http://www.lampungpost.com/buras/12182-menteri-boleh-baru-birokrasinya-lama.html


      Menteri Boleh Baru, Birokrasinya Lama!        
      Sabtu, 15 October 2011 23:18  






      MINGGU ceria kakek memenuhi janji membawa cucu ke desa untuk naik gerobak 
sapi. Cucu heran, pemilik gerobak mengizinkan kakek membawa sendiri gerobak dan 
sapinya! 
      "Kakek dulu sais gerobak sapi!" jelas kakek.

      "Apa bedanya dengan nyetir mobil?" kejar cucu.

      "Mobil punya pengatur kekuatan sesuai dengan beban dan kondisi jalan, 
persneling satu, dua, seterusnya! Sapi tak punya!" jawab kakek. "Mobil seperti 
birokrasi modern dengan peranti dan mekanisme percepatan kerja mencapai tujuan 
pemerintah! Sedang gerobak sapi mirip birokrasi tradisional, tak punya peranti 
percepatan! Birokrasi tradisional justru memperlambat untuk mencapai tujuan 
sendiri—tak selalu sejalan tujuan pemerintah!"

      "Jadi, menteri itu sopir atau sais?" tanya cucu.

      "Semula dikira birokrasi kita modern, punya peranti percepatan seperti 
mobil!" jelas kakek. "Setelah dua KIB gagal mencapai tujuan baru disadari, 
birokrasi kita masih tradisional, tak punya peranti percepatan! Setiap 
kementerian pun selayak gerobak sapi harus dipercayakan ke sais—wakil 
menteri—pengendali birokrasi tradisional!"

      "Jadi, dengan reshuffle menterinya boleh baru, birokrasinya tetap gerobak 
sapi yang lama!" entak cucu. "Apakah dengan sais khusus wakil menteri, sapinya 
mampu menarik gerobak yang dimuati beban lebih berat oleh menteri baru yang 
ingin lebih cepat sampai ke tujuan?"

      "Kita lihat saja!" jawab kakek. "Tapi berharap gerobak sapi bisa sampai 
tujuan secepat mobil, tentu berlebihan! Apalagi menteri baru yang ambisius 
memuati lebih berat beban ke gerobak, bisa-bisa sapinya tak mampu menghela!"

      "Kenapa birokrasi pemerintahan kita, dari tingkat kementerian sampai 
daerah bertahan tradisional, seperti gerobak sapi, padahal sudah belasan tahun 
ada program reformasi birokrasi?" tanya cucu. "Apa penghambatnya?"

      "Hambatan utamanya budaya ambtenaar—gaya birokrat warisan Belanda yang 
tak mudah diubah!" jawab kakek. 

      "Amtenar selalu merasa sebenang lebih tinggi kastanya dari rakyat, hingga 
berasumsi lebih berhak untuk dilayani oleh rakyat daripada menjadi pelayan 
rakyat sebagaimana dituntut birokrasi modern! Semangat amtenar itu masih 
ditopang mentalitas penjajah yang pakaian dan tangannya harus serbabersih—bukan 
kelas pekerja keras! 

      "Pada birokrasi model lama itulah menteri baru menggantungkan harapan 
sukses!" timpal cucu. "Keandalan wakil menteri sebagai sais jua yang akhirnya 
menjadi tumpuan!" ***
     


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke