http://ecosocrights.blogspot.com/2011/10/sekolah-dasar-di-pedalaman-papua-mereka.html#more
4 October 2011
Sekolah Dasar di Pedalaman Papua: Mereka Butuh Dukungan Kita 
     
Seorang guru SMA di Kabupaten Maybrat, Provinsi Papua Barat, terpaksa 
menghentikan pelajaran yang baru saja dimulainya. Sakit kepala berat tiba-tiba 
saja menyerangnya, setelah ia menunjuk beberapa muridnya untuk membaca. Segera 
ia tinggalkan kelas, masuk ke ruang guru dan menelan dua tablet obat sakit 
kepala. Ia begitu shock ketika menghadapi kenyataan, muridnya belum lancar 
membaca. Hari itu adalah hari pertamanya mengajar di Papua.


Kalau pada tingkat SMA saja masih ada murid yang belum lancar membaca, tentulah 
di tingkat SMP lebih banyak lagi siswa yang belum lancar membaca. Rupanya beban 
mengajar para guru SMP di Papua tidaklah ringan. Buruknya kondisi pelayanan 
pendidikan dasar di Papua memaksa mereka untuk mengambil sebagian besar 
tanggung jawab yang harusnya diemban oleh para guru SD, yaitu membuat anak-anak 
lancar membaca.

Beratnya beban guru membuat para guru SMP juga tidak tuntas dalam menyelesaikan 
masalah yang ditinggalkan para guru SD. Tidak ada pilihan bagi para guru SMP 
selain menyerahkan sisa masalah itu kepada guru SMA. Artinya, meskipun siswa di 
SMP-nya belum lancar membaca, mereka tetap saja melepaskan siswanya untuk 
melanjutkan pendidikan ke SMA.



Rendahnya perhatian pemerintah terhadap pendidikan dasar memaksa para guru 
harus berbagi beban. Guru SD menyerahkan masalah untuk diselesaikan guru SMP 
dan guru SMP meneruskan masalah tersebut kepada guru SMA. Anda tentu bertanya, 
apa yang sebenarnya terjadi dengan sekolah dasar di Papua?


Ketika mengunjungi kampung-kampung di kabupaten Maybrat dan menyaksikan sendiri 
bagaimana kondisi sekolah dasar di sana, sulit bagi kami untuk percaya bahwa 
anak-anak yang tengah bersekolah SD di kampung-kampung itu benar-benar warga 
negara RI yang sudah 66 tahun merdeka. Sebab selain kibaran bendera merah putih 
yang sudah koyak dan pudar warnanya, kami tidak temukan tanda-tanda lain bahwa 
mereka itu adalah bagian dari Indonesia. Yang tampak menonjol dari kondisi 
sekolah SD di sana adalah fenomena bahwa sekolah mereka ditelantarkan. Padahal 
semangat para orang tua untuk menyekolahkan anak-anak mereka sangat tinggi. 
Sayang, semangat ini tidak didukung oleh perhatian pemerintah terhadap kualitas 
layanan pendidikan dasar. Berikut adalah sedikit gambaran tentang kondisi 
sekolah dasar di kabupaten Maybrat.

SD di Kampung Seiya

Sekolah dasar di kampung ini sudah berjalan sejak 1952, bersamaan dengan 
berdirinya kampung Seiya. SD yang dibangun oleh Belanda ini biaya 
operasionalnya dulu juga disubsidi oleh Belanda. Sekolah ini menjadi 
satu-satunya sekolah dasar bagi lebih dari 134 KK dan 459 warga kampung Seiya. 
Warga di kampung ini mengaku, SD di kampung mereka sudah mencetak banyak 
lulusan yang menjadi sarjana.


Sayangnya kualitas pendidikan di SD ini semakin lama semakin merosot justru 
setelah berada dalam pengelolaan pemerintah RI. Sejak 2001 proses belajar 
mengajar di sekolah ini tersendat. Bahkan dari tahun 2005 sampai 2010 proses 
belajar mengajar praktis terhenti karena tidak ada guru. Hanya ada kepala 
sekolah yang merangkap sebagai guru. Guru yang hanya satu inipun sudah lama 
tidak hadir. Proses belajar mengajar macet dan siswanya terlantar. Sekitar 30 
anak yang tengah menempuh pendidikan di SD itu akhirnya putus sekolah. Hanya 
ada tiga anak di kelas 6 yang masih terus bersekolah karena orang tua 
memindahkan mereka ke SD di kampung lain. Kondisi ini membuat kepala kampung 
mendatangi bupati, dinas pendidikan dan Uskup (kepala gereja setempat).

Pada tahun 2010 proses belajar mengajar di SD ini mulai berjalan kembali 
setelah seorang pastor (rohaniwan Katolik) sukarela menjadi kepala sekolah dan 
mengajar di sekolah itu bersama seorang guru honorer. Namun gaji guru honorer 
inipun tersendat. Enam bulan berturut-turut guru honorer mengajar tanpa gaji. 
Demi menjaga keberlangsungan proses belajar mengajar, masyarakat akhirnya 
bergotong royong mengumpulkan uang untuk membayar gaji guru honorer.

Selain ketiadaan guru, masalah lain yang dihadapi sekolah ini adalah ruang 
kelas dan buku. Rombongan belajarnya ada enam, tetapi ruang kelasnya hanya ada 
tiga. Jadi satu kelas dipakai untuk dua rombongan belajar. Kantor guru pun 
tidak ada. Selain itu juga tidak ada buku paket untuk siswa. Bahkan buku 
pegangan untuk guru pun tidak ada.

Kampung Seiya sendiri adalah kampung terjauh di distrik Mare, berjarak 30 Km 
dari kampung Sire. Jarak tempuh yang jauh dan minimnya sarana prasarana sekolah 
serta minimnya fasilitas untuk guru, membuat guru tidak betah mengajar di 
kampung ini. Ini yang membuat proses belajar mengajar di SD Seiya berjalan 
seadanya. Para orang tua di kampung ini merasa jadi korban pemerintah yang 
kurang memberikan perhatian terhadap pendidikan dasar. Ada orang tua yang 
mengaku anaknya baru bisa masuk SMP setelah berumur 15 tahun. Ketiadaan guru 
dan tersendatnya proses belajar mengajar membuat anaknya terlambat masuk SD. 
Setelah lulus SMP anaknya memutuskan untuk tidak melanjutkan ke SMA. Ia malu 
karena umurnya sudah lewat.

SD di Kampung Sun

Tahun 1999/2000 kampung Sun mulai berdiri dan sejak saat itu pula berdiri 
sekolah dasar darurat yang dibuat warga dari bilik bambu. Meski sudah dibangun 
sejak tahun 2000, namun proses belajar mengajar baru berjalan tahun 2001. Waktu 
itu hanya ada satu guru yang mengajar. Tapi kemudian guru ini dipindahkan. 
Tahun 2002-2008 pendidikan berjalan tersendat dan pada akhirnya mandeg karena 
tidak ada guru. Masyarakat kemudian pergi ke Sorong Selatan menghadap dinas 
pendidikan. Mereka bicara soal pendidikan di kampung mereka.

Pada tahun 2007 masyarakat berswadaya untuk membangun ruang kelas, mengganti 
bilik bambu menjadi bangunan permanen. Tahun 2008 bangunan sekolah berhasil 
diselesaikan. Setelah ruang kelas berdiri, masyarakat menghadap dinas 
pendidikan agar sekolah mereka diberi tenaga guru. Tahun 2009 ada tenaga guru 
yang ditempatkan di kampung ini.

Sebelum ada tenaga guru tetap, siswa di SD ini diajar oleh seorang warga 
kampung yang secara sukarela mengajar anak-anak. Tenaga sukarela ini mengajar 
dari tahun 2007 sampai 2009. Tahun 2009 guru sukarela ini berhenti mengajar 
karena diangkat PNS dan ditempatkan di kecamatan lain.

SD di kampung ini sebelumnya hanya menyelenggarakan pendidikan sampai kelas 3. 
Untuk melanjutkan ke kelas yang lebih tinggi mereka harus pergi ke SD induk 
yang yang ada di ibukota distrik. Namun sejak 2008/2009 SD ini mulai 
menyelenggarakan pendidikan untuk siswa kelas 4 dan 5. Kelas 6 baru dibuka pada 
tahun 2010.

Sekarang ada dua guru di SD ini. Satu guru merangkap sebagai kepala sekolah. 
Meski sudah ada dua guru tetap, tetapi proses belajar mengajar belum juga 
berjalan lancar. Kehadiran guru masih menjadi masalah. Warga mengaku, dalam 
satu tahun hanya 3-4 bulan saja guru hadir mengajar. Selebihnya, guru pergi ke 
kota dan meninggalkan sekolah, entah untuk urusan dinas atau urusan keluarga.

Selain kehadiran guru, buku juga jadi masalah. Buku paket untuk murid dan buku 
pegangan untuk guru sangat tidak memadai, baik dari segi kurikulum, keutuhan 
kondisi buku, maupun jumlahnya. Meski guru sering tidak hadir dan buku tidak 
cukup tersedia, tapi anehnya saat ujian nasional siswa di SD ini lulus 100 
persen. Padahal anak-anak menghadapi ujian nasional tanpa persiapan belajar 
karena guru tidak ada, buku juga tidak ada. Guru baru datang beberapa hari 
menjelang pelaksanaan ujian. Masyarakat dibuat tidak mengerti dengan kelulusan 
yang 100 persen ini.

Rendahnya kualitas pendidikan dasar di sini membuat anak-anak dari kampung Sun 
yang melanjutkan SMP di kota (Sorong) seringkali merasa minder karena pelajaran 
mereka tertinggal jauh dari anak-anak kota. Rasa minder ini seringkali juga 
membuat anak-anak dari kampung ini memutuskan untuk meninggalkan sekolah. 
Mereka merasa kesulitan untuk mengejar ketertinggalan pelajaran dengan siswa 
yang bersekolah di kota. Kondisi ini sangat disayangkan mengingat anak-anak 
kampung itu sebenarnya pintar. Tapi karena proses belajar mengajar di SD tidak 
lancar, akhirnya mereka yang jadi korban.


SD di Kampung Mosun

SD di kampung ini kondisinya lebih baik daripada SD di dua kampung pertama. Ada 
4 tenaga guru yang mengajar di sana, terdiri dari kepala sekolah, dua guru 
tetap dan satu guru honorer. Kepala sekolah dan guru semuanya asli anak kampung 
setempat. Ruang kelas juga ada enam, jadi setiap rombongan belajar menempati 
satu ruang kelas.


Meski sudah ada 4 tenaga guru, tapi tetap saja guru dirasa kurang. Kepala 
sekolah sendiri mengajar tiga kelas (kelas 1,2, dan 3). Itulah mengapa ruangan 
di kelas 1,2, dan 3 dibuat tanpa sekat. Dengan cara demikian, guru bisa dengan 
mudah mengawasi dan pergi dari satu kelas ke kelas yang lain. Berbeda dengan 
dua SD yang terdahulu, kepala sekolah di SD ini lebih punya komitmen dan 
dedikasi terhadap pendidikan. Ini yang membuat kepala sekolah mengambil 
tanggung jawab untuk mengajar kelas 1,2, dan 3, yang menurutnya lebih butuh 
perhatian. Dengan mengambil tiga kelas pertama, kepala sekolah di SD ini punya 
target, siswa yang duduk di kelas 4 sudah lancar membaca.

Meskipun jumlah guru relatif mencukupi dibandingkan SD di dua kampung lainnya, 
bukan berarti tidak ada lagi masalah di SD ini. Seperti dua SD sebelumnya, SD 
di sini juga menghadapi kendala ketiadaan buku paket untuk para siswa. 
Sebenarnya ada dana BOS yang bisa dipakai untuk beli buku. Namun pada 
kenyataannya dana BOS tidak mencukupi untuk beli buku. Pemberian dana BOS itu 
sendiri tidak memperhitungkan besarnya transportasi untuk pembelian 
perlengkapan belajar mengajar. Padahal membeli perlengkapan itu harus ke kota 
dan biaya transportasinya mahal sekali. Sekali jalan Rp 350.000.

Guru SD tidak mendapatkan fasilitas transportasi yang memudahkannya dalam 
menjalankan tugas. Sementara dalam dana BOS juga tidak ada komponen untuk 
membiayai transportasi guru untuk keperluan dinas. Jadi kalau ada keperluan 
dinas di kabupaten, guru harus membiayai sendiri transportasinya.

Sebelum ada dana BOS, kepala sekolah, guru, dan masyarakat di kampung ini 
bergotong royong membayar guru honorer. Bahkan Kepala sekolah dan guru di SD 
ini secara sukarela menyerahkan gajinya Rp 50.000 – Rp 100.000 setiap bulan 
untuk membayar gaji guru honorer. Padahal gaji kepala sekolah hanya Rp 2 juta 
dan setelah dipotong macam-macam, setiap bulan gajinya tinggal tersisa Rp 1 
juta untuk membiayai hidup keluarganya. Tingkat kesejahteraan guru SD sangat 
rendah. Selain gaji yang tidak mencukupi, sudah 11 bulan lebih guru belum 
terima jatah beras, uang lauk pauk dan insentif. Tidak heran kalau guru juga 
harus berkebun dan mencari tambahan penghasilan guna menutupi kekurangan. 
Fasilitas untuk tempat tinggal guru juga tidak ada. Para guru masih numpang 
tinggal pada warga.

SD di Kampung Konja

Sekolah Dasar di kampung ini sudah berjalan sejak tahun 1961. Hanya saja SD ini 
baru menyelenggarakan pendidikan untuk kelas 5 dan 6 tahun tahun 2005/2006. 
Sebelumnya hanya ada kelas 1 sampai kelas 4 karena sekolah ini statusnya masih 
SD basis, yang menyelenggarakan pendidikan hanya sampai kelas 4. Untuk 
melanjutkan ke kelas 5 dan 6 murid SD ini harus pergi ke SD induk yang ada di 
Ayawasi. 

Sejauh ini proses belajar mengajar berjalan lancar karena tenaga guru lebih 
banyak daripada di SD lainnya. Ada enam guru – termasuk kepala sekolah – yang 
berstatus PNS. Selain guru tetap, ada juga guru relawan yang mengajar tanpa 
dibayar. Bahkan di sini ada guru relawan yang sudah 10 tahun mengajar. Guru 
yang mengajar di SD ini adalah juga warga kampung setempat. Karena itulah 
sekolah di sini tidak punya masalah dengan mangkirnya guru. Sebab para guru 
yang mengajar di sekolah ini punya komitmen dan dedikasi tinggi terhadap 
pendidikan di kampung mereka. Mereka punya prinsip, mengajar di sekolah kampung 
seperti membangun kampung sendiri.


Terkait dengan tenaga guru, masalah yang dihadapi SD di kampung ini bukanlah 
ketiadaan atau ketidakhadiran guru tetapi usia para guru yang sudah mendekati 
pensiun. Padahal sampai sekarang belum ada tenaga guru muda yang diharapkan 
dapat menggantikan mereka. Selain itu, fasilitas bagi para guru juga minim. 
Para guru belum punya rumah. Mereka masih tinggal menumpang di rumah-rumah 
warga. Kesejahteraan guru sangat rendah, sehingga guru terpaksa harus berkebun 
untuk dapat mencukupi kebutuhan keluarganya. Sama seperti di SD lainnya, 
listrik tidak ada, demikian juga dengan buku-buku yang menunjang kelancaran 
belajar mengajar. Buku paket yang ada sudah kadaluwarsa, tidak sesuai lagi 
dengan kurikulum yang berlaku. Kurikulum sudah beberapa kali berubah, sementara 
buku pegangan guru dan buku paket untuk murid dari dulu belum juga diganti.

Relatif lancarnya proses belajar mengajar di sini tidak terlepas dari peran 
masyarakat yang aktif mendukung kelancaran proses belajar mengajar. Dukungan 
masyarakat terhadap pendidikan dasar diwujudkan dalam berbagai bentuk, seperti 
swadaya menambah ruang kelas, pengadaan mebel (kursi dan bangku), pengadaan 
buku pelajaran untuk siswa, dan lainnya. Kalau tidak ada dukungan dari 
masyarakat, bisa jadi proses belajar mengajar juga akan tersendat seperti yang 
terjadi pada SD di kampung lain, mengingat dana BOS tidak mencukupi untuk 
membiayai operasional sekolah.

Bayangkan saja pada tahun 2008 pemerintah memberikan bangku sekolah untuk SD di 
sini tanpa dilengkapi dengan kursi. Anak-anak pergi ke sekolah dengan membawa 
kursi sendiri. Kondisi ini membuat masyarakat bergotong royong membeli kursi 
untuk sekolah. Demikian juga dengan buku. Dengan dana BOS, sekolah hanya bisa 
membeli dua buku. Buku lainnya dibeli dari dana yang dikumpulkan oleh 
masyarakat. Bahkan pelaksanaan ujian nasional dan ujian sekolah pun dibiayai 
oleh masyarakat. Untuk mendapatkan dana bagi sekolah di kampung mereka, 
masyarakat memutuskan untuk membuat lelang hasil buruan, menarik sumbangan 
sukarela dari warga masyarakat yang bukan orang tua murid, dan menarik 
sumbangan wajib dari para orang tua murid.

Solidaritas

Meski hanya sedikit yang kami paparkan, namun yang sedikit ini dapat memberikan 
gambaran tentang kondisi sekolah dasar di pedalaman Papua. Sebab meskipun ragam 
masalah yang dihadapi sekolah-sekolah di pedalaman Papua berbeda-beda, namun 
perbedaan itu punya akar yang sama, yaitu miskinnya komitmen pemerintah 
terhadap kualitas pendidikan dasar di pedalaman. Semangat anak-anak untuk 
belajar dan animo masyarakat terhadap pendidikan seperti bertepuk sebelah 
tangan.


Kita tidak bisa menutup mata terhadap kondisi pendidikan dasar bagi anak-anak 
di daerah pedalaman. Anak-anak di pedalaman itu butuh dukungan dan solidaritas 
kita. Kita bisa berbuat sesuatu bagi mereka. Kami sendiri juga tidak akan 
menutup mata. Kami tengah berupaya melakukan sesuatu untuk mereka.

Bila anda punya usulan atau apapun yang bisa mendukung upaya kami dalam 
membantu mereka, jangan ragu untuk menghubungi kami via email: 
[email protected] atau via telepon/fax (021-8304153) atau datang langsung ke 
kantor kami (Institute for Ecosoc Rights, Jl. Tebet Timur Dalam VI-C/17 Jakarta 
12820). Dukungan dalam bentuk buku (buku pelajaran dan buku bacaan), alat tulis 
dan alat peraga bisa dikirimkan langsung ke mitra kerja kami : Albertus Bambang 
Buntoro (SPVD) d/a Keuskupan Manokwari‐Sorong, Jln. Jenderal A. Yani No. 83, 
Kotak Pos 183 Sorong 98413 Papua Barat. *** 
Diposting oleh cheluz di 3:15 PM 


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke