Refl: Ada konvensi internasional tentang : “The rights of self determination of 
the colonized and oppressed peoples”, maka oleh karena itu NKRI mengakui 
kemerdekaan Bosnia, Kroatia, Slovenia (ex Jugoslavia) dan Kazakstan, 
Uzbekistan, Moldavia, Ukrania, Azerbajan, Georgia, Armenia, etc (ex Soviet), 
anehnya kepada rakyat Papua dibilang makar. Apakah rakyat Papua tidak mempunyai 
hak menentukan nasib sendiri seperti mereka itu karena orang Papua bukan 
berkulit putih jadi tidak perlu dihargai? Preamble UUD 45 mengatakan : “Bahwa 
sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka 
penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan 
perikemanusiaan dan perikeadilan.”


Apa tanggapan Anda?


http://www.antaranews.com/berita/280810/menkopolhukam-kongres-rakyat-papua-makar
Menkopolhukam: kongres rakyat Papua makar 
Kamis, 20 Oktober 2011 21:26 WIB | 

 
Djoko Suyanto (FOTO.ANTARA)

  Mereka mendirikan negara dalam negara dan tidak mengakui Presiden RI," 
Mataram (ANTARA News) - Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum dan Keamanan 
Djoko Suyanto menegaskan, polisi membubarkan paksa Kongres Rakyat Papua III 
karena menilai kegiatan itu sebagai makar.

"Polisi melakukan penggerebekan sebab tindakan mereka sudah dinilai makar," 
katanya di sela-sela mendampingi Presiden Yudhoyono melakukan kunjungan kerja 
ke Nusa Tenggara Barat, Kamis.

Pada Rabu (19/10) Polisi membubarkan paksa Kongres Rakyat Papua dan menetapkan 
lima orang tersangka. 

"Mereka mendirikan negara dalam negara dan tidak mengakui Presiden RI," katanya.

Saat ditanya mengenai laporan korban tewas, Menko Polhukam mengatakan bahwa 
korban tewas ditemukan di tempat yang berbeda dengan lokasi kongres.

"Memang benar ada yang tewas, tapi di tempat lain. Tidak di lokasi kongres dan 
penggerebekan," katanya.

Menurut Djoko, luka pada korban ya pun bukan karena tembakan, tapi senjata 
tajam. "Kasusnya masih dalam penyelidikan Polda Papua," ujarnya.
(G003) 
Editor: Aditia Maruli

++++
http://www.antaranews.com/berita/280875/kapolres--separatis-atau-makar-saya-babat-habis
Kapolres : "separatis atau makar, saya babat habis" 
Jumat, 21 Oktober 2011 10:42 WIB | 1303 Views

 
Seorang pejalan kaki melintas di pertigaan pusat Kota Abepura, Jayapura, Papua. 
(ANTARA/Anang Budiono)

  Saya katakan siapa pun, dari pihak manapun yang mendukung kegiatan separatis 
atau berbuat makar. Saya buat sama seperti kemarin (bubarkan paksa,red), saya 
sikat, saya babat," 
Jayapura (ANTARA News) - Kapolres Jayapura Kota, AKBP Imam Setiawan tak akan 
memberi toleransi terhadap pihak yang mendukung separatis atau makar di wilayah 
tersebut.

"Saya katakan siapa pun, dari pihak manapun yang mendukung kegiatan separatis 
atau berbuat makar. Saya buat sama seperti kemarin (bubarkan paksa,red), saya 
sikat, saya babat," katanya di Jayapura, Papua, Kamis (20/10).

Menurutnya, kegiatan seperti Kongres Rakyat Papua III yang telah dilakukan 
tidak sesuai dengan perijinan yang dilayangkan kepada pihaknya akan dibubarkan 
secara paksa dan bila perlu diberantas habis.

"Jika ada orang dari pihak manapun yang mendukung gerakan ini, saya siap mati 
untuk itu dan saya akan babat mereka. Ini sudah menjadi tugas dan saya 
konsisten akan itu," katanya. 
(ANT-185) 
Editor: Aditia Maruli

COPYRIGHT © 2011

Ikuti berita te

++++
http://www.antaranews.com/berita/281084/polri-selidiki-dugaan-penyalahgunaan-wewenang-di-papua
Polri selidiki dugaan penyalahgunaan wewenang di Papua 
Sabtu, 22 Oktober 2011 19:09 WIB | 879 Views

 
Kabag Penerangan Umum Kombes Pol.Boy Rafli Amar. (FOTO.ANTARA)

Jakarta (ANTARA News) - Mabes Polri akan menyelidiki dugaan penyalahgunaan 
wewenang dan tindak kriminal dalam penanganan ricuh Kongres III Papua medio 
pekan ini, kata Kepala Bidang Penerangan Umum Mabes Polri Kombes Pol Boy Rafli 
Amar di Jakarta, Sabtu.

"Kami sama sekali tidak menghendaki jatuhnya korban jiwa dalam setiap 
penanganan konflik, di pihak mana pun termasuk dalam penanganan ricuh pasca 
Kongres III Papua," katanya kepada wartawan. 

Kombes Boy menuturkan menjelang pelaksanaan Kongres III Papua, pihaknya sudah 
melakukan pendekatan dan langkah antisipasi agar pelaksanaan kegiatan itu 
berjalan aman dan tertib.

"Namun dinamika di lapangan apa yang kami harapkan tidak terjadi, kadang harus 
terjadi tanpa kita kehendaki. Karena itu, kita akan selidiki dan evaluasi 
dinamika di lapangan saat itu dan penanganannya seperti apa," ujar Boy.

Saat ini Kepolisian Negara RI telah menetapkan enam tersangka makar terkait 
Kongres Papua III di Jayapura yakni FY, EW, DS, AM, GW dan SB.

"Keenam tersangka diduga kuat melanggar hukum positif negara kita pasal 106 dan 
160 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) mengenai makar dengan ancaman 
pidana penjara. Sebanyak 18 orang diperiksa sebagai saksi dari 360 orang 
peserta yang mengikuti Kongres III Papua, "ujarnya.

Boy menambahkan "Keenam tersangka adalah pimpinan dari gerakan tersebut. Dan 
kita sudah menemukan beberapa barang bukti,". 

Ia menjelaskan barang bukti yang ditemukan di antaranya kartu peserta, surat 
pemberitahuan pelaksanaan acara, surat perekrutan. Serta bukti lain berdasarkan 
fakta-fakta dari pemeriksaan 18 saksi.

Berdasar data yang diperoleh Asosiasi Mahasiswa Pengunungan Tengah Papua 
Indonesia (AMPTPI) pasca rusuh Kongres III Papua

terdapat enam warga meninggal dunia akibat luka tembak aparat, dan lainnya 
mengalami luka para akibat tembakan, dan 17 orang lainnya hilang atau belum 
kembali ke rumahnya masing-masing.

Sementara itu terdapat pula 300 orang yang mengalami penyiksaaan dan beragam 
intimidasi serta perusakan sejumlah kendaraan roda empat dan dua, serta asrama 
di sekitar lokasi kejadian.

Menanggapi itu, Kombes Boy mengatakan pihaknya terus melakukan penyelidikan dan 
identifikasi terhadap warga yang diduga meninggal dunia, hilang atau mengalami 
luka-luka serta intimidasi.

"Jika ada perbedaan data dengan yang diperoleh lembaga swadaya masyarakat dan 
Komnas HAM, tentu kami akan pula bekerja sama. Yang jelas kami tidak 
menghendaki adanya korban jiwa di pihak mana pun. Kami telah berupaya 
mengantisipasi agar kegiatan dan penanganan rusuh tidak mengarah pada 
kekerasan, namun perkembangannya terjadi hal demikian," ujarnya.

Boy menekankan, dalam penanganan beragam konflik atau insiden di Papua pihaknya 
harus bersandar pada penegakkan hukum, penegakkan keamanan dan penegakkan 
kedaulatan.

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke