***Kalau prosesnya tidak tepat,apa yang bisa diharapkan pada hasilnya? Good 
process–great result! Nah kalau prosesnya saja sembarangan, bagaimana 
output-nya? 
 
***Pemerintah yang hebat perlu membangun budaya, yaitu budaya respek.Ini adalah 
budaya yang hampir hilang dari kehidupan sehari-hari. Orang-orang yang 
menghargai waktu adalah orang-orang yang memiliki budaya respek
 
Procrastination Nite      
Thursday, 13 October 2011 
  
Banyak orang ingin tahu mengapa semakin banyak orang dari bangsa ini yang 
senang menundanunda pekerjaan. Jalan-jalan berlubang di kampung tempat tinggal 
saya, misalnya, kalau belum menjadi kubangan dalam belum ada perbaikan. 


Kalaupun diperbaiki,kami semua harus menunggu sampai akhir tahun. 
Alhamdulillah, akhirnya Oktober ini lubang-lubang dalam itu sudah rata. Di 
Ambon, beberapa hari lalu seorang bapak menangis bercampur marah karena petugas 
PLN terlambat datang mengurus jaringan listrik yang bocor. Seorang anak kecil 
menjadi korban, tersetrum listrik dari air di bak mandi.

Di Medan, puluhan ibu-ibu mengamuk kepada petugas sebuah airlines di bandara, 
yang terkesan menggampangkan dan tidak cepat menangani keluarga mereka yang 
menumpang pesawat yang jatuh di lereng Pegunungan Bahorok. Media massa 
memberitakan, kalau cepat ditangani,kemungkinan besar beberapa korban masih 
hidup. Akhirnya keberangan publik semakin jelas menyaksikan lambatnya 
penyerapan APBN di hampir semua kementerian Republik Indonesia. 

Seorang pejabat di Kementerian Keuangan pernah mengatakan, hingga akhir 
Februari lalu, anggaran pada 10 kementerian baru bisa menyerap 5%. Ini berarti 
mereka tidak langsung bekerja begitu DIPA diterima bulan 
Januari.Akibatnya,wajar kalau hingga Oktober tahun ini daya serap anggaran 
masih berkisar 50%.Ada yang bilang sudah sebesar 70%,tetapi banyak orang yang 
meragukannya. 

Tapi,syukurlah,Anda hidup di Negeri Sangkuriang. Bahkan gedung-gedung olahraga 
yang sudah lama dianggarkan untuk pergelaran kompetisi SEA Games yang 
mencemaskan banyak pihak diramalkan akan jadi juga pada detik-detik terakhir. 
Selain Negeri Sangkuriang, Indonesia juga dikenal dengan tradisi ketok magic. 
Jangan tanya bagaimana caranya,pokoknya percaya saja. 

Semua akan beres,selesai pada waktunya. Namun jangan tanya kualitasnya, apalagi 
check & balancenya. Sudah hampir pasti kerja seperti itu banyak masalahnya. 
Sepertinya ada masalah besar dalam business process di negeri ini, tetapi entah 
mengapa,walaupun sudah diperbaiki, tetap saja banyak masalahnya. Kalau 
prosesnya tidak tepat,apa yang bisa diharapkan pada hasilnya? Good 
process–great result! Nah kalau prosesnya saja sembarangan, bagaimana 
output-nya? 

Prokrastinasi 

Karena hal serupa terjadi berulang-ulang, sudah pasti pemerintah tahu apa yang 
menyebabkannya. Dulu, anggaran pemerintah baru bisa cair setelah bulan Juni. 
Perlahan- lahan diperbaiki menjadi bulan Maret dan sekarang sudah bisa 
dicairkan sejak awal tahun.Tapi masalahnya, mengapa bagian terbesar anggaran 
ini tetap dihabiskan setelah September? Bukankah ini berarti ”pikiran” aparat 
birokrasi belum berubah? 

Sikap mental yang sering menunda-nunda itu dalam ilmu perilaku dikenal sebagai 
procrastinator (prokrastinator). Seseorang yang melakukan procrastination 
(prokrastinasi) punya tendensi mengganti pekerjaan-pekerjaan high priority 
dengan pekerjaanpekerjaan low priority. Orang-orang seperti ini biasanya 
pencemas yang senang menunda-nunda pekerjaan. Prokrastinator mengatakan mereka 
bisa bekerja bagus dalam suasana di bawah tekanan (under pressure).

Nahdalam birokrasi yang lembek dan lamban,mereka mendapatkan pembenaran. Tapi 
jangan cepat-cepat percaya bahwa kerja seperti itu bagus. Ada ilmu yang 
mengatakan sebenarnya prokrastinasi adalah bawaan lahir (human nature) sehingga 
kalau tidak dibentuk,semua manusia akan menunda-nunda pekerjaannya. A sense of 
timelessness ada dalam masyarakat suku-suku tertentu, bahkan berlaku sampai 
sekarang. 

Bahkan orang-orang Barat memberi label prokrastinasi kepada orang-orang Afrika 
sebagai African Time.Di Benua Afrika kebiasaan buruk tidak menepati waktu 
antara lain dibentuk oleh orientasi waktu polikronik, yaitu kebiasaan 
mengerjakan banyak hal sekaligus. Adapun di Barat, orang-orang terbiasa 
menganut budaya monokronik, satu program sampai tuntas. 

Lantas dari mana sumber etika ketepatan waktu? Para ahli percaya, etika 
ketepatan waktu berasal dari seorang ulama Yahudi bernama Hilec (100 BCE) yang 
mengajukan pertanyaan seperti ini: ”Jika saya bukan untuk diri saya, siapa yang 
akan melakukannya bagi saya? Tapi jika saya hanya untuk diri saya saja, 
siapakah saya? Dan bila tidak sekarang,kapan?” Prokrastinasi atau menunda- 
nunda pekerjaan, tidak taat pada waktu, dianggap sebagai perilaku yang tidak 
etis, selfish, dan merugikan orang lain.

Di Barat,berlaku pepatah, ”If not now,when?”Kalau bukan sekarang, kapan? 
Pepatah ini membuat banyak pendidikan kepemimpinan mengarahkan calon-calon 
pemimpin untuk tidak menunda-nunda masalah. Masalah harus cepat didiskusikan, 
direncanakan,dan diatasi. Dalam ilmu manajemen dikenal istilah time management 
yang marak diberikan dalam berbagai workshop di sekitar era 1980-an. Bukan 
hanya sikap mental yang mereka bentuk, melainkan juga alat-alat pencatat 
(agenda kerja) banyak. 

Stephen Covey bahkan membagi orientasi waktu manusia ke dalam empat kategori. 
Generasi pertama adalah manusia denganalatbantuwaktu( jam) yang berfungsi 
memberi peringatan (alarmatauwake up call). Generasi kedua adalah time 
management dengan perencanaan dan kalender.Pada generasi ketiga, dimasukkan 
unsur perilaku seperti bekerja dengan prioritas, menjabarkan prinsip-prinsip 
pareto (bahwa 80% hasil yang didapat ternyata banyak diperoleh dari 20% 
pekerjaan yang penting), dan mengedepankan tata nilai. 

Namun orientasi waktu generasi keempat sudah dikaitkan dengan tata kelola 
dengan menggunakan berbagai peralatan teknologi. Waktu berjalan, para ahli 
telah menunjukkan bahwa bangsa-bangsa yang unggul bukanlah bangsa yang 
mengorbankan waktu dan bekerja tanpa memikirkan prioritas. Semakin sering suatu 
bangsa mengabaikan timeline, seperti yang Anda lihat, semakin fragile (mudah 
rusak, berisiko gagal) bangsa itu. 

Punctuality Nite 

Di Afrika, kebiasaan menunda- nunda waktu dirasakan banyak pebisnis sebagai 
penyakit menular yang sama bahayanya dengan HIV-AIDS. Maka pada Oktober empat 
tahun yang silam para pebisnis di Republik Pantai Gading bekerja sama dengan 
pemerintah menyelenggarakan pesta budaya untuk memerangi budaya jam Afrika. 
Mereka menggelar kompetisi ketepatan waktu berhadiah sebuah vila seharga Rp1 
miliar. 

Menurut Reuters, kompetisi itu dilakukan untuk membangun kesadaran tentang 
besarnya kerugian yang dialami bangsa dari perilaku bekerja tanpa memperkirakan 
waktu. Kompetisi itu ditutup dengan malam kesenian disebut punctuality night 
(malam ketepatan waktu) dengan subtema: African time is killing Africa–let’s 
fight it! Saya berpikir, 

pemerintah yang baik tidak hanya peduli membangun bangsanya dengan hanya 
membangun infrastruktur fisik berupa jalan tol, pelabuhan, bendungan, dan 
gedung-gedung bertingkat saja. Pemerintah yang hebat perlu membangun budaya, 
yaitu budaya respek.Ini adalah budaya yang hampir hilang dari kehidupan 
sehari-hari. Orang-orang yang menghargai waktu adalah orang-orang yang memiliki 
budaya respek. 

RHENALD KASALI 
Ketua Program MM UI    
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/435517/38/

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke