Libya: London conference aimed at 'endgame' for Gaddafi http://www.bbc.co.uk/news/world-africa-12889383
Masih ingat Konferensi London tentang Libya, Maret 2011 lalu? Pasti masih. Memang, berbeda dengan penggulingan presiden Tunisia dan presiden Mesir, yang seolah terjadi begitu saja setelah seorang rakyat Tunisia diikuti dua rakyat Mesir membakar diri, penggulingan Khadafy rupanya butuh sebuah konferensi internasional untuk "membakar" rakyat Libya. Orang sudah menduga, konferensi bulan Maret 2011 itu dijadikan momentum mengobarkan anti-Khadafy menyusul kejatuhan Ben Ali (Januari 2011) dan Hosni Mubarak pada bulan berikutnya (Februari 2011). Malah banyak yang percaya bahwa gejolak di Afrika utara adalah praktek "makan bubur panas". Dimulai dari sisi timur (Tunisia) lalu sisi barat (Mesir) baru kemudian ke tengah (Libya) dengan Khadafy sebagai target utama. Kenapa Khadafy menjadi target, jawabannya bisa beragam. Yang jelas, di antara peserta Konferensi London itu ada 4 perempuan (Hillary Clinton, Cathy Ashton, Inaan Osseiran, Asta Skaisgiryte) yang terdengar ramai mengangkat isu hak-hak perempuan. Cilakanya (atau untungnya?) bukan cuma sebatas perempuan di Libya, tetapi juga perempuan di Timur-tengah secara menyeluruh. Wajar kalau keempat perempuan itu setuju-setuju saja pergolakan di dunia Arab diberi julukan yang cantik, Revolusi Melati. Menjadi paham jugalah kita apa sebab Kerajaan Arab Saudi tiba-tiba membolehkan warga perempuannya melakukan hal-hal yang sebelumnya mereka haramkan seperti menyetir mobil maupun ikut pemilihan umum. Perempuan memang bukan isu utama dalam konferensi tentang Libya itu. Lalu, apa masalahnya sampai keempat perempuan tadi ramai mengangkat hak perempuan dalam konferensi penggulingan Khadafy? Selidik punya selidik, itu semua berawal dari celetukan Khadafy dalam "kunjungan kebudayaan" pertama (sekaligus terakhir) ke negeri bekas penjajahnya, Itali. Di Roma bulan Juni 2009 itu Khadafy menyentil gaya hidup kalangan atas Itali yang gemar mengumpulkan gadis-gadis muda bak kehidupan harem. Sentilan yang tentu saja mengundang bantahan, bukan cuma dari kalangan atas Itali tapi juga dunia Barat. Dengan alasan, harem bukanlah budaya Barat. Tetapi malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Tahun 2010 dunia justru digemparkan skandal sex perdana menteri Itali, Silvio Berlusconi. Diberitakan, dalam berbagai "bunga bunga" (pesta sex) sepanjang Februari - Mei 2010, Berlusconi belasan kali 'berduaan' dengan Ruby Rubacuori alias Karima El Mahroug, gadis remaja asal Maroko. Beredar pula rekaman telepon Berlusconi yang mengaku mampu bercinta dengan beberapa perempuan sekaligus dalam semalam. Juga pengakuan bahwa "bunga bunga" yang mereka gelar memang meniru konsep harem. Skandal Berlusconi ini menjadi tamparan bagi moralita Barat, khususnya peradaban Eropa. Lebih parah dari tamparan Clinton di kamar lonjong Gedung Putih. Lalu, kenapa Khadafy yang dijadikan sasaran atas kelakuan petinggi Itali? Begini, tepat satu tahun yang lalu (Oktober 2010), atas undangan Khadafy, Itali melakukan kunjungan kebudayaan balasan ke Libya. Namun rombongan dari Itali ini bukan berisi tokoh-tokoh kenegaraan, melainkan puluhan gadis model Itali. Menurut pengakuan para model, selain berbicara tentang hubungan kebudayaan Libya-Itali, Khadafy juga bicara tentang fashion terkait pakaian adat Afrika yang dikenakannya. Lalu, kepada seluruh gadis model Itali (saat itu masih ada ratusan gadis model Itali dalam daftar tunggu untuk berkunjung ke Libya), Khadafy menawarkan untuk masuk Islam. Bukan apa, karena banyak juga gadis model Itali yang keturunan ataupun pendatang dari negeri-negeri Maghribi seperti "Ruby Berlusconi" itu. http://www.telegraph.co.uk/news/worldnews/africaandindianocean/libya/8129254/Gaddafi-hosts-20-Italian-models-on-all-expenses-paid-trip.html Tidak aneh kalau dalam konferensi penggulingan Khadafy, perempuan semacam Hillary ramai berceloteh seputar Resolusi 1325 dari Dewan Keamanan PBB tentang posisi perempuan sebagai insan yang patut dilindungi. Atas halusinasi Hillary tersebut Khadafy menanggapi bahwa perempuan bukan insan lemah. Contohnya di Libya perempuan biasa bekerja bahkan sebagai satuan keamanan presiden. Cilaka, sungguh cilaka, jika "kelemahan perempuan" dalam Resolusi 1325 dijadikan alasan untuk mengerahkan pesawat-pesawat pembom NATO ke Libya dengan kemasan "melindungi warga sipil tak bersenjata". Ya, imperialis selalu pandai menemukan alasan untuk membunuh. ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
