http://www.sinarharapan.co.id/content/read/buku-yang-tegaskan-islam-tidak-monolitik/
24.09.2011 12:01

Buku yang Tegaskan Islam Tidak Monolitik
Penulis : Mark Scheel* 

 (foto:dok/ist)
Bagi banyak orang non-muslim, tahu kalau Islam bukanlah agama monolitik boleh 
jadi mengejutkan. Ini karena praktik dan amalan Islam bisa saja, dan memang, 
berbeda antara satu tempat dengan tempat lainnya, atau antara satu kelompok 
dengan kelompok lain.

Berita-berita utama di media arus utama, terlebih di negara-negara Barat, pun 
cenderung menekankan sisi yang represif dan tidak menyenangkan yang dinisbatkan 
pada kelompok minoritas tertentu. Ini justru mengabaikan banyak sisi positif 
dalam mayoritas muslim arus utama. 

Sebuah buku baru, Islam Without Extremes: A Moslem Case for Liberty yang 
digarap oleh jurnalis Turki, Mustafa Akyol, akan membantu meluruskan banyak 
miskonsepsi itu, dengan berfokus pada persepsi keliru bahwa Islam itu memang 
agama otoriter yang hanya punya sedikit ruang bagi kebebasan individu. 

Karya ini melacak akar-akar liberalisme dalam Islam klasik, dan mengkritik 
berbagai hukum serta sikap opresif dalam Islam, seperti pelarangan murtad atau 
penistaan agama, yang menurut penulis didasarkan pada tradisi dan bukan pada 
wahyu.

Akyol memulai dengan tinjauan historis dan teologis tentang perkembangan Islam 
selama berabad-abad. Ia juga memperlihatkan bahwa pesan inti Islam, yakni 
monoteisme, menyelamatkan individu dari “ikatan suku”.

Dengan kata lain, hidup ala Islam itu didasari oleh gagasan hebat bahwa 
individu bertanggung jawab kepada Tuhan, dan hanya Tuhan semata.

Akyol kemudian menerangkan bagaimana pesan Islam ini mendorong kebebasan di 
Timur Tengah zaman pertengahan, seperti tampak dalam prinsip-prinsip hukum 
Islam (di mana hukum Islam menegakkan kedaulatan hukum, bukan kedaulatan 
penguasa). 

Namun, perdebatan seputar kebebasan memicu konflik serius dalam Islam era 
pertengahan, yang menghasilkan perselisihan doktrinal dalam Islam, seperti 
antara kaum tradisionalis dan kaum rasionalis.

Akyol bahkan membeberkan bagaimana faktor-faktor nonkeagamaan, seperti kondisi 
geografis Timur Tengah, juga bermain dalam “perang gagasan" abad pertengahan 
ini, dan mendukung mazhab teologi yang kurang rasional dan lebih menindas.

Buku ini juga menggunakan berbagai contoh dari pembaruan Kekhilafahan Utsmani 
dan evolusi politik di Turki modern untuk memberi gambaran tentang praktik 
Islam masa sekarang, dan bagaimana masyarakat Turki saat ini. 

Kalangan “borjuis Islam”, khususnya, yang tengah mengembangkan pandangan 
liberal dalam politik dan ekonomi yang bisa menjadi sebuah inspirasi bagi dunia 
muslim zaman sekarang.

Visi ke Depan

Akhirnya, Akyol menawarkan sebuah visi masa depan yang mengemukakan cara untuk 
mengenyahkan tafsir otoriter atas Islam dan mendukung akomodasi pluralistik di 
dalam maupun di luar Islam, termasuk dalam tulisan-tulisan yang judulnya tampak 
kontroversial, seperti Freedom from The State (Kebebasan dari Negara), Freedom 
to Sin (Kebebasan untuk Berdosa), dan Freedom from Islam (Kebebasan dari 
Islam). 

Sepanjang buku ini, acuan Akyol adalah Alquran. Meski ia menghargai hadis, 
sumber kedua Islam, ia memandang perlunya revisi kritis atas literatur hadis, 
yang menurutnya kurang bisa dijadikan sandaran, tidak seperti pandangan 
kalangan tradisional.

Ia menunjukkan bahwa sisi-sisi paling kontroversial hukum Islam—dari rajam 
hingga pelarangan murtad atau perilaku maksiat—berasal dari hadis dan bukan 
dari Alquran. Ia juga berpendapat bahwa hadis-hadis ini boleh jadi 
merefleksikan sikap historis alih-alih perintah abadi Islam.

Para pembaca modern boleh jadi terkejut bahwa selama “Zaman Keemasan” Islam 
awal, banyak orang Kristen terkesan dengan kebebasan intelektual dan kemajuan 
ilmiah dalam Islam, dan menjadi para “kandidat” Muslim.

Beberapa gerakan menarik, tetapi lupa diperkenalkan, seperti kaum Murjiah (para 
penunda) yang dengan kemauan mereka untuk “menunda” penyelesaian perselisihan 
keagamaan hingga akhirat, menciptakan sebuah landasan bagi toleransi yang 
dinyatakan ulang oleh filsuf liberal Inggris abad ke-17, John Locke, satu 
milenium kemudian. 

Beberapa konsep yang mendapat konotasi buruk di Barat sekarang, seperti hukum 
syariat, dilihat dalam konteks sejarahnya sebagai peningkatan dan pendorong 
keadilan, sekaligus pembebasan. Salah satu alasan mengapa sebagian besar muslim 
menghargai hukum Islam adalah karena hukum Islam melindungi hak-hak individu 
dari tirani para penguasa lalim.

Buku Akyol menyuguhkan kepada non-muslim maupun muslim suatu bahasan rinci 
tentang Islam yang akan memandu, mendidik, dan merangsang nalar pembaca. Buku 
ini dikerjakan dengan semangat untuk mengajak dan berbagi gairah alih-alih 
didaktisisme yang kering.

Niatan Akyol tampaknya bukanlah untuk menjadi seorang “Martin Luther 
Muslim”—tokoh reformasi keagamaan yang dipuja sebagian kalangan—tetapi mungkin 
seorang “John Locke Muslim”, yang mengartikulasikan pentingnya toleransi agama 
dan kebebasan individu.

*Penulis adalah mantan editor di Shawnee Mission, Kansas, dan banyak mengulas 
tentang hubungan antaragama baik di Amerika Serikat atau negara lain. Buku 
terbarunya, A Backward View, mendapat penghargaan J Donald Coffin Memorial Book 
Award.


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke