Membuat komedi lebih sulit dari membuat tragedi.

From: ajeg 
Sent: Sunday, October 09, 2011 4:56 PM
To: [email protected] 
Subject: [proletar] Veven Sp Wardhana: Metamorfosis Kompas TV

  

Barangkali ini contoh keruwetan khas Indonesia era reformasi; 
pertentangan antara kepentingan masyarakat dan pemangku peraturan. 
Di satu sisi keterbukaan membuka peluang masyarakat untuk 
berinisiatif, sementara di sisi lain sejumlah peraturan dibuat 
bukan saja untuk menghadang tapi siap melempar masyarakat ke zaman 
otoriter lagi.

Boleh jadi Kompas-TV - sebagai bagian dari masyarakat - melanggar 
aturan penyiaran. Boleh jadi juga para pemangku peraturan masih 
bingung dengan aturan-aturan yang mereka pangku sehingga belum 
terlihat konsekuensi aturan siaran terhadap Kompas-TV. Pertanyaan 
seriusnya, penegakan peraturan di era reformasi ini untuk apa 
sebenarnya, untuk membangun / memperlancar kehidupan masyarakat 
atau sekedar menuruti bunyi kata-kata dalam pasal? 

Kalau diadakan survei apakah masyarakat terganggu keberadaan 
Kompas-TV di televisi mereka, rasanya lebih banyak yang menjawab 
'tidak' atau 'tidak tahu' dibanding yang mejawab 'ya'. Sebab, 
seperti kita lihat, kehidupan masyarakat toh tetap berjalan biasa 
seperti sebelum Kompas-TV mengudara. Artinya, kehidupan masyarakat 
tidak terpengaruh status hukum Kompas-TV.

Begitu juga kalau diadakan survei apakah dunia pertelevisian 
terganggu keluhan masyarakat atas tayangan sinetron yang tidak 
membumi, reality show yang menyinetron, atau infotainment yang 
tidak menghibur? Rasanya jawabannya adalah 'tidak'. Sebab, 
seperti kita lihat, acara-acara konyol seperti itu tetap mengudara. 
Artinya, pemangku peraturan tidak peduli kepentingan masyarakat 
sepanjang segala sesuatunya berstatus legal. 

Lepas dari soal atur-mengatur, masyarakat (para pemangku peraturan 
juga boleh memakai posisi ini) bisa melihat dan merasakan bahwa 
tayangan Kompas-TV ibarat oase di padang sinetron serta tontonan 
konyol lainnya. Beberapa kenalan ketika menonton tayangan tentang 
permainan anak (dolanan) atau perjalanan ke pelosok nusantara malah 
merasa rindu akan jatidirinya sebagai "anak kampung", sebagai orang 
Indonesia. Karena sejak merantau ke JKT ia seolah tenggelam dalam 
hedonisme yang kebarat-baratan. 

Memang, ada juga acara seputar "Indonesia modern" di Kompas-TV. 
Seperti tentang fotografi, teknologi, maupun yang cukup hedonis 
sebulan ini, Stand Up Comedy. 

Khusus mengenai Stand Up Comedy, Kompas-TV agaknya cuma mengemas 
trend yang beberapa tahun belakangan marak di cafe-cafe ini 
ke layar kaca. Kurang menggali budaya melucu tunggal yang hidup di 
masyarakat, bahwa di hampir setiap kelompok masyarakat pasti ada 
yang pandai bercerita lucu. 

Karena itu agak mengernyit juga jidat ini membaca head line 
koran Kompas pagi tadi yang mengimbau rakyat Indonesia untuk 
tertawa ("Wahai Indonesia, Tertawalah..."), seolah sebelum 
Kompas-TV menayangkan Stand Up Comedy Indonesia tidak pernah 
tertawa. 

Padahal, yang dibutuhkan Indonesia dari aktivitas tawa saat ini 
adalah membangun komunikasi antarwarga dengan cara positif - atau 
dalam konsep stand up comedy, berbagi kegetiran dengan cara 
menyenangkan. Bukan melulu pasang tampang angker, bicara peraturan, 
curhat keprihatinan, sambil menyalahkan rakyat. 

Buat rakyat tentu ini lucu juga. Tapi samasekali tidak positif 
dan tidak menyenangkan. Rakyat sudah tertawa-tawa melihat 
tampang angker yang bicara prihatin itu bahkan sebelum Kompas-TV 
mengudara.. 

----- Original Message -----

> Veven Sp Wardhana, PENGHAYAT BUDAYA MASSA
> 
> Kalimat mana yang lebih benar: "Kompas TV mengudara di langit 
> Indonesia"ataukah "Produksi Kompas TV mengudara di langit 
> Indonesia"? Pertanyaan ala kuis televisi ketimbang materi mata 
> pelajaran tata bahasa Indonesia ini dilandasi oleh pertanyaan: 
> apakah Kompas TV merupakan lembaga penyiaran (swasta/komersial) 
> ataukah lembaga laiknya production house yang menyediakan konten 
> untuk tayangan televisi—jenis apa pun televisinya: nasional, 
> regional, lokal, publik, komersial, ataukah berbayar.
>
> Jawaban terbenar, semestinya, ya dari pihak dalam sendiri. Dan 
> salah satu orang dalam terpenting, namanya Agung Adiprasetyo, 
> posisinya Chief Executive Officer (CEO) Kompas-Gramedia, memberi 
> paparan: "Kompas TV bukan lembaga penyiaran, melainkan penyedia 
> konten yang diproduksi KG Production."(Harian Kompas, Jumat, 9 
> September 2011, halaman 1). KG adalah kependekan dari Kompas 
> Gramedia.
>
> Kejelasan kelamin sebagai lembaga penyiaran ataukah lembaga pembuat 
> program masing-masing memiliki konsekuensi hukum berbeda jika 
> dikaitkan dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang 
> Penyiaran. Sebagai lembaga penyiaran, Kompas TV belum mengantongi 
> izin dari pemerintah atas rekomendasi Komisi Penyiaran Indonesia 
> (KPI). Sebagai lembaga produksi atau penyedia konten—atau 
> sebagaimana mereka sendiri istilahkan: content provider—Kompas TV 
> memang tak ada kait-mengait dengan KPI. Jika, misalnya, isi 
> tayangan produksi Kompas TV dianggap menerabas Pedoman Perilaku 
> Penyiaran/Standar Program Siaran, urusan KPI—atau KPI daerah di 
> wilayah provinsi—dengan lembaga penyiaran yang menayangkan konten 
> bikinan Kompas TV.
> 
> Sementara itu, sebelumnya, dalam bahasa orang dalam lainnya, yakni 
> Managing Director Bimo Setiawan: "Kompas TV bekerja sama dengan 
> lembaga penyiaran di daerah."(Harian Kompas, Kamis, 1 September 
> 2011, halaman 11).
>
> Istilah "kerja sama"memang sangat lentur terjemahannya.Yang jelas, 
> pernyataan Agung Prasetyo ("Kompas TV bukan lembaga penyiaran") 
> justru kontradiktif dengan narasi jurnalis harian Kompas—yang satu 
> holding company dengan Kompas TV dan berderet media massa 
> lainnya—saat memberitakan peluncuran Kompas TV pada Jumat, 9 
> September 2011. Dalam judul berita "Televisi: Kompas di Layar Kaca 
> Diluncurkan Malam Ini", dituliskan: "Disiarkan langsung oleh Kompas 
> TV selama tiga jam,"(halaman 1). Kalimat "disiarkan Kompas 
> TV?—maknanya: Kompas TV adalah lembaga penyiaran.
>
> Senada dan seirama, majalah Tempo (edisi 26 September-2 Oktober 
> 2011, halaman 43), saat menulis perihal komedi tunggal, menuliskan: 
> "Stand Up Comedy Indonesia, yang mulai disiarkan Kompas TV pada 
> Sabtu pekan lalu...."Sekali lagi: disiarkan Kompas TV! Lalarannya: 
> Kompas TV merupakan lembaga penyiaran.
>
> Tempo memang termasuk pihak eksternal, yang bisa saja tak 
> tahu-menahu perincian pihak lain, tapi harian Kompas terhitung 
> pihak dalam atau internal yang muskil tak paham sebagaimana Tempo. 
> Dengan adanya ketidaksatukataan ini, logikanya: kita--setidaknya 
> saya--perlu skeptis terhadap tiap pernyataan. Cara lain yang 
> kemudian bisa dijadikan indikator adalah dengan membaca setiap 
> advertensi di harian Kompas, sejak edisi 1 September 2011, seminggu 
> menjelang hari-H peluncuran Kompas TV, 9 September 2011. Iklan 
> pertama, selain memampangkan logo besar Kompas TV, teks 
> sambungannya masih terhitung "netral"--yakni bersejajar dengan 
> ucapan mohon maaf dalam rangka Idul Fitri.
>
> Logo bertulisan Kompas TV terus terpampang hingga Selasa, 6 
> September 2011, yang pada iklan Rabu, 7 September 2011, teks 
> "TV"lenyap tak lagi mengekori dan menempel Kompas.
> Yang menarik, pada iklan Sabtu, 3 September 2011, tertulis teks 
> besar: "6 Hari Menjelang Lahirnya Saluran Informasi yang Tegas, 
> Terarah dan Menumbuhkan Harapan". Frasa "saluran informasi" 
> mengindikasikan bahwa Kompas TV atau Kompas (saja--yang di layar 
> televisi) merupakan saluran atau channel siaran. Tak berhenti 
> sebatas penyuplai produk atau konten.
>
> Keberadaan sebuah tagline dalam iklan 7 September 2011 menegaskan 
> jenis kelamin Kompas TV itu: "Nantikan liputannya di Kompas, 
> jejaknya di Kompas.com, aksinya di Kompas TV".
> 
> Yang pertama, media cetak; kedua, media online; dan ketiga--yakni 
> Kompas TV--adalah media (penyiaran) televisi! Membaca iklan-iklan 
> Kompas (TV) di halaman Kompas (cetak) seperti melihat sebuah 
> metamorfosis. Metamorfosis yang terasa tidak alami(ah). Ada aroma 
> sedang menyikapi suatu pendapat atau opini atas penghilangan kata 
> "TV" di belakang "Kompas" itu. Sebuah tafsir menyatakan: untuk 
> menunjukkan bahwa Kompas (televisi) benar-benar sebagai content 
> provider--entah ini lantaran kesadaran diri, entah atas saran atau 
> imbauan petinggi negeri. Sadar diri ataukah karena titah petinggi 
> negeri, dua-duanya--termasuk pihak
>
> http://epaper.korantempo.com/PUBLICATIONS/KT/KT/2011/10/08/ArticleHtmls/Metamorfosis-Kompas-TV-08102011010013.shtml?Mode=1





[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke