Refl: Selama ini SBY berlagak pilon terhadap penyerangan-penyerangan yang dilakukan kepada kaum minoritas, Hal ini dapat dimengerti, karena beliau adalah satu sponsor Laskar Jahat ke Sulawesi Tengah (Poso) dan Maluku. Jadi sekarang pertanyaannya ialah: Apakah SBY serius mengutuk ataukah hanya sekadar menghembus suara?
http://www.gatra.com/nasional-cp/1-nasional/2901-presiden-kutuk-teroris-di-gbis-solo Serangan Bom Menuai Kutukan Minggu, 25 September 2011 23:59 SBY kutuk aksi bom Solo [ANTARA/Widodo S . Jus Seorang lelaki berperawakan sedang memasuki pintu samping Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) Kepunton, Tegalharjo, Jebres, Solo. Jemaat gereja itu baru saja selesai melaksanakan misa. Saat paduan suara tengah menyanyikan lagu pengantar kepulangan jemaat pada kebaktian sesi kedua itu, tiba-tiba... blaaar! Suara keras menggema di dalam gereja yang dipenuhi jemaat itu. Sumber ledakan dari pintu utama, tempat seorang pria tergeletak dengan perut terkoyak. Tewas seketika. Sebanyak 19 orang dilaporkan terluka dan dua meninggal dunia, dalam serangan bom bunuh diri di Minggu pagi (25/9), pukul 10.55 WIB itu. Seorang jemaat gereja, yang merupakan pelajar putri dari Mojosongo, Solo, meninggal di rumah sakit akibat tertembus mur pada bagian kepala. Sedangkan korban luka dirawat di Rumah Sakit Dr. Oen Kandang Sapi, sekitar dua kilometer dari tempat kejadian. Mereka mengalami luka terkena serpihan material bom, seperti paku dan mur. Merespon serangan bom yang diduga kuat masih berkaitan dengan teror bom saat shalat jumat di masjid Mapolresta Cirebon, enam bulan lalu itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, segera menggelar jumpa pers di Kantor Presiden, Jakarta, Minggu malam. Yudhoyono, yang didampingi Wakil Presiden Boediono dan Menko Politik Hukum dan Keamanan Djoko Suyanto, mengutuk keras aksi serangan teroris di Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) Kepunton, Solo, itu sebagai suatu kejahatan luar biasa. "Atas nama negara dan pemerintah saya mengutuk keras atas aksi terorisme kejahatan luar biasa yang bersifat tanpa pandang bulu ini yang terjadi lagi di negeri kita," katanya. Ia menyatakan keprihatinannya bagi para korban yang luka, dan rasa dukanya yang mendalam pada korban yang meninggal. Ia juga menjanjikan bantuan pengobatan dan perawatan para korban hingga sembuh. Pada kesempatan itu, presiden menginstruksikan aparat intelijen, Polri, dan komando teritorial untuk aktif melakukan pencegahan aksi terorisme dan konflik kekerasan antar-komunal. "Bertindak preventif itu bukan hal represif. .. karena semua bisa dipertanggungjawabkan," tegasnya. Presiden menegaskan, siapa pun pelaku aksi teroris atau kekerasan antar-komunal, tanpa memandang agama dan etnisnya, akan ditindak secara adil sesuai hukum yang berlaku. "Saya berharap penegak hukum tidak perlu takut apa yang saya sebutkan tadi. Karena kejahatan tidak terkait dengan agama dan etnis, kejahatan adalah kejahatan, terorisme adalah terorisme," tegasnya. Kepada masyarakat, presiden mengharapkan tetap menjalankan kehidupan secara normal tanpa perlu ada kecemasan dan ketakutan berlebihan. "Mari kita bekerja sama dan berkolaborasi mencegah kekerasan-kekerasan itu dengan cara berpartisipasi dan berkontribusi," ujarnya. Di saat hampir bersamaan dengan pernyataan presiden itu, tiga tokoh lintas agama, masing-masing dari Gerakan Pemuda (GP) Anshor, Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI), dan Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI), melakukan jumpa pers untuk menghimbau umat beragama di Indonesia agar tidak terprovokasi merespon serangan bom bunuh diri di Minggu pagi tersebut. "Kami imbau agar umat beragama di Indonesia tidak terprovokasi agar peristiwa ini jangan sampai merembet ke tempat lain," kata Ketua Umum GP Anshor, H. Nusron Wahid, di Jakarta, Minggu petang, dalam jumpa pers bersama dengan PGI dan KWI di Gedung GP Anshor, Kramat Raya Jakarta. Menurut Nusron, sangat penting aparat khususnya Detasemen Khusus (Densus) 88 untuk memberikan edukasi kepada masyarakat termasuk penyuluhan pentingnya tanda-tanda radikalisasi agama. "Kita tidak boleh berhenti tapi harus aktif memberikan penyuluhan pentingnya ajaran agama yang benar jangan sampai terprovokasi teror yang mengatasnamakan instrumen agama," katanya. Ia mengimbau agar aparat intelijen tidak boleh memonopoli informasi tetapi harus terbuka secara transparan kepada publik. "Sebaliknya intelijen juga harus mau terima informasi terutama yang terkena dampak kalau ada kejadian seperti ini," katanya. Aksi serangan bom ini tidak serta-merta terjadi, di belakang itu semua hampir pasti ada rentetan panjang peristiwa yang terjadi sebelumnya. Karena itulah, aparat keamanan dan intelijen harus proaktif merespon setiap gerakan yang mengarah kepada tindak terorisme. Agar kejadian ini tidak terulang dan terulang lagi. [TMA, Ant] [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
