Tulisan ini juga disajikan dalam website http://umarsaid.free.fr/

yang sampai sekarang sudah dikunjungi   763  500 kali

===              =====                ====                   ======

Buku « Memecah pembisuan» Tentang

Peristiwa G30S tahun 1965



Tulisan ini bukanlah resensi buku. Melainkan seruan atau anjuran kepada
orang-orang yang mempunyai hati nurani dan berperkemanusiaan, atau yang
masih sehat jiwanya dan benar nalarnya, untuk berusaha  - dengan segala
cara –membaca isi buku “Memecah pembisuan”.



Buku “Memecah pembisuan” merupakan kumpulan sebagian kecil sekali (!!!)
dari jutaan kisah dari para korban pembunuhan massal, pemenjaraan
sewenang-wenang, penahanan dan penyiksaan, pembuangan ke pulau Buru dan
Nusakambangan, perkosaan terhadap ibu-ibu dan gadis yang ditangkap, dan
seribu satu macam penderitaan pahit lainnya.



Mereka itu terdiri 15 “orang-orang biasa” , yang karena berbagai tuduhan
(berdasar atau sama sekali  tidak berdasar ) telah ditahan sewenang-wenang,
antara lain di Medan, Palu, Kendari, Yogyakarta, Jakarta, Bali, Kupang,
Pulau Seribu.



Kisah-kisah nyata yang harus diketahui seluruh bangsa


Kisah-kisah nyata dari peristiwa pelanggaran HAM dalam 1965-1966 adalah
khazanah besar berharga bangsa kita, yang perlu diketahui secara
seluas-luasnya oleh rakyat Indonesia, termasuk oleh generasi-generasi kita
di kemudian hari.



Kisah-kisah  nyata ini, yang selama puluhan tahun rejim Orde Baru
ditutup-tutupi, atau dilarang untuk diketahui oleh masyarakat, sekarang
perlu disebarluaskan, dengan berbagai jalan, bentuk dan cara,  untuk
diabadikan, supaya tidak hilang ditelan jaman.



Hanya dari 15 kisah nyata ini saja, kita semua sudah dapat merasakan serba
sedikit betapa pedihnya, betapa sadisnya, betapa tidak manusiawinya, dan
betapa biadabnya berbagai praktek militer di bawah Suharto  terhadap puluhan
juta orang-orang kiri pendukung politik Bung Karno dan simpatisan PKI.



Kalau hanya dengan membaca  beberapa bagian isi buku “Memecah pembisuan”
saja, ada orang-orang  yang merasa terharu  (atau marah) atas penderitaan 15
orang akibat perlakuan yang begitu biadab oleh militer Suharto, maka tidak
bisa dibayangkan lagi bagaimana  perasaan banyak orang kalau ada jutaan
kisah-kisah nyata lainnya tersiar juga secara luas.



Kisah-kisah nyata tentang pelanggaran HAM  dalam tahun 1965-1966 adalah
bukti yang tak terbantahkan bahwa militer (tidak semuanya !) di bawah
Suharto dkk telah melakukan banyak kejahatan-kejahatan secara besar-besaran,
meluas, atau menyeluruh terhadap bangsanya sendiri, di seluruh Indonesia.



Kisah-kisah nyata yang tidak boleh ditutup-tutupi


Sebagian dari kejahatan-kejahatan besar yang dilakukan dalam tahun 1965-1966
itu telah dilanjutkan – dalam berbagai skala dan cara -- terus-menerus
selama 32 tahun Orde Baru, yang dilanjutkan oleh pemerintahan-pemerintahan
berikutnya, sampai sekarang !!!



Itu semua menunjukkan bahwa kisah-kisah nyata tentang pelanggaran HAM dalam
peristiwa G30S merupakan kekayaan berharga dan bersejarah yang tidak boleh
dilupakan oleh bangsa kita, apalagi ditutup-tutupi atau disembunyikan, apa
pun alasannya.



Memang, sejak rejim militer Suharo sudah dipaksa turun dari kekuasaan
diktatorialnya, maka sudah mulai banyak buku dan tulisan dalam media tentang
berbagai cerita tentang pembunuhan massal terhadap jutaan orang tidak
bersalah atau pemenjaraan ratusan ribu tapol, dan pemisahan begitu banyak
orang dari anggota keluarga yang mereka cintai.



Namun, apa yang sudah dibukukan atau disiarkan selama ini dalam berbagai
media itu sungguh amat kecil, atau amat sedikit, dibandingkan dengan
besarnya atau luasnya (dan biadabnya !!!) kejahatan-kejahatan yang telah
dialami oleh puluhan juta orang di seluruh negeri.



Padahal, tragedi lautan darah dan air mata  serta derita yang begitu hebat
menyengsarakan puluhan juta warganegara (harap catat baik-baik : yang tidak
bersalah apa-apa !!!) pantas sekali untuk menjadi pengalaman dan pelajaran
yang berharga sekali bagi seluruh bangsa.



Inisiatif yang harus dilanjutkan dan dikembangkan terus


Itulah sebabnya, maka terbitnya buku ”Memecah pembisuan” yang mengangkat
cerita 15  korban pelanggaran HAM 65 merupakan langkah penting dan sumbangan
yang amat besar artinya bagi pendidikan politik dan moral  bangsa.



Terbitnya buku-buku yang sejenis dan sejiwa dengan “Memecah pembisuan”
adalah salah satu cara perjuangan untuk melawan segala macam politik Orde
Baru atau pemerintahan-pemerintahan sejenisnya di kemudian hari. Tragedi
besar, yang menyebabkan begitu banyak korban dan banyak penderitaan ini
tidak boleh terjadi lagi, untuk selama-lamanya !!!



Oleh karena itu, kiranya adalah perlu  sekali bahwa inisiatif yang serupa
(atau searah)  dengannya juga dilancarkan oleh sebanyak mugkin kalangan dan
golongan masyarakat, dan terutama sekali oleh kalangan para korban peristiwa
65, dengan bantuan sukarela dari semua orang yang menaruh simpati kepada
para korban Orde Baru.



Karena pada umumnya para korban peristiwa 65 sudah lajut usia, dan kehidupan
mereka juga tidak mencukupi dan banyak yang sakitan, maka mengharapkan dari
mereka adanya tulisan-tulisan adalah suatu hal yang sulit.  Padahal, justru
dari mereka itulah  (yang jumlahnya jutaan) bisa didapat kisah-kisah  nyata,
yang otentik, yang menarik, sebagai kesaksian sejarah.



Namun, dengan pengalaman “Memecah pembisuan” yang berhasil mengangkat
pengalaman 15 narasumber dengan cara wawancara dan kemudian dituangkan
kembali oleh team, maka akhirnya bisa berhasil diperoleh sumbangan yang
berupa buku yang menarik itu.



Penggalian kisah-kisah nyata yang makin mendesak


Kita bisa menduga bahwa ada  ribuan, bahkan ratusan ribu (!!!) , kisah nyata
tentang peristiwa 65 yang masih tersimpan dalam hati banyak orang dan
karenanya tidak diketahui oleh masyarakat luas. Karena para korban peristiwa
65 itu umumnya sudah lanjut usia,dan banyak yang sudah wafat atau akan
segera wafat, maka penggalian kisah-kisah mereka itu sudah mendesak, sangat
mendesak!!! Kalau tidak, maka kita akan kehilangan satu kekayaan yang begitu
berharga itu.



Karena itu,  alangkah baiknya bagi bangsa kita seluruhnya, kalau langkah
penting yang sudah diayunkan oleh Lembaga Kreativitas Kemanusiaan (LKK)
bersama International Center for Transitional Justice dan Tifa Foundation
dengan menerbitkan “Memecah pembisuan” itu bisa diteruskan dan dikembangkan
lebih luas lagi oleh berbagai kalangan , termasuk LSM dan bermacam-macam
organisasi kemasyarakatan lainnya, di seluruh Indonesia.



Sebab, mengenang kembali peristiwa pelanggaran HAM besar-besaran (yaitu
pembunuhan massal jutaan orang tidak bersalah dan pemenjaraan
sewenang-wenang ratusan ribu orang-orang kiri dan pendukung Bung Karno)
adalah diperlukan sekali untuk kebaikan bangsa dan generasi yang akan
datang.



Dan mengutuk atau menghujat Suharto dkk adalah tindakan yang sah, sikap
politik yang benar, dan sikap moral yang mulia. Sebaliknya tidak mengutuk
segala kejahatan Orde Baru yang begitu banyak dan selama begitu panjang
waktunya adalah sikap politik yang keliru atau sesat dan sikap moral yang
membusuk.



Oleh karena itu segala karya  -- oleh siapa saja, dan dari kalangan yang
mana saja – yang mengangkat kisah-kisah nyata dan otentik para korban
peristiwa 65 adalah  sumbangan berharga sekali bagi pendidikan politik dan
moral banyak orang.



Para korban 65 tidak perlu takut-takut lagi



Dan kepada para korban beserta keluarga atau sanak-saudara mereka perlu
disampaikan bahwa mereka tidak perlu takut-takut lagi sekarang ini untuk
bersuara atau membuka kisah-kisah nyata mereka sebagai korban pelanggaran
HAM yang begitu hebat, begitu luas, begitu lama, dan begitu tidak manusiawi
itu.



Sekarang ini, para korban peristiwa 65 juga tidak  perlu malu-malu lagi
(kepada siapa pun !) bahwa mereka pernah diperlakukan tidak manusiawi oleh
pemerintahan Orde Baru, umpamanya dicap sebagai anggota  atau simpatisan
PKI, dijadikan korban politik “bersih lingkungan”, atau diperlakukan sebagai
sampah masyarakat.



Sekarang ini, sudah mulai datang saatnya bagi para korban peristiwa 65 untuk
justru bertindak sebagai penuduh terhadap pendukung-pendukung Suharto
sebagai orang yang di fihak yang salah dan berdosa.



Perkembangan opini publik di negeri kita sekarang sudah menunjukkan bahwa
kubu Suharto dkk dengan Orde Barunya mulai makin dipandang negatif sekali.
Dalam hal pelanggaran HAM tahun 1965 kubu Suharto (baca : militer dan
Golkar, terutama) mereka adalah defensif atau tidak berani berkoar-koar lagi
mengumbar omongkosong dan fitnah bahwa para korban adalah orang-orang yang
bersalah dan berbahaya bagi bangsa dan negara.



Para korban peristiwa 65, yang jumlahnya jutaan (bahkan puluhan juta kalau
dihitung dengan para keluarga mereka) sekarang bisa mengatakan dengan
lantang, tegas, dan jelas-jelas : “Kami tidak bersalah apa-apa sama sekali,
yang salah besar dan amat jahat dan juga sangat berdosa  adalah kalian !!!”.



Atau begini :”Kami bukan pengkhianat Republik Indonesia, melainkan kami
adalah pendukung Pemimpin Besar Revolusi, yaitu  Bung Karno. Suhartolah yang
pengkhianat, terhadap Bung Karno dan terhadap revolusi dan cita-cita
proklamasi 17 Agustus 45 !”



Paris, 24 September 2011



  1.. Umar Said


Catatan tambahan :

Nama buku : Memecah pembisuan

Penerbit : Lembaga Kreatifitas  Kemanusiaan (LKK)

Editor / Putu Oka Sukanta

Tebal : 315 halaman



* * *












































[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke