Refl: Apakah pelayan kesehatan seperti yang dituturkan dalam artikel di bawah 
ini lebih murah di NKRI yang dipuja-puji?


http://kesehatan.kompasiana.com/medis/2011/10/09/opname-4-hari-biayanya-cuma-rp-30-ribu/
Opname 4 Hari, Biayanya Cuma Rp 30 Ribu
HL | 09 October 2011 | 15:46 
Opname di rumah sakit selama 4 hari tapi biayanya cuma 30 ribu rupiah? Maaf 
saja, ini bukan di Indonesia, melainkan di Malaysia. Kisah nyata yang saya 
alami sendiri.

Bulan Agustus lalu menjelang Idul Fitri anak saya (Adit, 2 tahun) tiba-tiba 
mengalami kesulitan bernafas. Tidak ada demam dan batuk sebelumnya sehingga 
membuat kami, ayah dan ibunya, panik luar biasa.

Lebih panik lagi karena dokter klinik langsung menyuruh kami membawa Adit ke 
rumah sakit besar. Pertolongan pertama di klinik dengan memberi uap salbutamol 
tidak berhasil melegakan pernapasan Adit. Dengan segera kami menuju Hospital 
(Rumah Sakit) Serdang, sebuah rumah sakit besar milik pemerintah yang berjarak 
15 menit dari rumah. Langsung ke bagian Kecemasan (gawat darurat dalam Bahasa 
Malaysia).

Hasil pemeriksaan sinar-X menunjukkan bercak-bercak putih di paru-paru anak 
kami. Dugaan awal dokter adalah bronchial pneumonia, suatu jenis infeksi 
paru-paru. Sore itu juga dokter memutuskan Adit untuk diopname. Kami tidak 
bertanya soal biaya, bahkan sama sekali tidak memikirkannya. Yang penting Adit 
bisa ditangani oleh tim dokter ahli.

Empat hari 3 malam anak kami berada di wad (ward dalam Bahasa Inggris, atau 
bangsal) bagian anak-anak Hospital Serdang. Satu wad menampung 4 orang anak, 
dan entah kebetulan atau tidak semuanya mengalami gangguan paru-paru. 
Permintaan kami untuk pindah ke kamar satu orang ditolak karena akan 
menyulitkan observasi oleh tim dokter. Kami menurut, apapun yang dikatakan 
dokter kami ikuti saja tanpa membantah.

Setiap 4 jam suster datang membawa salbutamol untuk diuapkan ke pernapasan 
Adit. Berbagai jenis obat, mulai antibiotik, anti pembengkakan (hydrocortisone) 
sampai Tamiflu rutin dimasukkan ke tubuh anak kami. Empat kali sehari tim 
dokter, yang beberapa di antaranya dokter-dokter ko-as, datang tidak membawa 
buku, tapi komputer jinjing yang berisi data pasien dan terkoneksi dengan 
sistem data rumah sakit. Konon katanya, di Jakarta hanya rumah sakit swasta 
yang memiliki sistem seperti itu.

Saya sempat khawatir dengan kondisi rumah sakit milik pemerintah yang konon 
katanya kotor dan susternya galak-galak. Hospital Serdang membuktikan dugaan 
saya keliru. Ruangan dan koridornya bersih, ada taman di luar untuk 
mengistirahatkan diri, dan susternya rata-rata masih muda (ehem…) dan ramah.

Setelah 4 hari, Adit diperkenankan pulang dengan dibekali 2 jenis antibiotik, 
Tamiflu, hydrocortisone, Ventolin dan Fluticasone untuk rawatan gejala asma 
(analisa terakhir dokter menunjukkan anak kami mengidap asma ringan). Sebelum 
pulang, kami disuruh menuju ke bagian keuangan untuk membayar biaya opname, 
dokter, dan obat-obatan.

Dengan perasaan dag-dig-dug saya menemui kasir rumah sakit. Saya sudah siapkan 
uang tunai, dan kartu kredit juga sudah ada di genggaman. Takutnya sih kalau 
limit kreditnya jebol, saya tambahi dengan cash saja. Perkiraan saya, wah, 
minimal harus keluar 5 juta nih (kalau dirupiahkan), mengingat banyaknya 
obat-obatan yang diberikan dokter selama 4 hari di rumah sakit. Beberapa obat 
itu bahkan termasuk obat yang jarang digunakan sehingga harganya sangat mahal.

“Tiga belas ringgit!” (1 ringgit = 2500 rupiah)

Saya terdiam. Antara kaget dan tidak percaya. Saya lihat lagi kwitansi yang 
disodorkan, sekedar mengecek betulkah 13 ringgit atau 1300 ringgit. Dan 
ternyata memang cuma 13!

Melihat saya terdiam, si kasir menyangka saya tidak punya uang. Dengan 
santainya dia berujar, “Bayar kapan saja, besok, lusa, kapan saja…”

Saya yang kebetulan memang telmi (telat mikir) meninggalkan si kasir dengan 
kwitansi 13 ringgit dan membawa Adit pulang ke rumah. Besoknya, saya datang 
kembali ke rumah sakit membawa uang 13 ringgit. Perlu satu hari untuk 
mempercayai mata saya bahwa opname 4 hari di rumah sakit biayanya cuma sekitar 
30 ribu rupiah!

Di rumah pikiran saya mengawang-awang dengan kondisi di tanah air tercinta 
Indonesia, dimana biaya opname di rumah sakit pemerintah bisa sampai jutaan dan 
akibatnya banyak pasien terpaksa disandera oleh pihak rumah sakit lantaran 
tidak kuat membayar.

Ya Allah, semoga kami termasuk ke dalam golongan orang-orang yang pandai 
bersyukur atas segala nikmat-Mu.


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke