gampang, jogjakarta adalah daerah yg mendapat otonomi khusus.

mau ngomong apa lagi lu sekarang?

--- In [email protected], "Sunny" <ambon@...> wrote:
>
> Pengetahuan tidak sebeberapa berlagak bicara tentang otonomi khusus. 
> Tunjukanlah dimana otonomi-otonomi membawa kemajuan perbaikan hidup bagi 
> rakyat setempat?
> 
> From: johny_indon 
> Sent: Wednesday, October 12, 2011 4:50 AM
> To: [email protected] 
> Subject: [proletar] Re: Emas Papua Terancam Habis
> 
>   
> 
> 
> otonomi khusus itu yg minta rakyat papua sendiri, sambil dikomporin oleh 
> amerika serikat.
> mana ada daerah yg tiba2 dikasih hadiah otonomi khusus oleh pusat.
> o'on banget sih lu wan.
> jarang baca ya?
> 
> --- In mailto:proletar%40yahoogroups.com, "wawan" <selarasmilis@> wrote:
> >
> > 
> > karena gw atheis, maka gw freethinker yg tidak kaku thd aturan2,
> > apabila otonomi membuat dana dikorupsi, apabila pemerintahnya waras, ya 
> > tutup saja itu otonomi dan bisa diganti cara lain yg menguntungkan rakyat 
> > graasroot papua....
> > 
> > akal budi manusia itu mestinya diatas hukum2 yg kaku, tapi elu emang 
> > otaknya beku, jadi mengutamakan dogma/hukum2 kaku daripada hal2/nilai2 yg 
> > essensial...
> > 
> > 
> > --- In mailto:proletar%40yahoogroups.com, "johny_indon" <johny_indon@> 
> > wrote:
> > >
> > > wan, sadly speaking, elu salah satu atheis paling tolol yg gua tau.
> > > ngerti yg namanya otonomi ngga?
> > > 
> > > http://infokorupsi.com/id/korupsi.php?ac=9169&l=84-perkara-korupsi-di-papua-siap-dimpahkan-ke-pengadilan-tipikor
> > > 
> > > Sabtu, 25 Juni 2011
> > > 84 Perkara Korupsi di Papua Siap Dimpahkan ke Pengadilan Tipikor
> > > Kepala Kejaksaan Tinggi Provinsi Papua Leo RT Panjaitan
> > > 
> > > Kepala Kejaksaan Tinggi Provinsi Papua Leo RT Panjaitan
> > > 
> > > Jayapura - Kejaksaan Tinggi (Kejati) Provinsi Papua hingga akhir Mei 2011 
> > > telah melakukan penyilidikan sebanyak 84 perkara tindak pidana korupsi. 
> > > Tujuh perkara di antaranya telah dilimpahkan ke Pengadilan Tindak Pidana 
> > > Korupsi (Tipikor) di Jayapura yang diresmikan sejak Maret 2011 silam.
> > > 
> > > "Keseluruhan berkas perkara tindak pidana korupsi yang ditangani 
> > > kejaksaan tinggi dan negeri se-Provinsi Papua siap dilimpahkan ke meja 
> > > hijau," ujar Kepala Kejaksaan Tinggi Provinsi Papua Leo RT Panjaitan 
> > > kepada wartawan, usai rapat koordinasi Penanganan Tindak Pidana Korupsi 
> > > se-Papua, Jumat (24/6).
> > > 
> > > Leo mengatakan, sejak diresmikannya Pengadilan Tipikor di Jayapura, 
> > > penanganan kasus perkara korupsi berdampak bagi para jaksa penuntut umum. 
> > > "Perkara korupsi yang ditangani di 7 kejaksaan negeri se-Papua harus 
> > > dilimpahkan ke Pengadilan Tipikor yang berada di Pengadilan Negeri di 
> > > Jayapura," ujarnya.
> > > 
> > > Menurut Leo, hambatan utama penyelesaian perkara korupsi adalah 
> > > ketersediaan dana. Pasalnya, dengan dipusatkannya pemeriksaan tindak 
> > > pidana korupsi dari 29 kota/kabupaten se-Papua ke pengadilan tindak 
> > > korupsi di Jayapura, biaya yang dibutuhkan semakin tinggi. Penanganan 
> > > setiap perkara sejak proses penyelidikan hingga memiliki kekuatan hukum 
> > > tetap yang menelan biaya sekitar Rp 253 juta.
> > > 
> > > Meski demikian, kondisi tersebut tidak mengganggu profesionalitas para 
> > > jaksa. "Namun, para jaksa yang bertugas di Papua tetap konsisten 
> > > mengemban tugas demi terlaksananya penegakan hukum terpadu yang 
> > > bersinergi sebagaimana tuntutan masyarakat dan harapan pemerintah," 
> > > tegasnya. (Folmer)
> > > 
> > > Sumber: mediaindonesia, Jumat, 24 Juni 2011
> > > 
> > > http://infokorupsi.com/id/korupsi.php?ac=7683&l=ironi-papua-masih-tertinggal-diduga-dana-otonomi-khusus-dikorupsi
> > > Kamis, 28 Oktober 2010
> > > Ironi Papua: Masih Tertinggal, Diduga Dana Otonomi Khusus Dikorupsi
> > > 
> > > Jakarta - Papua adalah sebuah ironi. Provinsi yang boleh dikata paling 
> > > kaya ini sekaligus menyandang predikat provinsi termiskin. Papua 
> > > berlimpah ruah sumber daya alam. Freeport, tambang emas dan tembaga 
> > > terbesar di dunia ada di sini.
> > > 
> > > Papua juga memiliki Tangguh, lapangan gas terbesar di dunia. Kekayaan 
> > > hutan berikut biodiversitas dan plasma nutfahnya luar biasa. Namun 
> > > mayoritas rakyatnya masih bergelut dengan kemiskinan akut. Dibanding 
> > > provinsi lain, indeks Millenium Development Goals (MDGs) Papua juga 
> > > berada di nomor buncit.
> > > 
> > > Tingkat kemiskinan Papua mencapai di atas 40%, jauh melampaui rata-rata 
> > > nasional sebesar 16%. Menurut data Badan Pusat Statistik, sekitar 80% 
> > > penduduk asli Papua hidup dalam keterbelakangan dan sangat tertinggal 
> > > dalam pendidikan. Rumah tangga miskin mencapai 83%. Demikian pula angka 
> > > kematian ibu melahirkan di Papua adalah yang tertinggi di Indonesia, 
> > > yakni 1.025 kematian per 100.000, atau tiga kali lipat dari rata-rata 
> > > nasional. Pulau paling timur Indonesia ini juga tertinggi dalam 
> > > prevalensi HIV/AIDS.
> > > 
> > > Padahal, pada 2001 pemerintah telah meningkatkan status Papua sebagai 
> > > daerah otonomi khusus (otsus). Sejak 2002 hingga 2009, pemerintah pusat 
> > > telah menggelontorkan lebih dari Rp 20 triliun untuk dana Otsus Papua. 
> > > Namun, dana-dana itu sebagian besar tidak digunakan untuk menyejahterakan 
> > > rakyat, bahkan banyak yang dikorupsi.
> > > 
> > > Hal itu terkonfirmasi dari temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). 
> > > Berdasarkan pemeriksaan anggaran Otsus periode 2004-2009 sebesar Rp 3,7 
> > > triliun, terdapat penyimpangan sebesar Rp 578 miliar atau 16%. Sekitar 
> > > 70% dari temuan penyimpangan tersebut berupa pengeluaran yang tidak dapat 
> > > dipertanggungjawabkan dan tidak sesuai peruntukan.
> > > 
> > > Seorang petinggi BPK menyebut penyimpangan ini sebagai kategori moral 
> > > hazard. Sebagian penyimpangan dana itu terindikasi korupsi. Ada 
> > > proyek-proyek fiktif, penggelembungan nilai proyek, belanja yang 
> > > menyimpang dari peruntukan, atau pembelian aset yang tidak sesuai aturan. 
> > > Bahkan, ada proyek yang direkayasa, yakni bupati mencairkan dana dulu 
> > > untuk keperluan tidak jelas, baru laporan pertanggungjawabannya 
> > > dikarang-karang. Selain itu, realisasi anggaran untuk pendidikan dan 
> > > kesehatan juga jauh di bawah batas minimal seperti yang diatur dalam 
> > > Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otsus Papua.
> > > 
> > > Tak heran bila akibat amburadulnya pengelolaan anggaran tersebut, tak 
> > > sedikit pejabat di wilayah Papua yang harus meringkuk di balik jeruji 
> > > besi. Bila audit BPK sudah menyeluruh dan Komisi Pemberantasan Korupsi 
> > > (KPK) turun tangan, diduga bakal banyak lagi oknum pejabat di wilayah 
> > > Papua yang terseret. Begitulah perilaku sejumlah oknum pemrov, pemkab, 
> > > maupun pemkot di wilayah Papua. Ini juga acap terjadi di wilayah lain 
> > > yang daerahnya masuk kategori miskin. Para pejabatnya berfoya-foya 
> > > menggunakan dana yang seharusnya untuk kesejahteraan rakyatnya. Mobil 
> > > dinasnya mentereng, tak peduli masih banyak rakyatnya yang kelaparan dan 
> > > terbelakang.
> > > 
> > > Dana yang mestinya dipakai untuk membangun perekonomian, membangun 
> > > jaringan infrastruktur, atau untuk kesejahteraan rakyat secara umum, 
> > > akhirnya justru dihambur-hamburkan oleh aparatnya sendiri. Belanja 
> > > aparatur negara mendominasi. Sepertinya tidak ada korelasi positif antara 
> > > pengucuran dana otsus dan peningkatkan kesejahteraan rakyat Papua. 
> > > Praktik tak terpuji seperti ini mesti dihentikan. Perlu ada mekanisme 
> > > kontrol anggaran yang lebih ketat dan sistematis.
> > > 
> > > Mekanisme check and balance di antara institusi harus berjalan dengan 
> > > baik, yakni antara pemda, DPRD, komite pemantau, LSM, dan tokoh-tokoh 
> > > lokal yang tergabung dalam Majelis Rakyat Papua. Setiap pemda harus 
> > > memiliki akuntan andal, karena banyak daerah miskin yang ternyata tidak 
> > > memiliki tenaga akuntan. Kontrol secara efektif dari lembaga-lembaga 
> > > berwibawa seperti BPK, Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP), 
> > > dan KPK harus lebih intensif untuk meminimalisasi korupsi anggaran. 
> > > Pemerintah pusat tidak boleh lepas kontrol agar dana yang ditransfer ke 
> > > Papua, juga daerah-daerah lain, tidak dibiarkan menjadi ajang korupsi 
> > > aparat daerah.
> > > 
> > > Rakyat Papua yang daerahnya kaya akan sumber daya alam, berhak menikmati 
> > > anggaran pembangunan yang memadai. Hasil pajak dan royalti dari 
> > > perusahaan-perusahaan besar dan multinasional yang mengeruk kekayaan 
> > > Papua, wajib dikembalikan kepada rakyat Papua. Mengabaikan aspirasi ini 
> > > hanya akan membakar nafsu rakyat Papua untuk merdeka, apalagi bila ada 
> > > provokasi pihak asing di belakangnya. Kita semua tahu bahwa masalah NKRI 
> > > belum sepenuhnya final di Papua. Fenomena ini masih bisa dilihat hingga 
> > > kini, terutama pada tanggal 1 Desember, yang bagi sebagian orang Papua, 
> > > merupakan hari kemerdekaan mereka.
> > > 
> > > Bila ditelisik lebih saksama, keinginan merdeka itu memang terkait dengan 
> > > begitu banyaknya ketimpangan di Papua. Tuntutan merdeka lebih merupakan 
> > > ungkapan ketidakpuasan rakyat Papua terhadap adanya perlakuan yang tidak 
> > > adil serta kondisi kehidupan yang tidak kunjung sejahtera. Karena itu, 
> > > tindak lanjut serius terhadap indikasi korupsi dana otsus harus menjadi 
> > > prioritas agar ironi yang melanda rakyat Papua bisa dieliminir.
> > > 
> > > Peningkatan dana otsus dari tahun ke tahun harus berbanding lurus dengan 
> > > peningkatan kesejahteraan rakyat Papua. Semua pejabat, baik pusat maupun 
> > > daerah, yang menyelewengkan dana rakyat tersebut harus diseret ke meja 
> > > hijau. Tanpa ada ketegasan seperti itu jangan harap rakyat Papua bisa 
> > > mencintai NKRI lahir batin.
> > > 
> > > Sumber Berita: Suara Pembaruan, Rabu, 27 Oktober 2010
> > > 
> > > --- In mailto:proletar%40yahoogroups.com, "wawan" <selarasmilis@> wrote:
> > > >
> > > > 
> > > > kalo freeport dan pemerintah indonesia niatnya bener
> > > > 1. adili orang2 papua yg korupsi dana aliran freeport
> > > > 2. kalau mereka tahu orang papua begitu,dananya bisa dipake buat bikin 
> > > > rumah sakit bagus gratis dan sekolah yg berkualitas bagi rakyat papua...
> > > > 
> > > > tapi ya emang otak anda sudah beku sih ...
> > > > 
> > > > --- In mailto:proletar%40yahoogroups.com, "johny_indon" <johny_indon@> 
> > > > wrote:
> > > > >
> > > > > 
> > > > > 
> > > > > gua ngasih fakta dan data otentik malah dibilang membodohkan.
> > > > > susah emang ngobrol sama pemakai koteka kayak elu.
> > > > >
> > > >
> > >
> >
> 
> 
> 
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>




------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke