umum. Kita perlu yakinkan kepada 
mereka- bahwa pemilu dengan model politik biaya tinggi- seperti yang terjadi 
saat ini, tidak akan melahirkan pemimpin yang memiliki integritas, melainkan 
pemimpin dengan tipe transaksional yang berpikir dan bekerja dalam perspektif 
“untung-rugi”. Wallahu a’lam bish shawab (*)


      Penulis Anggota DPRD Kota Jambi
     


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke