***OrBa bisa berkuasa lama, selain karena bertangan besi, element utama adalah 
harga sandang pangan dijaga ketat oleh Bulog, rakyat mampu membeli beras dan 
pakaian. 
 
***Melindungi pasar domestik akan mengakibatkan harga sandang pangan mahal, 
inflasi tinggi, nilai tukar IDR melemah. Menaikkan productivity adalah 
solusinya, bukan menyalahkan FTA.
 
***Kampanye menurunkan Ibu Mari Pangestu sudah dimulaii nih.....
 
Pasar Domestik Harus Dilindungi      
Thursday, 13 October 2011 
  
JAKARTA – Pasar domestik harus dilindungi dari serbuan produk-produk impor 
setelah adanya perjanjian perdagangan bebas (free trade agreement/ FTA) dengan 
negaranegara lain. 


Perlindungan dilakukan dengan meningkatkan daya saing produk-produk dalam 
negeri. ”Pasar domestik harus kita jaga supaya barang-barang bisa 
kompetitif,selain di dalam negeri, juga untuk ekspor.Problemnya kan tidak 
kompetitif dengan China. Itu harus disikapi,” ujar Menteri Perindustrian MS 
Hidayat di Jakarta kemarin. Dari sisi regulasi,menurutnya, instrumen seperti 
safeguarddan antidumping bisa digunakan untuk melindungi pasar domestik.

Adapun dari sisi konsumen, masyarakat harus bisa menerima dan memakai produk 
buatan lokal terlebih dulu sebelum mengenal produk impor. Sebelumnya, Menteri 
Keuangan Agus Martowardojo mengusulkan agar berbagai perjanjian perdagangan 
bebas yang dilakukan Indonesia dievaluasi lantaran melemahkan posisi dan 
kinerja perdagangan. Surplus neraca perdagangan yang semakin tergerus 
membuktikan Indonesia belum maksimal memanfaatkan FTA. 

Sebaliknya, kerja sama perdagangan bebas cenderung menjadikan pasar Indonesia 
sangat besar dibanjiri produkproduk negara lain. MS Hidayat menambahkan, 
industri nasional harus bisa memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) sehingga 
berdaya saing tinggi. Upaya ini harus ditopang ketersediaan infrastruktur yang 
memadai dan suplai gas. ”Kita bicara dengan BP Migas dan ESDM agar suplai gas 
diberikan. 

Lalu harga gas juga harus cocok. Masalah infrastruktur seperti pipa gas juga 
harus diperbaiki,”tandasnya. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta 
Rajasa berpandangan, penurunan surplus neraca perdagangan tidak serta-merta 
berkorelasi dengan berbagai perjanjian perdagangan bebas antara Indonesia dan 
negaranegara lain.Kendati demikian, menurutnya,pemerintah terus mengevaluasi 
berbagai perjanjian perdagangan bebas yang diikuti Indonesia. 

Dia mengatakan,dari aspek perdagangan internasional, harus ada upaya pembenahan 
budaya impor. Dia sependapat dengan Menteri Keuangan Agus Martowardojo yang 
meminta dunia usaha untuk tidak melakukan impor barang-barang yang tidak 
perlu.”Penting mengurangi ketergantungan impor,”tandasnya. Ketua Himpunan 
Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Erwin Aksa menilai menurunnya surplus neraca 
perdagangan lantaran kondisi perekonomian dunia yang belum stabil. 

Mitra dagang Indonesia yang merupakan negara maju masih terbelit persoalan 
krisis keuangan di negara masingmasing. Namun, pada dasarnya hal itu tidak 
serta-merta bisa dijadikan pembenaran.Alasannya, komoditas utama Indonesia yang 
saat ini didominasi sumber daya alam (SDA) masih dibutuhkan banyak negara 
sehingga mudah mencari alternatif pasar ekspor. 

Adapun dari sisi impor,menurutnya, kenaikan didorong laju pertumbuhan ekonomi 
nasional yang cukup tinggi dibandingkan negara lain. ”Harus diakui bahwa angka 
impor meningkat karena konsumsi kita meningkat sehingga barang-barang konsumsi 
menjadi semakin besar yang kita impor,”ucap Erwin. Alasan lain tingginya impor 
ke Indonesia tidak bisa dilepaskan dari peran dunia usaha dalam negeri yang 
seharusnya bisa memenuhi kebutuhan pasar domestik. 

Erwin mengatakan, insentif bagi dunia usaha yang kurang memadai mendorong 
pengusaha nasional malas menjadi produsen dan hanya ingin menjadi pedagang. 
”Ini yang harus kita perbaiki,” tegasnya. Bila tidak ada pembenahan, dia 
khawatir Indonesia akan terus diserbu barang-barang impor.Kondisi tersebut 
sudah terjadi di Amerika Serikat (AS) dan membuat negara tersebut sulit 
menghilangkan ketergantungan impornya,terlebih dari China. 

Impor Produk Pertanian 

Sementara itu, Kementerian Perdagangan (Kemendag) menyetujui dilakukannya 
koordinasi untuk penentuan stok produk pertanian di dalam negeri. Koordinasi 
perlu dilakukan demi mengetahui total kebutuhan impor produk pertanian. Wakil 
Menteri Perdagangan Mahendra Siregar mengatakan, pemerintah, khususnya 
Kemendag, menyetujui jika ada koordinasi penentuan produksi dan stok produk 
pertanian untuk menentukan keputusan berapa jumlah kebutuhan impor. 

Produk pertanian itu bisa saja berupa kentang atau komoditas lain. ”Kami 
Kemendag siap mendukung koordinasi seperti itu,” katanya di Jakarta kemarin. 
Pernyataan itu menanggapi aksi unjuk rasa yang dilakukan asosiasi dan petani 
yang menuntut penghentian impor kentang. Seperti diberitakan, Selasa (11/10), 
ratusan petani kentang menggelar aksi demonstrasi di Kantor Kemendag untuk 
meminta pemerintah menghentikan impor kentang. 

Impor yang mayoritas dari China dan Bangladesh dianggap telah membuat harga 
kentang dalam negeri anjlok. Anggota Komisi XI DPR Kemal Azis Stamboel 
berpandangan, anjloknya harga komoditas pertanian di pasar domestik tidak 
terlepas dari perjanjian perdagangan bebas yang telah disepakati Indonesia. 
Menurutnya, serbuan produk impor akan mengancam usaha di dalam negeri. ”Kalau 
lokal kalah bersaing, akan ada ancaman PHK.Untuk itu,perlu kebijakan 
antisipatif dini. 

Langkah pemerintah belum terlihat jelas di sini,” tegasnya. Menurut dia, 
kebijakan antisipasi dini yang perlu diambil pemerintah adalah upaya 
mendongkrak kinerja usaha nasional dan daya saing. Termasuk perlunya pemberian 
insentif untuk dunia usaha, khususnya usaha mikro kecil dan menengah. 

Insentif bisa dari sisi perpajakan, subsidi bunga atau bisa juga berupa 
pembinaan dan pendampingan kepada para petani.”Selain itu, biaya logistik yang 
tinggi karena infrastruktur buruk selama ini juga telah cukup melemahkan daya 
saing,” katanya. wisnoe moerti/sandra karina/bernadette lilia nova 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke