Refl: Apa yang DPRD bisa lakukan? Bukankah mereka itu tergantung kepada DPR 
pusat, mereka hanya nama saja semua keputusan penting harus mendapat 
persetujuan dari partai induk dan DPR induk dan juga menteri yang bersangkutan 
dengan masalah. Menteri juga kuatir kalau fulus pelicinan tidak akan diberikan. 
Serba susah bagi kaum pekerja di bawa kekuasaan kleptokrasi NKRI.
http://www.sinarharapan.co.id/content/read/mengadu-ke-dpr-papua-karyawan-pt-freeport-yang-mogok-kerja-diintimidasi/
27.09.2011 11:24

Mengadu ke DPR Papua, Karyawan PT Freeport yang Mogok Kerja Diintimidasi 
Penulis : Odeodata H Julia 

 (foto:dok/antaranews.com)
JAYAPURA - Aksi mogok kerja ribuan karyawan PT Freeport Indonesia yang menuntut 
peningkatan kesejahteraan sampai saat ini masih terus berlangsung. Para 
karyawan ini memusatkan aksi di Mile 32 pintu masuk Kuala Kencana, yakni di 
areal Manajemen Freeport Timika, Papua.

Namun aksi mogok kerja yang berlangsung sejak Kamis (15/9) tersebut berbuntut 
intimidasi oleh pihak security perusahaan dan aparat keamanan. 

"Belakangan ini karyawan yang mogok kerja mendapat teror, baik psikis maupun 
nonpsikis, dari security perusahaan dan aparat keamanan,’’ ujar Frans Wonmaly, 
pengurus Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) PT Freeport pimpinan Sudiro 
kepada wartawan di ruang Komisi A DPR Papua. 

Kedatangan Frans bersama dua rekannya, Herbert Yonas dan Fredrik Kawer, adalah 
untuk mengadukan persoalan mereka ke Komisi A DPR Papua, di Jayapura, Senin 
(26/9). Frans mengatakan, bentuk intimidasi yang dilakukan manajemen Freeport 
terhadap karyawan yang melakukan aksi mogok kerja, yaitu dengan cara mengusir 
dari Tembagapura untuk turun ke Timika.

“Kami pengurus Serikat Pekerja diusir ke luar areal tambang oleh petugas 
keamanan perusahaan. Manajemen juga menggunakan alasan proses maintenance bagi 
sebagian karyawan subkontraktor, agar bisa dimanfaatkan dengan cara memberikan 
latihan kilat, untuk menggantikan kerja karyawan yang mogok kerja,” jelasnya.

Sementara bentuk intimidasi yang dilakukan aparat keamanan lebih halus, yakni 
dengan cara menyampaikan pesan-pesan. “Aparat keamanan menyampaikan pesan halus 
dari manajemen, bahwa karyawam yang mogok seyogianya mengingat anak istri, 
karena dengan tidak kerja maka tidak akan mendapat upah,” tuturnya.

Frans mengatakan, ribuan karyawan yang tergabung dalam SPSI PT Freeport 
pimpinan Sudiro akan terus mogok kerja, hingga manajemen memenuhi tuntutan 
peningkatan kesejahteraan, karena sebagai pekerja mereka sudah tahu berapa 
produksi yang dihasilkan perusahaan, sangat jauh dari standar gaji yang mereka 
terima.

“Kami ingin pemilik perusahaan, yakni James Moffet, hadir mendengar aspirasi 
karyawan, karena manajemen saat ini dibawah pimpinan Armando Gahler sudah tidak 
dipercaya karyawan,’’ tegasnya.

Soal pernyataan Presdir Freeport Armando Gahler, bahwa karyawan akan kehilangan 
Rp 570.000 per hari bila mogok kerja, Frans menjelaskan, upah mereka sangat 
minim dan jauh dari yang dikatakan manajemen. Ini karena di Freeport para 
karyawan digaji sesuai dengan masa tugas.

“Saya sudah grade 3 hanya menerima Rp 7 juta per bulan. Tapi kalau saya cuti, 
saya bisa hanya dapat sekitar Rp 3 jutaan saja. Namun manajemen selalu 
menyatakan ke pihak luar gaji kami Rp 17 jutaan per bulannya,’’ ujarnya.

Ia berharap pemerintah daerah dan DPR Papua memfasilitasi karyawan dengan 
manajemen, guna mengakomodasi tuntutan peningkatan kesejahteraan. 

Sementara itu, Wakil Ketua I DPR Papua Yunus Wonda mengatakan, solusi masalah 
Freeport hanya bisa diselesaikan apabila PT Freeport Indonesia meminta 
kehadiran James, sebab hal ini menyangkut kesejahteraan mereka.

Secara tegas Yunus mengatakan, kehadiran Freeport selama puluhan tahun di Papua 
sama sekali tidak membawa keuntungan untuk orang Papua. Tetapi yang ada hanya 
membuat masalah dan menciptakan konflik sampai mengeluarkan darah dan air mata. 
"Orang Papua tidak bangga dengan Freeport. Soal dana 1 persen bagi tujuh suku 
asli, hal itu bukan jaminan," ujarnya.

Ketua Komisi A DPR Papua Ruben Magai menegaskan, pihaknya meminta aparat 
keamanan untuk tidak mengintimidasi para karyawan yang mogok kerja. Menuntut 
peningkatan kesejahteraan adalah hak karyawan, sehingga sebaiknya aparat 
bekerja sesuai fungsinya, jangan lagi mengintimidasi. 

DPR Papua akan berupaya memanggil manajemen Freeport untuk meminta penjelasan 
terkait tuntutan karyawan. “Kami di legislatif akan memanggil pihak perusahaan, 
mempertanyakan kenapa proses perundingan buntu,’’ ujarnya. 


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke